
...***...
Di alam bawah sadar Putri Andhini Andita. Amarahnya belum saja menghilang, itu karena ia masih tidak menerima atas apa yang dilakukan Raden Jatiya Dewa. "Aku tidak akan membiarkan mu bersenang-senang. Sedangkan aku menahan semua amarahku!." Pedang panggilan jiwa juga ia ayun terus ke arah Raden Jatiya Dewa. Meskipun ia telah menerima serangan beberapa kali dari Putri Andhini Andita, tapi tetap saja ia tidak melawan. Sehingga Putri Andhini Andita terlihat sangat marah, hingga amarahnya meledak. "Kenapa kau masih saja tidak mau melawanku jatiya dewa!. Rupanya kau ingin aku bunuh hari ini juga!." Putri Andhini Andita berteriak dengan suara yang sangat lantang.
"Aku hanya akan menerima semua kemarahan yang kau rasakan andhini andita." Raden Jatiya Dewa benar-benar pasrah, tidak lagi melawan. Seperti seseorang yang telah siap untuk dibunuh, itu lah kondisi Raden Jatiya Dewa saat ini.
"Heh!. Akhirnya hampir mencapai puncaknya." Wanita itu terlihat sangat senang, ia sangat senang memperhatikan Putri Andhini Andita yang hendak menusuk jantung Raden Jatiya Dewa dengan menggunakan pedang panggilan jiwa.
Sementara itu, Sukma Dewi Suarabumi merasakan getaran yang sangat aneh pada pedang panggilan jiwa.
"Gawat, sepertinya di alam bawah sadar nimas andhini andita, ia sedang marah menggunakan pedang panggilan jiwa." Sukma Dewi Suarabumi terlihat sangat ketakutan ketika ia merasakan perasaan itu. "Hasrat membunuhnya sangat kuat, kita harus segera menyadarkannya gusti prabu." Sukma Dewi Suarabumi sampai ketakutan seperti itu.
"Tapi kita belum mengetahui cara memasuki alam bawah sadar yunda andhini andita. Apalagi saat ini kita takut membahayakan keselamatan yunda andhini andita." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga tidak bisa bertindak sembarangan.
"Kalau begitu aku akan menggunakan semua kekuatan pedang panggilan jiwa. Hanya itu satu-satunya cara agar bisa membelah hawa jahat yang ada di dalam tubuh nimas andhini andita." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta tidak memiliki cara lain, selain menggunakan cara itu.
"Tapi bagaimana caranya menggunakan pedang itu sekaligus eyang prabu?. Apakah kita masih sempat memanggil semua pedang panggilan jiwa?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.
"Heh!." Sukma Dewi Suarabumi mendengus kecil. "Jangan remehkan orang yang telah mendirikan kerajaan suka damai. Semua pedang itu adalah hasil kerja keras gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta untuk mendirikan kerajaan suka damai. Jangan sampai meremehkan kemampuannya." Rasanya Sukma Dewi Suarabumi tidak terima, meskipun Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga tidak bermaksud seperti itu.
"Nimas dewi." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta sedikit terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sukma Dewi Suarabumi.
Akan tetapi, pada saat itu Sukma naga kembar naga api, Sukma naga bumi, Sukma naga kegelapan, serta Sukma naga angin keluar dari tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membuat mereka semua terkejut.
"Hormat kami gusti prabu." Mereka semua memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Sebanyak ini sukma naga yang telah berada di dalam tubuh nanda prabu?." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta, dan juga Sukma Dewi Suarabumi tidak percaya melihat itu.
"Sungguh sangat luar biasa sekali." Raden Jatiya Dewa yang dari tadi menyimak akhirnya mulai kagum dengan apa yang ia lihat.
"Hormat hamba gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta." Sukma Naga Bumi memberi hormat pada Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta. "Sudah lama tidak bertemu. Rasanya sangat lama sekali sejak kejadian itu." Sukma Naga Bumi begitu menghormati Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.
"Jadi kau memilih nanda cakara casugraha untuk digunakan?. Apakah kau menanggapi panggilan jiwa dari nanda cakara casugraha?." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta mengelus kepala Sukma Naga Bumi dengan sayang. "Tapi sepertinya kau memiliki teman yang baik. Mereka semua terlihat sangat baik." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta memperhatikan mereka semua dengan seksama.
"Itu semua karena gusti prabu asmalaraya arya ardhana yang telah menyatukan kami semua dengan baik." Sukma Naga Bumi mewakili mereka semua.
"Lalu kenapa kau dan yang lainnya keluar?. Apakah kalian ingin menyampaikan sesuatu?." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta bertanya.
"Kami merasakan kegelisahan gusti prabu asmalaraya arya ardhana. Mungkin kami bisa membantu untuk menghancurkan pelindung itu." Jawabnya dengan sangat yakin..
