KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
KISAH SUKMA DEWI SUARABUMI


__ADS_3

...***...


Dua hari telah berlalu.


Putri Andhini Andita saat ini sedang berada di Kaputren. Rasanya agak malas bergerak, apalagi saat ini rasanya ia hanya ingin berada di istana saja. Entah kenapa ia ingin berada di taman istana saat ini.


"Apakah kau sedang bosan andhini andita?." Sukma Dewi Suarabumi dapat merasakan itu.


"Sepertinya begitu gusti putri." Jawabnya dengan lembut.


"Baiklah. Kalau begitu, sesuai dengan janji. Aku akan menceritakannya padamu. Bagaimana saat itu aku bertemu dengan mendiang gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta." Ya, itu adalah ucapan terima kasihnya pada Putri Andhini Andita karena telah mau menguatkan hatinya untuk memanggil dirinya sebagai senjata andalannya ketika bertarung.


"Hamba akan mendengarkannya dengan baik gusti putri. Terima kasih karena telah bersedia menceritakannya pada hamba." Putri Andhini Andita sangat senang. Itulah yang ia tunggu, ia ingin mendengarnya.


Kembali ke masa itu.


Di sebuah hutan bambu yang sangat lebat. Seorang wanita dengan rambut terurai begitu saja tanpa ada hiasan ataupun yang membuatnya terlihat anggun lagi. Itu karena penampilannya sangat berantakan sekali, serta tubuhnya dipenuhi oleh luka-luka yang sangat dalam. Bukan hanya itu saja, saat itu tubuhnya telah tertancap beberapa panah yang menembus tubuhnya. Akan tetapi ia masih tetap memaksakan dirinya untuk tetap berjalan.

__ADS_1


"Apakah ini yang aku dapatkan setelah aku melindungi adikku?." Dalam hatinya berkata seperti itu, sekaligus bertanya pada dirinya sendiri. Kakinya terasa bergetar ketika ia masih tetap memaksa untuk tetap berjalan. Meskipun sesekali ia menopang tubuhnya ke bambu-bambu yang ia lewati.


"Apakah ini yang aku dapat setelah aku berhasil mengembalikan kerajaan pada kekayaannya?." Kepalanya sangat sakit memikirkan apa saja yang telah mereka lakukan padanya. Ia masih saja diperlakukan tidak adil, bahkan ketika ia membela adiknya dengan darah. Sungguh ia tidak bisa memikirkan hal apapun lagi, selain rasa sakit yang mendera tubuh serta perasaannya yang sangat hancur.


"Kenapa aku harus berakhir seperti ini?. Kenapa aku merasa sangat malang sekali?." Dalam hatinya masih bertanya-tanya, apa yang akan akan ia lakukan dalam keadaan seperti ini?. Ia menghentikan langkahnya karena merasa tidak kuat lagi. Ia menyandarkan tubuhnya yang tidak bisa ia gerakkan lagi. "Sepertinya aku akan berakhir di sini. Aku akan berakhir dengan sangat menyedihkan." Tanpa sadar air matanya telah membasahi pipinya. Hatinya yang sangat sakti, serta bibirnya sesekali merintih tanda tubuhnya menjerit berteriak sambil berkata. "Aku tidak sanggup lagi. Aku sudah tidak kuat lagi. Sepertinya aku tidak akan bisa bertahan lagi." Kepalanya benar-benar tidak dapat lagi memikirkan hal yang lain selain kematian yang semakin mendekatinya.


Brukh!.


Saat itu tubuhnya limbung, jatuh ke tanah yang keras?. Apakah ia tidak mau menopang lagi tubuhnya?. "Untuk apa aku bertahan, jika apa yang ingin aku pertahankan selama ini telah pergi dari genggaman tanganku." Ia hanya pasrah saja, ia tidak peduli lagi jika tubuhnya yang sakit itu akan terhempas ke tanah yang keras itu. "Ya, aku tidak peduli lagi dengan kehidupanku yang sekarang." Dalam hatinya benar-benar pasrah dengan keadaannya sendi.


