
Dua Tahun berlalu
Philadelphia
"Harlene.. waktunya meeting dengan RM Corp jam 12 siang di HW Restoran, sisa waktu satu jam lagi" lapor patrick asisten Harlene.
"Kita berangkat sekarang" jawab harlene dingin
Harlene menyambar handbag dan tas kerjanya lalu menyerahkan tasnya pada patrick. patrick mengemudi menuju china town, restoran milik Haekal kakak harlene .
setelah 45 menit perjalanan akhirnya mereka tiba di ruangan vip . patrick memesan minuman untuk mereka berdua
TOK TOK TOK
Sepasang pemuda pemudi memasuki ruangan. Patrick dan Harlene segera berdiri
Harlene terkejut melihat siapa yang tiba didepannya. ia segera menunduk menenangkan diri dan hatinya yang kembali berdenyut nyeri. luka lamanya kembali berdarah.
apalagi wanita berpakaian minim di samping gerald tampak bergelayut manja di lengan gerald. seketika ia merasa konyol hanya memeriksa nama perusahaan dan daftar job permintaan calon klien tanpa memeriksa nama pemilik perusahaan . ia menguatkan hatinya untuk mengangkat kepalanya dan memasang wajah dingin
Gerald melihat wanita yang sangat dia cintai semakin kurus dan pucat, hatinya berdenyut nyeri tapi ia menguatkan hatinya agar rencananya berjalan lancar sesuai dengan yang dia susun
"Hi Nona Steward, Tuan Muda Millano" sapa patrick sopan dan segera berjabat tangan dengan kedua calon kliennya
"Bos.. ini Tuan Muda Millano.. CEO RM Corp, dan ini sekretarisnya nona claudia steward"
Harlene mengangkat kepalanya memasang wajah dingin dan berjabat tangan dengan keduanya
"Claudia Steward"
"Gerald Millano"
"Harlene Ravina Westin"
"Ayo duduk" ajak patrick ramah.
"Patrick untuk RM Corp serahkan job pada Clement, atau kalau Tuan Muda Millano tidak berkenan, Bisa cari perusahaan lain.." Putus Harlene
keputusan harlene membuat patrick terkejut karena harlene membatalkan begitu saja calon klien yang siap membayar tiga kali lipat jasa mereka
"Harlene, kamu kenapa? kamu baik baik saja?" tanya patrick mengusap kepala harlene lembut. harlene mengambil tas kerja dan handbagnya. interaksi itu membuat urat kepala gerald bermunculan, ia mengepalkan tangannya menahan amarah
"Aku baik baik saja. maaf Tuan Millano saya tak bisa mengambil job ini.. saya ada pekerjaan lain. saya permisi"
"Harlene, minimal makanlah dulu, dari pagi kamu belum makan sama sekali. kamu mau opname lagi?" pinta patrick lembut
"Aku akan makan setelah ini, aku duluan"
"Ternyata Nona Muda Westin tak mampu membedakan urusan pribadi dan urusan pekerjaan" sindir gerald dengan senyuman sinis . Harlene membungkukkan badan dan segera keluar ruangan
"Maafkan kami Tuan, Saya akan menghubungi nona steward lagi" pamit patrick. mereka segera keluar ruangan
Tapi mereka melihat harlene dalam pelukan haekal. tubuh tinggi besar dan kekar itu memeluk tubuh mungil harlene sampai nyaris tak kelihatan . "kakak rindu sekali padamu, kamu makin kurus saja"
haekal menatap tajam ke arah gerald yang lengannya di peluk oleh claudia. tapi tubuh kecil dalam pelukannya merosot turun . untung saja haekal berhasil menangkap tubuh itu.
"Avina.. avina ..." haekal langsung mengangkat tubuh kecil itu keluar resto , patrick mengejarnya "Saya ambil mobil Tuan muda" ucapnya sambil berlari. gerald mengejarnya "vina.. vina.."
__ADS_1
"Minggir" teriak haekal menggelegar pada gerald "kak.."
