
...***...
Senopati Malakala menangkap gadis kurang ajar itu atas perintah Prabu Candana Kumara. Sang prabu merasa sangat terhina karena wanita buruk rupa itu telah lancang mengatakan ingin hidup bersama anaknya sampai setia. Saat ini di ruang tahanan yang tersembunyi, gadis malang itu sedang terikat.
"Kenapa gusti prabu memperlakukan hamba seperti ini?." Dengan ratapan tangis yang sangat pilu ia berkata seperti itu. "Hamba sangat mencintai raden candana arga. Hamba mohon berikan hamba kesempatan untuk membuktikan bahwa hamba adalah wanita yang sangat cocok dengan putra gusti prabu." Tangisannya itu sama sekali tidak menggetarkan hati Prabu Arga. Malahan Sang Prabu semakin muak dengan tangisan itu.
"Diam kau wanita buruk rupa!." Bentaknya sambil menampar pipi wanita malang itu. "Kau jangan terlalu berharap ingin mendapatkan anakku!. Keluargaku akan terhina jika kau menikah dan mempunyai anak!. Wanita tidak tahu diri seperti kau!. Sebaiknya tidak ada di dunia ini!." Dengan tanpa perasaan ia berkata seperti itu. Hati nuraninya seakan mati, harga dirinya merasa ternodai karena wanita buruk rupa itu ingin menjadi istri dari anaknya.
"Oh dewata yang agung." Ratapan tangisnya sama sekali tidak digubriskan. Ia sangat putus asa, dan lebih putus lagi ketika Prabu Candana Kumara mengatakan jika ia akan dihukum mati.
Kembali ke masa ini.
Saat ini Putri Andhini Andita dan Senopati Malakala sedang berada di ruangan tempat dimana wanita malang itu dihukum mati.
"Sepertinya cerita yang gusti patih katakan sama persis dengan apa yang hamba lihat." Putri Andhini Andita menyentuh tiang gantung itu dengan perasaan sedih. "Bening permata. Nama yang sangat cantik." Putri Andhini Andita hampir saja menangis melihat semuanya.
"Tenanglah andhini andita. Jangan sampai kau terbawa oleh suasana sedih di sini." Sukma Dewi Suarabumi memperingati Putri Andhini Andita.
"Hamba hanya merasakan kasihan saja gusti putri. Sungguh malang sekali wanita itu." Dalam hati Putri Andhini Andita.
"Kau bahkan mengetahui nama wanita itu nimas?." Senopati Malakala terkejut dengan apa yang yang ia dengar. "Tidak ada yang mengetahui namanya, selain aku yang bertanya pada ayahnya yang merupakan seorang dukun." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Kita harus segera bertemu dengan ayahnya. Jika tidak, akan ada bahaya yang lebih berat lagi." Putri Andhini Andita dapat merasakannya. "Ruangan ini benar-benar telah menyimpan kesedihan, serta kutukan. Karena itulah kita harus segera menghentikannya."
"Baiklah nimas. Aku mengetahui dimana keberadaan ayahnya saat ini." Senopati Malakala masih ingat dimana terakhir ia bertemu dengan laki-laki itu.
"Mari gusti patih." Setelah itu mereka bergegas menuju tempat yang mereka maksudkan. Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Temukan jawabannya.
Sementara itu di Istana Kerajaan Melarang.
Prabu Candana Kumara dan Ratu Ayundari Paramita saat ini sedang berada di bilik anaknya.
"Bagaimana keadaanmu putraku?. Apakah kau masih belum merasakan adanya perubahan?. Apakah kau bisa berjalan putraku?." Ratu Ayundari Paramita bertanya pada anaknya dengan raut wajah sedih.
"Katakan saja nak, katakan jika kau ingin mengatakannya." Prabu Candana Kumara juga memaksa anaknya untuk mengeluarkan kata-kata.
