
...***...
Prabu Kawiswara Arya Ragnala terlihat sedang berpikir. Apakah ia akan menceritakan kisah itu pada kedua anaknya yang sedang dilanda perasaan ingi tahu mengenai apa yang telah terjadi di masa lalu?. Apakah ia akan mengatakannya pada kedua anaknya apa yang telah terjadi di masa itu?.
Prabu Kawiswara Arya Ragnala terlihat menghela nafasnya dengan pelan. Sepertinya ia memang harus menceritakannya pada kedua anaknya. Akan tetapi, pada saat itu terdengar suara adzan pertanda sholat isya telah masuk.
"Maaf yunda. Sepertinya kita tidak bisa bertanya pada ayahanda saat ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan berat hati berjaya seperti itu. "Sepertinya kita harus segera melaksanakan sholat isya terlebih dahulu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengingatkan yundanya.
"Tapi rayi prabu." Putri Andhini Andita sangat ingin mendengarkan cerita itu dari ayahandanya.
"Laksanakan kewajiban ananda. Ayahanda akan menemui ananda. Tenang saja, jangan terlalu terburu-buru mengetahui suatu kejadian di masa lalu." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengusap kepala putihnya dengan sayang.
"Baiklah kalau begitu ayahanda prabu." Dengan berat hati ia menyetujui apa yang dikatakan oleh ayahandanya.
"Tenang saja, ayahanda akan menunjukkannya pada ananda memalui mimpi, mungkin ananda bisa bertanya langsung pada yunda dianti cakrawati nantinya." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tidak ingin putrinya kecewa. "Ayahanda juga tidak bisa berlama-lama berada di sini. Maaf, jika ayahanda tidak bisa menceritakannya sekarang." Prabu Kawiswara Arya tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa ayahanda prabu." Putri Andhini Andita mencoba memahaminya. "Setidaknya ananda mengetahui kebenarannya, jika bibi dianti cakrawati memiliki perasaan cinta pada ayahanda prabu." Putri Andhini Andita bisa memastikan jika cerita itu memang benar adanya.
"Ayahanda hanya berharap, jika ananda bisa melakukan yang terbaik. Jagalah perasaan itu, ayahanda percaya jika ananda akan menjadi wanita yang sangat kuat di dunia ini." Sebagai seorang ayah, hanya itu saja hadapannya untuk putrinya.
__ADS_1
"Ananda akan berusaha sekuat tenaga ayahanda prabu. Ananda tidak akan mengecewakan ayahanda prabu." Itulah janji Putri Andhini Andita pada ayahandanya.
"Ayahanda percaya itu." Prabu Kawiswara Arya Ragnala sangat senang mendengarkan ucapan putrinya. "Kalau begitu ayahanda pamit dahulu." Ia mengusap kepala putihnya, setelah itu juga mengusap kepala putranya, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Tak lupa ia cium kening anaknya dengan sayang. "Jagalah yunda. Hanya ananda yang bisa menjaga yinda."
"Tentu saja ayahanda prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berjanji pada ayahandanya, bahwa ia akan melindungi yundanya dengan kekuatannya.
"Sampurasun."
"Rampes."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala benar-benar meninggalkan ruangan pribadi raja. Ia tidak bisa berlama-lama berada di sana, karena waktu dan dunianya yang telah berbeda.
"Tenanglah yunda. Apa yang yunda tanyakan suatu hari nanti pasti akan yerjawa. Jadi yunda tidak perlu buru-buru." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya ingin kakaknya lebih bersabar lagi.
"Kalau begitu mari kita segera ke mushola yunda. Sebaiknya kita segera melaksanakan sholat isya berjamaah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak mau membuang-buang waktu lagi.
