
...***...
Putri Andhini Andita tidak bisa menjawab pertanyaannya dari Raden Jatiya Dewa. Kenapa ia menangis setelah melakukan itu?. Apa yang salah padanya?. Kenapa itu bisa terjadi?. Kenapa ia ingin membunuh Raden Jatiya Dewa?. Apakah hanya karena alasan Raden Jatiya mengkhianati dirinya sehingga ia ingin membunuhnya?.
Putri Andhini Andita menjatuhkan pedang panggilan jiwa, tangannya bergetar hebat menatap darah yang menempel pada tangannya. "Kenapa aku melakukan itu." Putri Andhini Andita sangat menyesal telah menusukkan pedang panggilan jiwa ke dada kiri Raden Jatiya Dewa.
Namun pada saat itu, Putri Andhini Andita melihat ada seorang wanita yang datang padanya. Di saat yang bersamaan Raden Jatiya Dewa menghilang entah kemana, membuat Putri Andhini Andita semakin ketakutan.
"Heh!." Wanita itu mendengus kecil. Senyumannya begitu lebar, saat melihat Putri Andhini Andita tidak berdaya lagi. "Bagaimana rasanya membunuh orang yang kau cintai?. Pendekar putih?." Ia bertanya dengan nada mengejek. "Atau bisa aku panggil dengan nama tuan putri andhini andita?." Lanjutnya lagi.
Deg!!!.
Putri Andhini Andita sangat terkejut dengan apa yang ia dengar. "Jadi kau?. Kau yang telah melakukan itu?." Putri Andhini Andita terlihat sangat marah. Ia tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu.
"Kau sendiri yang telah melakukannya. Itu semua balasan atas apa yang telah kau lakukan pada kakang panji apraja." Hatinya seketika merasakan sakit ketika mengingat kejadian itu.
Putri Andhini Andita terdiam, ia tidak ingat nama itu. "Siapa kau?. Berani sekali kau melakukan itu padaku?. Kenapa kau ingin membuatku membunuh raden jatiya dewa?!." Amarahnya membuncah dengan meledak.
"Diam!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras.
"Kenapa dengan wanita ini?." Dalam hati Putri Andhini Andita terkejut melihat hawa kemarahan yang tidak biasa.
"Jangan katakan padaku, jika kau lupa setelah apa yang kau lakukan di masa lalu?!. Kau yang telah membunuh kakang panji apraja dengan pedang itu!." Nafasnya naik turun karena menahan amarah yang kini sedang meladak-ledsk di dalam dirinya. "Kau harus membayar atas apa yang telah kau lakukan di pada saat itu!. Kerajaan bentang talam!. Apakah kau begitu saja melupakan apa yang terjadi pada saat itu?. Sungguh wanita biadab!." Amarahnya semakin membuncah, hingga tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya sebagai lampiasan kemarahan yang ia rasakan pada saat itu.
Deg!!!.
Putri Andhini Andita sangat terkejut, ia ingat dengan apa yang terjadi pada saat itu. Namun ia tidak menyangka jika wanita ahli obat itu balas dendam padanya?.
__ADS_1
...***...
Di sisi lain.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini sedang membidik anak panah ke arah tubuh kakaknya. Ia berharap bisa membuka jalan masuk ke alam sukma lain untuk menemukan putri Andhini Andita.
"Bismillahirrahmanirrahim." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melepaskan panah itu, karena matanya yang bisa melihat hal yang gaib, tentunya ia bisa melihat ke arah mana ia harus memanah.
Krak!!.
Terdengar suara pecah karena Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berhasil menemukan titik kelemahan itu.
Deg!!!.
Di saat yang bersamaan, wanita ahli obat yang sedang memegang boneka yang menyerupai Putri Andhini Andita sangat terkejut. "Sepertinya seseorang sedang berusaha untuk masuk ke alam sukma lain. Aku harus menghentikannya." Dalam hatinya merasa tidak nyaman, jika seseorang bisa membawa Putri Andhini Andita dari sana.
"Eyang prabu. Nanda akan masuk ke sana, tolong jaga yunda andhini andita juga raden jatiya dewa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meminta bantuan pada Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.
"Serahkan masalah ini pada kami." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta hanya tersenyum kecil. Meskipun ia tidak menjamin, tapi setidaknya ia tidak ingin Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencemaskan keadaan di sini.
