
...***...
Bayangan hitam sepertinya melintasi batas kerajaan Suka Damai. Namun bayangan itu tidak bisa masuk ke dalam wilayah kerajaan Suka Damai meskipun sudah berkali-kali mencobanya.
"Percuma saja kau mencoba melewati batasan wilayah ini." Suara itu berkata pada bayangan hitam, yang tak lain adalah jin yang sangat menyeramkan.
"Siapa kau?. Tunjukkan padaku wujud mu." Makhluk menyeramkan itu mengamati sekitar. Saat itu matanya menangkap sosok makhluk gaib yang lebih besar darinya.
"Sukma naga putih?." Ia sangat terkejut melihatnya. "Bagaimana mungkin sosok sukma naga putih bisa berada di sini?. Siapa yang menanamkan mu di sini?." Rasanya amarahnya menguap begitu saja.
"Tentu saja junjunganku, gusti prabu asmalaraya arya ardhana. Tujuannya sudah jelas, itu adalah untuk menghalangi kalian yang berniat jahat agar tidak bisa masuk ke wilayah ini." Ucapnya sedikit marah.
"Jadi raja muda itu menggunakan kalian sebagai bentengnya?. Boleh juga apa yang ia lakukan." Kagum?. Hanya sekedar kagum saja.
"Sebaiknya kau pergi saja, karena aku tidak akan membiarkan mu masuk dengan mudah. Kau akan terbakar oleh ayah suci Alquran jika memaksa ingin masuk?." Sukma Naga Putih mencoba untuk memperingati Jin jahat itu.
"Kau tidak usah mengancamku!. Aku tidak takut sama sekali!." Suaranya terdengar sangat menyeramkan dari yang sebelumnya. Jin itu melompat masuk, namun apa yang terjadi?. Tubuhnya terbakar sampai hangus?.
"Aku telah memberi peringatan padamu, bahwa kau tidak akan bisa masuk ke wilayah ini." Setelah itu Sukma Naga Putih pergi dari sana, ia tidak peduli apa yang terjadi pada jin itu.
Sementara itu di sebuah tempat. Ada seseorang yang terbangun dari semedinya?. "Ternyata benar, tidak mudah masuk ke wilayah itu sekarang. Sepertinya memang banyak yang mengincar kerajaan itu selain aku." Ia mencoba untuk tersenyum?. Meskipun jin yang ia kirim telah gagal masuk ke dalam wilayah kerajaan Suka Damai?. Apakah ia akan menyerah begitu saja?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1
Keesokan paginya.
Putri Andhini Andita telah pamitan, saat ini ia bersama Raden Jatiya Dewa dan Senopati Malakala sedang menuju kerajaan Melarang. Namun sebelum itu, Putri Andhini Andita memberi peringatan pada Raden Jatiya Dewa agar tidak memanggilnya dengan nama aslinya. "Jangan sampai lupa jatiya dewa. Panggil aku dengan sebutan nama putih. Jika kau berani menyebut nama asliku, akan aku hajar mulutmu itu nanti." Begitulah ancaman yang dilayangkan Putri Andhini Andita pada Raden Jatiya Dewa.
"Baiklah gusti putri. Hamba sangat mengerti, nimas putih." Rasanya sangat tidak enak mendengarkan ancaman seperti itu. "Sabar raden jatiya dewa. Cinta itu memang tidak mudah, selalu menguji kesabaran, dan terkadang memang mengorbankan perasaan. Memang sulit untuk membuat seseorang jatuh cinta padamu, apalagi setelah kehilangan orang yang kau cintai." Raden Jatiya Dewa mencoba untuk menguatkan dirinya agar tidak melakukan hal yang membuat Putri Andhini Andita membencinya nantinya.
Sementara itu di dalam istana Kerajaan Suka Damai. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sedang berunding.
"Sepertinya ada seseorang yang mencoba untuk menerobos masuk ke istana ini raka prabu."
"Itu benar, tapi seperti yang dikatakan kakek prabu. Sukma naga bisa menjaga wilayah kerajaan ini. Namun kita tetap harus meminta perlindungan kepada Allah SWT."
