KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
SANTET?


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita atau namanya sekarang Putih sedang melaksanakan Sholat Duha. Setelah itu ia membacakan surah Yasin. Adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berkata jika ia tidak bisa begitu saja masuk ke alam sukma. Kekuatan mereka sangat berbeda, jadi dengan membaca surah Yasin, ia berharap bisa memancing jin yang telah menyandera sukma Raden Candana Arga.


"Kanda prabu." Ratu Ayundari Paramita sangat khawatir dengan keadaan anaknya yang mengerang kesakitan. Tentunya itu adalah reaksi dari Jin yang bersemayam di dalam tubuh Raden Candana Arga.


"Tenanglah dinda ratu. Semoga saja nimas putih bisa menyelamatkan putra kita." Prabu Candana Kumara sebenarnya juga khawatir, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat, dan berdoa semoga anaknya bisa diselamatkan.


Sementara itu di sisi lain. Seorang laki-laki tua sedang merasa terganggu. Karena jin yang ia kirim merasa tidak nyaman sama sekali. "Kurang ajar!. Ternyata ada seseorang yang sedang bermain-main denganku!." Ia terlihat sangat marah. "Aku tidak akan membiarkan dia menggangguku." Ya, ia harus segera menemui orang yang telah mengganggunya.


Saat itu juga, terlihat dua cahaya yang meninggalkan bilik Raden Candana Arga. Cahaya itu menuju halaman dimana di sana Raden Jatiya Dewa dan Senopati Malakala sedang berbincang-bincang. Keduanya sangat terkejut melihat apa yang ada di hadapan mereka.


"Nimas putih?." Keduanya bergegas mendekati Putri Andhini Andita atau Putih yang sedang bertarung dengan Jin?.


"Demi Dewata yang agung, makhluk seram apa itu?." Senopati Malakala sedikit bergidik ngeri melihat pemandangan itu.


"Nimas, bagaimana mungkin jin itu berada di sini?." Raden Jatiya Dewa tentunya mengetahuinya bukan?.


"Jin?. Jadi dia adalah jin?." Senapati Malakala sangat terkejut mendengarnya.


"Raden, segera kumandangkan azan. Supaya tuan dari jin ini tidak ikut campur." Putih menyuruh Raden Jatiya Dewa untuk azan?. Ya, dari jarak jauh ia merasakan itu. Hawa sekitar telah berubah, bisa jadi lebih banyak jin yang ada di istana saat ini.

__ADS_1


"Baiklah nimas." Raden Jatiya Dewa tidak mau membuang-buang waktu. Tentunya ia mengikuti apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita atau Putih.


"Azan?. Apa itu?." Sedangkan Senopati Malakala sama sekali tidak mengerti. Namun saat itu ia melihat Raden Jatiya Dewa menarik nafasnya dengan panjang. Selain itu ia menghadap ke arah barat?. Setali itu ia menempelkan tangannya ke telinganya?. "Apa yang akan dia lakukan?. Apa itu azan?." Senopati Malakala sungguh tidak mengerti sama sekali.


Raden Jatiya Dewa mulai mengumandangkan azan, saat itu juga Jin yang tadinya bertarung dengan Putih berteriak kesakitan, begitu juga dengan tuan yang telah mengirim Jin itu.


"Kurang ajar!. Ternyata dia sangat kuat!. Bagaimana mungkin aku bisa kalah oleh kekuatan aneh itu?." Laki-laki tua itu merintih sakit, ia tidak bisa lagi melakukan apa-apa.


Begitu juga dengan Jin yang bertarung dengan Putih, ia berteriak kesakitan. "Hentikan!. Hentikan!. Jangan kumandangkan lagi suara azan!. Tubuhku rasanya sangat sakit sekali!." Kekuatannya semakin melemah?.


"Ini sangat aneh sekali. Memangnya apa yang dilakukan raden jatiya dewa?. Suaranya merdu sekali, tapi kenapa malah membuat jin itu kesakitan?. Ini sangat aneh sekali." Dalam hati Senopati Malakala merasa sangat aneh, dan baginya itu sangat tidak biasa.


