
...***...
Salah satu emban yang diperintahkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini menuju bilik Putri Andhini Andita. Ia mengetuk beberapa kali, namun tidak ada tanggapan sama sekali.
"Mohon maaf gusti putri. Gusti prabu memanggil gusti putri untuk segera menuju taman istana. Keluarga istana berkumpul di sana gusti putri." Emban tersebut sedikit mengeraskan suaranya agar didengar oleh Putri Andhini Andita, namun tetap saja tidak ada tanggapan dari dalam. "Gusti putri andhini andita?. Apakah gusti putri berada di dalam?." Sekali lagi ia mengetuk pintu itu. Ia tampak berpikir sejenak. "Apakah gusti putri andhini andita tidak ada di biliknya ya?. Sehingga beliau tidak menyahuti panggilan saya?." Dalam hatinya bertanya-tanya. "Jika saya masuk ke dalam, saya takut dimarahi gusti putri karena mengganggu. Atau jangan-jangan beliau sedang sholat duha?." Dalam hatinya bertanya-tanya lagi, alasan kenapa Putri Andhini Andita tidak menanggapi panggilannya. "Baiklah, kalau begitu aku akan menunggunya. Mungkin setelah beberapa saat akan ada jawaban dari gusti putri." Dengan sabarnya ia menunggu di depan pintu bilik Putri Andhini Andita, berharap Putri Andhini Andita akan segera membuka pintu.
Sementara itu di alam bawah sadar Putri Andhini Andita.
Saat ini ia sedang berjalan mengitari menuju halaman istana?. Rasanya begitu banyak emban yang mendampinginya. "Aneh sekali. Kenapa aku bisa seperti ini?. Tidak biasanya." Dalam hatinya merasa heran, sejak kapan emban alias dayang mengikutinya seperti itu?. "Hei!. Jangan berjalan mendahuluiku!. Apakah kau merasa derajat mu telah tinggi dariku?." Tangannya mendorong emban yang menurutnya sangat lancang mendahului langkahnya. Emban tersebut terjerembab di tanah. Sedangkan yang lainnya yang melihat itu sangat ketakutan, bahkan prajurit yang berada di halaman istana menatap Putri Andhini Andita dengan penuh benci.
"Ampuni hamba gusti putri. Sungguh, ampuni hamba!." Dayang yang didorong tadi segera berlutut bersujud dihadapan Putri Andhini Andita. "Ampuni kelancangan hamba gusti putri. Sungguh, ampuni hamba." Ia berusaha menahan tangisnya.
Deg!!!.
"Apa yang telah aku lakukan?. Kenapa aku mendorongnya?. Apa kesalahannya?." Di lubuk hatinya yang paling dalam ia ketakutan setelah apa yang ia lakukan. "Kenapa aku melakukan itu?!." Tangannya sampai bergetar ketakutan. Apa yang harus ia lakukan dalam keadaan seperti ini?.
"Heh!. Dasar tidak berguna!. Pergi sana kau!. Kau tidak pantas mendampingiku!." Hal yang lebih kejam lagi, dengan kakinya ia menendang emban tersebut. "Oh tidak!. Apa yang telah aku lakukan!." Putri Andhini Andita benar-benar kebingungan dengan apa yang terjadi padanya. Sepertinya raganya tidak sehati dengan jiwanya. Apa yang terjadi sebenarnya?. Kenapa ia bersikap kasar seperti itu?.
"Egkhakh!." Emban itu berteriak kesakitan saat mendapatkan terjangan dari Putri Andhini Andita.
"Hentikan!. Hentikan!." Dalam hatinya berteriak berhenti melakukan kekerasan itu, namun raganya tidak mau berhenti. Malah dengan semangatnya melakukan kekejaman itu. Dan yang paling membingungkan adalah, ia dapat mendengarkan suara hati mereka yang membenci dan mengutuk atas apa yang ia lakukan. Suara mereka sangat jelas dalam pikirannya, tapi raganya tidak peduli, seakan tuli, pendengarannya tidak berfungsi sama sekali. Kakinya tidak mau berhenti menyiksa emban tersebut dengan tendangannya yang keras hingga melukai emban tersebut.
