
...***...
Mereka semua panik ketika melihat tubuh Putri Rara Saraswati terbakar. Raden Jatiya Dewa dan Patih Rangga Prahaja sebisa mungkin memadamkan api itu, akan tetapi api itu justru malah semakin membesar, dan melahap tubuh Putri Rara Saraswati.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Raden Jatiya Dewa mundur ke belakang, karena api itu terasa sangat panas.
"Oh, Dewata yang agung. Ampuni kesalahan putri hamba." Patih Rangga Prahaja telah pasrah dengan keadaan. Ia tidak dapat lagi menolong putrinya, hatinya terasa sangat pedih atas apa telah menimpa anaknya.
"Nimas andhini andita." Putri Dewi Anjarwati merinding melihat itu, hingga ia mencoba mendekati Putri Andhini Andita. "Sebenarnya apa yang terjadi pada nimas rara saraswati?. Kenapa ia bisa sampai seperti itu?." Saking takutnya dengan apa yang ia lihat, Putri Dewi Anjarwati menangis sedih, hatinya tidak kuat melihat apa yang terjadi pada Putri Rara Saraswati.
"Tenanglah nimas dewi. Tunggu lah di sini sebentar." Ia menyadari ketakutan yang dirasakan oleh Putri Dewi Anjarwati saat ini. Karena itulah ia mencoba melakukan sesuatu untuk menolong Putri Rara Saraswati. Putri Andhini Andita mencoba mendekat. Ia merapikan pakaiannya agar sedikit tertutup. Setelah itu ia mengarahkan ujung pedangnya ke depan, tepat dimana api itu berkobar. Tak lupa ia membacakan doa, semoga Allah SWT mengabulkannya, aamiin.
Subhanallah, api itu seperti masuk ke dalam pedang Pembangkit Raga Sukma Dewi Suarabumi. Tentunya mereka semua terkejut melihat itu. Bagaimana mungkin Putri Andhini Andita bisa melakukan itu?.
"Subhanallah." Raden Jatiya Dewa sangat kagum dengan apa yang dilakukan Putri Andhini Andita. Begitu juga Putri Dewi Anjarwati dan Patih Rangga Prahaja. Api itu berhasil dipadamkan oleh Putri Andhini Andita.
"Oh putriku." Begitu apinya berhasil dipadamkan, Patih Rangga Prahaja langsung mendekat. Meskipun hatinya sangat hancur melihat keadaan anaknya yang sekarang, namun tetap saja itu adalah kewajiban baginya untuk menyelamatkan anaknya.
"Luar biasa sekali." Dalam hati Putri Dewi Anjarwati mengagumi apa yang telah dilakukan oleh Putri Andhini Andita.
__ADS_1
"Gusti putri!." Raden Jatiya Dewa segera menyambut tubuh Putri Andhini Andita agar tidak ambruk.
"Nimas andhini andita." Putri Dewi Anjarwati terkejut melihat itu, jantungnya berdegup kencang melihat Putri Andhini Andita tidak sadarkan diri.
"Sepertinya gusti putri andhini andita terlalu banyak menggunakan tenaga dalamnya." Raden Jatiya Dewa menggendong Putri Andhini Andita. "Apalagi lukanya belum pulih sepenuhnya yunda." Perasaannya sangat gelisah melihat wajah pucat Putri Andhini. Andita
"Kalau begitu mari segera kita bawa ke istana rayi." Putri Dewi Anjarwati juga mencemaskan keadaan Putri Andhini Andita.
"Baiklah yunda." Raden Jatiya Dewa mengangguk mengerti. "Maaf paman patih. Saya harus segera membawa gusti putri andhini andita. Saya akan mengutus prajurit untuk membantu paman patih untuk mengurus nimas rara saraswati." Dengan berat hati ia berkata seperti itu.
"Sungguh maafkan kami paman patih." Begitu juga dengan Putri Dewi Anjarwati.
"Baiklah paman patih. Kami juga setelah mengantar gusti putri andhini andita, kami juga akan ke rumah paman patih." Raden Jatiya Dewa juga memahami situasinya.
