KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
BIMBANG


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita dan Raden Jatiya Dewa telah sampai di istana kerajaan Suka Damai. Keduanya baik-baik saja, telah bebas dari racun yang hampir saja membunuh keduanya. Saat ini keduanya sedang berada di ruang pribadi raja, tentunya melaporkan apa yang terjadi pada Putri Rara Saraswati.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin, yunda juga raden kembali dengan selamat." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang melihat keduanya kembali dalam keadaan baik-baik saja. "Aku sangat mencemaskan keadaan yunda juga raden. Aku takut terjadi sesuatu pada kalian saat mengejar putri rara saraswati." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak tenang selama di istana. Bahkan ia mencari-cari alasan saat ibundanya menanyai keberadaan yundanya.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin, kami baik-baik saja rayi. Meskipun ada sedikit masalah yang terjadi pada saat itu, tapi kami bisa mengatasinya rayi prabu." Putri Andhini Andita tersenyum kecil, ia hanya tidak ingin adiknya mencemaskan keadaanya.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin, kami baik-baik saja gusti prabu. Kami kembali dengan keadaan baik-baik saja." Raden Jatiya Dewa juga tidak ingin membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana cemas. Keduanya telah berjanji tidak akan mengatakan apapun yang mereka alami, termasuk ketika mereka terkena racun berbahaya itu. Atau mereka tidak akan bisa pergi kemanapun jika mereka terluka parah seperti itu.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin jika memang seperti itu yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana senang mendengarnya. "Lalu bagaimana dengan putri rara saraswati?. Apakah paman prabu telah memberinya teguran?." Di sisi lain, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga ingin mengetahui bagaimana keadaan Putri Rara Saraswati.


"Maaf rayi prabu. Masalah putri rara saraswati, ia meninggal karena karma yang ia terima rayi prabu." Putri Andhini Andita tidak tega mengatakannya, tapi ia harus mengatakannya.


"Innalilahi wainnailaihi roji'in." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terkejut mendengarkan berita itu. "Itulah salahnya jika kita terikat dengan jin yang menyesatkan."


"Ya, memang benar apa yang gusti prabu katakan. Semuanya hanya menyesatkan, apalagi digunakan untuk hal yang menyesatkan juga." Raden Jatiya Dewa tidak habis pikir jalan pikiran seseorang yang hanya memikirkan kesenangan sesaat saja.


"Semuanya tergantung pada hati masing-masing. Mau melangkah ke arah yang baik, atau melangkah ke arah yang buruk. Tapi ingatlah, baik buruknya perbuatan pasti akan ada karma yang kita terima suatu hari nanti." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana selalu mengingatkan mereka agar selalu berbuat baik, akan terkutuk lah jika sebelum meninggalkan dunia ini tapi masih berbuat jahat.


"Kami akan selalu mengingatnya rayi prabu." Putri Andhini Andita bersyukur telah mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.


"Hamba akan mengingatnya gusti prabu." Begitu juga dengan Raden Jatiya yang bersyukur telah mengubah dirinya ke arah yang lebih baik lagi. "Alhamdulillah hirobbil'alamin ya Allah. Terima kasih atas nikmat yang telah engkau berikan kepada hamba." Dalam hati Raden Jatiya Dewa tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur yang mendalam.


"Kalau begitu yunda juga raden beristirahat lah. Pasti yunda dan raden merasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mempersilahkan keduanya untuk istirahat. "Sebelum itu, temui lah ibunda gendhis juga ibunda dewi. Beliau sangat mencemaskan kepergian yunda yang sangat mendadak." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana teringat dengan ibundanya yang sangat mencemaskan keadaan anak perempuannya.


"Baiklah rayi prabu. Setelah ini aku akan menemui ibunda." Putri Andhini Andita memberi hormat.


"Baiklah gusti prabu." Begitu juga dengan Raden Jatiya Dewa.


"Malam ini, setelah sholat magrib, mungkin ayahanda akan melewati ruangan ini. Jika yunda memang ingin bertanya sesuatu pada ayahanda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingat dengan apa yang ingin ditanyakan yundanya mengenai kisah pedang panggilan jiwa.


"Terima kasih rayi prabu. Kalau begitu aku pamit dulu, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Putri Andhini Andita memang menunggu kabar itu.


"Hamba juga pamit gusti prabu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Raden Jatiya Dewa juga pamit.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh yunda, raden." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil menatap kepergian keduanya. Setidaknya ia juga ingin mengetahui bagaimana kisah itu, karena itulah ia ingin mendengarkan penjelasan dari ayahandanya mengenai kisah cinta dari adik ayahandanya. Bagaimana kisahnya?. Simak terus ceritanya.

__ADS_1


Sementara itu Raden Jatiya Dewa dan Raden Jatiya Dewa.


"Terima kasih karena kau tidak mengatakan masalah racun itu jatiya dewa." Ya, ia yang meminta Raden Jatiya Dewa agar tidak menceritakan pada adiknya.


