KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
PERTEMUAN?.


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita telah berhasil diobati. Mereka semua sangat cemas dengan kondisinya. Meskipun tabib istana mengatakan, jika keadaannya baik-baik saja. Tapi tetap saja mereka sangat khawatir dengan keadaannya.


"Aku harap kau bisa menjelaskan semua apa yang terjadi pada nimas andhini andita nantinya pada nanda prabu dengan baik jatiya dewa." Prabu Lingga Dewa terlihat sangat khawatir.


"Baiklah ayahanda prabu. Nanda akan menjelaskan masalah ini dengan baik pada gusti prabu." Ia juga terlihat panik?. Lebih tepatnya takut terjadi sesuatu pada Putri Andhini Andita setelah terkena tebasan pedang laut kegelapan. "Itu terjadi karena gusti putri ingin membantu nanda, ayahanda prabu. Tapi saat itu nimas rara saraswati menyerangnya dengan cara yang sangat kejam." Raden Jatiya Dewa masih ingat dengan kejadian itu.


"Benar yang dikatakan oleh rayi jatiya dewa ayahanda prabu. Ananda juga melihatnya. Sungguh keji sekali apa yang telah dilakukan nimas rara saraswati." Putri Dewi Anjarwati juga tidak akan lupa dengan kejadian itu. "Tapi sepertinya Dewata agung telah melaknat wanita jahat itu ayahanda prabu. Ia mendapat karma atas apa yang telah ia lakukan." Perasaannya bercampur aduk, saat ia mengingat bagaimana tubuh Putri Rara Saraswati terbakar saat itu.


"Memangnya apa yang terjadi padanya putriku?. Katakan pada ayahanda." Prabu Lingga Dewa penasaran dengan apa yang terjadi pada Putri Rara Saraswati?.


"Saat ini paman patih sedang mengurus kematian anaknya. Tubuh nimas rara saraswati terbakar, setelah mendengarkan apa yang dibacakan oleh rayi jatiya dewa." Matanya menatap ke arah adiknya, seakan-akan ia meminta bantuan pada adiknya untuk meminta penjelasan lebih lanjut.


"Apa yang kau bacakan jatiya dewa?. Sehingga tubuh nimas rara saraswati terbakar?. Kau tidak belajar ilmu aneh selama di kerajaan suka damai bukan?." Mata Prabu Lingga Dewa menatap tajam ke arah anak bungsunya itu.


"Te-te-tentu saja tidak ayahanda. Mana mungkin gusti prabu asmalaraya arya ardhana raja muda baik hati terhormat mengajarkan ilmu sesat pada nanda." Raden Jatiya Dewa terlihat gugup karena tatapan mata ayahandanya.


"Lalu apa yang kau bacakan, sehingga tubuh nimas rara saraswati terbakar?. Katakan padaku dengan jelas!." Prabu Lingga Dewa meminta penjelasan yang masuk akal pada anaknya.


"Yang nanda bacakan itu adalah kumandang adzan. Selain sebagai penanda waktu masuk sholat, suara adzan juga dapat mengusir bangsa jin ayahanda prabu." Raden Jatiya Dewa menjelaskan. "Apakah ayahanda ingat?. Ketika gusti prabu berada di bilik kakek prabu saat itu?. Gusti prabu mengumandangkan adzan di bilik kakek prabu, untuk mengusir roh-roh jahat yang masih ingin tinggal di bilik kakek prabu." Raden Jatiya Dewa kembali mengingatkan ayahandanya tentang masalah itu.


"Oh iya, ya. Aku ingat. Suara nanda prabu sangat merdu sekali pada saat itu." Prabu Lingga Dewa mengingat kejadian itu. "Suara yang merdu, tapi kenapa tidak disukai jin yang jahat ya?. Rasanya aneh sekali." Prabu Lingga Dewa jadi bertanya-tanya kenapa itu bisa terjadi. "Apakah kau bisa menjawab pertanyaan ku itu jatiya dewa?." Prabu Lingga Dewa sangat penasaran sekali, kenapa suara merdu seperti itu malah membuat jin kesakitan?. Apa penyebabnya?. Itulah yang ingin diketahui oleh Prabu Lingga Dewa.


"Nanda juga kurang mengetahuinya ayahanda prabu. Mungkin saat nanda kembali ke istana kerajaan suka damai. Nanda akan bertanya pada gusti prabu kenapa itu bisa terjadi." Raden Jatiya Dewa bingung mau menjawab apa.


