
...***...
Putri Rara Saraswati berteriak kesakitan setelah mendapatkan serangan tebasan yang tak terduga dari Putri Andhini Andita. Perutnya terluka sangat dalam, bahkan pakaiannya robek karena sabetan pedang panggilan jiwa.
"Keghah!." Amarahnya tidak bisa ia kendalikan lagi. "Berani sekali kau menyerangku seperti itu andhini andita!." Teriaknya dengan penuh amarah yang bergejolak.
"Hentikan saja tindakan bodohmu itu!." Putri Andhini Andita juga merintih kesakitan. Punggungnya juga mengalirkan darah segar setelah menerima serangan itu.
"Aku pasti akan membunuhmu andhini andita!." Entah karena kerasukan, atau memang tenaganya yang masih banyak, Putri Rara Saraswati hendak menyerang Putri Andhini Andita. Namun saat itu ia semakin kesakitan karena mendengarkan kumandang adzan dari Raden Jatiya Dewa.
"Egkhakh!." Kepalanya terasa sangat sakit, telinganya juga terasa sangat sakit, bahkan tubuhnya pun terasa terbakar oleh api yang sangat panas. Namun ia tidak bisa menahan panas yang menyiksa dirinya itu. "Hentikan!. Hentikan!. Aku tidak tahan!. Panas!." Teriakan itu pertanda ia tidak tahan lagi. Ia merasa tersiksa dengan suara adzan yang dikumandangkan oleh Raden Jatiya Dewa.
"Sebenarnya apa yang dilakukan raden jatiya dewa?." Patih Rangga Prahaja bertanya-tanya. Karena ia tidak dapat memahami apa yang dibacakan oleh Raden Jatiya Dewa, namun suara Raden Jatiya Dewa terdengar sangat merdu di telinganya.
Begitu juga Putri Dewi Anjarwati, suara adiknya terdengar sangat merdu, tetapi kenapa Putri Rara Saraswati terlihat sangat kesakitan?. Itulah yang menjadi tanda tanya baginya.
"Kau tidak akan bisa menang melawan kekuatan dari Allah SWT dengan kekuatan jin. Kau harusnya mengetahui itu rara saraswati." Putri Andhini Andita berusaha menahan tubuhnya agar tidak limbung.
__ADS_1
"Kurang ajar kau andhini andita!. Aku tidak akan kalah begitu saja dari mu!." Putri Rara Saraswati berusaha untuk menyerang Putri Andhini Andita, tapi ia tidak bisa melakukan itu.
Apalagi perlahan-lahan pedang lautan kegelapan kekuatannya berkurang. Kekuatannya tidak berfungsi lagi, bahkan pedang itu malah memaksa masuk kembali ke dalam tubuh Putri Rara Saraswati, sehingga ia semakin kesakitan. Hawa kegelapan yang menutupi tempat itu juga kembali normal. Raden Jatiya Dewa yang sedang mengumandangkan adzan perlahan-lahan dapat menggerakkan tubuhnya. Begitu juga dengan Putri Dewi Anjarwati dan Patih Rangga Prahaja yang bisa bergerak dengan bebas.
"Kau benar-benar wanita rendahan andhini andita!." Putri Rara Saraswati sangat marah, apalagi saat ini wajahnya berubah menjadi buruk rupa.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Raden Jatiya Dewa baru saja selesai mengumandangkan adzan terkejut melihat wajah Putri Rara Saraswati telah berubah menjadi buruk rupa.
"Demi dewata yang agung. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?." Patih Rangga Prahaja bertanya karena heran dengan apa yang terjadi.
"Tidak!." Namun Putri Rara Saraswati masih bisa membantah apa yang telah terjadi?. "Jangan dengarkan omong kosongnya ayahanda!." Dalam keadaan sakit seperti itu ia masih saja mau melawan?. Apakah hatinya telah mati rasa?. Tidak mau mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Raden Jatiya Dewa?. "Itu tadi adalah mantram sihir ayahanda!. Andhini andita lah yang telah mengajarkan mantram sihir itu pada raden jatiya dewa untuk menjatuhkan aku!." PutriĀ Rara Saraswati masih saja berkata yang tidak-tidak tentang Putri Andhini Andita?.
