
...***...
Suasana Istana Kerajaan Melarang sedikit suram sejak Raden Candana Arga sakit. Mereka semua telah melakukan apapun untuk mengobati Raden Candana Arga, namun tetap saja belum sembuh hingga hari ini. Dan yang paling membuat mereka sedih adalah Raden Candana Arga selalu menyebutkan nama nimas putih. Saat ini Prabu Candana Kumara mengajak Putih untuk menemui Raden Candana Arga, semoga saja Putih bisa mengobatinya.
"Maaf gusti prabu. Memangnya kapan raden candana arga sakit?. Maaf jika hamba bertanya seperti itu gusti prabu."
"Satu purnama yang lalu, putraku mulai mengeluh sakit. Telah banyak tabib yang mencoba mengobatinya, namun tetap saja belum sembuh."
"Hamba akan berusaha untuk melakukannya gusti prabu. Tapi hamba tidak janji. Semuanya karena Allah SWT, hamba hanya berusaha."
"Semoga saja kau bisa." Prabu Candana Kumara menghela nafasnya agak berat. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini, rasanya sangat sedih baginya melihat keadaan anaknya seperti itu.
Saat itu mereka masuk ke dalam sebuah bilik yang sangat luas. Di dalam sana Raden Candana Arga sedang terbaring di sebuah dipan yang cukup mewah. Sementara itu, banyak dayang serta istri Prabu Candana Kumara berada di sana menjaganya.
"Kau benar-benar nimas putih." Ratu Ayundari Paramita ibunda dari Raden Candana Arga masih mengingat Putih.
"Hormat hamba gusti ratu." Putih memberi hormat pada Ratu Aryundari Paramita.
"Terima kasih karena nimas telah bersedia datang. Terima kasih, maaf jika kami memanggilmu ke istana ini."
"Tidak apa-apa gusti ratu. Sungguh hamba sangat terkejut, saat mendengar kabar tentang raden candana arga." Ya, itu memang kabar yang sangat mengejutkan baginya. "Kalau begitu izinkan hamba untuk memeriksa keadaan raden candana arga."
"Silahkan nimas."
Putih langsung mendekati Raden Candana Arga, wajahnya terlihat sangat pucat, bergumam pelan dengan sesekali menyebut nama nimas Putih?.
"Tolong aku nimas putih. Nimas putih, tolong aku." Itulah yang digumamkan oleh Raden Candana Arga.
__ADS_1
Putih membacakan ayat kursi, surah Al Fatihah untuk Raden Candana Arga. Namun saat itu, tiba-tiba saja suasana bilik itu terasa sangat panas. Mereka semua dapat merasakannya dengan benar. Mereka tidak salah sama sekali, hingga keringat bercucuran.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Putih menghela nafasnya dengan pelan.
"Ada apa nimas?. Apakah terjadi sesuatu pada putraku?." Prabu Candana Kumara melihat raut wajah kesedihan di wajah Putih.
"Katakan pada kami, apa yang terjadi pada putraku. Katakan nimas putih, katakan pada kami apa yang membuatnya sakit?." Ratu Ayundari Paramita sangat sedih, perasaannya sangat gelisah, dan ia tidak bisa menahan suasana hatinya.
"Maaf gusti prabu, gusti ratu. Agak berat hamba mengatakannya. Tapi ini harus hamba katakan." Memang sangat berat, tapi ia harus melakukan itu.
"Katakan saja nimas." Prabu Candana Kumara ingin mendengarkan apa yang terjadi sebenarnya pada anaknya.
"Sepertinya ruangan ini telah diselimuti oleh santet. Selain itu, sukma raden candana arga sedang ditahan oleh seseorang." Itulah yang ia lihat tadi kilasan ketika ia membacakan ayat Kursi serta surah Al-fatihah tadi.
"Santet?." Tentunya mereka semua terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putih.
"Oh kanda prabu." Ratu Ayubdari Paramita tidak menyangka sama sekali jika anaknya akan disantet?.