"Malang sekali yang kau lakukan nini. Sungguh luka yang sangat parah." Laki-laki tampan nan gagah telah menopang tubuhnya. Suaranya begitu menggetarkan jiwanya yang sedang terguncang. Begitu juga dengan senyumannya yang menawan, membuat ia ingin merasakan bagaimana kehidupan kembali.


"Jangan menyerah. Kau adalah wanita yang sangat kuat. Kau adalah seorang wanita yang bisa melakukan apa saja." Laki-laki itu menguatkan hatinya. Namun matanya terasa sangat berat, dan tidak bisa ia tahan lagi. Hanya tersisa senyuman yang ingin ia perlihatkan pada seseorang. Hingga akhirnya ia memejamkan matanya, sungguh ia tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak terlelap barang sejenak. Itupun jika sang Pencipta masih memberikan kesempatan padanya untuk tetap melihat matahari terbit besok?.


"Sungguh luka yang sangat dalam." Laki-laki itu merasa simpati padanya. "Aku akan memberikan keringanan padamu nini. Semoga kau bisa merasakan kebahagiaan yang kau inginkan." Ia menggendong wanita malang itu. Ia akan mengobatinya, jika ia berhasil. Ia ragu apakah wanita itu akan bertahan hidup setelah mendapatkan luka-luka yang sangat parah seperti itu.


Kembali ke masa ini.

__ADS_1


Putri Andhini Andita seperti sedang masuk ke ruang serba putih, di mana ada dirinya dan Sukma Dewi Suarabumi saja. Namun sepertinya Sukma Dewi Suarabumi sedang memikirkan sesuatu. Wajahnya terlihat sangat murung sekali. Tergambar jelas di matanya bagaimana kejadian itu, kejadian yang tidak bisa ia lupakan begitu saja. Bahkan bertahun-tahun ia berada di dalam pedang panggilan jiwa yang dibuat oleh Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.


"Aku pikir hari itu aku benar-benar mati dalam keadaan mengenaskan." Ia masih melanjutkan kisahnya pada saat itu. "Sebelum aku pergi aku meninggal dengan keadaan lega karena mendiang gusti prabu." Kali ini ia tersenyum dengan lembut sambil menatap Putri Andhini Andita.


Kembali ke masa itu.


Perlahan-lahan ia membuka matanya. Ia merasakan dirinya walaupun sangat sulit untuk digerakkan. Tubuhnya benar-benar terasa sangat berat untuk digerakkan, bahkan bergeser rasanya sangat mustahil. Hingga ia mendengarkan secara seseorang yang menegurnya dengan lembut.


"Nini tidak perlu memaksakan diri." Ia mendekati wanita itu. "Luka yang nini terima sangat luar biasa sekali. Aku bahkan mengerahkan tenaga dalam ku, agar aku tidak melukai organ vital nini. Maaf jika aku lancang, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan." Ia mencoba menjelaskannya.


Wanita itu menutup matanya, karena ia merasakan sakit pada tubuhnya. Memang benar yang dikatakan oleh laki-laki tersebut, tubuhnya seperti mati rasa dan hancur. Tapi masih kah ia mau bersyukur karena setidaknya ia masih bisa diselamatkan?.


"Aku benar-benar hampir kehilangan akal sehat, karena aku tidak bisa menyelamatkan dirimu sepenuhnya seperti sedia kala." Dengan berat hati ia mengatakannya. "Tapi jika nini masih memiliki kekuatan hati untuk bertahan, maka aku akan merawat nini sampai sembuh. Tapi aku tidak jamin apakah nini bisa berbicara dengan benar, atau berjalan dengan baik lagi. Karena luka-luka serta ketakutan yang nini rasakan telah mengalahkan semuanya." Lanjutnya lagi.


Wanita itu hanya tersenyum kecil sambil memejamkan matanya. Ia tidak sanggup lagi untuk bertahan. Sama seperti yang dikatakan oleh laki-laki itu, bahwa ia tidak akan mungkin lagi bertahan sepenuhnya. Apakah yang akan ia lakukan?. Temukan jawabannya.


...*** ...

__ADS_1


__ADS_2