KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
KISAH CINTA?.


__ADS_3

...***...


Kembali ke masa lalu,


Senyumnya terlihat mengembang dengan sempurna, sebagai seorang ahli obat yang memiliki kemampuan luar biasa, ia menatap pemuda yang masih terbaring tak sadarkan diri. Tentunya ia sangat senang, karena obat yang ia berikan bekerja dengan sangat baik.


"Setidaknya nanti malam kau akan terbangun. Kau akan merasa lebih baik." Entah kenapa hatinya berdebar-debar saat ini. "Apakah aku telah jatuh cinta padanya?. Apakah aku memiliki perasaan padanya?." Dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa ia begitu tertarik untuk menyembuhkan pemuda itu?. Kakinya melangkah keluar, menuju halaman belakang. "Saat dia terbangun nanti, aku yakin dia pasti lapar. Aku akan membuat masakan yang enak untuknya. Karena kekuatannya belum pulih sepenuhnya, jadi aku akan membuta makanan yang dapat mengembalikan semua tenaga dalam yang ia miliki." Ada ambisi di dalam hatinya saat ini. Apakah itu?. "Aku akan terus meramu obat yang dapat memulihkan tenaga dalamnya. Tapi aku tidak menjamin bagaimana keadaan fisiknya saat ini. Setidaknya aku harus memulihkan tenaga dalamnya terlebih dahulu." Wanita muda itu terlihat sangat bersemangat. Tidak pernah ia merasakan perasaan bergairah dalam meramu obat seperti ini sebelumnya. Apakah itu artinya wanita muda itu benar-benar telah jatuh hati pada pemuda itu?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


Sementara itu di bawah alam sadar pemuda itu, ia berlari dengan sangat kencangnya. Ia tidak mengerti kenapa ia berlari begitu kuat, apakah ada seseorang yang sedang mengejarnya?. "Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan?. Kenapa aku berlari secepat ini?. Aku sedang melakukan apa?." Dalam hatinya masih bertanya-tanya, alasan kenapa saat ini ia berlari secepat itu?. Namun pertanyaannya terjawab ketika ada seseorang yang berteriak dengan suara yang sangat keras.


"Hei!. Pemberontak bajingan!. Jangan kabur kau!." Teriak seseorang dari arah belakangnya?. "Mau lari kemana kau?!. Berhenti!." Suara itu terdengar sangat marah, dan memerintahkannya untuk berhenti.


"Sial!. Apa kesalahan yang telah aku lakukan sehingga dia memanggilku pemberontak?." Ia tidak mengerti kenapa suara itu menyuruhnya untuk berhenti. Sayangnya nalurinya mengatakan untuk terus berlari menjauhi mereka, tapi saat itu ia ingat sesuatu.


Deg!!!.


"Egkhakh!."


Tiba-tiba saja ia terbangun, matanya melotot lebar. Dadanya terasa sangat sesak, dan hampir saja ia lupa cara bernafas. Kondisi kejiwaannya sedang terganggu karena perasaan trauma yang ia rasakan saat ini sangat dalam.


"Apakah tuan baik-baik saja?." Ada seseorang yang bertanya padanya?.


Pemuda itu menoleh ke arah sumber suara, mulutnya yang masih terbuka karena suaranya yang tertahan. Ketika ia ingin bertanya pada wanita itu, tapi suaranya tertahan sesuatu. Pemuda itu terlihat sangat panik, hingga tanpa sadar ia ingin melarikan diri dari sana, tapi tubuhnya juga tidak mau bergerak sama sekali?. "Siapa dia?. Apakah dia mau menangkapku?. Kegh!." Ia merintih sakit karena tubuhnya seperti ditusuk oleh benda yang sangat tajam.


"Tuan tenang saja. Saya bukan musuh tuan, saya lah yang telah menolong tuan. Jadi tidak mungkin saya menyakiti tuan." Wanita muda itu terkejut dengan reaksi pemuda itu. "Duduklah tuan. Saya berjanji tidak akan menyakiti tuan." Wanita itu berusaha untuk meyakinkan pemuda itu, bahwa ia adalah orang yang baik.