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Sukma Dewi Suarabumi, Raden Jatiya Dewa memperhatikan mereka semua. Saat itu Sukma Naga Angin berubah menjadi panah Semara Naga. Sedangkan Sukma Naga Kegelapan berubah menjadi busurnya. Sedangkan Sukma Naga Kembar Naga Api menyelimuti anak panah dan busur itu sehingga kesannya menjadi panah Api Sukma Naga.
"Senjaya baru telah tercipta dari Sukma naga. Sungguh luar biasa." Sukma Dewi Suarabumi sangat kagum dengan apa yang ia lihat saat itu.
"Subhanallah. Kekuatan yang sangat luar biasa." Raden Jatiya Dewa sangat kagum melihat itu.
"Gunakanlah nanda prabu. Karena itu adalah senjata nanda prabu." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta memberikan arahan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana agar segera bertindak.
"Keghakh!."
Namun saat itu. Raden Jatiya Dewa kali ini berteriak kesakitan sambil memegang dada kirinya. Tentunya mereka semua sangat terkejut melihat itu. "Uhuk!." Raden Jatiya Dewa bahkan terbatuk memuntahkan darah segar.
"Raden!." Mereka semua sangat khawatir dengan keadaan Raden Jatiya Dewa.
__ADS_1
"Hamba tidak apa-apa gusti prabu." Jantungnya terasa sangat sakit. Nafasnya terasa sangat sesak, dan hampir saja tidak bisa bernafas dengan baik.
"Nanda prabu!. Cepat hancurkan penghalang gaib itu." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta tidak tahan lagi. Namun saat ini ia sedang menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya ke tubuh Raden Jatiya Dewa agar tetap baik-baik saja.
"Baiklah eyang prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana segera mengambil panah api sukma naga.
"Bertahanlah raden jatiya dewa. Kami akan segera membantu kalian." Sukma Dewi Suarabumi juga membantu Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta menyalurkan tenaga dalamnya.
"Terima kasih gusti putri." Raden Jatiya Dewa senang dibantu oleh Sukma Dewi Suarabumi.
Semetara itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang membidik arah mana kegelapan itu melemah.
Sedangkan keadaan alam bawah sadar Putri Andhini Andita saat ini.
"Kegh!." Raden Jatiya Dewa sedang meringis kesakitan karena jantungnya ditikam oleh Putri Andhini Andita.
Deg!!!.
Putri Andhini Andita melepaskan tangannya dari pedang panggilan jiwa yang ia gunakan untuk membunuh Raden Jatiya Dewa.
"Apa yang telah aku lakukan sebenarnya?." Putri Andhini Andita tersadar setelah melakukan itu. "Raden jatiya dewa!." Putri Andhini Andita segera menopang tubuh Raden Jatiya Dewa.
"Kenapa kau menangis setelah melakukannya andhini andita?." Raden Jatiya Dewa bertanya dengan suara yang sangat pelan.
Namun tidak ada tanggapan dari Putri Andhini Andita, ia hanya terdiam memproses apa yang telah ia lakukan pada Raden Jatiya Dewa. Kenapa ia bisa melakukan pembunuhan itu?. Apa yang sebenarnya ia rasakan selama ini pada Raden Jatiya Dewa?. Kenapa amarahnya memuncak?. Hasrat ingin membunuhnya memudar setelah ia berhasil melukai Raden Jatiya Dewa?. Tapi jika seseorang telah ditikam tepat di jantungnya, tapi kenapa Raden Jatiya Dewa masih hidup?. Sebenarnya apa yang terjadi?. Kenapa semuanya terasa membingungkan?.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Raden Jatiya Dewa bisa diselamatkan?. Simak terus Kisah ini ya.
...***...
...***...
In the subconscious Princess Andhini Andita. His anger had not just disappeared, it was because he still did not accept what Raden Jatiya Dewa did. "I won't let you have fun. While I hold all my anger!" The sword of the soul's call he also swings to Raden Jatiya Dewa. Even though he had received attacks several times from Andhini Andita's daughter, he still did not fight. So that Andhini's daughter Andita looked so angry, until her anger exploded. "Why don't you still want to fight me Jatiya Dewa! Apparently you want me to kill today too!" Princess Andhini Andita shouted in a very loud voice.
"I will only accept all the anger you feel Andhini Andita." Raden Jatiya Dewa is completely resigned, no longer fighting. Like someone who is ready to be killed, that's the condition of Raden Jatiya Dewa at this time.
"Heh! Finally almost reached its peak." The woman looked very happy, she was very happy to pay attention to Princess Andhini Andita who was about to pierce the heart of Raden Jatiya Dewa using a soul call sword.
Meanwhile, Sukma Dewi Suarabumi felt a very strange vibration in the sword calling the soul.
"It's bad, it seems like in the subconscious Nimas Andhini Andita, he is angry using a soul call sword." Sukma Dewi SuaraBumi looked very scared when he felt that feeling. "The desire to kill him is very strong, we must immediately make him aware of Gusti Prabu." Sukma Dewi SuaraBumi until fear like that.
