
...***...
...Di alam bawah sadar putri andini andita...
Putri andini andita sangat marah hingga puncaknya. Pada saat ini ia menyaksikan Raden Jatiya Dewa yang sedang bersama orang yang sangat dibencinya, siapa lagi kalau bukan Putri Cahya Candrakanti. Siapa yang tidak marah ketika orang yang ia cintai bersama orang lain, tentunya hatinya sangat panas pada saat itu. Ia tidak dapat lagi menahan dirinya untuk tidak marah.
"Jatiya dewa!. Beraninya kau mengkhianati aku!. Berani sekali kau mempermainkan perasaanku dengan bermain api dengannya!." Suaranya terdengar sangat keras, itu adalah ungkapan kemarahan yang ia rasakan saat ini.
"Aku sama sekali tidak mengkhianati mu!. Tapi aku telah muak dengan apa yang kau lakukan selama ini padaku!. Aku tidak mencintaimu sama sekali!. Apakah kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan?." Raden Jatiya Dewa juga terlihat sangat marah. Emosinya juga memuncak karena sering terlihat salah di mata Putri Andhini Andita.
"Jatiya dewa!. Berani sekali kau berkata seperti itu kepadaku!. Apakah kau tidak menyadari apa yang telah kau lah katakan?. Hah?!." Amarahnya semakin memuncak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita.
"Andini andita!. Apakah kau tidak menyadari?. Jika raden jatiya dewa tidak lagi mencintaimu?!. Lalu apa yang kau harapkan dari nya?." Putri Cahya Candrakanti memandang rendah pada Putri Andhini Andita.
"Apa yang kau katakan wanita aneh!." Putri Andhini Andita kali ini melotot marah ke arah Putri Cahya Candrakanti.
"Andhini andita, sebaiknya kau pergi dari sini. Karena kami sama sekali tidak menyukaimu!. Dasar wanita jahat yang tidak memiliki perasaan apapun!." Putri Cahya Candrakanti juga memarahi Putri Andhini Andita. Namun apa yang terjadi pada saat itu?. Ia mendapatkan sebuah sepakan yang sangat keras.
DUAKH!!!.
"Sebaiknya kau diam saja!. Kau tidak usah ikut campur dalam urusan ku!." Putri andini andita menyerang Putri Cahya Candrakanti.
"Andhini andita!." Raden Jatiya Dewa sangat terkejut melihat apa yang terjadi. Ia melihat tubuh Putri Cahya Candrakanti terjerembab jauh. "Beraninya kau melakukan itu!." Raden Jatiya Dewa juga menyerang Putri Andhini Andita. Akan tetapi Putri Andhini Andita menyadarinya. Sehingga ia dapat menghindari serangan itu, setelah itu ia melompat meninggalkan Raden Jatiya Dewa yang sangat marah padanya.
Terjadilah pertarungan antara Raden Jatiya Dewa dengan Putri Andhini Andita pada saat itu juga. Sepertinya kemarahan telah menghilangkan segala perasaan cinta yang ada di dalam diri mereka masing-masing. Apakah yang akan terjadi pada keduanya?.
Semetara itu wanita yang sedang memperhatikan itu tersenyum penuh kemenangan. "Sebentar lagi akan memasuki masa puncaknya. Aku tidak sabar lagi ingin melihat wanita busuk itu membunuh orang yang ia cintai. Sekarang tunjukkan padaku yang lebih menarik lagi." Ia menyeringai lebar saat matanya menangkap pertarungan seru itu menurutnya.
...***...
Istana Kerajaan Suka Damai.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Setia Dewa saat ini menuju bilik Putri Andini andita. Mereka ingin melihat apa yang terjadi pada Putri Andini Andita, apalagi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendapatkan firasat yang buruk mengenai kakaknya itu. Saat mereka masuk ke dalam bilik Putri Andhini Andita, mereka melihat ada hawa hitam yang sangat kental menyelimuti tubuhnya.
"Astaghfirullahaladzim ya allah apa yang sebenarnya yang terjadi pada ayunda andini andita?" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakan perasaan yang tidak nyaman sama sekali.
