
"Bi Ma, apa Varo dan juga istrinya masih berada dikamarnya?" tanya Veronica kepada pelayan senior di rumahnya, ketika sedang menyiapkan makan malam.
"Masih nyonya, sejak tadi sore belum keluar dari kamarnya" jelas bibi Ma pelayan senior.
"Kalau begitu panggilkan mereka, untuk makan malam"
"Baik nyonya"
"Gila, anak kita mah, bisa-bisanya bermain hingga berjam-jam," ujar Iskandar sambil menggeleng gelengkan kepalanya. "Papah saja waktu masih muda tidak begitu amat, apalagi sekarang…"
"Iya baru sepuluh menit sudah cr*** keluar, memalukan sekali, mamah saja belum merem melek, disuruh lanjut sudah letoy itu junior, makanya besok-besok kalau mau main minum obat kuat dulu, sesekali ajak mamah main agak lamaan gitu" ujar Veronica sambil menatap Iskandar yang sedang nyengir kuda kearahnya sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Papah, cuma tidak ingin mamah kelelahan saja, mamah kan baru sembuh"
"Alasan saja, waktu mamah sehat juga sama saja"
"Maklum mah sudah tua, sudah turun mesin, besok biar papah minum obat kuat, untuk menyenangkan istriku yang paling cantik sedunia ini" rayu Iskandar sambil mencubit dagu istrinya.
"Awas saja kalau tidak"
"Iya sayangku, cantikku, manisku" ujar Iskandar sambil tersenyum pada Veronica.
"Sudah kering" ujar Varo sambil mematikan hair dryer setelah dirinya membantu mengeringkan rambut Berlian.
"Terima kasih hatiku" ujar Berlian sambil memeluk pinggang Varo. "Apa ini, kita sudah bertarung hingga beberapa ronde, kenapa ini masih berdiri saja?" tanya Berlian saat mendapati junior Varo masih berdiri tegak seperti tiang listrik walaupun tertiup angin put*ng beliung tidak akan goyah sedikitpun.
"Tidak tahu, padahal aku hanya melihat ini, tapi sudah membuat juniorku meronta lagi" ujar Varo sambil memegang dua gunung kembar Berlian yang terlihat karena jubah mandi yang digunakan Berlian melorot ke samping.
"Mengada-ada saja"
__ADS_1
"Benar mataku, aku perhatikan gunung kembar kamu sekarang ukurannya lebih besar, dan menggairahkan membuat juniorku langsung berdiri tegak" ucap Varo yang sekarang berjongkok di hadapan Berlian yang sedari tadi duduk di kursi meja rias, dan tangan Varo masih asyik bermain-main di gunung kembar Berlian.
"Sudah ah geli"
"Sebentar saja" ujar Varo yang langsung mel*mat choco chip yang berada di tengah-tengah gunung kembar Berlian seperti bayi yang kehausan, membuat Berlian langsung menekan kepala Varo merasakan hisapan yang Varo berikan dan membuatnya mabuk kepayang.
Tok……..tok…….tok "Tuan muda" teriak bibi Ma sambil mengetuk pintu kamar Varo berulang kali, membuat Berlian langsung mendorong kepala Varo untuk berhenti menghisap choco chip milik Berlian.
"Ach…….mengganggu saja" ucap Varo kesal sambil beranjak dari tempatnya untuk membuka pintu.
Tok…….tok……tok "Tuan muda" ucap bibi Ma lagi sambil mengetuk pintu.
"Berisik sekali, mengganggu kenikmatan saja, ada apa?" tanya Varo pada bibi Ma setelah dirinya sudah membuka pintu kamarnya.
"Maaf tuan muda, nyonya menyuruh tuan muda dan nona untuk ikut bergabung makan malam"
"Iya bi kita akan segera turun" sambung Berlian sebelum Varo berkata.
"Mataku, aku belum puas" rengek Varo seperti anak kecil.
"Sudah nanti kita lanjutkan lagi ok, aku akan memberikan servis plus, plus, plus,"
"Benar ya, awas saja kalau bohong, aku akan memberi hukuman hingga kamu tidak bisa bangun besok pagi"
"Iya hatiku" ucap Berlian sambil mencium bibir Varo singkat, dan Varo langsung memeluk tubuh Berlian.
"Sudah ayo kita kenakan pakaian, dan segera turun untuk makan malam, aku tidak ingin melewatkan makan malam bersama dengan papah dan juga mamah untuk pertama kalinya" ujar Berlian sambil melepas pelukan Varo.
"Baiklah, tapi aku akan membantu kamu mengenakan pakaian, jangan menolak" ujar Varo yang langsung menarik tangan Berlian.
__ADS_1
"Aku bukan anak kecil, aku bisa……….."
"Sssttt, jangan bicara lagi diam saja, aku ingin selalu mengeksplor anugerah yang Allah titipkan kepadaku" ujar Varo yang langsung melepas jubah mandi yang Berlian kenakan.
"Lama sekali kalian turun, papah sudah sangat lapar, kan masih bisa diteruskan nanti wik-wiknya" ujar Iskandar saat Varo dan juga Berlian sudah berada di meja makan.
"Iri bos?, bilang, papah iri kan?, karena tidak bisa bermain lama lagi palingan juga cuma setengah jam langsung loyo" ucap Varo sambil menarik kursi untuk Berlian duduk. "Silahkan mataku."
"Terima kasih" ucap Berlian saat Varo mempersilahkan dirinya untuk duduk.
"Boro-boro setengah jam, baru sepuluh menit itu juga belum ada, juga sudah cr*** langsung loyo tidak bisa berdiri lagi" jelas Veronica, membuat Berlian langsung tersenyum dan Varo langsung tertawa kencang.
"Kasihan sekali mamah, cari lagi yang masih muda mah" ujar Varo sambil tertawa membuat Iskandar langsung melempar sendok ke arah Varo.
"Anak kurang ajar, masa menyuruh orang tua untuk selingkuh, memang kamu mau kalau Berlian cari laki-laki lain karena kamu sudah tidak bisa memuaskannya?" tanya Iskandar pada anaknya yang tidak tahu diri.
"Tentu saja tidak, kerana aku akan selalu memuaskannya, benarkan mataku" ujar Varo sambil membelai wajah Berlian.
"Sudah jangan banyak bicara, kita mulai makan malamnya" ujar Veronica menghentikan perdebatan antara anak dan juga suaminya, "Dan iya mamah ingin mendengar kabar baik dari kalian, segara kasih mamah momongan yang banyak" ujar Veronica lagi sambil tersenyum.
"Siap empat lima, gaskeun……..tancap"
*
*
*
Bersambung..............
__ADS_1
Like, komen, bunga juga boleh biar otor semangat nulisnya 😂😂😂😂😂😂😂😘😘😘😘😘😘