KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
TAMU SIAPA?.


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita masih larut dalam lamunannya, atau lebih tepatnya di alam bawah sadarnya ketika berkomunikasi dengan Sukma Dewi Suarabumi. Namun saat itu ia terkejut karena suara seorang Prajurit yang memanggilnya.


"Mohon maaf gusti putri." Prajurit tersebut memberi hormat pada Putri Andhini Andita.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hatinya mengucap kalimat tersebut. "Ada apa prajurit?. Ada apa kau menemuiku?." Putri Andhini Andita tentunya bertanya-tanya.


"Mohon ampun gusti putri. Di gerbang istana ada seorang tuan putri yang ingin masuk ke istana. Apakah tuan putri mengizinkannya untuk masuk?." Prajurit tersebut meminta izin untuk mempersilahkan seseorang untuk masuk.


"Baiklah. Kalau begitu izinkan ia untuk masuk. Bawa dia ke ruang tamu kerajaan." Putri Andhini Andita tentunya mengizinkannya masuk.


"Baiklah gusti putri. Kalau begitu hamba pamit dulu, sampurasun." Kembali prajurit tersebut memberi hormat, setelah itu ia pergi meninggalkan Putri Andhini Andita.


"Rampes." Balas Putri Andhini Andita. Ia juga pergi meninggalkan tempat, tentunya ia menuju ruang tamu kerajaan. "Tidak mungkin cahya candrakanti. Aku yakin bukan dia." Dalam hatinya bertanya-tanya, dan mencoba menebak, siapakah yang kira-kira datang ke istana ini?. "Atau jangan-jangan calon istri rayi prabu?. Atau siapa?. Sulit sekali aku menerka siapa yang datang ke istana ini." Dalam hatinya merasa bingung dengan tebakannya sendiri. "Siapapun dia, aku tunggu saja di ruang tamu kerajaan." Ia juga malas memikirkan siapa yang akan datang. Toh baginya sama saja, yang penting tidak membuatnya marah nantinya.


Sementara itu seorang putri yang katanya ingin masuk ke istana datang bersama prajurit. Entah itu kebetulan atau apa, Putri Andhini Andita berpas-pasan dengan Raden Jatiya Dewa.

__ADS_1


"Apakah ada tamu penting hari ini andhini andita?." Ia mendekati Putri Andhini Andita.


"Aku tidak mengetahuinya jatiya dewa. Tadi prajurit mengatakan ada seseorang yang ingin masuk ke istana. Jadi aku memperbolehkannya masuk. Mungkin dia ada keperluan, jadi aku memberikannya izin untuk masuk." Jawabnya, meskipun ia merasa aneh. Tamu tersebut ingin bertemu dengan siapa.


"Raden jatiya dewa." Saat itu juga ada seseorang yang menyebut nama Raden Jatiya Dewa. Tentunya membuat Raden Jatiya Dewa dan Putri Andhini Andita melihat ke arah sumbernya.


Deg!!!.


Raden Jatiya Dewa sangat terkejut melihat siapa yang datang. Ia tidak menduganya sama sekali, jiwa wanita itu yang datang?.


"Maaf?. Apakah kau mengenal raden jatiya dewa?." Putri Andhini Andita penasaran sekali, karena wanita itu mengenali Raden Jatiya Dewa.


"Maaf putri rara saraswati. Aku sama sekali tidak merindukanmu." Raden Jatiya Dewa benar-benar risih mendengarnya, juga sikap Putri Rara Saraswati?. "Kenapa kau bisa mengetahui aku berada di sini?. Sebaiknya kau pergi dari sini karena aku sama sekali tidak ingat lagi dengan mu!." Raden Jatiya Dewa menolaknya dengan cara kasar, ia menolak Putri Rara Saraswati.