"menyingkir atau aku tak sungkan lagi padamu!!! jangan pernah muncul didepan adikku lagi" bentaknya lalu masuk ke mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh patrick
gerald mengambil mobilnya secepat mungkin dan menyusul di belakang mobil patrick . mereka ke HW Hospital milik Haekal, warisan dari hansel .
Haekal menggendong harlene sambil berlari menuju IGD. "Dokter Dokter tolong adik saya"
"Letakkan dulu nona muda ini di brankar" pinta perawat. dokter segera memeriksa harlene
"Langganan haisss.. Opname dulu ya Tuan Muda"
"Langganan apa maksudmu?" tanya haekal
"Nona Harlene langganan opname disini gara gara GERD Tuan Muda" Jawab patrick . Haekal mengusap wajahnya kasar
"Lakukan yang terbaik dokter" Pinta haekal. Gerald yang berada di IGD tapi agak jauh di belakang haekal langsung lemas. hal ini tak masuk dalam rencananya.
"Pasang saja infus dan injeksi, sebentar lagi nona muda akan ribut minta pulang Tuan Muda. anda tau ia tak bisa di halangi"
"Baiklah.. lakukan seperti biasa dokter" perintah haekal
Gerald berjalan keluar IGD dan duduk di depan. di ruang tunggu. hatinya merasa sangat bersalah menyakiti harlene . airmatanya menetes
♡♡♡♡♡♡
Seminggu kemudian
Apartemen Harlene
TING TONG
yang tau apartemen ini hanya patrick dan opa omanya serta orangtuanya . tapi hanya patrick yang pernah datang. karena kalau keluatganya datang, ia lah yang akan ke mansion milik hansel
"Patrick kau..." Ucapan harlene terhenti saat melihat siapa di depan pintunya. ia segera menutup kembali pintunya tapi gerald sudah menahannya dan menerobos masuk lalu duduk seenaknya di sofa.
Harlene menghembuskan nafas kasar lalu kembali ke kamar mengeringkan rambutnya dan menukar kaosnya yang basah akibat rembesan air dari rambutnya tadi.
Harlene mengenakan celana pendek dan kaos kebesaran, lalu berjalan keluar kamar menuju dapur mengambil dua kaleng minuman soda menuju ruang tamu. ia meletakkan sekaleng minuman didepan gerald lalu membuka sekaleng soda hendak meminumnya.
sebuah tangan besar merebut minuman itu dan langsung meneguknya "Pasien Gerd tak bisa minum minuman soda" tegurnya. harlene mengabaikannya
"Katakan secepatnya apa yang mau kakak katakan lalu pergilah" ucap harlene dingin
gerald menatap intens ke wajah gadis cantik bertubuh mungil dan se-ksi didepannya
"Aku minta maaf" ucapnya penuh sesal
"Kak.. aku sudah katakan, aku telah memaafkan kakak. jadi berhentilah minta maaf. sungguh aku sudah maafin kakak"
"Avina.. ayo menikah"
DEGHHH
"Maaf aku tak bisa" jawab harlene dingin
"Beri aku kesempatan sekali lagi, kumohon" gerald berlutut didepan harlene
__ADS_1
"Duduklah jangan seperti ini kak. bicara baik baik" harlene menarik gerald untuk bangkit . akhirnya gerald duduk disamping harlene
"Dulu kakak yang melamarku, lalu kakak memutuskan meninggalkanku. sejak awal sampai akhir aku menerima dan tidak mengatakan apa apa"
"Sekarang kakak muncul lagi didepanku , mengajak bersama .. aku tak bisa kak" jawab harlene tersenyum getir
"Avina.. sejak aku dilahirkan. selain ibuku.. aku hanya pernah mencintaimu, tak ada wanita lain dalam hidupku baik dulu sampai sekarang.. dulu aku melepaskanmu karena aku melihat kamu begitu dingin dan begitu menderita bersamaku.. maka aku memutuskan hubungan agar kamu bisa meraih kebahagiaanmu meskipun aku harus terluka"
"Dua tahun ini aku selalu mengawasimu, tak pernah seharipun aku melepasmu. aku memberi waktu untukmu agar menata hatimu agar kamu tau apa yang kamu mau, sampai aku muncul lagi menemuimu. hatiku teriris melihat kamu tak menjaga dirimu dengan baik sampai sekurus ini dan sepucat ini"
"Claudia itu sepupu iparku, ia menikah dengan sepupuku, anaknya dua. Aku memohonnya untuk membantuku mendapatkanmu kembali tak kusangka malah membuatmu sakit"
"Semua hanya masa lalu. kita berteman biasa saja kak" pinta harlene
"Aku tak mau, aku mencintaimu. bahkan melebihi nyawaku sendiri.. aku mau kita menikah"
"Maaf kak.. aku tak bisa" jawab harlene getir
"Kumohon harlene, aku hampir kehilangan nafasku saat aku kehilanganmu" harlene hanya diam
"Katakan kamu tak mencintaiku.. aku akan pergi" harlene diam menunduk tak berani menatap gerald
gerald meraup wajah harlene dan mengecup bibir mungil itu. mel -umatnya lembut .
