
...***...
Untuk sementara waktu Putri Andhini Andita berada di penginapan warga pesisir. Karena perjalanan menuju kota raja kerajaan Melarang masih membutuhkan waktu. Jadi ia beristirahat di sana melepas lelah, dan tak tak lupa ia melaksanakan sholat. Sedangkan Senopati Malakala hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Putri Andhini Andita.
"Dia mengarah ke arah matahari terbenam?. Sebenarnya apa yang ia lakukan?. Mengenai pakaian yang berbeda?. Serta gerakannya berulang-ulang." Dalam hatinya dipenuhi tanda tanya yang sangat besar. Rasa penasaran melihat apa yang sedang dikerjakan Putri Andhini Andita, namun ada perasaan yang mengatakan bahwa tunggu ia selesai melakukannya maka baru kau boleh bertanya.
Memang membutuhkan waktu untuk bertanya, hingga akhirnya Putri Andhini Andita selesai melaksanakan sholat. "Maaf nimas, maaf jika aku lancang bertanya." Meskipun agak ragu namun ia masih ingin bertanya. "Apa yang kau lakukan barusan?. Bisakah kau jelaskan padaku?."
Putri Andhini Andita tersenyum kecil, ia mengerti arti pertanyaan itu. "Yang aku lakukan tadi itu adalah gerakan sholat. Tujuannya adalah menyembah sang pencipta. Serta ucapan rasa syukur yang telah diberikan sang pencipta pada kita." Jawabnya dengan ramah.
"Ya, memang kita diajarkan menyembah sang pencipta. Tapi apa yang diajarkan oleh pendahulu tidak seperti itu." Heran, dan agak tidak biasa menurutnya.
Saat itu juga putri Andhini Andita teringat dengan perkataan dari adiknya mengenai pertentangan agama dan cara menyembah sang Pencipta. "Yunda, jika yunda berada diperjalanan. Ada seseorang yang berbeda agama dengan yunda bertanya mengenai apa yang telah yunda lakukan setelah sholat, maka apa yang akan yunda jawab?. Tapi pertanyaan itu tidak menimbulkan pertentangan dengan apa yang mereka yakini sebelumnya." Itulah yang ia ingat sebelum ia pergi meninggalkan istana. Pertanyaan dari adiknya sebelum ia pergi dari Istana.
"Memang aku dulu menyembah apa yang telah dilakukan oleh leluhur kita. Namun, ada kepercayaan baru yang lebih logis lagi mengenai cara menyembah sang pencipta. Dengan cara seperti yang aku lakukan tadi, dan itu namanya sholat." Jawabnya dengan hati-hati. "Agama tersebut adalah agama Islam, dan sholat adalah tiang dari agama itu. Jika kau tidak sholat, maka kau meruntuhkan agama yang ada di dalam dirimu sendiri." Lanjutnya lagi.
"Sungguh aku tidak mengetahui ajaran baru itu. Ajaran baru itu sama sekali tidak masuk sampai ke sini." Senopati Malakala sama sekali tidak bisa memahaminya.
"Agama tersebut memang baru sampai, dan aku sebagai seorang pengembara baru juga mempelajarinya. Namun tidak terlalu rumit, dan juga tidak terlalu mudah."
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak mengerti." Sungguh, Senopati Malakala memang tidak mengetahuinya.
"Intinya tergantung niat. Jika niat ingin berubah ke arah yang lebih baik, maka hasilnya juga akan baik. Semuanya tergantung diri masing-masing, mau menjadi orang baik atau orang jahat.* Putri Andhini Andita juga bingung mau menjelaskannya. "Rayi prabu benar. Meyakinkan seseorang ke arah yang lebih baik itu memang sulit. Karena tidak bisa diterima begitu saja, dan pastinya membutuhkan waktu. Sama seperti aku waktu awal belajar agama Islam." Dalam hatinya merasa agak berat untuk menjelaskannya.
"Nimas seorang pengembara?." Senopati Malakala bertanya karena terkejut mendengarkan ucapan Putri Andhini Andita yang mengatakan dirinya adalah seorang pengembara?.
