
...***...
Raden Jatiya dan Patih Rangga Prahaja saat ini sedang bertarung dengan Putri Rara Saraswati. Karena ia tidak mau ditangkap, ia melakukan perlawanan ketika ayahandanya dan Raden Jatiya Dewa mendekatinya. Putri Rara Saraswati menggunakan jurus-jurus aneh, serta menipu. Hingga beberapa kali Raden Jatiya Dewa dan Patih Rangga Prahaja terkena serangan itu. Mereka benar-benar kewalahan menghadapinya. Meskipun dengan tangan kosong, namun pukulan yang diarahkan Putri Rara Saraswati ke arah mereka cukup bertenaga, memberikan rasa sakit yang lumayan keras.
Bukan hanya itu saja, Putri Rara Saraswati bahkan memberikan tendangan menipu yang cukup cerdik. Ketika Raden Jatiya Dewa hendak memukul tengkuknya, dengan santainya ia menahan serang Raden Jatiya Dewa dengan memblok menggunakan kedua tangannya. "Heh!. Tidak semudah itu kau ingin melumpuhkan aku dengan memukul pundak ku." Ia tersenyum licik, siapa sangka kakinya ia angkat ke atas dengan gerakan memutar sambil bertumpu ke tanah. Gerakan itu gerakan yang sangat baru dilihat oleh Raden Jatiya Dewa. Sehingga ia tidak bisa menahan serangan itu. Bahu kiri Raden Jatiya Dewa terkena sasaran tendangan keras itu, hingga terdengar suara rintihan darinya.
"Kegh!." Raden Jatiya Dewa terpaksa mundur sambil menyentuh bahu kirnya yang terasa berdenyut sakit.
"Raden!." Patih Rangga Prahaja mendekati Raden Jatiya Dewa.
"Sepertinya ini tidak mudah paman patih." Ia mencoba mengurangi rasa sakitnya dengan gerakan kecil.
"Rara saraswati!. Sebaiknya kau jangan melawan!. Aku tidak akan melakukan apapun padamu!. Jika kau mau pergi ke istana dengan cara yang baik!." Patih Rangga Prahaja mencoba memperingati anaknya itu.
"Tidak usah banyak bicara ayahanda. Aku tidak akan pergi kemanapun, selain mencari wanita busuk itu untuk membuat perhitungan dengannya!. Jadi ayahanda tidak usah menghalangi aku untuk mencarinya dengan menangkapku!." Ia malah melawan dan membentak ayahandanya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Kau telah durhaka pada ayahandamu. Segeralah minta ampun pada ayahandamu, sebelum Allah SWT melaknat mu!." Raden Jatiya Dewa juga memberi peringatan pada Putri Rara Saraswati.
"Diam kau jatiya dewa!." Ia semakin marah mendengarkan ucapan Raden Jatiya Dewa. "Kau duluan yang akan aku bunuh!. Karena kau telah membuat aku kecewa!. Kau lebih memilih wanita busuk itu dibandingkan aku!. Maka matilah kau duluan!." Dengan beraninya ia menyerang Raden Jatiya Dewa. Ini adalah tindakan yang sangat berani yang dilakukan oleh seorang wanita.
Putri Rara Saraswati kembali menyerang Raden Jatiya Dewa, dan juga Patih Rangga Prahaja yang berniat untuk melindungi Raden Jatiya Dewa. Pertarungan kembali terjadi, mereka benar-benar mengadu kesaktian yang mereka miliki. Menunjukkan kekuatan siapa yang lebih unggul. Siapakah yang akan menang, dan siapakah yang akan kalah?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1
Sementara itu. Putri Andhini Andita masih berbincang-bincang dengan Putri Dewi Anjarwati, Ratu Mayang Sari, dan Ratu Anjani Dahayu.
"Jadi nimas andhini andita pernah mengembara?. Apakah nimas tidak takut saat bepergian jauh sendirian?." Ratu Mayang Sari terkesan saat mendengarkan cerita mengenai Putri Andhini Andita yang mengembara seorang diri?.
"Benar gusti ratu. Hamba mengembara seorang diri untuk menenangkan diri hamba setelah apa yang hamba alami." Jawab Putri Andhini Andita dengan sedikit senyuman.
"Tapi kenapa nimas sampai melakukan pengembaraan?. Apa yang nimas rasakan saat itu?." Ratu Anjani Dahayu juga penasaran alasannya kenapa.