"Kami pamit dulu paman patih. Sampurasun." Putri Dewi Anjarwati memberi hormat pada Patih Rangga Dewa.
"Rampes." Patih Rangga Prahaja juga memberi hormat pada Putri Dewi Anjarwati dan Raden Jatiya Dewa.
Setelah itu kakak beradik dari Prabu Lingga Dewa meninggalkan tempat. Karena mereka takut, luka di punggung Putri Andhini Andita akan terbuka lagi. Karena Raden Jatiya Dewa hanya menggambar sementara luka itu agar tidak mengeluarkan darah lebih banyak lagi. Apakah Putri Andhini Andita juga bisa diselamatkan setelah mengeluarkan banyak tenaga dalamnya untuk menolong Putri Rara Saraswati. Apakah yang akan terjadi padanya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...
Sementara itu di alam bawah sadar Putri Andhini Andita.
Saat ini ia bersama Sukma Dewi Suarabumi. Sudah lama rasanya ia tidak masuk ke alam sukma itu.
"Suasana hatimu sepertinya sedang kacau andhini andita." Sukma Dewi Suarabumi tersenyum lembut, ia juga terlihat santai dan seakan telah memahami isi hati dari Putri Andhini Andita. "Apa karena amarah, serta perasaanmu berkobar setelah mendengarkan apa yang dikatakan tuan putri terkutuk itu?." Ia menopang dagunya dengan anggun, tak lupa senyumannya yang kadang ramah, kadang terlihat sangat serius.
"Hamba hanya kesal saja dengan ucapannya gusti putri. Ia telah merendahkan harga diri hamba sebagai seorang wanita yang tidak akan pernah mudah jatuh cinta hanya karena menerima kebaikan, ataupun bentuk perhatian yang ia berikan pada hamba." Putri Andhini Andita terlihat sedih. Memang ia pernah terlena akan kebaikan yang diberikan Jaya Satria padanya. Hingga ia mendapatkan kenyataan yang menyakitkan hatinya. Kenyataan bahwa Jaya Satria sebenarnya adalah adik kandungnya. Tentunya pernikahan sedarah akan membuat pertentangan dari pihak manapun, meskipun itu tidak ada hubungannya dengan kerajaan lain.
"Baiklah, jika itu yang kau katakan. Maka aku tidak akan membuatmu merasa lebih buruk lagi dari hari ini." Sukma Dewi Suarabumi juga tidak ingin memperburuk suasana hati Putri Andhini Andita. Baginya Putri Andhini Andita adalah teman yang bisa berbagi cerita dengannya. Ia menikmati kebersamaannya dengan keturunan mendiang Gusti Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta. Hanya Putri Andhini Andita yang benar-benar berkomunikasi dengannya. Bahkan pengguna pedang Pembangkit Raga Sukma Dewi Suarabumi bumi yang sebelumnya tidak bisa seperti yang dilakukan oleh Putri Andhini Andita.
"Terima kasih atas pengertian dari gusti putri. Hamba hanya ingin memerlukan waktu saja. Maafkan hamba, bukan hamba bermaksud lancang pada gusti putri." Suasana hatinya sedang tidak baik, makanya ia tidak mau menyinggung perasaan Sukma
"Tidak apa-apa." Entah kapan Sukma Dewi Suarabumi berada di samping Putri Andhini Andita. Apalagi sampai memeluknya untuk menenangkan Putri Andhini Andita. "Aku telah mengamatimu, sejak kau berhasil memanggilku. Menggunakan kekuatanku untuk membela adikmu dengan segenap jiwamu. Aku dapat merasakan apa yang kau rasakan andhini andita. Kau adalah wanita yang sangat kuat, bahkan lebih kuat dariku di masa lalu." Sukma Dewi Suarabumi membelai rambut Putri Andhini Andita dengan lembut. Hingga ia merasakan sentuhan kasih sayang dari Sukma Dewi Suarabumi. "Katakan saja kesedihanmu padaku, aku akan mendengarkan semuanya." Ucapnya lagi.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Apakah suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Karena itulah ia butuh ketenangan saat ini, hatinya sedang terguncang setelah ucapannya sendiri.
...***...
__ADS_1