
Ketiga pemuda pengembangan ini. Mulai melanjutkan perjalanannya keluar dari pulau ini. Jovan melakukan jurus pemanggil hewan mitologi. Burung Garuda Sayap coklat emas. Yang akan membawa dirinya dan kedua rekannya keluar dari pulau ini.
Jovan mengajak mereka pergi dari pulau ini ,karena ia sudah mengetahui jika Horman dan komplotannya sudah tidak menempati pulau ini.
Sebelum benar-benar pergi pun Jovan meninggalkan sebuah papan besar peringatan untuk para nelayan dan semua orang agar tidak singgah di pulau ini. Di karenakan pulau ini memang sangat berbahaya dengan banyak goblin-goblin yang mendiami pulau ini.
Papan peringatan Jovan pasang di tiang yang sangat tinggi dan kokoh dengan tulisan besar dan jelas untuk di baca. Tidak lupa tiang penyangga yang di didirikan sangat kuat agar tidak seorang pun bisa merobohkan papan peringatan ini dengan mudah.
Next....
Burung elang bersiap mengambil ancang-ancang untuk mendarat. Akan tetapi belum benar-benar mendarat burung elang putih lebih dulu lenyap. Tiga pemuda ini mau tidak mau harus siap meloncat turun.
Jovan dan Zen mendarat dengan baik. Namun sangat berbeda dengan Rendy yang nyungsep. Mencium rerumputan daerah ini.
Baik Jovan dan Zen hanya terdiam menonton drama yang di lakukan Rendy. Tanpa ada niatan menolong.
Kesal Rendy segera beranjak dari tempat nya jatuh,"CK Toxic."Umpat Rendy.
Next....
__ADS_1
Ketiga nya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki tanpa tujuan ke timur.
Tengah siang bolong. Jovan, Zen, dan Rendy singgah di salah satu kedai makanan yang mereka bertiga temui di jalanan yang di lalui.
Sudah duduk nyaman di dalam kedai,"Akhirnya mengisi perut."Gumam Rendy mengelus perut ratanya.
"Tuan-tuan mau pesan apa?".Kata seorang nenek paru baya,"Disini hanya menjual kari daging sapi, kari daging babi, dan kari ayam."
"Kari daging sapi, dan es....". Melihat tulisan menu minuman yang tertulis di papan dekat meja pembayaran,"Kelapa."Rendy yang selesai mengatakan pesanannya.
"Kari ayam, air putih."Kata Jovan.
"Loh yang pesan kari daging sapi cuma aku."Ujar Rendy yang tidak di gubris dua bongkah es batu.
Tertawa renyah,"Tidak papa Tuan, khusus untuk tuan aku akan membawakan kari daging sapi terenak ku."Nenek setengah paru baya ini berlalu meninggalkan meja ini.
"Kalian berdua benar-benar tidak asik. Terutama kau...sepanjang perjalanan kau membaca komik Jovan. Apa mata mu tidak lelah?".Marah Rendy fokus pada Jovan yang paling membuat nya kesal sejak lahir.
Namun yang kena marah tidak merasa sama sekali dan tetap bergeming asik dengan buku yang tengah di baca.
__ADS_1
"Huhh....".Menghela nafas kasar ke arah lain.
Seorang pemuda datang ke meja mereka bertiga bersama dengan nenek tadi. Nenek ini melesat makanan dan minuman pesanan di atas meja.
Menepuk kedua telapak tangan agar saling bersentuhan,"Selamat makan."Ucap Rendy di susul mulai menikmati menu makan siangnya.
Next......
Selesai makan siang. Zen dan Rendy menunggu Jovan di luar kedai. Sementara Jovan masih di dalam melakukan pembayaran.
Beres melakukan pembayaran. Jovan tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang pria yang baru menyelesaikan pembayaran juga sama seperti.
"Maaf."Ucap pria misterius itu sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kedai.
Walaupun wajah pria itu tertutup rapat oleh tupi dan topi jaket yang di kenakan. Jovan tetap bisa melihat sekilas sosok di balik topi itu.
"Ayo."Ajak Rendy membuyarkan lamunan Jovan.
Next...
__ADS_1
"Tidak jauh dari sini ada kota kecil. Kita akan bermalam di sana."Kata Jovan pada kedua rekannya.