Pemuda itu terpaku di tempat, apalagi ketika wanita muda itu memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman. "Tuan jangan banyak bergerak dulu, tubuh tuan butuh penyesuaian. Saya menduga suara tuan saat ini tidak bisa keluar karena tuan terkejut dengan kekuatan seseorang." Wanita ahli obat itu menduga alasan kenapa suara pemuda itu tidak keluar. "Sepertinya kekuatan yang melukai tuan sangat hebat, sehingga hampir merusak kesehatan tubuh tuan." Wanita ahli obat itu terlihat sangat cemas.

__ADS_1


Pemuda itu tampak sedikit tenang, ia mencoba duduk dengan baik, mungkin wanita yang telah menolongnya ini tidak akan berniat jahat padanya. "Syukurlah jika memang dia bukan orang yang jahat." Dalam hati pemuda itu merasa sangat lega. Ia sangat cemas jika wanita itu berniat menyakitinya.


"Tuan tenang saja. Saya yang telah mengobati tuan, jadi tidak mungkin saya menyakiti tuan." Wanita itu tersenyum dengan manis, sehingga pemuda itu terpesona akan kecantikan wanita itu. "Jika saya menyakiti tuan, untuk apa saya mengobati tuan." Suaranya terdengar sangat kecil, hampir seperti orang yang sedang berbisik, atau berbicara untuk diri sendiri.


"Sepertinya dia wanita yang sangat hebat." Dalam hatinya memperhatikan keadaan tubuhnya yang membaik?. Hanya suaranya saja yang belum pulih sama sekali. "Beruntung aku ditemukan olehnya. Jika aku ditemukan oleh orang-orang itu, mungkin saja aku telah di hukum mati." Ia ingat, jika saat ini ia dalam pelarian. Karena ia telah tertangkap basah ingin melakukan pemberontakan.


"Kalau begitu tuan makanlah terlebih dahulu. Pulihkan tenaga dalam tuan. Semoga kekuatan tuan bisa kembali setelah memakan dan meminum obat yang saya buatkan untuk tuan." Lagi, wanita itu tersenyum manis. "Kondisi tuan harus segera dipulihkan, saya cemas tuan akan mengalami kelumpuhan jika tuan tidak segera diobati." Itulah yang ia takutkan, jika pemuda itu tidak segera diobati.


"Terima kasih nini." Pemuda itu sepertinya memberi kode ucapan terima kasih pada wanita itu.


"Tuan tidak perlu berterima kasih, saya sangat senang bisa membantu tuan." Wanita ahli obat itu menyuapi pemuda itu, membantunya makan dan minum supaya benar-benar sembuh dengan baik. "Saya hanya berharap jika tuan baik-baik saja itu sudah sangat membahagiakan bagi saya." Dalam hati wanita ahli obat itu berharap orang yang ia tolong akan segera sembuh.


Kembali ke masa ini.


Wanita ahli obat itu kini telah berubah menjadi wanita yang jahat. Ia telah menjual dirinya pada iblis santet demi menemukan wanita yang telah membunuh kekasihnya. Hatinya sangat sedih mengingat apa yang telah terjadi pada hari itu. "Aku bersumpah akan membunuh wanita itu kakang. Jadi kakang tidak perlu cemas di alam sana." Hati masih sedih mengingat kematian kekasihnya. "Padahal kita baru saja memadu kasih, tapi kenapa wanita kejam itu membunuh mu kakang?." Hatinya sangat sedih, ketika ingatannya kembali menari-nari di kepalanya tentang kekasih hatinya. "Aku tidak terima sama sekali atas apa yang telah dilakukan oleh wanita jahat itu pada kakaknya. Aku telah bersumpah akan membunuhnya, apapun caranya aku akan membunuhnya. Untuk membalaskan kematianmu kakang." Hatinya yang kini telah dipenuhi oleh kebencian yang sangat dalam, sehingga mengubah hatinya yang baik menjadi jahat tanpa perasaan.