"Ya, raka prabu benar. Namun selain itu kita memang harus tetap waspada. Aku yakin banyak yang menginginkan istana ini sejak pangeran abinaya bena masuk ke wilayah ini dengan menggunakan sukmanya."
Raden Cakara Casugraha benar-benar sangat gelisah. Sepertinya kedamaian Kerajaan Suka Damai mulai terganggu oleh keinginan-keinginan orang luar yang ingin menguasai wilayah ini. Apa yang mereka incar?. Hanya mereka yang bisa menjawabnya. Akan tetapi, sebagai seorang Raja yang dipercaya untuk menjaga wilayah kerajaan ini, tentunya ia tidak akan membiarkan siapa saja mengganggu kedamaian di Wilayah Kerajaan Suka Damai. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Singkatnya, mereka telah sampai di Kerajaan Melarang. Kerajaan yang memiliki aturan yang berbeda. Sama seperti namanya. Melarang siapa saja untuk melakukan kejahatan, namun sepertinya putra mahkota Kerajaan Melarang sedang mendapati masalah. Sudah dua purnama ini ia tidak bangun.
"Hamba menghadap gusti prabu." Senapati Malakala, Putri Andhini Andita atau Putih, dan Raden Jatiya Dewa memberi hormat pada Prabu Candana Kumara.
"Silahkan duduk." Balasnya dengan senyuman kecil.
__ADS_1
"Terima kasih gusti prabu." Mereka duduk di tempat yang telah disediakan.
"Aku ucapakan terima kasih padamu nimas putih. Terima kasih karena telah mau datang ke istana ini." Prabu Candana Kumara sangat bersyukur karena Putih bersedia datang ke istana ini.
"Hamba sangat sedih sekali gusti prabu. Ketika hamba mendengarkan kabar itu dari gusti senopati. Sungguh hamba tidak menyangka akan ada yang berbuat jahat seperti itu pada raden candana arga." Putih terlihat sangat sedih?.
"Dalam keadaan tidak sadarkan diri. Putraku raden candana arga menyebut namamu. Putih, putih, dan putih." Prabu Candana Kumara hampir saja menangis mengingat bagaimana keadaan anaknya. "Aku tidak tahan lagi melihat keadaannya yang seperti itu. Sehingga aku memerintahkan senopati malakala untuk mencari keberadaan mu nimas putih." Ia tidak dapat lagi menyembunyikan suasana hatinya yang sangat sedih.
"Hamba memang bukanlah tabib hebat gusti prabu. Gusti putri bestari dhatu sebenarnya yang lebih ahli dalam mengobati seseorang. Tapi beliau sedang tidak berada di istana saat ini." Putri Andhini Andita merasakan kesedihan di dalam hatinya.
"Andhini andita?." Dalam hati Raden Jatiya Dewa merasakan simpati. Ia tidak pernah melihat Putri Andhini Andita seperti itu sebelumnya.
"Hamba sangat sedih sekali mendengar kabar raden candana arga. Hamba memang tidak ahli dalam mengobati, tapi hamba ingin menyembuhkan keadaan beliau." Rasa simpati yang sangat dalam, tentunya ia merasakan kasihan pada Raden Candana Arga.
"Terima kasih aku ucapkan padamu nimas putih." Prabu Candana Kumara sangat senang, karena Putih memang masih peduli pada anaknya. Meskipun tidak ada perasaan cinta, tapi ia yakin ada perasaan sayang dalam artian yang berbeda dari Putih. Itulah yang diyakini Prabu Candana Kumara. "Kalau begitu mari kita langsung saja menuju biliknya." Prabu Candana Kumara mempersilahkan Putih untuk mengikutinya.
"Sandika gusti prabu." Putih segera mengikuti Prabu Candana Kumara.
"Lalu bagaimana denganku?." Bisik Raden Jatiya Dewa.
"Kita hanya menunggu saja." Balas Senopati Malakala. Tentunya ia tidak ingin mengganggu pengobatan yang akan dilakukan oleh Putih.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Hubungan apa yang terjadi antara Raden Candana Arga dengan Putri Andhini Andita?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta. Salam penuh cinta.
__ADS_1
...***...