
Duduk seorang diri di kursi taman belakang rumah. Seseorang pria tiba-tiba saja menghampiri Sendy. Yang tengah duduk seorang diri di kursi teralis besi taman. Membiarkan udara dingin menusuk kulitnya.
Seseorang yang menghampiri Sendy. Sekarang sudah duduk di kursi tralis besi panjang bersama remaja ini.
"Kenapa tidak masuk?Kau tidak lihat Rocky sedang berdiri di sana dengan tongkat sejak tadi,"menjedah ucapan."Kau tidak kasihan dengan putra ku yang menderita itu".
Tersenyum miring,"Om selalu bersikap seperti anak kecil".
"Anak dan ayah sama saja",gumam kesal Rendy.
"Kau tau ayah mu adalah pria kutub Utara yang sangat menakutkan. Tapi entah bagaimana ibu mu bisa merubahnya menjadi pria baik seperti sekarang".
"Yang jelas ibu mu jauh lebih baik memahami ayah mu dari pada aku sahabat yang sudah lama hidup bersamanya.
"Jangan terlalu lama marah dengan nya. Karena apa yang dia lakukan selalu atas persetujuan ibu mu terlebih dahulu. Mustahil ayah mu mengambil keputusan sepihak tanpa persetujuan ibu mu".
"Iya".
"Kau tidak percaya sama ucapan om".Di balas gelengan kepala ringan oleh Sendy.
Merangkul bahu Sendy,"Cepat masuk dan beristirahat. Besok kau harus bangun pagi untuk bersekolah".
++++++
Tokk...Tokkk...tokk..... Menjelang tengah malam. Sendy yang tidak bisa tidur memutuskan untuk pergi jalan-jalan membuat dirinya lelah. Sampai langkah kaki tertarik untuk mendekati pintu kamar tempat ayahnya beristirahat.
Tanpa ia sadari tangannya tergerak mengetuk beberapa pintu kayu ini. Membuat seseorang di dalam kamar ini terbangun membukakan pintu kamar.
"Kenapa di sini?".
"Mau ambil barang tertinggal di kamar ibu",balas Sendy dingin berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar ibunya tanpa seizin ayahnya terlebih dahulu yang ada di sana.
Entah kenapa sejak kejadian di hari itu. Sendy menjadi pribadi yang dingin, juga lebih banyak diam di depan ayah. Diam nya juga di sertai banyak menghindar dari kebersamaan bersama ayah nya.
+++++
Sampai di suatu hari. Pernah Sendy membuat ulah. Bertengkar dengan teman sekelas nya sampai teman nya masuk ke dalam rumah sakit. Dani sangat marah sekali, ia sampai menampar Sendy. Tanpa memberikan ruang terlebih dahulu untuk Sendy menjelaskan kejadian yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Hal itu membuat Sendy dan Dani semakin hari semakin jauh dan bersikap dingin satu sama lain. Walaupun kini keduanya sudah tinggal satu rumah.
Lebih tepatnya. Dani telah membeli rumah untuk di tempat tinggal olehnya dan putranya. Ingin hati Dani ingin membeli rumah yang sederhana. Namun karena sulit sekali mencari kediaman rumah sederhana di dalam kota ini. Dengan terpaksa Dani harus membeli rumah mewah yang berukuran besar. Untuk ia tempat hanya dengan bersama putra nya dan beberapa pembantu asisten rumah.
Walaupun begitu kedua ayah dan anak ini tetap saja menjadi asing satu sama lain. Tidak pernah terjadi salam sapa. Ataupun makan bersama satu meja kembali. Keduanya benar-benar seperti orang asing yang tinggal satu rumah.
Beberapa tahun pun berlalu. Tanpa terasa sudah 17 tahun sejak kepergian sosok penghubung antar kedua pergi. Dan kedua orang ini tetap menjadi orang asing sampai sekarang. Keduanya sebenarnya saling menyayangi, akan tetapi keduanya terlalu engan untuk menunjukan. Bisa di bilang ego gengsi kedua sama-sama besar.
"Lari Woyy, lari",berlari sekuat tenaga menghindari keributan di jalanan ini. Itu yang tengah di lakukan oleh Rocky, Leo, Viktor, dan Sendy.
Sampai langkah kaki para pemuda ini terhenti cukup jauh dari area keributan juga dari para kejaran para petugas keamanan. Mereka di sibukkan mengatur pernafasan yang amburadul.
Baru menyadari ada kehadiran seseorang yang kurang,"Sendy mana?".Tanya Rocky yang masih ngos-ngosan.
"Anjing Sendy ketinggalan".Ujar Vektor melotot.
"Bentar lagi juga nyusul",Leo yang terduduk tenang bersandar di bawah pohon.
"CK tugu sialan sekolah itu sangat preman",umpat Rocky kesal.