"Sebelumnya hamba pernah bermusuhan dengan rayi prabu. Mungkin karena perebutan tahta. Hamba tidak terima jika rayi cakara casugraha menjadi raja. Hamba selalu saja membuatnya kerepotan. Namun akhirnya hamba luluh juga dengan kebaikan rayi prabu." Putri Andhini Andita mengatakan alasan kenapa ia mengembara. "Karena perasaan bersalah hamba, pada rayi prabu, hamba memutuskan untuk melakukan pengembaraan. Mungkin itu alasan hamba mengembara seorang diri gusti ratu."
"Pernah bermusuhan dengan adik sendiri?. Itu adalah hal yang sangat wajar salah sebuah tahta kerajaan." Ratu Mayang Sari memakluminya, karena itu adalah perebutan tahta antara keluarga.
"Benar yang dikatakan yunda mayang sari. Tapi setidaknya kalian sudah baikan. Kami sangat senang mendengarnya." Ratu Anjani Dahayu tersenyum kecil mendengarkan ucapan itu.
"Benar nimas. Itu adalah hal yang wajar dalam sebuah tahta kerajaan. Untuk saat ini dan seterusnya nimas telah berbaikan dengan gusti prabu. Sykurlah kalau begitu." Putri Dewi Anjarwati juga setuju dengan itu.
Namun saat mereka hendak melanjutkan cerita, mereka dikejutkan prajurit jaga di kaputren tiba-tiba saja berlari keluar?.
"Berhenti prajurit!." Putri Dewi Anjarwati menghentikan salah satu prajurit yang tampak tergesa-gesa itu. "Katakan padaku apa yang terjadi?. Kenapa kau terlihat terburu-buru seperti itu?. Memangnya ada masalah apa yang terjadi di sekitar istana?."
"Mohon ampun gusti putri. Saat ini raden jatiya dewa, gusti patih rangga prahaja sedang bertarung dengan nimas rara saraswati di perbatasan kota raja. Sepertinya pertarungan mereka tidak seimbang gusti putri." Itulah yang dilaporkan prajurit tersebut.
"Rara saraswati bertarung dengan rayi jatiya dewa di perbatasan kota raja?." Putri Dewi Anjarwati mengulang apa yang dikatakan oleh prajurit tersebut.
__ADS_1
"Benar gusti putri. Karena itulah kami diperintahkan gusti prabu untuk membawa pasukan untuk menangkap nimas rara saraswati."
"Nimas andhini andita. Kita juga harus ke sana untuk melihatnya." Putri Dewi Anjarwati melihat ke arah Putri Andhini Andita.
"Baiklah nimas dewi. Kita harus segera membantu raden jatiya dewa juga gusti patih rangga prahaja." Putri Andhini Andita sangat setuju.
"Ibunda. Maaf, kami harus pergi ke sana. Memastikan jika rayi jatiya dewa baik-baik saja." Putri Dewi Anjarwati memberi hormat pada kedua ibundanya.
"Baiklah putriku. Ibunda harap kalian berhati-hati. Jangan sampai terluka." Ratu Mayang Sari terlihat sangat cemas.
"Berhati-hatilah kalian berdua. Jangan sampai nimas rara saraswati melukai kalian berdua." Ratu Anjani Dahayu juga mengkhawatirkan mereka berdua.
"Nanda pamit ibunda. Sampurasun."
"Hamba pamit gusti ratu. Sampurasun."
Putri Dewi Anjarwati dan Putri Andhini Andita juga pamit.
"Rampes." Balas kedua dengan perasaan gelisah, hanya mampu melihat kepergian keduanya bersama prajurit yang mengawal keduanya.
"Kali ini masalah apalagi yang diperbuat nimas rara saraswati?. Sangat keterlaluan sekali dia itu." Ratu Mayang Sari tidak tahan dengan kabar yang beredar tentang Putri Rara Saraswati.
"Benar-benar sangat meresahkan. Kenapa ia terlahir di negeri ini?." Keluh Ratu Anjani Dahayu sedikit kesal. Hanya seorang wanita muda yang suka membuat keonaran. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bisakah mereka mengatasi Putri Rara Saraswati?. Temukan jawabannya. Salam penuh cinta.
__ADS_1
...***...
... ...