
...***...
Kerajaan Suka Damai.
Di desa Damai Setia.
Putri Andhini Andita saat ini sedang mengamati desa tersebut. Ia ingin melakukan sesuatu untuk kerajaan Suka Damai. Ia telah memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah melakukan pengembaraan. Rasanya tidak ada alasan lagi untuk melakukan pengembaraan, karena itulah ia memutuskan untuk membantu adiknya. Meskipun pada awalnya mendapatkan penolakan dari adiknya prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Kembali ke hari itu.
Putri Andhini Andita saat ini sedang menuju ke ruang pribadi raja. Langkahnya terlihat sangat yakin, dan tidak ada keraguan lagi.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh rayi prabu. Apakah aku boleh masuk?." Ia meminta izin pada adiknya agar diperbolehkan masuk.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh yunda. Silahkan masuk yunda." Ternyata ada jawaban dari adiknya yang ternyata memang berada di dalam.
"Terima kasih rayi prabu." Putri Andhini Andita masuk, tak lupa senyumannya yang ramah. Ia masih saja perhatian pada adiknya, atau itu adalah sikap seorang kakak pada adiknya?.
"Tentunya ada yang ingin yunda sampaikan padaku, sehingga yunda datang ke sini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menangkap ada hal yang ingin disampaikan oleh kakaknya. Ia hanya mencoba menebak dari sikap kaku yang ditunjukkan kakaknya saja.
"Aku tau akhir-akhir kau lebih menggunakan raga aslimu untuk menemui mereka. Apakah ada sesuatu yang sedang terjadi?." Putri Andhini Andita malah balik bertanya?. Apakah kakaknya ini merasakan sesuatu yang sedang ia sembunyikan?.
"Sepertinya yunda sangat perhatian sekali. Apakah karena itu yunda ragu untuk melakukan pengembaraan?." Ia ingin menguji dan mendengarkan jawaban dari kakaknya. Karena sebelumnya kakaknya berkata ingin kembali mengembara, tapi belum juga ada niat untuk melakukan itu.
Putri Andhini Andita terdiam sejenak, meskipun bukan itu alasannya, namun masih ada kaitannya?. "Aku hanya ingin mengabdikan diriku di istana ini. Aku rasa situasi pengembaraan yang aku lakukan dan yang kau lakukan waktu itu berbeda." Kali ini ia terlihat sangat serius. "Aku telah memikirkannya, bahwa aku akan membantumu. Dari pada aku berjalan hanya menuruti kata hatiku, lebih baik aku membantumu. Kecuali kau tidak ingin aku bantu untuk menyelesaikan beberapa masalah yang ada di istana ini." Putri Andhini Andita sepertinya telah menyadari sesuatu. Kini ia berinisiatif untuk melakukannya. Apalagi keadaan Istana saat ini sedang lengang?.
"Memang begitulah yunda. Karena ada energi tidak baik yang mencoba untuk mengelilingi kerajaan ini. Karena itulah aku tidak bisa melakukan belah raga." Akhirnya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatakannya pada kakaknya.
__ADS_1
"Jika hawa tidak baik itu membuatmu tidak nyaman, maka aku akan menyelidiki masalah itu rayi. Kau bisa mengandalkan aku untuk mencari tahu kebenarannya.
"Bukan seperti itu yunda. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan atas apa yang akan terjadi. Tetaplah tenang, meskipun itu memang membahayakan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat heran dengan pikiran kakaknya itu. Sungguh ia tidak menduganya sama sekali. Apa yang diinginkan kakaknya saat ini?.
"Kalau begitu, berikan aku perintah untuk memeriksa mereka semua. Berikan tugas itu padaku." Tatapannya begitu tajam, dan tidak bisa dibantah lagi. Ia tidak tahan jika hanya berdiam diri saja di Istana ini.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya dengan pelan. "Baiklah yunda." Ia juga tidak punya pilihan lain. "Tapi yunda harus berhati-hati lah. Aku hanya tidak ingin yunda mengalami masalah yang merugikan dengan mereka. Sepertinya mereka memiliki rencana yang tidak baik." Ia mencoba untuk memberi peringatan pada kakaknya agar waspada.
"Tentu saja aku akan berhati-hati rayi. Serahkan padaku, aku akan menyelidiki mereka semua dengan benar." Putri Andhini Andita terlihat sangat senang.
Kembali ke masa ini.
Putri Andhini Andita saat ini sedang menyamar, dan ia mengamati mereka semua. Para bangsawan yang katanya saat ini sedang dalam pelarian. Entah itu benar atau tidak, namun mereka meminta izin pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana untuk tinggal sementara waktu di kerajaan Suka Damai. Putri Andhini Andita saat itu yang menemukan mereka, kebetulan ia sedang bosan saat itu. Hingga sang Putri berjalan-jalan mengitari kerajaan Suka Damai.