"Apa yang harus kita lakukan gusti prabu?. Apakah kita akan melawan jin atau semacamnya untuk menyelamatkan gusti putri?." Raden Jatiya Dewa juga terlihat sangat khawatir dengan keselamatan Putri Andhini Andita.
"Kita harus memasuki alam sukma yunda. Hanya itu satu-satunya cara agar bisa menyelamatkan yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sekilas melihat alam sukma Putri Andhini Andita sangat kacau.
"Jika begitu, hanya gusti prabu yang bisa memasuki alam sukma itu." Raden Jatiya Dewa sangat ingat dengan kemampuan yang dimiliki oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Aku hanya ingin mengikuti panggilan dari pedang panggilan jiwa, yang berada di dalam tubuh yunda andini andita. Hanya itu saja raden." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat semuanya.
"Egkhakh!." Raden Jatiya Dewa meringis sakit sambil mencengkram lengan kirinya.
"Raden!. Apa yang terjadi?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat bingung.
"Hamba tidak mengerti gusti prabu. Tiba-tiba saja hamba merasakan sakit di lengan kiri hamba." Raden Jatiya Dewa juga bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.
"Ini sangat aneh sekali." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Saat itu keduanya sangat terkejut, ada cahaya putih yang menyambar tubuh mereka, dan saat itu mereka masuk ke dalam alam sukma Sukma Dewi Suarabumi atau lebih tepatnya masuk ke dalam pedang Panggilan Jiwa Pedang Pembangkit Raga Sukma Dewi Suarabumi.
...***...
Sementara itu di alam bawah sadar Putri Andhini Andita.
Pertarungan antara Raden Jatiya Dewa dan Putri Andhini Andita. Raden Jatiya Dewa menerima sebuah sabetan di lengan kirinya. Hingga saat ini lengan kirinya mengalirkan darah karena luka yang ia terima lumayan parah. Raden Jatiya Dewa terus menghindari serangan dari Putri Andhini Andita.
__ADS_1
"Kenapa kau malah menghindar jatiya dewa!." Putri Andhini Andita terus mengayunkan pedang panggilan jiwa ke arah Raden Jatiya Dewa. "Kenapa kau hanya menghindar jatiya dewa!. Kenapa kau tidak membalas serangan ku!." Amarahnya masih meledak-ledak tidak terkendali. Hatinya yang saat ini dipenuhi kemarahan, hanya melampiaskan semuanya melalui pertarungan itu.
"Bagaimana mungkin aku bisa menyerang mu andhini andita. Karena hanya kau satu-satunya wanita yang aku cintai di dunia ini." Raden Jatiya Dewa telah menyampaikan perasaannya dengan baik. Akan tetapi Putri Andhini Andita sama sekali tidak percaya.
"Jangan kau mengeluarkan kata-kata manis yang hanya diawal saja jatiya dewa!." Putri Andhini Andita sangat marah. Ia terus menyerang Raden Jatiya Dewa.
"Kenapa amarah ini sama sekali tidak bisa aku kendalikan?." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa heran. "Kenapa aku bisa menyerang raden jatiya dewa?." Dalam hatinya bertanya-tanya kenapa semua itu ia lakukan?. Apa yang salah sebenarnya padaku?." Dalam hatinya terus bertanya-tanya.
Di alam sukma Sukma Dewi Suarabumi.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat terkejut saat matanya menangkap sosok yang hampir saja terlupakan.
"Eyang prabu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat.
"Jadi kau kenal aku cucuku nanda prabu asmalaraya arya itu." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta tersenyum kecil.
"Eyang prabu?. Itu artinya beliau adalah eyang dari gusti prabu juga Andhini andita?." Dalam hati Raden Jatiya Dewa memperhatikan itu.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Putri Andhini Andita bisa diselamatkan oleh mereka mereka semua?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
Di sisi lain. Ratu Gendhis Cendrawati saat ini sedang melaksanakan sholat duha. Dalam sholatnya ia meminta kepada sang pencipta agar putrinya di sembuhkan dari segala penyakit yang membuat anaknya tidak sadarkan diri. Dalam tangisnya sang ratu memohon kepada sang pencipta.