"Huh!. Aku pikir kau juga bertanya tentang itu jatiya dewa." Mata Prabu Lingga Dewa kembali menatap tajam ke arah anaknya.


"Itu karena di otaknya hanya ada tuan putri andhini andita ayahanda prabu. Makanya ia lupa bertanya kenapa itu bisa terjadi. Ckckckck." Putri Dewi Anjarwati juga ikut mengadili adiknya dengan tatapan aneh. "Aku kira kau memang serius belajar, ternyata kau memang mengincar nimas andhini andita. Itulah kenapa kau belum bisa mendapatkannya. Karena niatmu telah melenceng jauh rayi jatiya dewa." Putri Dewi Anjarwati benar-benar menghakimi adiknya yang tidak bisa menjawab pertanyaan Prabu Lingga Dewa.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Berikan hamba kekuatan atas tuduhan yang diberikan oleh yunda hamba ya Allah." Raden Jatiya Dewa hampir saja menangis mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.


Melihat raut wajah kesedihan Raden Jatiya Dewa, Putri Dewi Anjarwati dan Prabu Lingga Dewa tidak tahan melihatnya. Hingga mereka berdua tertawa geli dengan raut wajah memelas itu.


"Ahaha!. Lihatlah ayahanda prabu. Sepertinya rayi jatiya dewa benar-benar telah berubah. Ini adalah bencana." Dalam tawanya, Putri Dewi Anjarwati malah mengejek adiknya.


"Ahaha!. Kau benar sekali putriku. Ini kejadian yang sangat langka sekali." Prabu Lingga Dewa juga ikutan tertawa melihat bagaimana anak bungsunya itu.


"Terus lah tertawa ayahanda prabu, yunda. Semoga kalian bahagia di atas kesedihan yang aku rasakan." Ia benar-benar tidak dapat membela dirinya. Sepertinya ia dipermainkan oleh ayahanda serta yundanya.


Namun saat itu Raden Antajaya Dewa datang bersama seseorang. Tentunya mereka menghentikan adegan yang tidak biasa itu.

__ADS_1


"Hormat hamba gusti prabu. Nimas dewi anjarwati, juga raden jatiya dewa." Seorang wanita cantik yang datang bersama Raden Antajaya Dewa di malam hari?.


"Silahkan duduk nimas hapsari iswara." Prabu Lingga Dewa mempersilahkan tamu terhormat tersebut untuk duduk.


"Terima kasih gusti prabu." Ternyata wanita itu adalah tuan Putri Hapsari Iswara dari kerajaan Teluk Mutiara. Tapi kenapa ia bisa bertamu malam-malam di sebuah kerajaan besar seperti kerajaan Buana Dewa?. "Mohon maaf gusti prabu. Karena ada suatu masalah, perjalanan hamba agak sedikit terhambat. Karena itulah hamba sampai pada malam harinya." Ia meminta maaf, karena ia datang tidak sesuai dengan janji yang seharusnya.


"Tidak apa-apa nimas. Tapi syukurlah nimas sampai ke istana ini dengan selamat." Prabu Lingga Dewa mencoba memaklumi kondisi yang menimpa Putri Hapsari Iswara.


"Kalau begitu nimas hapsari iswara langsung saja beristirahat." Putri Dewi Anjarwati tersenyum ramah. "Tentunya nimas haspari iswara merasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh." Lanjutnya lagi.


"Baiklah kalau begitu. Putraku antajaya, antar kan calon istrimu menuju ruang istirahat. Besok kita lanjutkan jamannya. Malam ini biarkan nimas hapsari iswara istirahat." Itulah perintah dari Prabu Lingga Dewa pada anaknya Raden Antajaya Dewa.


"Sandika ayahanda prabu." Tentunya Raden Antajaya Dewa mengikuti apa yang dikatakan oleh ayahandanya. "Mari nimas." Raden Antajaya Dewa mempersilahkan Putri Hapsari Iswara untuk mengikutinya.


"Mohon maaf gusti prabu. Kiranya hamba tidak bisa ikut bergabung malam ini." Putri Hapsari Iswara merasa sangat sungkan.


