
...***...
Pendekar Paruh Tajam turun dengan melompat ke bawah. Senyumannya mengembang ketika memperhatikan wajah cantik Putri Andhini Andita. Entah kenapa hasratnya saat ini sedang membuncah ketika itu.
"Cantik, sangat cantik." Ia mengamati Putri Andhini Andita dengan seksama.
"Jadi kau?. Pendekar kejam yang membunuh para gadis untuk kepuasan bejadmu itu?." Putri Andhini Andita tidak basa-basi lagi.
"Hum." Pendekar Paruh Tajam terlihat sedang berpikir sejenak. "Rasanya aku terdengar kejam." Ia melirik tajam ke arah penduduk yang tampak ketakutan setelah apa yang ia lakukan tadi. "Tapi bagiku apa yang aku lakukan sama sekali tidak kejam, dan itu sangat wajar untuk menambah kekuatan." Dengan santainya ia berkata seperti itu, seakan-akan nyawa seseorang tidak berarti baginya.
Putri Andhini Andita sangat geram mendengarnya, tanpa aba-aba ia melayangkan sebuah tebasan pedang ke arah pendekar Paruh Tajam.
Srakh!!!.
Lengan Pendekar Paruh Tajam terkena sabetan pedang dari Putri Andhini Andita. Bukan hanya ia saja yang terkejut dengan apa yang terjadi. Mereka tidak menyangka serangan itu begitu cepat.
"Kegh!." Pendekar Paruh Tajam meringis sakit, lengannya terluka dan mengalirkan darah.
"Itu peringatan untukmu, jika kau berani berpikiran macam-macam tentangku. Apalagi jika kau berani berpikiran untuk menjadikan aku tumbalmu." Sorot mata Putri Andhini Andita terlihat begitu menyeramkan. Apalagi auranya terlihat berbeda, sehingga Pendekar Paruh Tajam dapat merasakan ada yang berbeda dengan Putri Andhini Andita. Ia juga melihat Sukma seorang wanita cantik yang seakan-akan melindungi Putri Andhini Andita dari marabahaya yang menimpa dirinya.
"Aku akan datang kembali padamu. Akan aku pastikan kau akan menjadi tumbal terbaik yang pernah ada!." Ia sangat kesal, karena saat ini ia tidak bisa berhadapan dengan Putri Andhini Andita. Saat ini ia terpaksa mundur, akan berbahaya jika ia bertarung dalam keadaan terluka seperti itu.
"Heh!. Benar-benar seorang pengecut!." Putri Andhini Andita merasa kesal, setelah itu ia menyimpan kembali pedang itu ke dalam tubuhnya.
"Nini!."
Mereka semua mendekati dan mengelilingi Putri Andhini Andita. Mereka sangat kagum dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Putri Andhini Andita.
"Nini. Apakah Nini bisa membantu kami untuk mengusir mereka?. Sepertinya nini memiliki kekuatan yang sangat hebat."
"Benar nini. Tolong kami dari cengkraman dua orang pendekar jahat yang mengincar anak gadis kami."
"Kami mohon nini."
Mereka semua bersujud di hadapan Putri Andhini Andita, membuatnya merasa tidak nyaman dengan apa yang mereka lakukan.
"Tuan-tuan sekalian tidak perlu menyembah pada saya." Putri Andhini Andita membantu seorang wanita untuk berdiri. "Jangan bersujud di hadapan saya. Saya akan membantu kalian sebisa mungkin." Putri Andhini Andita merasa tidak enak.
"Terima kasih tuan pendekar." Mereka sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita.
"Tapi sebelum itu, mari kita kubur jenazah mereka dengan baik. Jangan kita biarkan mereka di sini terbaring tanpa ada yang mengurus mereka." Putri Andhini Andita menatap kedua jenazah dua orang wanita malang yang dibunuh dengan cara yang sangat sadis.
"Mari kita lakukan bersama."
Mereka semua tidak keberatan melakukan itu. Mereka juga merasa simpati atas apa yang menimpa dua orang wanita malang itu.
Kembali ke masa ini.
Putri Andhini Andita dan Raden Jatiya Dewa benar-benar kewalahan, begitu juga dengan Liku Sakti yang saat ini terluka parah karena berhadapan dengan dua orang yang ternyata memiliki tenaga dalam yang tidak bisa diremehkan begitu saja.
Duakh!.
__ADS_1
Putri Andhini Andita dan Raden Jatiya Dewa berhasil melayangkan pukulan keras ke dada Liku Sakti.