"Seorang putri raja kelakuan kejam seperti ini. Kenapa dia terlahir di dalam keluarga ini?."
"Wanita kejam!. Bagaimana mungkin dia sekejam ini?. Kami juga tidak sudi melayani orang kejam seperti kau!."
"Lebih baik kau mati saja!. Kau tidak seharusnya berada di sini!."
"Siapa yang mengharapkan wanita kejam seperti kau!. Wanita bedebah!."
Itulah umpatan-umpatan yang didengar jiwa Putri Andhini Andita, tapi sekali lagi ditegaskan, bahwa raganya sama sekali tidak peduli. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa yang terjadi pada hamba sebenarnya?. Kenapa hamba melakukan itu?." Hatinya sangat sedih atas sikap kasarnya itu. Kenapa ia bisa menyiksa emban yang hanya berjalan mendahuluinya?. Apa yang terjadi padanya sehingga bersikap seperti itu?.
Sedangkan Sukma Dewi Suarabumi saat ini menatap sedih Sukma Putri Andhini Andita yang belum juga mau membuka matanya. Ia sangat sedih, tidak tahu harus berbuat apa untuk membangunkan Sukma Putri Andhini Andita. "Apakah aku harus melakukan semedi untuk menemui gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta?." Dalam keadaan kacau seperti itu, Sukma Dewi Suarabumi teringat dengan Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta. "Baiklah, kalau begitu aku harus melakukan semedi. Supaya aku bisa bertemu dengan gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta." Sukma Dewi Suarabumi tidak mau membuang waktu lagi. Ia harus mencari cara untuk membangunkan Sukma Putri Andhini Andita. Apakah cara itu akan berhasil?. Apa jawaban dari Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta nantinya?. Simak terus ceritanya.
...***...
Di satu sisi.
Wanita cantik yang memiliki dendam terhadap Putri Andhini Andita saat ini sedang tersenyum penuh kemenangan. Karena cara yang ia lakukan sangat berhasil. Boneka santet yang ia buat menyerupai Putri Andhini Andita saat ini sedang menunjukkan gejala yang sama persis yang dialami oleh Putri Andhini Andita.
"Bagus, ini sangat menarik." Senyumannya semakin mengembang ketika ia melihat mimpi arus jalan hidup yang akan dilalui Putri Andhini Andita. "Ternyata sebagai seorang putri raja kau sangat kejam juga, ahahaha!. Aku tidak menduga sebelumnya!." Entah kenapa penglihatan itu seperti sebuah hiburan tersendiri baginya. "Aku sangat menikmati penyiksaan yang akan kau lakukan!. Dan tunggulah bagaimana kau membunuh orang-orang yang kau cintai dengan tanganmu!. Sama seperti yang kau lakukan pada kekasihku!. Ahaha!. Aku tidak sabar menunggu alur menyedihkan yang akan kau rasakan bedebah busuk!. Ahaha!." Tawanya semakin keras ketika ia membayangkan Putri Andhini Andita membunuh orang yang ia cintai dengan tangannya?. Apa yang direncanakan wanita itu?. Siapa dia sebenarnya?. Kekasihnya dibunuh Putri Andhini Andita?. Kapan itu terjadi?. Simak selengkapnya.
...***...
Kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai.
Karena tidak ada juga tanggapan dari Putri Andhini Andita, emban tersebut memutuskan untuk kembali menemui prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
__ADS_1
"Mohon ampun gusti prabu, gusti ratu." Ia memberi hormat.
"Ada emban?. Dimana putri ku ananda putri andhini andita?. Kenapa ia belum juga datang bersama mu?." Ratu Gendhis Cendrawati terlihat sangat cemas.
