
Tawuran tugu pecah berlangsung sangat sengit sampai menjelang sore hari. Namun tepat saat menjelang malam. Tawuran itu langsung membubarkan diri karena kehadiran dari para petugas keamanan kota.
Seluruh remaja yang ikut dalam tawuran berlari-larian berpencar menyelamatkan dirinya masing-masing.
Begitu juga yang saat ini di lakukan pemuda ini. Sendy berhasil lari dari kejaran para petugas keamanan. Dan kini ia bersembunyi di dalam kamar yang ia pikir tidak ada pemiliknya. Nyatanya kamar ini adalah milik seorang gadis remaja.
Cukup lama ia terjebak di sana. Sampai gadis itu beranjak turun dari tempat tidurnya membuat Sendy sedikit panik. Namun gadis itu berhasil menyakiti dirinya. Jika ia hanya ingin mengambil kotak obat untuk mengobati luka-luka di tubuh Sendy.
Iya, sejak Sendy melepaskan jaketnya. Menyisakan kaos putih oblong lengan pendek yang masih ia kenakan. Membuat luka sayatan di lengan tangannya jadi terlihat jelas oleh gadis itu.
Sendy sempat tidak percaya di kala gadis itu baru saja akan ia bunuh. Bagaimana bisa dia mau menolong nya. Namun semua pemikiran negatif itu seketika hilang. Saat Sendy merasakan sendiri perlakuan gadis ini yang mulai merawat luka-luka nya.
Luka ini sangat dalam. Apa yang baru saja di lakukan pemuda ini?Ini sangat mengerikan. Gadis ini yang berperang dengan isi kepalanya. Sembaring hati-hati mulai mengobati luka-luka pemuda ini. Ia mengobati nya sangat pelan, sangat karena ia melihat wajah menahan sakit itu tidak bisa berbohong.
"Aku Sendy, kau?",suatu pertanyaan sederhana yang membuat gadis ini bergetar ketakutan.
Tersenyum miring,"Aku hanya bertanya nama mu bukan akan membunuh mu".
"Siapa nama mu?".
Nada suara rendah,"Azura".
Setelah itu keduanya kembali hening. Azura yang sibuk mengobati luka-luka Sendy. Dan Sendy, ia berusaha mengalihkan perhatian nya ke arah lain. Kalian pikir itu karena menahan sakit. Salah!Itu bukan karena menahan sakit. Tapi karena paha mulus itu terlalu menggoda nya. Sejak awal gadis ini turun dari tempat tidurnya.
CK!apakah dia tidak menyadari nya, atau memang ia sengaja. Batin Sendy meronta-ronta menahan nafsu yang sangat ingin sekali tergerak cepat melecehkan perempuan ini. Celana itu terlalu pendek paha itu terlihat sangat jelas memanggil-manggilnya.
Baru saja selesai mengobati luka Sendy. Azura di buat terkejut oleh tingkah Sendy yang tergerak mendekati nya. Ia memejamkan kedua kelopak matanya rapat-rapat. Dengan memohon-mohon perlindungan kepada tuhan.
Mendorong kening Azura dengan kedua jarinya,"Buka mata mu be**go".
Azura menurut, tepat di saat itulah ia baru menyadari jika Sendy hanya ingin mengikatkan jaketnya pada pinggang.
__ADS_1
"Lain kali tidak perlu pakaian celana",ucap Sendy membuat Azura melotot matanya baru sadar dengan celana pendek yang ia kenakan memang sangat pendek sekali.
"Apakah kau selalu keluar seperti itu?".
Azura membalas dengan gelanggang kepala cepat,"Tidak, aku hanya memakai saat tidur saja".Balas nada bicara polos gadis ini sangat jujur.
"Kenapa kau biarkan jendela kamar mu terbuka. Jangan bilang kau suka tidur dengan jendela terbuka".
Terdiam sesaat,"Jendela itu rusak. Kau tidak lihat pengaitnya patah".
"Hemmm...",melihat Azura yang beranjak hendak beranjak dari tempat duduknya."Mau kemana?".Nada bicara Sendy yang kembali berubah.