"Hei!. Jin!. Siapa yang telah mengirim dirimu kepada raden candana arga?. Katakan padaku!. Atau kau akan aku musnahkan atas nama Allah SWT!." Putri Andhini Andita atau Putih mengancam Jin itu agar mengatakan siapa yang telah menyuruhnya.


"Ternyata kau cukup bodoh juga. Kau disuruh, dan saat ini kau akan terbakar dan masuk neraka. Sedangkan orang yang menyuruhmu saat ini sedang tertawa senang diatas rasa sakit yang kau rasakan. Kemungkinan besar kau akan mati!. Apakah itu yang kau inginkan?." Putih mencoba memberikan gambaran pada jin tersebut.


"Kau tidak usah banyak bicara!. Manusia itu memang serakah!. Demi mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka rela menjual diri mereka pada bangsa jin yang jelas-jelas adalah musuh yang nyata bagi mereka, tapi tetap saja mau bersekutu." Jin itu tidak peduli dengan ancaman yang dilayangkan oleh Putih. "Manusia itu serakah, bahkan demi mendapatkan cinta mereka rela bersekutu dengan iblis?. Sungguh sangat menyedihkan sekali." Dalam keadaan kesakitan, ia terus berkata seperti itu. "Manusia itu sangat gila dari kami!. Kau bahkan lebih gila dari kami!." Setelah berkata seperti itu Jin itu menghilang, ia benar-benar terbakar oleh api yang menyala-nyala setelah Raden Jatiya Dewa mengumandangkan adzan.


Duar!!!.


Alat-alat yang digunakan oleh laki-laki tua itu meledak. Sepertinya telah terjadi sesuatu padanya?. Ya, pecahan dari guci itu menancap ke tubuhnya. Termasuk ke wajahnya, sehingga ia bersimbah darahnya sendiri?.

__ADS_1


"Kurang ajar!. Bagaimana mungkin aku bisa kalah?." Baru kali ini ia mendapatkan musuh yang sangat kuat?. Ia kalah telak?. Dan nyawanya sebagai gantinya?. Ya, itu adalah bayaran yang kau terima jika kau berani bermain-main dengan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Putih sangat heran mendengarnya.


"Nimas putih." Raden Jatiya Dewa langsung menghampiri Putih, begitu juga dengan Senopati Malakala. Keduanya penasaran, bagaimana bisa Putih berhadapan dengan Jin?.


"Apa yang terjadi sebenarnya?. Tolong katakan pada kami nimas." Senopati Malakala meminta penjelasan?.


"Katakan pada kami, apa yang terjadi sebenarnya?. Bagaimana mungkin nimas bisa berhadapan dengan jin?." Raden Jatiya Dewa juga merasa penasaran dengan jalan ceritanya?.


"Itu adalah jin kiriman santet dari seseorang." Putih menangkap perubahan raut wajah dari keduanya.


"Jin santet?." Keduanya langsung bertanya.


"Ya, itu adalah jin santet yang keluar dari tubuh raden candana arga. Sangat kuat, dan sangat jahat." Balas Putih dengan perasaan cemas.


"Jadi penyebab raden candana arga sakit itu karena santet?." Senopati Malakala dan Raden Jatiya Dewa tidak menduga sebelumnya.


"Ya, itu sangat benar. Santet yang ia gunakan adalah untuk menyandera sukma raden candana arga." Jawab Putih.


"Lalu bagaimana keadaan raden candana arga, jika jin itu telah pergi dari tubuhnya?." Senopati Malakala penasaran.

__ADS_1


"Masih ada yang harus aku lakukan." Putih bergegas kembali ke bilik raden Candana Arga. Karena memang ada yang harus ia lakukan. Yaitunya menjemput sukma Raden Candana Arga yang masih tertahan di alam sukma. Tentunya itu semua ulah jin jahat itu. Apakah yang akan dilakukan oleh Putih setelah ini?. Bisakah ia menyembuhkan Raden Candana Arga?. Temukan jawabannya, jangan lupa dukungannya.


...***...


__ADS_2