"Kau yang telah membuat aku menderita. Kau dan kedua orang tuamu yang sangat sombong itu harus merasakan apa yang aku rasakan." Itulah yang diucapkan oleh sosok hitam menyeramkan. Wajahnya benar-benar sangat menyeramkan untuk dilihat, membuat Raden Candana Arga sangat ketakutan, sehingga ia tidak bisa berkata-kata saking kelunya lidahnya saat ini. Perasaan takut yang berlebihan membuatnya tidak memiliki kekuatan untuk melawan sedikitpun. Sebenarnya apa yang terjadi?. Kenapa sosok jahat itu bisa melakukan hal yang sangat menyeramkan pada Raden Candana Arga?. Temukan jawabannya.
...***...
Putri Andhini Andita dan Senopati Malakala berhasil bertemu dengan dukun itu, ayah dari Bening Permata. Wanita malang yang telah dihukum mati oleh Prabu Candana Kumara. Mereka langsung masuk, karena mereka tidak mau membuang waktu lagi.
"Paraja tengi!." Senopati Malakala menggebrak pintu yang terbuat dari bambu itu dengan sangat keras. Tentunya membuat tuan rumah sangat terkejut, apalagi saat ini ia sedang melakukan persiapan untuk menyantet Raden Candana Arga.
__ADS_1
"Heh!. Ternyata kau senopati bedebah!." Ia mendengus kesal sambil mengumpat dengan kasarnya. Ia memasang kuda-kuda siaga, dan mewaspadai semua serangan yang mungkin dayang padanya. "Apa yang kau lakukan di sini?. Apakah begitu sikap seorang senopati terhormat bertamu?." Lanjutnya lagi.
"Hei!. Kau paraja tengi!." Senopati Malakala menunjuk ke arah Paraja Tengi dengan sangat marah. "Sebaiknya kau hentikan kejahatan yang telah kau lakukan!." Senopati Malakala tidak mau buang-buang waktu lagi. "Kau akan mendapatkan hukuman mati, jika kau berani berhadapan dengan aku!." Mata itu menatap tajam ke arah Paraja Tengi.
Namun bagaimana tanggapan nya?. Ia malah tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Senopati Malakala padanya. Akan tetapi, di saat yang bersamaan amarahnya malah memuncak. Sehingga mereka terlihat semakin waspada.
"Awas!." Putri Andhini Andita langsung menahan serangan gaib yang datang ke arah Senopati Malakala.
"Huwah!." Senopati Malakala terbakar ke belakang, karena ia sempat merasakan serangan aneh, namun ia tidak dapat melihat siapa yang menyerangnya.
"Jadi kau orang yang telah berani mengusik jin yang selama ini berada di dekat raden candana arga?." Paraja Tengi memastikannya.
"Kau tidak akan bisa membunuh manusia dengan jin. Namun kau lah yang akan terbunuh jika kau bermain-main dengan jin yang menyesatkan." Putri Andhini Andita langsung mengeluarkan pedang Panggilan jiwa. Ia gunakan untuk mengahalau Jin seram itu agar menjauh darinya.
"Tidak semudah itu kau membunuhnya." Paraja Tengi sangat tidak terima. "Kau yang akan aku bunuh!. Karena kau telah berani ikut campur dengan urusanku!." Ia sangat marah, sehingga ia memberi perintah pada Jin seram itu agar membunuh Putri Andhini Andita.
"Gusti senopati. Tolong atasi paraja tengi. Hamba akan mengurus hal yang tidak bisa terlihat ini." Putri Andhini Andita langsung melompat ke luar. Ia benar-benar akan berhadapan dengan jin seram itu?.
"Baiklah nimas. Berhati-hatilah." Senopati Malakala terlihat sangat cemas.
"Kau tidak usah banyak bertingkah senopati malakala." Mata itu menatap tajam ke arah Senopati Malakala. "Kau adalah salah satu orang yang terlibat dalam pembunuhan anakku." Ia sangat yakin itu. "Meskipun anakku terlihat bunuh diri, tapi aku yakin dia dihukum mati oleh raja busuk itu!." Hatinya sangat tidak terima dengan apa yang terjadi pada anaknya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya, jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.
__ADS_1
...***...