"Mau mengembalikan kotak obat ini".
"Hem".
Baru setelah mendapatkan persetujuan. Azura baru beranjak dari tempat duduknya untuk mengembalikan otak obat ini pada tempatnya.
Sendy yang masih duduk di sana, terfokus memainkan layar ponsel yang menyalah. Sesekali Azura melihat senyum sinis tipis yang di sungging pemuda itu.
"Oi".Panggil Sendy membuat Azura melonjak menaikan bahunya kaget."Ambilkan aku bantal, sebelum aku sendiri yang kesana dan meminta mu melayani ku",minta nya.
Melihat Azura yang langsung menuruti nya. Ia langsung berjalan mendekati nya kembali memberikan bantal yang Sendy mau.
Cepat ia akan tergerak kembali setelah Sendy akhirnya menerima bantal yang ia mau. Pergelangan tangan di genggam erat oleh Sendy menghentikan pergerakan nya.
"Duduk",minta Sendy bernada tegas nan dingin.
Azura sangat ketakutan. Namun ia tetap mengikuti perintah Sendy. Ia duduk kembali di depan Sendy yang hanya diam saja memperhatikan dirinya.
"Tidur di sini dengan ku. Hanya tidur dengan ku".
__ADS_1
Melotot kan matanya menatap Sendy,"Jika tidak mau artinya kau mau permintaan kedua ku".Di susul senyum bengis, menatap Azura seperti perempuan murahan.
Sangat tidak yakin jika ini adalah keputusan yang tepat,"Ti..dak",balas Azura guguk."Aku mau....".Menatap dingin menjinjing alisnya."Aku mau tidur dengan mu".
Mengambil bantal itu untuk ia gunakan sebagai bantal. Merebah tubuh nya di depan Azura, miring menghadap Azura duduk. Sendy menuntun Azura untuk segera tidur di samping mengunakan lengannya sebagai bantal.
Azura semakin ketakutan. Tapi ia tidak mau keinginan kedua itu sampai terjadi. Sehingga ia menurut saja keinginan pertama Sendy. Dengan harapan tidak akan terjadi apapun.
Tangan Sendy tergerak merangkul pinggang Azura agar lebih dekat dengannya."Tidur sendiri atau aku tidur kan selamanya".Gumam Sendy yang berbisik pelan di dekat daun telinga Azura. Semakin membuat Azura ketakutan, akan tetapi ia paksakan dirinya untuk memejamkan kedua kelopak matanya.
"Bagus, I love you",bisik Sendy kembali di dekat daun telinga Azura sebelum akhirnya ia beralih ke leher Azura membuat satu tanda kepemilikan di sana. Yang akhirnya ia susul dengan merangkul erat kembali pinggang Azura agar lebih dekat dengan nya.
+++++++
++++++++++++
Mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya,"Kakek",Azura yang melonjak duduk dari tempat tidurnya cepat. Mengatur nafas nya yang tidak beraturan. Di tambah lagi dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuhnya.
Jangan lupakan dengan suara ketukan pintu yang masih terdengar di luar kamarnya. Tokk....Tokk.....Tokk....."Zura bangun sudah siang, kamu tidak sekolah".
"Iya kek, Zura segera keluar".
"Cepat, kakek sudah membuatkan sarapan kamu tidak perlu masak".
"Iya kek, bentar".
Tidak terdengar lagi suara ketukan pintu di luar kamar. Azura melihat sekeliling kamarnya, sampai terlintas dalam benaknya jika kejadian tadi malam adalah mimpi yang sangat mengerikan.
Namun saat ia sudah beranjak dari atas tempat tidurnya. Ia di buat terdiam mematung syok. Melihat jika pun mimpi menyeramkan kenapa barang dalam mimpi itu saat ini masih melingkar di pinggang nya.
Iya, jaket milik Sendy masih di pakai oleh Azura. Suatu hal sederhana yang membuat Azura sedikit panik ketakutan. Namun ia yang tidak mau mengambil pusing. Lebih memilih cepat-cepat keluar kamar mandi dan bersiap berangkat sekolah.
__ADS_1