"Egkhakh!." Ia berteriak kesakitan, karena telapak tangan mereka dilambari dengan tenaga dalam, sehingga luka yang diakibatkan oleh pukulan itu sampai ke dalam, membuatnya muntah darah. Bukan hanya itu saja, Raden Jatiya Dewa juga menghadiahinya dengan sebuah tendangan yang sangat keras ke perutnya. Tubuh Liku Sakti terhempas jauh?.
"Kau tidak akan aku ampuni. Kau harus membayar racun ganas yang telah kau berikan pada raden jatiya seperti. Aku telah bersumpah, bahwa aku tidak akan mengampunimu." Wajah Putri Andhini Andita saat ini seperti malaikat kematian.
"Kau benar-benar wanita gila!." Tubuh Liku Sakti menggigil ketakutan melihat itu. Apalagi saat matanya menangkap sebuah ayunan pedang yang sangat kuat. Sepertinya Putri Andhini Andita memang tidak mengampuninya, tidak memberikan kesempatan untuknya melarikan diri dari sana.
SRAKH!!!.
Putri Andhini Andita menebas kepala pendekar Liku Sakti hingga terlepas dari badannya, hingga kepala itu menggelinding ke tanah. Apakah itu adalah kemarahan yang biasa yang ia rasakan?.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Raden Jatiya Dewa terkejut melihat apa yang dilakukan Putri Andhini Andita. "Tidak ada keraguan yang ia rasakan. Apakah seperti itu perasaannya ketika marah?." Dalam hati Raden Jatiya Dewa benar-benar heran dengan sikap Putri Andhini Andita. "Gusti putri." Raden Jatiya Dewa lebih terkejut lagi ketika Putri Andhini Andita hampir saja limbung ke tanah. "Sepertinya ia terlalu banyak menggunakan tenaga dalam." Raden Jatiya Dewa melihat raut wajah Putri Andhini Andita yang pucat. Sebenarnya ia juga merasa lelah juga setelah bertarung tadi. Apalagi racun yang ia keluarkan tadi seperti membawa separuh dari tenaga dalamnya. "Maafkan aku yang telah menyusahkan mu tuan putriku yang cuek." Raden Jatiya Dewa menggendong Putri Andhini Andita. Segera mungkin ia harus membawa Putri Andhini Andita dari sana, akan berbahaya jika mereka bertemu dengan musuh yang lebih kuat lagi. Ia tidak akan sanggup berhadapan dengan siapapun dalam keadaan lemah seperti itu. Apakah Raden Jatiya Dewa bisa membawa Putri Andhini Andita dari sana dalam keadaan selamat?. Simak terus ceritanya.
Kembali ke masa itu.
Putri Andhini Andita saat ini berada di rumah penduduk desa. Lebih tepatnya berada di rumah lurah desa. Mereka menjamu Putri Andhini Andita dengan baik. Mereka juga menceritakan bagaimana keganasan dari dua orang pendekar yang sangat kejam.
"Sebelum mereka datang, desa ini sangat nyaman untuk kami diami." Ia menerawang jauh sebelum kejadian naas itu. "Tapi setelah kedatangan kedua pendekar keji itu, desa kami seperti tempat kematian yang selalu mengintai anak gadis di desa ini." Ia merinding membayangkan apa yang telah dilakukan oleh kedua pendekar jahat itu.
"Dua orang?." Putri Andhini Andita sedikit bingung. "Jadi dia masih memiliki teman lainnya?." Karena yang ia hadapi tadi hanya satu orang saja.
"Benar nini. Mereka ada dua orang, mungkin satunya lagi berada di tempat persembunyian mereka."
Apakah yang akan dilakukan Putri Andhini Andita?. Apakah ia akan menghadapi kedua orang yang telah membuat penduduk desa sungai Betung?. Apakah ia bisa melakukannya?. Temukan jawabannya.
...***...
Salam penuh cinta untuk pembaca tercinta. Semoga suka dengan kisah ini. Selamat membaca, terima kasih atas dukungannya.
...***...
"Beautiful, very beautiful." He observed Princess Andhini Andita carefully.
"So you are? Princess Andhini Andita is no longer pleasant.
"Hum." The sharp beak warrior was seen thinking for a moment. "It feels like I sound cruel." He glanced sharply at the people who looked scared after what he did earlier. "But for me what I did was not at all cruel, and it was very natural to increase strength." He casually said that, as if someone's life did not mean to him.
Andhini's daughter Andita was very furious to hear that, without warning she sent a slash of a sword towards a sharp half-war.
Srakh!!!.
The sharp beak warriors were hit by a sword from Princess Andhini Andita. Not only he was surprised by what happened. They did not expect the attack so quickly.
"Kerah!" The sharp beak warriors grimaced in pain, his arms were injured and drained blood.