"Aku mohon padamu, tolong selamatkan putraku. Bagaimana mungkin ada seseorang yang ingin menyantet putraku?. Apa alasannya melakukannya?. Kesalahan apa yang telah ia lakukan sehingga ia disantet?." Hati ayah mana yang tidak sakit, ketika mengetahui apa yang dialami oleh anaknya.
"Beri hamba waktu untuk menyembuhkan raden candana arga." Putih tentunya akan mengusahakannya, meskipun membutuhkan waktu.
"Baiklah nimas putih. Tapi aku mohon lakukan sesuatu untuk menyelamatkan putraku." Itulah harapan dari Prabu Candana Kumara.
"Sandika gusti prabu." Putih memberi hormat.
Apakah yang akan dilakukan oleh Putih untuk menyembuhkan Raden Candana Arga?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...
Sementara itu, Raden Jatiya Dewa dan Senopati Malakala berada di halaman istana. Mereka menunggu, tentunya mereka tidak bisa masuk ke bilik Raden Candana Arga.
"Jadi kau kenal dengan nimas putih, karena dia datang ke istana kerjaan suka damai?." Senopati Malakala masih penasaran bagaimana mungkin Putih sampai ke istana kerajaan Suka Damai?.
"Ya, memang seperti itu lah yang terjadi." Raden Jatiya Dewa merasa sangat bersalah karena menuruti keinginan Putri Andhini Andita yang tidak ingin diketahui oleh siapapun yang pernah berurusan dengannya di masa lalu.
"Nimas putih adalah wanita yang sangat luar biasa. Aku sangat kagum padanya." Ada perasaan kagum, juga perasan suka padanya?.
"Jangan-jangan kau menyukainya ya?." Raden Jatiya Dewa dapat menangkap gelagat itu dari Senopati Malakala.
"Itu tidak mungkin. Jika aku memiliki perasaan itu mustahil. Tidak mungkin nimas putih akan menerima perasaanku padanya." Ya, mustahil itu terjadi.
"Maafkan aku." Rasanya sangat canggung sekali. Apalagi saat ini ia merasakannya, jika perasaan cintanya hanyalah perasaan cinta sepihak saja. "Aku mengerti apa yang kau katakan." Dalam hatinya dapat memahami apa yang dikatakan oleh Senopati Malakala. Perasaan cinta memang terkadang membuat kita ragu, apakah dia mencintai kita atau tidak.
"Maaf, jika aku boleh tahu. Bagaimana pertama kalinya nimas putih masuk ke wilayah ini?. Apakah ia melakukan hal yang aneh?." Rasa penasaran Raden Jatiya Dewa sudah tidak bisa ia tahan lagi. Ia sangat penasaran bagaimana Putri Andhini Andita bisa masuk ke wilayah kerajaan Melarang?. Pertanyaan itu jiga muncul karena ia ingin menghilangkan perasaan canggung setelah ia mengatakan hal yang menusuk perasaan.
"Memang sedikit aneh, tapi itu sangat membantu kerajaan ini." Senopati Malakala masih ingat bagaimana Putri Andhini Andita atau dengan nama Putih.
"Benarkah?. Bagaimana bisa itu terjadi?." Raden Jatiya Dewa tidak berpikir ke arah mana selain memikirkan jika Putri Andhini Andita marah pada seseorang. "Tidak mungkin sikap kasarnya itu dapat membantu seseorang bukan?." Dalam hati Raden Jatiya Dewa sangat ragu, jika Putri Andhini Andita masih bisa berbuat kebaikan?.
"Ya, memang terkesan aneh, tapi memang bisa membantu." Senopati Malakala masih ingat itu. Kesan pertamanya pada Putri Andhini Andita saat itu.
"Apakah kau mau menceritakannya padaku?. Rasanya aku sangat penasaran bagaimana ceritanya." Raden Jatiya Dewa ingin mendengarnya.
"Bisa saja aku menceritakannya padamu." Senopati Malakala bukanlah orang yang pelit untuk berbagi cerita, tentunya ia mengatakannya. Senopati Malakala sedikit menceritakannya, ia hanya mengetahuinya karena ia menjadi saksinya pada saat itu. Bagaimana ceritanya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...