"Kalau begitu nanda masuk ke sana. Sampurasun." Setelah memberi hormat pada Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana segera memasuki alam sukma itu.
"Nimas dewi tenang saja. Sepertinya masalah ini akan segera selesai." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta menyadari, jika Sukma Dewi Suarabumi sangat mengkhawatirkan keadaan mereka semua. "Nanda prabu hanya membantu kakaknya saja, aku yakin nimas andhini andita juga akan berubah setelah mengalami masalah ini." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta tersenyum kecil.
"Jadi benar?. Jika gusti putri andhini andita mencintai adiknya sendiri?." Raden Jatiya Dewa sangat penasaran. Meskipun saat ini keadaannya tidak baik, karena Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta dan Sukma Dewi Suarabumi sedang menyalurkan tenaga dalamnya padanya.
"Tapi jika kau lebih berusaha lebih keras lagi, aku yakin kau bisa menarik hatinya dengan baik. Karena itulah kau tidak boleh kalah dari gusti prabu asmalaraya arya ardhana." Sukma Dewi Suarabumi menatap tajam ke arah Raden Jatiya Dewa.
__ADS_1
"Wanita jika marah memang sangat mengerikan." Dalam hati Raden Jatiya Dewa sangat takut, sekaligus merinding melihat penampilan Sukma Dewi Suarabumi saat ini.
Sementara itu, Istana Kerajaan Suka Damai.
Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Dewi Anindyaswari saat ini sedang menuju ke bilik Putri Andhini Andita. Namun sebelum menuju bilik Putri Andhini Andita, keduanya mencari keberadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Jatiya Dewa. Akan tetapi keduanya tidak menemukan keberadaan keduanya.
"Bagaimana yunda?. Apakah yunda menemukan keberadaan nanda prabu, juga anda jatiya dewa?." Ratu Dewi Anindyaswari sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan keduanya.
"Aku tidak melihat keduanya rayi dewi." Begitu juga dengan Ratu Gendhis Cendrawati. "Kemana nanda prabu, juga nanda jatiya dewa di saat seperti ini?. Apakah mereka keluar untuk mencari sesuatu?. Tapi tidak biasanya mereka pergi tidak meninggalkan pesan." Ratu Gendhis Cendrawati semakin cemas.
"Kalau begitu kita tunggu saja di bilik ananda putri andhini andita. Mungkin saja mereka berdua akan menyusul kita nantinya yunda." Ratu Dewi Anindyaswari hanya pasrah saja saat ini. "Kita harus menjaga ananda andhini andita, aku takut terjadi sesuatu padanya nantinya." Ratu Dewi Anindyaswari waspada dalam keadaan seperti ini.
"Baiklah kalau begitu rayi dewi. Mari kita menuju bilik ananda andhini andita. Aku juga sangat mencemaskan keadaannya." Ratu Gendhis Cendrawati juga memutuskan untuk menuju bilik Putri Andhini Andita.
...***...
Sementara itu, wanita yang sangat dendam pada Putri Andhini Andita saat ini sedang mencari keberadaan seseorang yang berusaha untuk memasuki alam sukma yang ia ciptakan untuk Putri Andhini Andita. Tentunya ia tidak mau orang itu mengganggunya.
Namun pada saat itu ia sangat terkejut, karena orang itu telah berhasil menemui Putri Andhini Andita yang sedang dalam keadaan kacau.
"Yunda andhini andita!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat kakaknya dalam keadaan tidak karuan. Amarahnya memuncak, dapat dilihat dari hawa merah yang kini menyelimuti tubuhnya. Wanita itu sangat terkejut melihat hawa merah itu.
"Sepertinya dia bukan orang biasa. Bagaimana mungkin dia memiliki kekuatan sebesar itu?." Dalam hati wanita itu mulai waspada. Apakah ia mampu berhadapan dengan pemuda itu atau tidak?.
"Jadi dia?. Jadi dia yang telah menahan sukma yunda andini andita?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sangat marah. Ia akan menghukum orang itu dengan tangannya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya dalam kisah ini ya.
__ADS_1
Salam cinta untuk pembaca tercinta. Semoga suka dengan lanjutan ceritanya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.