"Mohon ampun gusti ratu. Tadi hamba telah berusaha memanggil gusti putri, namun tidak ada tanggapan sama sekali gusti ratu." Jawab emban.
"Tidak ada jawaban?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Ratu Dewi Anindyaswari, Ratu Gendhis Cendrawati dan Raden Jatiya Dewa bersamaan bertanya.
"Tidak biasanya putriku seperti itu. Apakah ia sedang melaksanakan sholat duha?. Apakah kau memastikannya dengan baik emban?." Ratu Gendhis Cendrawati kembali bertanya.
"Hamba telah menunggunya, hamba tidak berani masuk bilik gusti putri. Mungkin menurut hamba gusti putri memang melaksanakan sholat duha, akan tetapi cukup lama hamba menunggu, tapi tidak ada jawaban dari dalam gusti ratu." Emban tersebut menjelaskan kejadiannya.
"Kalau begitu aku yang akan masuk ke biliknya. Aku ingin memastikan apakah ia berada di biliknya atau tidak." Ratu Gendhis Cendrawati sangat gelisah dengan penjelasan emban tersebut.
"Kalau begitu aku juga ikut yunda." Ratu Dewi Anindyaswari juga cemas.
"Nanda prabu, nanda jatiya dewa, tunggulah di sini sebentar. Kami akan melihat keadaan ananda putri." Ratu Gendhis Cendrawati pamit pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Baiklah ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya nurut saja.
Apakah yang terjadi pada Putri Andhini Andita saat ini?. Temukan jawabannya dalam kisah ini.
...***...
Salam penuh cinta untuk pembaca tercinta. Maaf atas ketidaknyamanannya, semoga suka dengan ceritanya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta, semangat penuh dengan cinta.
...***...
"Sorry, Gusti Putri. Gusti Prabu called Gusti Putri to immediately go to the Palace Park. The Palace family gathered there Gusti Putri." The emban raised her voice a little to be heard by Princess Andhini Andita, but there was still no response from within. "Gusti Princess Andhini Andita? Once again he knocked on the door. He seemed to think for a moment. "Is Gusti Princess Andhini Andita not in his booth? In his heart wondered. "If I go inside, I am afraid of being scolded by Gusti Putri because it is disturbing. Or perhaps he is praying Duha?" In his heart wondered again, the reason why Princess Andhini Andita did not respond to her call. "Alright, then I'll wait for him. Maybe after a while there will be an answer from Gusti Putri." He patiently waited in front of the door of Andhini Andita's daughter, hoping that Princess Andhini Andita would soon open the door.
Meanwhile in the subconscious of Princess Andhini Andita.
Currently he is walking around to the palace yard?. It seems so many embans who accompanied him. "So strange. Why can I be like this? In his heart was surprised, since when did Emban alias Dayang followed him like that? "Hey! His hand pushed the emban which according to him was very presumptuous in preceding his steps. The emban fell on the ground. While the others who saw it were very scared, even the soldiers in the courtyard of the palace looked at Princess Andhini Andita hated.
"Forgive my servant gusti daughter. Really, forgive me!" The lady who was pushed immediately kneeling to prostrate before Princess Andhini Andita. "Forgive the impudence of Gusti Putri's servant. Really, forgive me." He tried to hold back his tears.
Deg!!!.
"What have I done? Why did I push him? What was the mistake?" In the bottom of his heart he was scared after what he did. "Why am I doing that?!" His hands trembled in fear. What should he do in this situation?
"Heh! Even more cruel, with his feet he kicked the emban. "Oh no! What have I done!" Princess Andhini Andita was completely confused by what happened to her. Looks like the body is not as heart to his soul. What happened exactly?. Why is he being rude like that?.
"Egkhakh!" The emban shouted in pain when he got a lunge from Princess Andhini Andita.
