
"Baiklah kebetulan semua disini, sungguh tak ada niat saya membahas sesuatu dalam kondisi berduka ini. Tapi ada hal yang tetap harus kita selesaikan hari ini juga" hansen membuka pembicaraan
"Gerald dan Harlene telah lama terpisah oleh jarak dan waktu. apa rencana kalian setelah ini?" tanya hansen
"Gerald mau membawa pulang anak istri gerald pa. dimasa lalu gerald telah salah pada avina. tapi gerald masih memohon avina mau memaafkan gerald"
"Kamu bagaimana avina?" tanya hansen
Harlene menyerahkan map di meja didepan gerald dengan wajah dingin. gerald mengambil dan membacanya dengan tenang
"Sampai kapanpun aku tak akan menceraikanmu. kecuali... kalau aku mati" tegas gerald tenang dan merobek isi map itu
"Terserah.. aku tak peduli" jawab harlene dingin lalu segera bangkit
"Duduk!! Tak ada yang bisa pergi sebelum papa selesai!! Hargai papa" tegas hansen. harlene kembali duduk
"Gerald.. Lepaskan avina.. biarkan dia bahagia. berulang kali kamu menyakitinya, untuk apa mempertahankannya kalau dia menderita"
"Sampai kapanpun tak akan gerald mau menceraikan avina"
"Gab setuju dengan opa" jawab gab dingin. semua menatap gabriel datar
"Sayang apa yang kamu bicarakan?" tanya raymond hati hati
"buat apa papa pertahankan mama kalau hanya membuat mama menderita? terakhir mama pergi karena papa memukul mama. cinta seperti apa yang papa punya?" tanya gab dingin sambil beranjak duduk disamping harlene
ucapan gab membuat seisi ruangan terkejut. semua menatap gabriel , harlene yang memasang wajah dingin dan berakhir menatap tajam gerald
"Kau memukul putriku?" tanya regine marah "beraninya kau. kau kira kau siapa hah? nyali apa yang kau miliki sampai berani memukul putriku? bahkan kami sekeluarga besar memarahinya pun tak tega" teriak regine . hansen menghentikannya
"Kita mau menyelesaikan masalah ma" ucap hansen meski emosi tapi berusaha bijak mengendalikan diri karena ada enam cucunya yang kebahagiaannya akan dipertaruhkan setelah ini . regine memilih diam.
__ADS_1
"Maafin gerald ma. gerald cemburu buta" ucap gerald penuh penyesalan
PROOKKK PROOKKK PROOKKK
Gallen bertepuk tangan keras sampai semua menatap padanya
"Papa mama sungguh orangtua paling hebat yang pernah gallen temui. kalian orangtua luar biasa. luar biasa hebat dan egois. dalam pikiran kalian hanya ada kalian. pernahkah kalian memikirkan perasaan kami hah?"
"Usia gallen 21 tahun, 4 tahun tanpa papa, kami di hujat dihina dicaci sampai trauma. trauma belum hilang kami tanpa mama 8 tahun. lebih dari setengah umur kami menjadi korban keegoisan kalian berdua. apa dimata papa mama ada kami? pernah bertanya bagaimana kami melewati semua ini?"
"Ya setidaknya gallen, gab, gladys , gavi, gilbert pernah merasakan kasih sayang papa mama. meski miris tapi ada yang lebih menyedihkan dari kami. kalian lihat gadis kecil ini" gallen berjalan ke arah hanna
"Sejak ia lahir ia tak pernah mengetahui siapa opa omanya, siapa papanya, siapa kakaknya, siapa keluarganya. pernah kalian sentuh nurani kalian ? kenapa gadis sekecil ini harus menjadi korban kalian? Hanna salah apa?"