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, ampunilah dosa hamba. Ampunilah dosa kanda prabu kawiswara arya ragnala. Ampunilah dosa putra dan putri hamba, serta dosa keluarga besar bahuwirya." Tangisnya tak dapat ia tahan lagi. "Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Sembuhkan lah putri hamba ananda andhini andita. Apa yang terjadi sebenarnya ya Allah. Apa yang terjadi pada putri hamba ya Allah." Air matanya telah jatuh berderai membasahi pipinya. "Hamba hanya meminta pada-Mu ya Robb. Sembuhkan lah anak hamba. Lindungilah ia jika saat ini ia diganggu oleh sesuatu marabahaya." Ratu Gendhis Cendrawati hanya berharap anaknya. Hati ibu mana yang tidak sedih melihat keadaan anaknya yang seperti itu.
"Tenanglah dinda gendhis cendrawati." Suara itu adalah suara Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Kanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati menoleh ke arah sumber suara, dan benar. Itu adalah suaminya, suami yang sangat ia rindukan. "Oh kanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati langsung memeluk Prabu Kawiswara Arya Ragnala dengan sangat erat. Tentunya diiringi dengan tangisan kesedihan.
"Tenanglah dinda. Jangan dinda menangis. Semuanya telah terjadi sesuai kehendak sang hyang Widhi." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengelus pelan bahu istrinya. Prabu Kawiswara Arya Ragnala berusaha untuk menenangkan istrinya yang sedang bersedih.
"Tapi kanda prabu. Kesalahan apa yang dilakukan oleh putri kita ananda andhini andita, sehingga ada seseorang yang berani membuatnya seperti itu?. Dinda tidak bisa menerimanya kanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati melepaskan pelukannya. Ia menatap suaminya, raut wajah yang dihiasi senyuman lembut. Itulah yang ia rindukan selama ini.
"Oh kanda prabu." Kembali Ratu Gendhis Cendrawati membekuk suaminya. "Apa yang harus dinda lakukan kanda prabu. Kasihan ananda putri jika seperti itu keadaannya." Ia sembunyikan wajahnya di bahu suaminya. Ia sangat sedih karena memikirkan keadaan anaknya. "Sebagai seorang ibu, rasanya dinda sangat tidak berguna. Kanda prabu, berikan dinda kekuatan untuk membantu ananda putri untuk pulih." Ratu Gendhis Cendrawati menumpahkan kesedihan yang ia rasakan saat ini. Hatinya sedih karena putri yang ia cintai dalam keadaan tidak sadarkan. Ratu Gendhis Cendrawati hanya berharap jika anaknya akan baik-baik saja. Dalam hatinya hanya berharap, sang Pencipta akan mengabulkan doanya, doa untuk kesembuhan putri yang sangat ia cintai dalam hidupnya.
...***...
Salam penuh cinta untuk pembaca tercinta. Terima kasih atas dukungannya,jangan lupa terus pantengin ceritanya ya. Semoga suka dengan cerita kisah ini.
...***...
In the subconscious of Princess Andini Andita
Princess Andini Andita was so angry that the peak. At this time he witnessed Raden Jatiya Dewa who was with the person he really hated, who else if not Princess Cahya Candrakanti. Who is not angry when the person he loves with other people, of course his heart is very hot at that time. He could no longer hold himself from being angry.
"Jatiya Dewa! His voice sounded very loud, it was an expression of anger he felt right now.
"I didn't betray you at all! But I was sick of what you did all this time to me! I didn't love you at all!. Raden Jatiya Dewa also looks very angry. His emotions also peaked because they often look wrong in the eyes of Andhini's daughter Andita.
"Jatiya Dewa! How dare you say that to me! Are you not aware of what you have said? Huh?!" His anger increasingly peaked listening to what Princess Andhini said.
"Andini Andita! Are you not aware? If Raden Jatiya Dewa no longer loves you?! Putri Cahya Candrakanti looked down on Princess Andhini Andita.
"What are you saying a strange woman!" Andhini's daughter Andita glared angrily at Princess Cahya Candrakanti.
"Andhini Andita, you should leave here. Because we don't like you at all! Basic evil woman who doesn't have any feelings!" Putri Cahya Candrakanti also scolded Princess Andhini Andita. But what happened at that time? He got a very hard kick.
DUAKH!!!.