Putri Rara Saraswati terdiam sejenak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Jatiya Dewa. "Kau tidak usah berpura-pura menolakku di depannya." Tatapan mata Putri Rara Saraswati terlihat sangat tajam. "Susah payah aku datang ke sini hanya untuk menemui lelaki sombong seperti kau!." Hatinya sangat panas, tangannya menunjuk ke arah Raden Jatiya Dewa. "Secepat itukah kau melupakan apa yang pernah terjadi sebelumnya?. Haruskah aku ingatkan kau bagaimana saat kau berjanji akan menikah denganku pada saat itu?. Apakah kau lupa dengan apa yang telah kau katakan pada saat itu raden nan sombong!." Hatinya benar-benar panas, sehingga ia mengatakan apa yang terjadi di masa lalu.


"Aku tidak menduga kau lelaki parah di masa lalu jatiya dewa." Putri Andhini Andita melirik ke arah Raden Jatiya Dewa.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Raden Jatiya Dewa menghela nafasnya dengan berat. Hampir saja ia ingin menangis ketika ditatap seperti itu oleh Putri Andhini Andita. "Jangan percaya dengan ucapannya andhini andita. Dia itu adalah seorang penipu. Dia adalah putri dari paman patih rangga prahaja. Bahkan yunda dewi anjarwati sama sekali tidak suka dengannya." Amarah Raden Jatiya Dewa benar-benar sangat memuncak. Ia tidak suka sama sekali dengan apa yang dikatakan Putri Rara Saraswati.


"Aku tidak menipu!. Kau saja yang jahat padaku!." Putri Rara Saraswati juga marah. Ia tidak terima jika ia dikatai sebagai seorang penipu.


Putri Andhini Andita menghela nafasnya dengan pelan. "Baiklah. Aku anggap kau adalah tamu dari raden jatiya dewa." Putri Andhini Andita menyerahkannya pada Raden Jatiya Dewa. "Aku tidak mau terlibat dengan kisah kalian yang penuh sandiwara. Masih ada yang harus aku lakukan jika. Jika masalah kalian tidak selesai maka selesaikan dengan baik, dan sebaginya jangan libatkan aku." Putri Andhini Andita melangkah meninggalkan tempat.


"Jadi kau adalah putri andhini andita?." Putri Rara Saraswati sedikit mengingat sesuatu. "Jadi kau adalah alasan kenapa raden jatiya dewa datang ke sini?." Ia tidak menduganya sama sekali. Namun Putri Andhini Andita tidak menghiraukan perkataan itu. ia terus berjalan, karena ia memang tidak ingin terlibat apapun itu masalah mereka. Namun, saat itu perkataan itu benar-benar telah membangkitkan amarahnya. "Benar-benar wanita tidak tahu diri. Bisa-bisanya kau memikat raden jatiya dewa dengan cara aneh seperti itu. Wanita jelek tidak tahu malu." Perkataan itu benar-benar membuat Putri Andhini Andita naik darah.


Srakh!.


Dengan cepat Putri Andhini Andita mendekati Putri Rara Saraswati sambil mengacungkan pedang panggilan jiwa tepat di mulut Putri Rara Saraswati.


Deg!!!.


Putri Rara Saraswati dan Raden Jatiya Dewa sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Putri Andhini Andita.


"Itu sama halnya ketika aku berkata aneh-aneh tentangnya." Dalam hati Raden Jatiya Dewa merasa gugup luar biasa. Ia masih ingat bagaimana Putri Andhini Andita. "Ternyata dia memang tidak bisa diremehkan begitu saja." Raden Jatiya Dewa merinding sendiri mengingat bagaimana hari itu.

__ADS_1


"Kurang ajar sekali mulutmu itu dalam berucap. Rasanya ingin aku tebas dengan pedang ini. Tapi sukma gusti putri dewi suarabumi akan tertawa melihat ini." Putri Andhini Andita berusaha menahan dirinya agar tidak kebablasan. Ia tidak terima apa yang dikatakan oleh Putri Rara Saraswati. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2