"Hamba seorang pengembara gusti patih. Dan maaf jika hamba tadi masuk ke sini tanpa izin." Ada perasaan sungkan yang ia rasakan saat ini.
"Oh tidak apa-apa nimas. Aku justru berterima kasih padamu. Karena kau telah membantuku." Senopati Malakala tersipu malu melihat senyuman manis dari Putri Andhini Andita.
"Lalu akan gusti patih apakah mereka?." Putri Andhini Andita ingat dengan mereka yang ditangkap tadi.
"Kalau begitu, apakah hamba boleh ikut?. Mungkin ada sesuatu yang bisa hamba pelajari di kerajaan ini selama pengembaraan hamba. Apakah hamba boleh berjalan-jalan di sekitar kerajaan hebat ini?." Putri Andhini Andita ingin melihat bagaimana keadaan kota Raja Kerajaan Melarang. Apakah sama, atau berbeda dengan Kerajaan Suka Damai?.
"Baiklah. Sebagai ucapan terima kasihku, kau boleh ikut denganku." Senopati Malakala sama sekali tidak keberatan, ia justru merasa terhormat jika ada orang luar yang ingin mengetahui tentang kerajaan Melarang.
"Terima kasih gusti patih." Putri Andhini Andita memberi hormat. Ia sangat senang karena mendapatkan izin untuk masuk lebih jauh ke sebuah kerajaan. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1
Keesokan harinya, di istana Kerajaan Melarang. Mereka semua masih sibuk, dan tidak ada hentinya mengobati Raden Candana Arga yang sedang mengalami sakit.
"Apa yang terjadi sebenarnya pada putra kita kanda prabu?. Kenapa putra kita tidak bisa berjalan?. Apa yang menyebabkannya seperti itu?." Ratu Ayundari Paramita sangat bersedih hati saat ini. Anaknya mengalami sakit aneh yang membuatnya tidak bisa berjalan?. "Apa jadinya jika seorang putra mahkota tidak bisa berjalan kanda prabu." Sungguh, rasanya sangat sakit sekali menerima kenyataan itu?.
"Tenanglah dinda. Kanda juga sedang memikirkan cara agar putra kita nanda candana arga bisa berjalan seperti dulu lagi." Prabu Candana Kumara kita merasa sedih, anaknya mengalami kelumpuhan?. Begitulah yang dikatakan oleh tabib yang mengobati anaknya. Namun tidak ada satupun dari mereka yang bisa mengobati anaknya?. Sudah banyak orang pintar mengobatinya, namun belum juga menunjukkan pertanda baik.
"Cara apa lagi yang akan kita gunakan kanda prabu. Tolong katakan pada dinda." Hatinya sangat pilu, sesak dan tidak bisa tenang jika anaknya masih dalam keadaan seperti itu.
"Kanda juga sedang memikirkannya dinda." Prabu Candana Kumara bahkan mengerahkan tenaga dalamnya, namun tetap saja belum bisa.
Di saat yang bersamaan, Putri Andhini Andita dan Senopati Malakala datang. Mereka tadinya baru saja mengantar kelima tahanan yang berhasil mereka tangkap, namun kebetulan mereka melihat banyak orang-orang lalu lalang masuk istana dengan raut wajah sedih.
"Maaf gusti patih. Apa yang terjadi sebenarnya?. Kenapa mereka gusti patih?. Apakah terjadi sesuatu di dalam istana?." Putri Andhini Andita sangat penasaran.
"Sebenarnya memang agak berat mengatakannya, namun karena nimas orang baik, aku akan mengatakannya." Senopati Malakala menghela nafasnya dengan pelan.
Putri Andhini Andita menyimak apa yang akan dikatakan oleh Senopati Malakala padanya. "Sebenarnya saat ini putra mahkota sedang mengalami sakit aneh yang menyebabkan ia tidak bisa berjalan. Itulah yang membuat mereka semua bersedih ketika keluar istana." Jelasnya dengan singkat. Bagaimana reaksi dari Putri Andhini Andita?. Apakah ia akan membantu pangeran tersebut?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta. Salam semangat penuh cinta.
...*** ...
__ADS_1