Terfokus pada lawan bicaranya,"Tidak semudah itu anjing. Ayah ku akan tau dan mencincang tubuh ku".
"Emang kenapa sih".
Sudah beranjak dari tempat duduknya,"Seorang bangsawan tidak boleh melukai rakyat lemah. Dan seorang bangsawan harus bersikap layaknya rakyat biasa belum ia di nobatkan menjadi penerus selanjutnya",jelas Leo salah satu keturunan keluarga yang hampir sama seperti Rocky dan Sendy.
"Ohhh".
Keempat pemuda ini baru saja terlibat perkelahian dengan sekolah SMA lain sampai menjelang larut malam. Yang entah karena masalah apa SMA Persatuan terlibat perselisihan. Sampai terjadi tawuran besar di jalanan daerah G.
Mereka bertiga berhasil lolos. Namun bagaimana dengan Sendy. Dia masih berlari mencari tempat yang aman untuk menghindar dari para petugas keamanan.
Di jalanan kecil terhapit dua gedung apartemen tidak terlalu mewah juga tidak terlalu tinggi. Satu orang pemuda tengah di kejar gerombolan para petugas keamanan.
Tapp...Tapp....Stapp....Sett.....
Berlari lebih kencang dan cepat, melompat lincah ke menapak di dinding dan tangannya bergerak secepat merai salah satu tepi jendela apartemen yang di biarkan terbuka. Sebelum akhirnya melompat masuk ke dalam apartemen yang jendelanya di biarkan terbuka ini.
__ADS_1
Sendy terduduk di bawah jendela, ia mengintip keluar jendela untuk memperhatikan situasi di luar sana. Dan benar saja dugaan nya jika para anggota keamanan masih mengejarnya. Para petugas keamanan juga sudah di bantu oleh beberapa warga sekitar daerah ini.
Sendy membalik posisi duduk nya, menghadap ke arah ruangan apartemen ini yang gelap gulita. Ia perhatian sesama seluruh dalam ruangan yang tidak terlalu luas ini untuk memastikan tidak ada seorang pun yang melihat nya. Sampai atensi matanya terhenti tepat terfokus melihat seseorang yang tengah duduk di atas tempat tidur di sana seorang diri.
Seseorang itu terdiam membeku, menatap Sendy. Di saat itulah, entah sejak kapan Sendy sudah mengeluarkan kekuatan nya. Api hitam panjang ujung lancip. Sudah terarah terhenti tepat di samping leher seseorang ini. Bersamaan dengan itu Sendy beranjak dari tempat duduknya. Berjalan berlahan mendekati seseorang ini.
Nada suara berat bergetar mengerikan,"Diam, menurut lah jika kau masih ingat hidup".
Seseorang ini, atau seorang perempuan ini membalas dengan anggukan kepala ringan.
"Aku akan berhenti jika kau kooperatif",Sendy menurunkan pedang berapi hitam dari tangan kanan nya yang berlahan-lahan lenyap.
Ia pun kembali ke tempat nya semula, duduk di bawah jendela yang masih di biarkan terbuka. Sesekali ia juga mengintip keluar jendela untuk melihat situasi di luar apartemen. Namun raut wajah menahan sakit masih dapat seorang perempuan ini lihat dari kejauhan.
Jelas sakit, luka sayatan itu sangat dalam. Batin Seseorang perempuan ini masih memperhatikan. Ia sama sekali tidak bisa beristirahat karena kehadiran pemuda misterius ini di dalam kamarnya. Bahkan setelah pemuda ini hampir membunuh nya membuat dirinya semakin tidak bisa beristirahat dengan tenang.
Sementara pemuda ini dengan tenangnya tengah di sibukkan memainkan benda pipi menyalah dalam genggaman tangan nya. Sampai akhir tersambung dengan seseorang di seberang sana.
Sedikit menjauhkan benda pipi ini dari daun telinganya.
*Kau di mana bang**sat?Kau tidak tertangkap kan?",tanya Rocky di seberang sana.
*Aku berhasil lolos, kau langsung pulang saja. Aku tidak bisa pulang sekarang meraka masih mengepung daerah persembunyian ku".
*Aku susul Sen".
*Tidak perlu. Kehadiran mu akan membuat kita menginap di penjara lagi".
*CK, baiklah".
Panggil di akhir sepihak oleh Sendy di sebrang sini.
Melihat gadis itu yang hendak pergi meninggalkan kamar,"Mau kemana?".Tatapan tajam membunuh tersorot pada perempuan itu.
"Ambil kotak obat, luka kamu harus segera di obati".Nada bicara bergetar ketakutan perempuan ini."Kotak obatnya ada di laci belajar ku".
"Hemm",Sendy yang baru akhirnya menyetujuinya.
__ADS_1