"Sama-sama andhini andita." Raden Jatiya Dewa hanya tersenyum kecil. "Siapa sangka, kau memiliki musuh yang sangat kuat seperti itu andhini andita." Antara kagum dan heran, itulah yang dirasakan oleh Raden Jatiya Dewa saat ini. "Tapi aku ingin bertanya satu hal padamu, kemarahan apa yang kau rasakan pada saat itu andhini andita. Sehingga kekuatanmu meningkat pesat." Dalam hati Raden Jatiya Dewa sedikit penasaran sumber kekuatan yang dimiliki Putri Andhini Andita pada saat itu. Ia ingin bertanya seperti itu pada Putri Andhini Andita, tapi rasanya bukan waktu yang tepat.


"Kalau begitu aku ke kaputren dahulu. Kau segeralah beristirahat." Putri Andhini Andita juga ingin menemui kedua ibundanya. "Kau pasti lelah setelah apa yang terjadi." Putri Andhini Andita hanya tersenyum kecil.


"Baiklah, aku akan ke wisma prajurit." Raden Jatiya Dewa tidak ingin mengganggu Putri Andhini Andita bersama kedua ibundanya. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Raden Jatiya Dewa tersenyum kecil sambil mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Balasnya.


Setelah itu Raden Jatiya Dewa dan Putri Andhini Andita berpisah. Tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka, karena perasaan canggung yang mereka rasakan setelah Putri Andhini Andita terlihat marah ketika melihat Raden Jatiya Dewa terluka karena Liku Sakti. Putri Andhini Andita tidak bisa menjelaskannya, ia juga bingung dengan perasaannya. "Semoga kau baik-baik saja andhini andita. Aku sangat khawatir padamu andhini andita." Dalam hati Raden Jatiya Dewa sangat mencemaskan keadaan Putri Andhini Andita. Tapi ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung. Ia yakin, Putri Andhini Andita tidak akan suka dengan seroang laki-laki yang hanya pandai berbicara saja. "Andhini andita. Tapi aku rasa kau memiliki perasaan cinta padaku. Hanya saja kau belum siap menerima pernyataan itu. Setelah kehilangan raden raksa wardhana. Aku akan menunggu, hingga akhirnya kau menerima perasaanku." Dalam hatinya merasa bersyukur, jika memang Putri Andhini Andita memiliki perasaan padanya. "Aku akan berusaha untuk mendapatkan dirimu dengan cara yang baik. Sehingga kau merasa nyaman ketika bersamaku nantinya." Itulah tekad dari Raden Jatiya Dewa.


"Maafkan aku raden jatiya dewa. Bukan aku bermaksud untuk memberikan harapan padamu. Hanya saja saat ini aku sedang berpikir, bahwa orang yang akan menikahi ku harus memiliki tujuan yang sama denganku. Aku tidak mau berbagi kasih dengan wanita lain, meskipun ayahanda prabu memiliki tiga orang istri, tapi aku hanya ingin kau memiliki satu istri saja. Yaitunya andhini andita. Aku harap kau mengerti apa yang aku inginkan." Dalam hati Putri Andhini Andita telah membulatkan tekadnya. "Apakah aku tidak boleh seperti itu?. Bahkan rayi prabu hanya akan mencintai satu orang wanita saja. Jika rayi prabu bisa, kenapa aku tidak bisa?." Putri Andhini Andita hanya ingin mencintai satu orang laki-laki di dalam hidupnya. Apakah ia tidak bisa melakukan itu?. Apakah hanya seorang laki-laki saja yang boleh membuat keputusan?. Lalu bagaimana dengan seorang wanita jika ia belum memiliki seorang pendamping?. Lalu bagaimana ia akan mengambil keputusan?. Hanya diri sendiri yang dapat memutuskan masalah itu. Tetaplah semangat Putri Andhini Andita. Meskipun kau ragu dengan keputusan yang ingin kau ambil, maka bertanyalah pada sang pencipta. Pasti ada jalan terbaik setiap masalah yang engkau hadapi.


Tetaplah semangat Putri Andhini Andita.


...***...


Salam penuh cinta untuk pembaca tercinta. Selamat membaca kisah cinta tuan putri.


...***...


"Alhamdulillah Hirobbil'alamin, Yunda is also Raden again safely." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana is very happy to see the two back in a good condition. "I'm very worried about Yunda's situation as well as Raden. I'm afraid something will happen to you while chasing Rara Saraswati's daughter." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana was not calm while at the Palace. In fact, he looked for reasons when his mother questioned his yunda.


"Alhamdulillah Hirobbil'alamin, we are fine. Princess Andhini Andita smiled a little, she just did not want her sister to worry about her situation.


"Alhamdulillah Hirobbil'alamin, we are fine Gusti Prabu. We returned with the good things." Raden Jatiya Dewa also did not want to make King Asmalaraya Arya Ardhana worried. Both have promised not to say whatever they experience, including when they are exposed to dangerous poisons. Or they won't be able to go anywhere if they are seriously injured like that.