"Stop! In his heart shouted stopped doing the violence, but his body did not want to stop. In fact, with his enthusiasm to do that cruelty. And the most confusing is, he can listen to the voice of their hearts that hate and curse what he is doing. Their voices are very clear in their minds, but their body does not care, as if deaf, hearing is not functioning at all. His feet did not want to stop torturing the emban with a hard kick to hurt the dew.
"A princess king is cruel behavior like this. Why is she born in this family?"
__ADS_1
"Cruel woman! How could she be this cruel?
"You better die! You shouldn't be here!"
"Who expects a cruel woman like you! Bedebah!"
Those are the curses heard by Princess Andhini Andita's soul, but once again confirmed, that her body did not care at all. "Astaghfirullah Hal'azim O Allah. What happened to the real servant? Why did I do that?" His heart was very sad over his rough attitude. Why can he torture the emban that only walks before him?. What happened to him so he behaved like that?
While Sukma Dewi Suarabumi is currently staring sadly at the soul of Princess Andhini Andita who has not yet wanted to open her eyes. He was very sad, did not know what to do to wake up the soul of Princess Andhini Andita. "Do I have to do meditation to meet Gusti Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta?" In such a chaotic state, Sukma Dewi SuaraBumi was reminded of King Bahuwirya Jayantaka Byakta. "Alright, then I have to do meditation. So I can meet with Gusti Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta." Sukma Dewi SuaraBumi doesn't want to waste any more time. He must find a way to wake up the soul of Princess Andhini Andita. Will that method work?. What is the answer from Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta later? Listen to the story.
...***...
On one side.
A beautiful woman who has a grudge against Princess Andhini Andita is currently smiling triumphantly. Because the way he did was very successful. The witchcraft doll that he made resembles Princess Andhini Andita is currently showing the exact same symptoms experienced by Princess Andhini Andita.
"Good, this is very interesting." His smile expanded when he saw the dream of the flow of the way of life that Princess Andhini was going through Andita. "It turns out that as a daughter of the king you are very cruel too, ahahaha! I didn't expect before!" Somehow vision is like an entertainment for him. "I really enjoy the torture you will do! And wait for how you kill the people you love with your hands! ! Ahaha! " His laugh even harder when he imagined Andhini Andita's daughter killed the person he loved with his hands? What is the woman planned?. Who he really is?. His girlfriend was killed by Princess Andhini Andita?. When did it happen?. Check out more.
...***...
Returning to the Palace of the Kingdom Suka Peace.
Because there was also no response from Princess Andhini Andita, the emban decided to return to meet Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Please forgive Gusti Prabu, Gusti Ratu." He saluted.
"Is there an emban? Queen Gendhis Cendrawati looks very anxious.
"Please forgive Gusti Ratu. Earlier I had tried to call Gusti Putri, but there was no response at all Gusti Ratu." Answer the emban.
"No answer?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Ratu Dewi Anindyaswari, Ratu Gendhis Cendrawati and Raden Jatiya Dewa together asking.
"It's not usually my daughter like that. Is she doing Duha prayer? Queen Gendhis Cendrawati again asked.
"Servant has been waiting for him, I did not dare to enter the Gusti Putri booth. Maybe according to Servant Gusti Putri did perform the Duha prayer, but for a long time I waited, but there was no answer from inside Gusti Ratu." The emban explains the incident.
"Then I will enter the booth. I want to be sure if he is in his booth or not." Queen Gendhis Cendrawati was very nervous about the explanation of the emban.
"Then I will join Yunda too." Ratu Dewi Anindyaswari was also worried.
"Nanda Prabu, Nanda Jatiya Dewa, wait here for a moment. We will see the state of Ananda Putri." Ratu Gendhis Cendrawati said goodbye to Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Alright mother." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana is only obedient.
What is happening to Princess Andhini Andita at this time?. Find the answer in this story.
...***...
__ADS_1