"Oh, tidak apa-apa nimas. Tetaplah jaga kondisi fisik nimas. Supaya besok bisa bersama-sama dalam keadaan segar." Prabu Lingga Dewa memahami kondisi seseorang yang membutuhkan istirahat setelah melakukan perjalanan jauh.


"Kemungkinan, rombong ayahanda prabu akan sampai besok pagi. Karena ayahanda prabu ada keperluan di suatu tempat." Putri Hapsari memberi kabar kenapa ia tidak datang bersama ayahandanya.


"Baiklah kalau begitu nimas. Selamat beristirahat." Prabu Lingga Dewa hanya tersenyum kecil mendengarkan informasi dari Putri Hapsari Iswara. Setelah itu Raden Antajaya Dewa pergi meninggalkan mereka semua untuk mengantar Putri Hapsari Iswara menuju wisma tamu.


"Jadi raja antajaya benar-benar akan menikah dengan gusti putri hapsari iswara?." Raden Jatiya Dewa tidak mengetahui dengan pasti kabar itu. Tapi sepertinya rakanya itu sangat serius dengan apa yang ia katakan.


"Tapi ayahanda prabu. Bukankah kabar yang ananda dengar, bahwa gusti putri hapsari iswara juga seorang mualaf setelah diselamatkan oleh gusti prabu asmalaraya arya ardhana?." Raden Jatiya Dewa pernah mendengar kabar tentang itu dari beberapa informasi yang dapat ia percaya.


"Lebih kurang seperti itu jatiya dewa." Prabu Lingga Dewa terlihat menghela nafasnya.


"Apakah itu artinya-?." Raden Jatiya Dewa seakan-akan tidak mau menebak apa yang terjadi.


"Ya, seperti yang kau tebak rayi. Karena perasaan cintanya yang dalam pada putri hapsari iswara. Raka antajaya memutuskan untuk mengikuti kepercayaan yang diyakini oleh nimas hapsari iswara." Putri Dewi Anjarwati yang menjawab pertanyaan dari adiknya itu.


"Jadi seperti itu?. Raka antajaya sungguh sangat luar biasa sekali." Antara kagum dan tidak percaya, itulah yang dirasakan Raden Jatiya Dewa. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang rela pindah keyakinan demi orang yang ia cintai. Namun rakanya Raden Antajaya Dewa juga melakukan hal yang sama.


"Apakah kau juga akan melakukan hal yang sama nantinya putri ku?." Prabu Lingga Dewa merasa lelah sendiri. Entah itu adalah keberkahan baginya, atau apa?. Ia juga tidak mengerti, bagaimana mungkin kedua anaknya rela melakukan itu demi orang yang mereka cintai?.


"Mungkin saja, jika orangnya seperti gusti prabu asmalaraya arya ardhana." Putri Dewi Anjarwati malah tertawa kecil melihat ekspresi pasrah dari ayahandanya.


"Itu mustahil." Prabu Lingga Dewa benar-benar pasrah mendengarkan candaan dari anak perempuannya itu. Kenapa anak-anak dari istri pertamanya memutuskan seperti itu?. Lalu bagaimana dengan anak-anaknya dari istri keduanya?. Tapi sepertinya tidak, dan mungkinkah saja belum pada masanya?. Sungguh, Prabu Lingga Dewa tidak mau memikirkan itu. Apakah yang akan terjadi pada mereka selanjutnya?. Teknik jawabannya.


...***...

__ADS_1


Keesokan harinya.


Putri Andhini Andita merasa lebih baik. Ia terbangun karena ia ingin melaksanakan sholat subuh. Meskipun punggungnya merasa masih sakit, bukan berarti ia meninggalkan sholatnya. Dengan segenap hati ia melakukannya, dan berharap kesembuhan yang ia rasakan. Setelah selesai sholat, ia mencoba untuk memulihkan tenaga dalamnya. Ia dapat merasakan aliran tenaga dalamnya sedikit kacau?.


"Tenanglah andhini andita. Jangan terlalu terburu-buru." Sukma Dewi Suarabumi memberikan peringatan pada Putri Andhini Andita.


"Kondisi hamba masih lemah gusti putri. Hamba ingin segera memulihkan keadaan. Setalah itu hamba akan segera kembali ke istana kerajaan suka damai. Hamba tidak ingin membuat ibunda merasa cemas dengan kepergian hamba." Ya, itulah yang ia takutkan saat ini.