"Baiklah rayi. Mari kita segera ke mushola." Putri Andhini Andita mengikuti adiknya. Mereka segera ke mushola. Setidaknya Putri Andhini Andita sedikit mengetahui kebenaran itu. Apakah artinya ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sukma Dewi Suarabumi?. Tentu saja ia sangat percaya, hanya saja ia ingin mendengar langsung dari ayahandanya. Karena bibinya Putri Dianti Cakrawati mencintai adiknya sendiri. Sama halnya yang ia lakukan pada saat itu. Apakah ia tidak bisa mengatasi masalah itu?. Apakah ia akan berakhir dengan kematian?. Sama halnya dengan apa yang dialami oleh bibinya?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
...***...
__ADS_1
Sementara itu, di sisi lain.
Seorang wanita cantik sedang memandangi bulan yang tampak bulat sempurna. Ada perasaan kesedihan yang ia rasakan saat itu. Perasaan kesepian yang telah lama ia rasakan sejak kekasihnya pergi untuk selama-lamanya.
"Wanita pendekar bernama putih itu sangat kurang ajar sekali." Dalam hatinya mengutuk dengan apa yang terjadi. Perasaan hatinya yang sedang dipenuhi oleh dendam yang sangat membara. Hingga ia hampir saja tidak bisa mengendalikan dirinya karena itu. "Kenapa wanita kejam itu membunuhmu pati jaya?. Kenapa wanita itu sangat kejam padaku?." Dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa pendekar yang bernama putih itu membunuh kekasihnya?.
"Aku telah mempelajari beberapa ilmu kanuragan yang sangat kuat. Aku pasti akan membunuh wanita itu. Aku janji padamu pati jaya." Ia telah bertekad, bahwa ia akan membunuh wanita yang telah membunuh kekasihnya. "Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri." Hatinya yang saat ini sedang dikuasai oleh keinginan membunuh yang sangat luar biasa. Rasa sakit hati yang ia rasakan di masa lalu, dan kini ia akan membayar rasa sakit itu. Apakah yang akan ia lakukan setelah itu?. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Tapi pertanyaannya adalah, apakah pendekar wanita yang bernama putih itu adalah putri Andhini Andita?. Temukan jawabannya.
...***...
Kembali pada Putri Andhini Andita. Setelah melaksanakan sholat isya berjamaah, ia kembali ke biliknya. Ia masih memikirkan apa yang akan ia lakukan jika ia mengetahui kisah dari bibinya itu?.
"Kau tidak usah bersedih seperti itu andhini andita." Sukma Dewi Suarabumi tiba-tiba berada di belakang Putri Andhini Andita.
Deg!!!.
"Sejak kapan aku masuk ke dalam alam sukma dewi suarabumi?." Dalam Putri Andhini Andita sedikit terkejut. "Gusti putri dewi suarabumi." Putri Andhini Andita hampir saja tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis saat melihat senyuman Sukma Dewi Suarabumi.
"Kau tidak perlu gelisah. Jika kau ingin mengetahui bagaimana kisa itu terjadi, maka aku akan menunjukkannya padamu." Sukma Dewi Suarabumi menopang dagunya dengan anggun. Ia sering melakukan itu, rasa penasaran dari reaksi Putri Andhini Andita seperti sebuah hiburan tersendiri baginya.
__ADS_1
"Apakah itu benar gusti putri?. Apakah gusti putri bisa menunjukkannya pada hamba?." Rasnya ia tidak sabar ingin mengetahuinya.
"Tentu saja aku sangat mengetahuinya." Balas Sukma Dewi Suarabumi. "Dibandingkan gusti prabu kawiswara arya ragnala. Aku bahkan lebih memahami gusti putri dianti cakrawati lebih dari adiknya sendiri. Aku bahkan memahami dirimu dari pada siapapun. Karena aku lah yang mengawasi kalian dari alam sukma. Tentunya aku memahami bagaimana perasaan kalian." Sukma Dewi Suarabumi berkata dengan raut wajah serius. Ya, memang ia telah mengamati mereka yang menggunakan kekuatannya. Lalu bagaimana dengan tanggapan Putri Andhini Andita?. Apakah benar ia ingin mengetahui kisah itu?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta. Maaf atas ketidaknyamanan dua hari belakangan ini.