"But we do not know how to enter the subconscious of Yunda Andhini Andita. Especially now we are afraid of endangering the safety of Yunda Andhini Andita." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana also could not act carelessly.
"Then I will use all the power of the sword calling the soul. That's the only way to be able to divide the evil air in Nimas Andhini Andita's body." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta has no other way, other than using that method.
"But how do you use the sword as well as the grandparents of Prabu? Prabu Asmalaraya Arya Ardhana was surprised by what Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka said.
"Heh!" Sukma Dewi SuaraBumi snorted a little. "Don't underestimate the person who has established the Kingdom of Suka Damai. All of the swords are the result of Gusti Prabu Bahuwirya Jayantaka's hard work to establish a Kingdom of Suka Peace. Don't underestimate his abilities." It feels like the Sukma Dewi Suarabumi did not accept, although King Asmalaraya Arya Ardhana also did not mean that.
"Nimas Dewi." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta was a little surprised to listen to what Sukma Dewi Suarabumi said.
However, at that time the Dragon Dragon Dragon Sukma, Bumi Dragon Sukma, Dragon Dragon Sukma, and Wind Dragon Sukma came out of Prabu Asmalaraya's body Arya Ardhana made them all surprised.
__ADS_1
"Sincerely, Gusti Prabu." They all saluted King Asmalaraya Arya Ardhana.
"This much Sukma Dragon who has been in Nanda Prabu's body?" Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta, and also Sukma Dewi SuaraBumi did not believe in seeing that.
"It's really extraordinary." Raden Jatiya Dewa who had been listening to finally began to be amazed by what he saw.
"Sincerely Servant Gusti Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta." Sukma Naga Bumi saluted King Bahuwirya Jayantaka Byakta. "It's been a long time since I met. It felt very long since the incident." Sukma Naga Bumi so respectful of Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.
"So you chose Nanda Cakara Casugraha to use? Do you respond to the soul's call from Nanda Cakara Casugraha?" Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta stroked the Head of Sukma Naga Bumi with love. "But it looks like you have good friends. They all look very good." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta pays close attention to them.
"It's all because Gusti Prabu Asmalaraya Arya Ardhana has united us all well." Sukma Naga Bumi represents them all.
"Then why are you and the others come out? Do you want to convey something?" Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta asked.
"We feel the anxiety of Gusti Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Maybe we can help to destroy the protector." The answer is very sure ..
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Sukma Dewi Suarabumi, Raden Jatiya Dewa pay attention to them all. At that time the Wind Dragon Sukma turned into an arrow of the dragon semara. Whereas the darkness of the darkness of the darkness turned into his bow. Whereas Sukma Dragon Dragon Dragon Api covered the arrow and bow so that the impression became the arrow of the Sukma Naga fire.
"A new weapon has been created from Sukma Naga. Really extraordinary." Sukma Dewi Suarabumi was very impressed with what he saw at that time.
"Subhanallah. A very extraordinary power." Raden Jatiya Dewa was very amazed to see that.
"Use Nanda Prabu. Because it is Nanda Prabu's weapon." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta gave direction to Prabu Asmalaraya Arya Ardhana to act immediately.
"Keghakh!"
But at that time. Raden Jatiya Dewa this time shouted in pain while holding his left chest. Of course they were all very surprised to see that. "Cough!" Raden Jatiya Dewa even coughed with fresh blood.
"Raden!" They were all very worried about the state of Raden Jatiya Dewa.
"It's okay Gusti Prabu." His heart felt very painful. His breathing felt very tight, and could hardly breathe well.
"Nanda Prabu! Quickly destroy the magical barrier." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta could not stand anymore. But now he is channeling the power of his inner energy into Raden Jatiya Dewa's body to remain fine.
"Alright, Grandma Prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana immediately took the Sukma Naga fire arrow.
"Hold on Raden Jatiya Dewa. We will soon help you." Sukma Dewi Suarabumi also helped Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta distributed his inner energy.
"Thank you Gusti Putri." Raden Jatiya Dewa is happy to be assisted by Sukma Dewi Suarabumi.
Meanwhile, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana is aiming at which direction the darkness is weakened.
While the current subconscious state of Princess Andhini Andita.
"Kerah!" Raden Jatiya Dewa was grimacing in pain because his heart was stabbed by Princess Andhini Andita.
Deg !!!.
Princess Andhini Andita released her hand from the sword calling the soul she used to kill Raden Jatiya Dewa.
"What have I done really?" Princess Andhini Andita woke up after doing that. "Raden Jatiya Dewa!" Princess Andhini Andita immediately supported Raden Jatiya Dewa's body.
"Why did you cry after doing it Andhini Andita?" Raden Jatiya Dewa asked in a very slow voice.
__ADS_1
Whats next?. Can Raden Jatiya Dewa be saved? Listen to this story.
...***...