"You better stay quiet! You don't need to interfere in my business!" Princess Andini Andita attacked Princess Cahya Candrakanti.
__ADS_1
"Andhini Andita!" Raden Jatiya Dewa was very surprised to see what happened. He saw the body of Princess Cahya Candrakanti fell far away. "How dare you do that!" Raden Jatiya Dewa also attacked the daughter of Andhini Andita. But Princess Andhini Andita realized it. So that he could avoid the attack, after that he jumped leaving Raden Jatiya Dewa who was very angry with him.
There was a battle between Raden Jatiya Dewa and Princess Andhini Andita at that time. It seems that anger has eliminated all the feelings of love that exist in each of them. What will happen to both?
Meanwhile, the woman who was watching it smiled triumphantly. "Soon it will enter its peak. I can't wait to see the rotten woman kill the person he loves. Now show me even more interesting." He grinned broadly as his eyes caught the exciting battle according to him.
...***...
The Palace of the Kingdom is like peace.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana and Raden Setia Dewa are currently heading for Andini Andita's daughter. They want to see what happened to Andini Andita's daughter, especially Prabu Asmalaraya Arya Ardhana got a bad hunch about her brother. When they entered the Princess Andhini Andita's booth, they saw a very thick black air covering his body.
"Astaghfirullahaladzim O Allah what really happened to Ayunda Andini Andita?" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana felt a completely uncomfortable feeling.
"What should we do Gusti Prabu? Raden Jatiya Dewa also looks very worried about the safety of Princess Andhini Andita.
"We have to enter the realm of Yunda's soul. That's the only way to save Yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana at a glance seeing the nature of the Sukma Putri Andhini Andita is very chaotic.
"If so, only Gusti Prabu can enter the soul realm." Raden Jatiya Dewa really remembers the capabilities possessed by King Asmalaraya Arya Ardhana.
"I just want to follow the call from the sword calling the soul, which is in the body of Yunda Andini Andita. That's all Raden." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saw everything.
"Egkhakh!" Raden Jatiya Dewa grimaced in pain while gripping his left arm.
"Raden!. What happened?" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana looks confused.
"I don't understand Gusti Prabu. Suddenly I feel pain in my left arm." Raden Jatiya Dewa was also confused by what happened to him.
"This is very strange." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana does not understand what happened.
At that time both of them were very surprised, there was a white light that grabbed their bodies, and at that time they entered into the soul of the soul of the Suara Suarabumi Dewi or rather entering the sword of the Soul Soul of the Sukma Dewi Suarabumi Sword Sword.
...***...
Meanwhile in the subconscious of Princess Andhini Andita.
The fight between Raden Jatiya Dewa and Princess Andhini Andita. Raden Jatiya Dewa received a slash on his left arm. Until now his left arm drained blood because the wound he received was quite severe. Raden Jatiya Dewa continues to avoid attacks from Princess Andhini Andita.
"Why did you avoid Jatiya Dewa!" Princess Andhini Andita continued to swing the sword of the soul's call towards Raden Jatiya Dewa. "Why are you just avoiding Jatiya Dewa! Why don't you reply to my attack!" His anger was still exploding uncontrollably. His heart which is currently filled with anger, only vent everything through the battle.
"How could I be able to attack you Andhini Andita. Because you are the only woman I love in this world." Raden Jatiya Dewa has conveyed his feelings well. But Princess Andhini Andita did not believe at all.
"Don't you issue sweet words that are only at the beginning of Jatiya Dewa!" Princess Andhini Andita is very angry. He continued to attack Raden Jatiya Dewa.
"Why can't I control this anger at all?" In the heart of Princess Andhini Andita was surprised. "Why can I attack Raden Jatiya Dewa?" In his heart wondered why all that he did?. What's wrong with me really? "In his heart keep wondering.
In the realm of Sukma Sukma Dewi Suarabumi.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana was very surprised when his eyes caught a figure who was almost forgotten.
"Eyang Prabu?" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saluted.
"So you know me my granddaughter Nanda Prabu Asmalaraya Arya." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta smiled a little.
"Eyang Prabu? In the heart Raden Jatiya Dewa watched it.
Whats next?. Can Princess Andhini Andita be saved by all of them? Only time will answer everything.
...***...
__ADS_1