"Diam kau rara saraswati!." Raden Jatiya Dewa sangat muak mendengarkan ucapan itu. Ia membentak Putri Rara Saraswati yang sedang kesakitan?. Tentunya itu membuat Putri Dewi Anjarwati dan Patih Rangga Prahaja terkejut. Apalagi ketika Raden Jatiya Dewa mendekati Putri Andhini Andita. Perlahan-lahan ia menyalurkan tenaga dalamnya ke punggung Putri Andhini Andita yang masih mengalirkan darah. "Jika terjadi sesuatu pada gusti putri andhini andita, aku tidak akan mengampunimu!." Sorot matanya lebih tajam dari yang sebelumnya.
"Kau tidak usah membela orang yang sama sekali tidak mencintaimu jatiya dewa!. Hanya aku yang akan memberikan kebahagiaan padamu!. Bukalah matamu dengan lebar, sadar diri lah jatiya dewa! Bahwa wanita yang kau bela itu sama sekali tidak melihat ke arahmu sama sekali." Putri Rara Saraswati merasa sakit karena ucapan Raden Jatiya Dewa.
"Sebaiknya kau diam saja rara saraswati." Putri Andhini Andita juga merasa geram mendengarnya. "Aku diam bukan berarti aku tidak peduli dengan perasaan yang ditunjukkan raden jatiya dewa padaku. Kau pikir hati ku membatu hanya sekedar untuk menyadari perasaan cinta raden jatiya dewa?. Aku memiliki penilaian sendiri rara saraswati. Aku bukan seperti kau!. Wanita pemikat yang hanya menginginkan kepuasan batin saja. Jangan kau samakan aku dengan kau!. Yang bisanya menjual diri pada jin hanya untuk menaklukkan hati laki-laki yang kau inginkan." Ucapan itu telah menggambarkan dirinya. Mereka semua mendengarkan apa yang dikatakan Putri Andhini Andita.
__ADS_1
Setelah merasa baikan, Putri Andhini Andita berdiri dengan baik, begitu juga dengan Raden Jatiya Dewa. "Mari kita bacakan ayat-ayat yang dapat memusnahkan jin yang ada di dalam tubuhnya raden. Supaya masalah ini cepat selesai." Putri Andhini Andita tersenyum kecil.
"Baiklah gusti putri." Raden Jatiya Dewa menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Mereka membacakan beberapa ayat yang dapat mengusir jin yang ada di dalam tubuh seseorang. Putri Rara Saraswati yang mendengarkan bacaan itu merasa sangat kesakitan, ia semakin menjerit kesakitan. Apalagi ketika jin yang ada di dalam tubuhnya memaksa untuk keluar dari tubuhnya. Sungguh sangat mengerikan sekali melihat keadaan Putri Rara Saraswati saat ini.
"Oh putriku." Patih Rangga Prahaja tidak sanggup melihat keadaan anaknya saat ini.
"Aku akan bertanya lebih lanjut lagi pada mereka nantinya." Dalam hati Putri Dewi Anjarwati bergidik ngeri melihat bagaimana keadaan Putri Rara Saraswati. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit dari bentuk jin yang berontak ingin keluar dari tubuh Putri Rara Saraswati.
Karena tidak tahan mendengarkan bacaan ayat Alquran. Jin itu pun musnah terbakar di dalam tubuh Putri Rara Saraswati. Mereka semua terkejut melihat itu, dan sebisa mungkin memadamkan api yang telah membakar tubuh Putri Rara Saraswati.
"Ayahanda." Putri Rara Saraswati merintih kesakitan.
"Putriku!." Patih Rangga Prahaja tidak tahan melihat keadaan anaknya seperti itu. Ia segera menolong anaknya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bisakah Putri Rara Saraswati kembali ke semula?. Apakah masih bisa diselamatkan?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1