"That's a warning for you, if you dare to think of things about me. Especially if you dare to think of making me your sacrifice." The eyes of Princess Andhini Andita's eyes look so scary. Moreover, the aura looks different, so the sharp beak warrior can feel something different from Princess Andhini Andita. He also saw the soul of a beautiful woman who seemed to protect Princess Andhini Andita from the distress that befell her.
"I'll come back to you. I'll make sure you will be the best sacrifice ever!" He was very upset, because at this time he could not deal with Princess Andhini Andita. At this time he was forced to retreat, it would be dangerous if he fought in such a state of injury.
"Heh! Princess Andhini Andita was annoyed, after that she kept the sword back into her body.
__ADS_1
"Nini!."
They all approached and surrounded Princess Andhini Andita. They were very impressed with what had just been done by Princess Andhini Andita.
"Nini. Can Nini help us drive them away? Looks like Nini has a very great power."
"Right Nini. Help us from the grip of two evil warriors who are eyeing our daughters."
"We beg Nini."
They all bowed in front of Princess Andhini Andita, making her feel uncomfortable with what they did.
"You don't need to worship me." Princess Andhini Andita helped a woman to stand up. "Don't prostrate before me. I will help you as much as possible." Princess Andhini Andita felt bad.
"Thank you, Mr. Swordsman." They are very happy to listen to what Princess Andhini said.
"But before that, let's bubble their bodies well. Don't let them be here lying without anyone taking care of them." Princess Andhini Andita looked at the two bodies of two poor women who were killed in a very sadistic way.
"Let's do it together."
They all don't mind doing that. They also felt sympathy for what happened to the two poor women.
Back to this time.
Princess Andhini Andita and Raden Jatiya Dewa were truly overwhelmed, as well as Liku Sakti who were currently seriously injured because they were dealing with two people who turned out to have internal energy that could not be underestimated.
Duakh!.
Princess Andhini Andita and Raden Jatiya Dewa managed to throw a hard blow to Liku Sakti's chest.
"Egkhakh!" He shouted in pain, because their palms were praised with deep energy, so that the wound caused by the blow to the inside, made him vomit blood. Not only that, Raden Jatiya Dewa also rewarded him with a very hard kick to his stomach. Liku Sakti's body crashed away?
"You will not forgive. You have to pay the ferocious poison that you have given to Raden Jatiya like. I have vowed, that I will not camp you." Princess Andhini Andita's face is currently like a death angel.
"You're really a crazy woman!" Liku Sakti's body shivered in fear of seeing that. Especially when his eyes caught a very strong swing swing. It seems like Andhini's daughter Andita did not forgive her, not giving her the opportunity to escape from there.
SRAKH!!!.
Princess Andhini Andita slashed the head of the Swordsman Liku Sakti until he was released from his body, until the head rolled to the ground. Is that an ordinary anger he feels?
"Astaghfirullah Hal'azim O Allah." Raden Jatiya Dewa was surprised to see what Princess Andhini was doing. "There is no doubt that he feels. Is that like that he feels when angry?" In the heart Raden Jatiya Dewa was really surprised by the attitude of Princess Andhini Andita. "Gusti Putri." Raden Jatiya Dewa was even more surprised when Andhini Andita's daughter was almost swayed to the ground. "Looks like he uses too much inner energy." Raden Jatiya Dewa saw the pale face of Princess Andhini Andita. Actually he also felt tired too after fighting earlier. Moreover, the poison he released earlier was like carrying half of his inner energy. "I'm sorry for the troublesome you, my ignorant daughter." Raden Jatiya Dewa carrying Princess Andhini Andita. Immediately maybe he should bring Andhini's daughter Andita from there, it would be dangerous if they met a stronger enemy. He will not be able to deal with anyone in such a weak state. Can Raden Jatiya Dewa bring Princess Andhini Andita from there safely?. Listen to the story.
Back to that time.
Princess Andhini Andita is currently in the houses of the villagers. More precisely in the village head house. They entertain Princess Andhini Andita well. They also told how the ferocity of two very cruel warriors.
"Before they came, this village was very comfortable for us to be inhai." He looked long before the unfortunate incident. "But after the arrival of the two heinous warriors, our village is like a place of death that always lurks daughters in this village." He shuddered to imagine what the two evil warriors had done.
"Two persons?." Princess Andhini Andita was a little confused. "So he still has other friends?" Because what he faced was only one person.
"Right Nini. They have two people, maybe the other one is in their hiding place."
__ADS_1
What will Princess Andhini do?. Will he face the two people who have made Sungai Betung villagers? Can he do it? Find the answer.
...***...