harlene membeku, sekujur tubuhnya terasa kehilangan tenaga diperlakukan seperti itu. sampai gerald menggigit pelan bibir bagian bawah meminta akses masuk. lidahnya mengexplore seisi mulut harlene. harlene memejamkan matanya tapi diam saja. ia tak ada pengalaman sama sekali.
gerald melepaskannya sesaat untuk memberi waktu harlene mengambil nafas. harlene menunduk malu. gerald kembali mel -umat bibir mungil itu. kali ini dengan lebih menuntut . harlene yang terbuai membalas dengan kaku . gerald senang sekali . tak lama ia melepaskan bibir kecil itu dan mengusap dengan ibu jarinya
"Aku mencintaimu" ucap gerald sambil menyatukan keningnya dengan kening harlene. airmata harlene menetes. gerald mengusap airmata itu dengan ibu jarinya. ia kembali mel -umat bibir kecil itu dengan menuntut, harlene membalasnya sambil melingkarkan tangannya di leher gerald . ci -uman itu makin panas
tangan gerald masuk kedalam kaos longgar harlene dan mer -emas bukit indah yang sangat besar itu. suara era -ngan terdengar dari mulut harlene, sampai akhirnya gerald meyusu dengan rakus sekali . harlene menjambak rambut gerald. beberapa saat kemudian gerald melepaskan bibirnya. merapikan baju harlene kembali dan menyatukan kening mereka
"Kita menikah ya" ajak gerald lagi "Jangan pernah tinggalkan aku, aku serasa mau mati"
"Kak.. aku trauma dengan sebuah hubungan. kita berteman dulu ya" pinta harlene
Gerald kembali mel -umat bibir mungil itu sampai keadaan memanas, gerald menyusu di bukit besar itu dengan rakus. era -ngan lolos dari bibir mungil itu . tak lama gerald kembali merapikan pakaian harlene.
"enak sayang?" bisiknya dengan nafas belum teratur. ia berusaha mengendalikan dirinya . harlene menunduk malu
"jawab sayang" bisiknya menggigit kecil telinga harlene . harlene mengangguk
"Apakah bisa berteman seenak ini humm?" tanyanya sambil memindahkan tubuh kecil itu ke pangkuannya.
"Bila menikah akan lebih enak sayang" gerald menggigit telinga harlene lagi
"Sudah kak geli" harlene mendorong dada gerald. gerald tertawa
"Sudah sana pulang kak, avina mau keluar sebentar lagi"
"kemana?" tanya gerald "sama siapa?"
"Ke mall, makan steak sama patrick"
"Kakak temani, kamu sudah terlalu dekat dengan patrick . bahkan bisa bisanya dia pegang pegang kepala kamu. kak tak suka . ganti asisten perempuan aja"
"Sudahlah kak jangan aneh aneh. kakak pulang sana" usir harlene . akhirnya gerald mengalah dan keluar dari apartemen harlene
__ADS_1