Kembali ke masa itu.
Putri Andhini Andita telah sampai di desa Damai Setia. Ia hanya ingin melihat keadaan negeri ini. Negeri yang kini dipimpin oleh adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Hamba rasa, mengabdi pada negeri sendiri juga termasuk pengembaraan. Sama seperti rayi prabu yang selalu bersembunyi dibalik topengnya demi kedamaian negeri ini." Putri Andhini Andita hanya tersenyum kecil. Saat ini ia berusaha membaur dengan rakyat biasa. Berpakaian layaknya orang biasa, meskipun kulitnya yang putih itu memang mencolok, tapi ia sebisa mungkin tidak menunjukkan siapa dirinya saat ini.
"Jadi kau ingin melihat inti dari kerajaan yang telah dijaga oleh mendiang gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta ini dengan menggabungkan kekuatan kami?." Sukma Dewi Suarabumi hanya ingin memastikannya.
"Ya. Hamba berniat seperti itu. Tapi apakah boleh, hamba ingin mendengar cerita, bagaimana gusti putri bisa dimasukkan ke dalam pedang panggilan jiwa oleh mendiang eyang prabu." Perasaan penasaran sedang membuncah di dalam dirinya. Rasanya ia ingin mengetahui semuanya.
Namun, saat itu ia melihat ada banyak orang yang berlarian karena ketakutan. Mereka ketakutan karena ada sekelompok orang yang ingin berbuat jahat?.
"Sepertinya tidak untuk saat ini andhini andita. Kau memiliki masalah yang harus kau tangani." Sukma Dewi Suarabumi merasakan hal tidak baik sedang terjadi.
__ADS_1
Putri Andhini Andita langsung melihat apa yang terjadi, ia melihat ada beberapa orang yang mengejar warga desa Damai Setia. Putri Andhini Andita terpaksa menggunakan tenaga dalamnya untuk menghentikan mereka.
Duakh!!!
Kedua orang itu terjajar karena menerima serangan dari Putri Andhini Andita. Mereka segera bangkit, sementara itu warga desa telah melarikan diri mencari tempat yang aman.
"Kurang ajar!. Siapa kau!. Berani sekali kau menyerang kami!." Laki-laki bertubuh kekar itu membentak Putri Andhini Andita dengan suara yang cukup keras. Tapi ia terlihat meringis kesakitan, serangan yang ia terima tadi sepertinya cukup menyakitkan baginya.
"Kalian yang siapa?. Berani sekali kalian menyerang penduduk desa damai setia. Apa yang kalian lakukan di desa ini?." Tatapan mata itu sangat tajam, serta hatinya yang bergemuruh menahan amarah.
"Mereka telah berani memasuki kawasan tempat persembunyian pangeran kami. Meskipun ini desa damai setia, tapi kami saat ini sedang melarikan diri."
"Bisa jadi mereka memberikan informasi itu pada orang lain, dan itu akan membahayakan pangeran kami!."
"Sungguh tidak sopan sama sekali." Amarahnya keluar begitu saja mendengarkan apa yang mereka katakan padanya. "Kalian lah yang tidak sopan masuk ke wilayah orang lain, dan malah membuat kerusuhan." Putri Andhini Andita mengeluarkan pedang panggilan jiwa, membuat keduanya terkejut. "Aku akan mengusir kalian, kalian kalian bersikap kurang ajar!." Hawa pedang itu seperti mengikuti kemarahan yang dirasakan oleh Putri Andhini Andita.
"Pedang itu bukan pedang biasa. Sepertinya wanita ini bukan wanita biasa." Dalam hati laki-laki berbadan kekar itu merasakan hawa yang sangat kuat dari pedang itu.
"Sepertinya kita harus mengalah. Jangan sampai kita terluka hanya karena melawan wanita itu." Busuk temannya. Ia dapat merasakan kekuatan tenaga dalam yang luar biasa dari putri Andhini Andita.
"Baiklah, maafkan kami. Kami yang salah, kami minta maaf."
"Tapi kami mohon izin untuk bersembunyi di wilayah ini untuk sementara waktu."
Putri Andhini Andita mencoba menangkan amarahnya. "Kalau begitu temui gusti prabu asmalaraya arya ardhana. Ini adalah wilayah kekuasaannya. Mungkin kalian akan diberi perlindungan oleh beliau." Ia memberi darah pada keduanya.
"Terima kasih atas saran baiknya nini."
__ADS_1
"Kami akan segera menemui gusti prabu yang menguasai kerajaan ini." Tampaknya mereka bukan orang jahat?. Entahlah, belum mengetahui bagaimana mereka yang sebenarnya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah mereka orang baik, atau ada maksud lain yang tersembunyi?. Simak ceritanya, mohon dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...