King Of Blood

King Of Blood
Eps.90 Sendy yang sebenarnya


__ADS_3

Brakk.... Setelah di seret paksa. Ke jalan buntu samping bawah tangga ini tubuh Azura di dorong kuat sampai tubuh nya membentur dinding tralis besi di belakang kuat.


Brakkk..... Menarik kasar surai rambut Azura,"Mau melawan!?Berani sekarang kau dengan ku".Bentak Davina bernada tinggi kepada Azura.


Azura hanya diam saja, menitihkan air mata ketakutan. Tapp..... Sampai ia mendongak kaget melihat tangan besar seseorang yang sudah menggenggam erat pergelangan tangan Davina yang akan melayangkan tamparan.


Davina langsung melepaskan cengkerama tangannya dari surai rambut panjang Azura. Mengambil langkah sedikit mundur. Jangan lupakan dengan genggam erat tangan Sendy yang masih merekat membuat Davina mulai merintih menahan sakit.


"Jangan kau pikir karena kau perempuan aku tidak bisa berbuat semau ku",Sendy menatap tajam lawan bicara."Jika aku sampai melihat mu melukai Azura lagi. Habis kau".Semakin mengeratkan genggaman tangan nya, sebelum akhirnya ia lepaskan. Dan Davina juga komplotan nya langsung berlari menjauh dari sana.


Sendy membalik badan menghadap Azura yang masih terdiam ketakutan. Tangan nya tergerak cepat mengangkat rok selutut milik Azura.


Azura yang kaget langsung mengambil langkah mundur, dengan kedua tangan yang sudah turun menahan tangan Sendy.


Namun apa yang ada di pikiran Azura saat ini sangatlah salah,"Kedua lutut mu terluka, kau masih bisa jalan?Atau aku gendong saja ke ruang kesehatan?".Sendy yang sudah mendongak melihat Azura.


Azura membalas menggeleng kan kepala,"Aku bisa jalan sendiri".


Lantas Sendy kembali berdiri dengan baik, ia merangkul bahu Azura menuntut nya untuk ikut berjalan beriringan bersama. Bukan untuk di antar ke kelas. Melainkan untuk pergi ke ruang kesehatan, untuk mengobati luka-luka Azura.


Di ruang kesehatan. Sendy mendudukkan Azura di salah satu kursi kosong, di susul ia berjongkok di depan Azura.


"Tahan sedikit",Sendy mengulurkan tangan kirinya menutupi luka di lutut kaki Azura dengan telapak tangan kirinya. Sampai telapak tangan itu mengeluarkan cahaya kuning keemasan.


Azura meremas samping rok sekolah yang ia kenakan untuk menahan rasa perih luar biasa dari luka di lututnya. Yang hanya terasa sesaat, setelah nya ia sudah tidak merasakan sakit. Luka itu pun sudah menghilang. Lututnya kembali seperti semua tanpa ada luka goresan di sana.

__ADS_1


Sendy masih berjongkok di depan Azura duduk. Walaupun ia sudah selesai mengobati luka-luka goresan di lutut Azura. Ia terdiam di sana menatap cukup lama sepasang manik mata di depannya.


Azura sangat kurang nyaman saat Sendy menatapnya seperti itu. Bukan hanya tidak nyama tapi ia juga takut. Pemuda yang belum sepenuhnya ia kenal di depan nya ini benar-benar sangat menakutkan. Iya baru saja ingin membunuh tadi malam. Akan tetapi tadi iya juga menolong Azura. Sangat rumit dan misterius membuat Azura ketakutan.


"Lain kali jangan diam saja jika mereka menjahili mu",kata Sendy masih berjongkok di posisi yang sama.


"Pacar Sendy bukan penakut",Sendy membuat Azura membulatkan manik matanya menatap Sendy.


Tersenyum hangat,"Kita kan sudah pacaran. Dan aku tidak terima penolakan, kau tidak mau jadi pacar ku".


Beranjak dari tempat duduknya,"Ke kelas atau istirahat di sini saja?".


"Zura".Panggil Sendy membuat Azura tersadar dari lamunannya.


Sampai akhir terfokus kembali pada Azura yang kembali melamun menatap ke arah lain ruangan ini. Ucup....Azura melebarkan tatapan matanya kaget dengan Sendy yang tiba-tiba saja mencium bibirnya.


Sendy mencengkeram kepala belakang kuat, menahan kepala Azura agar tidak menjauh dari nya. Sembaring ia terus memaksa Azura untuk membalas ciuman nya.


Mengakhiri ciuman nya setelah puas mendapatkan apa yang ia mau. Sendy menatap dalam sepasang manik mata indah ini,"Di sini saja Zur".


"Tidak, aku harus segera ke kelas".Azura buru-buru beranjak dari tempat tidur. Berlari meninggalkan ruang kesehatan. Meninggalkan Sendy yang masih terdiam di sana.


Sendy menatap kepergian Azura dengan wajah ketakutan itu membuat Sendy tanpa terasa menyungging senyum manis tipis, sangat tipis. Tangannya tergerak mengusap sudut bibirnya.


++++++

__ADS_1


"Sen",panggil salah seorang pemuda berjalan cepat menyusul Sendy.


"Dari mana?Pak guru marah-marah di kelas bang***sat", Rocky cerita panjang lebar.


"Terus kenapa kau keluar kelas?".


"Alasan ke toilet lah, iya tidak mungkin aku tetap duduk tenang di sana mendengarkan Omelan nya".


Tidak membalas lagi. Sendy justru melanjutkan perjalanan, namun kali ini berbalik pergi ke arah ruang kelasnya.


"Mau kemana Sen?".


"Kelas".


Rocky hanya mengangguk sebelum akhirnya memilih mengikuti Sendy.


+++++++


Singkat cerita hari sudah menjalang sore. Semua anak-anak sekolah telah kembali ke kediaman rumahnya masing-masing. Untuk beristirahat setelah hari panjang yang melelahkan di sekolah.


Namun Sendy, Rocky, Leo, dan Viktor berbeda dengan mereka. Keempat pemuda ini memilih untuk pergi ke tempat persembunyian mereka yang jauh dari kota. Tempat ternyaman biasa mereka berempat melepas penat jika terjadi masalah melelahkan di antara mereka berempat.


"Tugu yang menyerang kita kemarin, sudah terprovokasi oleh seseorang pria yang menyerang kita 5 tahun yang lalu",jelas Rocky terfokus pada Sendy."Aku baru mengetahui kemarin saat aku mengunakan kekuatan sensor ku untuk mengutip mereka. Aku curiga dengan mereka dan ternyata kecurigaan ku benar".


"Ada benarnya maksud penjelasan mu. Karena tugu yang mengajak kita ribut kemarin adalah rival akrab kita. Akan tetapi mereka semua kemarin seperti terkendali oleh sesuatu, mereka sangat serius ingin berkelahi menghabisi kita",perjelas Viktor yang ikut merasakan. Walaupun ia tidak sekuat ketiga sahabat nya.

__ADS_1


__ADS_2