"Tapi tetap saja. Jika kau gegabah, itu justru akan semakin menyakiti kondisi fisikmu." Sukma Dewi Suarabumi kembali bagaikan tanda pengingat untuk Putri Andhini Andita.


"Maafkan hamba gusti putri. Hamba akan lebih berhati-hati lagi." Putri Andhini Andita mengerti apa yang dikatakan oleh Sukma Dewi Suarabumi. Ia mengikuti apa yang dikatakan oleh Sukma Dewi Suarabumi, ia juga tidak mau menyakiti fisiknya. Namun ia harus mengeluarkan racun dari pedang lautan kegelapan. Jika tidak segera dikeluarkan, mungkin saja itu bisa membunuhnya.


Sementara itu, Putri Dewi Anjarwati mendatangi wisma tamu. Kebetulan ia melihat Putri Hapsari Iswara sepertinya baru keluar dari salah satu bilik tamu.


"Selamat pagi nimas dewi anjarwati." Putri Hapsari Iswara menyapa dengan ramah.


"Selamat pagi juga nimas hapsari iswara." Balas Putri Dewi Anjarwati dengan senyuman ramah.


"Apa yang membuat nimas pagi-pagi datang ke wisma tamu?. Apakah ada kabar penting yang ingin nimas sampaikan padaku?." Putri Hapsari Iswara penasaran dengan kedatangan Putri Dewi Anjarwati.


"Oh itu. Masalah itu-." Putri Dewi Anjarwati sedikit bingung mau menjelaskan apa. "Sebenarnya aku mau melihat keadaan nimas andhini andita yang saat ini mungkin masih terluka." Dengan ragu ia menjawabnya.


"Nimas andhini andita?. Siapa dia?. Aku baru mendengar nama itu di istana ini." Putri Hapsari terlihat bingung.


"Memang benar, nimas baru mendengar nama itu. Karena nimas andhini andita baru pertama kali datang ke istana ini." Putri Dewi Anjarwati menjelaskan pada Putri Hapsari Iswara. "Beliau adalah yunda dari gusti prabu asmalaraya arya ardhana. Orang yang telah menyelamatkan ayahanda nimas hapsari iswara." Lanjutnya lagi.


"Jadi begitu?." Putri Hapsari Iswara tentunya tidak akan lupa dengan sosok Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang telah membantu keluarganya pada saat itu. "Tapi kenapa ia bisa terluka?. Apakah telah terjadi sesuatu padanya?." Putri Hapsari Iswara merasa penasaran.


"Ada sedikit pertarungan yang terjadi. Ia terluka karena mencoba untuk membantu kami. Saat itu musuh menyerang dengan cara yang keji." Kembali ia mengingat apa yang terjadi pada saat itu.


"Sungguh sangat mengerikan." Meskipun ia tidak melihat bagaimana kejadian itu, namun diserang dengan cara curang itu pasti sangat menyakitkan.


"Kalau begitu aku ingin melihat keadaannya sebentar. Apakah nimas juga mau ikut?." Ia tidak tahan lagi ingin melihat keadaan Putri Andhini Andita.


"Baiklah. Aku juga ingin melihat keadaannya." Putri Hapsari penasaran, bagaimana kecantikan yang dimiliki oleh kakak dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Akan tetapi, ketika mereka masuk. Mereka melihat Putri Andhini Andita sedang melakukan semedi?. Membuktikan tenaga dalamnya saat ini yang masih belum stabil?.


"Sepertinya saat ini ia tidak bisa diganggu." Bisik Putri Hapsari Iswara dengan pelan.


"Nimas benar." Putri Dewi Anjarwati juga melihat bagaimana keseriusan dari Putri Andhini Andita saat ini untuk memilihkan tenaga dalamnya. "Aku harap kau baik-baik saja nimas andhini andita. Pangeran mu jatiya dewa saat ini sedang gelisah memikirkan keadaanmu." Dalam hati Putri Dewi Anjarwati merasa simpati atas apa yang menimpa Putri Andhini Andita.

__ADS_1


Apakah keadaannya bisa pulih setelah melakukan semedi?. Bagaimana pertemuan ketiga putri dari tiga kerajaan terhormat?. Bagaimana reaksi dari mereka nantinya?. Apakah bisa berbaikan?. Atau menjadi musuh?. Temiak yang. Jangan lupa dukungannya ya.


...***...


__ADS_2