"Dan lucunya hari ini sebagai orangtua. kalian yang sudah tidak bertanggung jawab membahagiakan kami malah membahas perceraian. malah ingin membuat kami menjadi korban perceraian"
"Pah.. Mah.. i'm done... gapapa gallen keluar dari keluarga hancur ini. gapapa gallen meninggalkan semua. gapapa gallen hidup berdua dengan hanna di luar asal kami tak menjadi korban kalian lagi. silahkan hapus nama gallen dan hanna dari KK atau dari penerus bahkan pewaris asal kalian puas" teriak gallen marah dan langsung menggendong hanna
"Anak sekecil ini punya wajah sedingin ini, kehidupan seperti apa yang ia jalani? diusianya ini harusnya ia sedang disayang sayang. di ajari papa race mobil, di ajari mama main laptop. tapi yang dia jalani bukan itu melainkan penderitaan" hanna memeluk leher gallen erat
"Gallen sayang. jangan nak. maafin mama" pinta harlene memeluk gallen. gallen menatap ke atas menguatkan hatinya
"Mama mau cerai? silahkan. gallen akan jadi saksi dan menandatangani paling atas. jangan lupa undang gallen tanda tangan ya" sarkasnya marah
"Sayang. maafkan papa nak. maafin papa" gerald mencoba menggendong hanna tapi hanna berpaling sambil memeluk erat leher gallen
"Papa mau main kasar, main kekerasan. silahkan pa. lanjutkan saja. bukan sekali juga papa kasar sama mama. kami sudah besar pa. kami punya mata. berapa kali papa menyakiti mama dan mama diam tak membalas. ayo pa lanjutkan saja. kalau tak cukup memukul mama. masih ada gallen. gallen siap papa pukul asal papa puas dan tak menjadikan adik adik gallen sebagai korban"
"Gallen. maafkan papa"
"Maaf? Maaf seperti apa yang papa mau? Maaf sudah menghancurkan perasaan gallen? atau perasaan adik gallen? atau kebahagiaan kami? atau maaf sudah menghancurkan keluarga ini hah?"
__ADS_1
"Seminggu ini gallen terus menatap anak malang ini, sungguh sakit hati gallen melihatnya. masih kecil sudah mengalami tekanan seperti ini. mama yang bahkan tak sudi melihat hanna, papa yang bahkan tak berusaha menghampiri hanna, sampai hati papa mama begitu egois. Sebaiknya Gallen pergi. jaga diri kalian baik baik"
"Gerald, itu salah papa. bukan mama. jangan begini nak" pinta gerald
"Opa maafkan gallen, gallen pemisi"
"Hentikan kalian semua" tegas hansen "Apa kalian menganggap saya sudah mati hah?"
"Gerald, avina. ini yang kalian mau kan?" tanya hansen
"Pah maafin avina pa" ucao harlene sambil menangis "Gallen maafin mama nak"
"Avina, maafin aku.. kumohon maafkan aku" gerald berlutut di kaki harlene sambil memohon "Beri aku kesempatan terakhir dihadapan keluarga kita. kumohon avina"
"Kamu masih mau egois avina?" tanya hansen dengan tatapan tajam penuh intimidasi
"Bangunlah kak" harlene menarik gerald yang berlutut "maafkan aku avina. sungguh maafkan aku. biar aku menebus pada anak anak atas kesalahanku" ucapnya sambil memeluk tubuh kecil istrinya. harlene mengangguk
raymond, aretha bernafas lega mendengar persetujuan harlene.
"Sekali lagi kau memukul anakku. aku akan menghabisimu . jangan kira aku tak mampu. aku lebih dari mampu jika kamu mengenalku dengan baik" ancam regine pada gerald
"Maafin gerald pa. ma.. gerald akan berubah" gerald melepaskan harlene dan berlutut dikaki mertuanya
"bangunlah. anakmu melihatmu" perintah hansen
"Gapapa pah .. niat gerald adalah menebus kesalahan pada anak istri gerald. memang gerald yang salah"
"bangun dan tenangkan anakmu. lihatlah dia ketakutan" tunjuk hansen pada hanna
"Sayang.. maafin papa ya. papa banyak salah padamu" hanna menolak di gendong gerald.
__ADS_1
"sayang. maafin papa ya. hanna mau punya papa yang sayang hanna kan?" bujuk gallen. semua ikut menenangkan hanna yang tampak takut pada gerald sampai akhirnya ia mau di gendong gerald. ia pun menangis kencang memeluk leher gerald