"Alhamdulillah Hirobbil'alamin if it's like that Yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana is happy to hear it. "Then what about Princess Rara Saraswati? Has Uncle Prabu gave her a reprimand?" On the other hand, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana also wants to know how the situation of Princess Rara Saraswati.


"Sorry, Rayi Prabu. The problem of Princess Rara Saraswati, she died because of the karma she received Rayi Prabu." Andhini's daughter Andita could not say it, but she had to say it.


"Innalilahi Wainnailaihi Roji'in." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana was surprised to listen to the news. "That's the fault if we are tied to a misleading genie."


"Yes, it is true what Gusti Prabu said. Everything is just misleading, let alone used for misleading things too." Raden Jatiya Dewa can't understand the way of thinking of someone who only thinks of pleasure for a moment.

__ADS_1


"Everything depends on each other's hearts. Want to step in a good direction, or step in a bad direction. But remember, the good and bad of the deed will definitely have the karma that we receive one day." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana always reminded them to always do good, it would be damned if before leaving this world but still doing evil.


"We will always remember Rayi Prabu." Princess Andhini Andita is grateful to have changed for a better direction.


"I will remember Gusti Prabu." Likewise with Raden Jatiya who is grateful to have changed himself for a better direction. "Alhamdulillah Hirobbil'alamin O Allah. Thank you for the blessings you have given to my servant." In the heart Raden Jatiya Dewa kept expressed his deep gratitude.


"Then Yunda is also Raden resting. Surely Yunda and Raden feel tired after traveling long distances." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana invited the two to rest. "Before that, met the mother of Gendhis as well as Dewi's mother. She was very worried about Yunda's very sudden departure." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana remembered his mother who was very worried about the condition of his daughter.


"Alright Rayi Prabu. After this I will meet my mother." Princess Andhini Andita saluted.


"Alright Gusti Prabu." Likewise with Raden Jatiya Dewa.


"Tonight, after the evening prayer, maybe my father will pass this room. If Yunda really wants to ask my father." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana remembers what you want to ask about the story of the sword call of the soul.


"Thank you Rayi Prabu. Then I will say goodbye, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh." Princess Andhini Andita was waiting for the news.


"I also said goodbye Gusti Prabu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Raden Jatiya Dewa also said goodbye.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarokatuh Yunda, Raden." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana smiled a little staring at the departure of both of them. At least he also wants to know how the story is, that's why he wants to listen to his father's explanation of the love story of his father's sister. How is the story?. Listen to the story.


Meanwhile Raden Jatiya Dewa and Raden Jatiya Dewa.


"Thank you because you didn't say that the poison problem was Jatiya Dewa." Yes, he asked Raden Jatiya Dewa not to tell his sister.


"You're welcome Andhini Andita." Raden Jatiya Dewa just smiled a little. "Who would have thought, you have a very strong enemy like that Andhini Andita." Between admiration and surprise, that is what Raden Jatiya Dewa feels today. "But I want to ask one thing to you, what anger you feel at that time Andhini Andita. So that your strength increased rapidly." In the heart Raden Jatiya Dewa was a little curious about the source of the strength possessed by Princess Andhini Andita at the time. He wanted to ask like that to Princess Andhini Andita, but it was not the right time.


"Then I went to the Kaputren first. You immediately rest." Princess Andhini Andita also wanted to meet her two mothers. "You must be tired after everything that happened." Princess Andhini Andita smiled a little.


"Alright, I'll go to the soldier's guesthouse." Raden Jatiya Dewa did not want to disturb Andhini Andita's daughter with her two mothers. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Raden Jatiya Dewa smiled a little while saying hello.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." He replied.


After that Raden Jatiya Dewa and Princess Andhini Andita separated. There was no more conversation between them, because of the awkward feelings they felt after Princess Andhini Andita looked angry when he saw Raden Jatiya Dewa injured because of the magic. Princess Andhini Andita could not explain it, she was also confused by her feelings. "I hope you will be fine Andhini Andita." In the heart Raden Jatiya Dewa was worried, and uneasy.


"Andhini Andita. I think you have a feeling of love for me. It's just that you are not ready to accept that statement. After losing Raden Raksa Wardhana. I will wait, until finally you accept my feelings." In his heart he felt grateful, if indeed Princess Andhini Andita had feelings for him.


"I'm sorry, Raden Jatiya Dewa. It's not that I intend to give you hope. It's just that I am currently thinking, that the person who will marry me must have the same goal as me. I don't want to share love with other women, even though Prabu's father has three Wife, but I just want you to have one wife. Yes, Andhini Andita. I hope you understand what I want. " In the heart of Princess Andhini Andita had made her determination. "Am I not like that? Princess Andhini Andita only wanted to love one man in his life. Can't he do that? Is it only a man who can make a decision? Then what about a woman if she doesn't have a companion? Then how will he make a decision? Only yourself can decide on that problem. Keep the spirit of Princess Andhini Andita. Even though you doubt the decision you want to take, then ask the Creator. There must be the best way of every problem you face.

__ADS_1


...*** ...


__ADS_2