Pagi harinya, wanita ahli obat itu melihat bagaimana pemuda yang ia selamatkan sedang berusaha untuk berdiri, dan ia segera membantu pemuda itu berjalan. Ia sangat senang karena pemuda itu perlahan-lahan bisa merasakan gerakan. Sebelumnya tubuhnya sangat kaku, tidak bisa digerakkan sama sekali.


"Tuan belum bisa berjalan dengan baik. Jangan terlalu memaksakan diri." Dengan hati-hati ia memapah tubuh pemuda itu. "Meskipun tubuh tuan baik-baik saja, tetapi tenaga dalam tuan belum kembali, jadi tuan harus hati-hati. Jika tidak, sama saja tuan menyakiti diri tuan sendiri." Wanita itu terlihat sangat perhatian pada pemuda itu.


"Tenang saja nini, aku tidak apa-apa. Aku ingin segera melatih tenaga dalamku." Sepertinya suara pemuda itu telah sembuh dengan sempurna. "Aku ingin melatihnya supaya tidak kaku." Lanjutnya lagi dengan senyuman ramah.


"Syukurlah jika suara tuan telah kembali. Dengan begitu saya sangat senang karena tuan bisa berbicara dengan baik." Ia membantu pemuda itu untuk duduk di depan halaman gubuk kecil itu. "Saya sangat senang jika tuan sudah bisa berbicara dengan baik. Itu artinya tuan hanya perlu memulihkan tenaga dalam tuan agar bisa berjalan dengan lancar." Wanita ahli obat itu merasa lega.


"Terima kasih nini. Aku sangat berterima kasih padamu. Obat yang nini benar-benar sangat luar biasa. Aku merasa lebih baik, tidak merasakan kesakitan apapun." Pemuda itu memang merasa lebih baik, hanya kekuatnanya saja yang belum pulih sepenuhnya.


"Syukurlah jika memang seperti itu tuan." Wanita itu senang mendengarnya. "Akan saya buatkan obat yang dapat membuat kekuatan tenaga dalam tuan kembali seperti biasa."

__ADS_1


"Aku akan membalas kebaikan nini suatu hari nanti. Aku akan melakukan apapun untuk nini, termasuk menjadi pelindung nini bila perlu." Secara tidak langsung, pemuda itu mengungkapkan perasaan yang ia miliki.


Sejak saat itu, pemuda itu selalu bersama wanita ahli obat. Hingga tumbuh perasaan cinta di hati keduanya. Perasaan kasih sayang, melewati hari-hari yang sangat bahagia, seakan-akan dunia hanya miliki mereka berdua saja.


Kembali ke masa ini.


Istana Kerajaan Suka Damai.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Ratu Dewi Anindyaswari, dan Raden Jatiya Dewa bergegas masuk ke bilik Putri Andhini Andita.


"Oh, nanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati menangis sedih, karena ia sama sekali tidak bisa membangunkan putrinya.


"Izinkan nanda untuk memeriksa keadaan yunda, ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat hawa hitam yang menyelimuti tubuh kakaknya.


"Tolong selamatkan ananda andhini andita. Ibunda sangat mencemaskan keadaannya nak." Ratu Gendhis Cendrawati sangat sedih, hingga tidak dapat menahan tangisannya.


"Tenanglah yunda. Biarkan nanda prabu yang memeriksa keadaan ananda andhini andita." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menenangkan Ratu Gendhis Cendrawati.


"Aku hanya khawatir keadaan anakku rayi dewi. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya." Ratu Gendhis Cendrawati tidak mengerti apa yang terjadi pada anaknya.


"Kita hanya berdoa saja yunda. Semoga saja ananda andhini andita baik-baik saja." Ratu Dewi Anindyaswari juga mencemaskan keadaan Putri Andhini Andita.


"Apa yang terjadi padamu sebenarnya andhini andita?. Kenapa tiba-tiba saja kau tidak sadarkan diri?. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu sehingga kondisimu seperti ini?." Dalam hati Raden Jatiya Dewa bertanya-tanya mengenai keadaan Putri Andhini Andita saat ini. "Semoga kau baik-baik saja andhini andita." Itulah harapan Raden Jatiya Dewa saat ini.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana keadaan Putri Andhini Andita sebenarnya?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya pertanyaan itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2