
...***...
Putri Andhini Andita menatap Raden Candana Arga yang masih terlelap dalam tidurnya. Tentunya ia tidak akan merasakan apapun yang terjadi setelah ditempeli jin. Sementara itu Prabu Candana Kumara, Ratu Ayundari Paramita dan Senopati Malakala sedang menunggu penjelasan dari Putri Andhini Andita yang menatap Raden Candana Arga dengan tatapan penuh simpati.
"Maaf, jika hamba lancang bertanya." Ia menatap ke arah mereka. "Apakah sebelumnya raden candana arga pernah menolak seseorang?." Ia bertanya dengan hati-hati.
Mereka mencoba mengingatnya, dan mencoba memahami dari pertanyaan Putri Andhini Andita. "Memang anakku pernah menolak seorang perempuan yang dengan kurang ajarnya menyatakan perasaannya." Ratu Ayundari Paramita mengingatnya.
"Tapi apa hubungannya dengan sakit yang dialami anakku?. Katakan padaku dengan jelas." Prabu Candana Kumara tidak sabaran lagi.
"Apakah raden candana arga menghinanya?. Atau malah gusti prabu yang menghina perempuan itu?." Putri Andhini Andita bertanya lagi.
Tentunya mereka merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita. "Sebenarnya apa yang ingin kau jelaskan pada kami semua?. Jangan bertele-tele, dan jangan memberikan pertanyaan pada kami. Yang bertanya itu adalah kami, harusnya kau menjawab apa yang kami tanyakan." Prabu Candana Kumara benar-benar tidak tahan dengan sikap Putri Andhini Andita.
"Itulah salahnya gusti prabu." Putri Andhini Andita menatap tajam ke arah Prabu Candana Kumara. "Itulah letak kesalahannya. Sehingga seseorang mengirimkan jin itu pada putra gusti prabu." Putri Andhini Andita seakan-akan melihat apa yang terjadi melalui pengobatan tadi.
"Apa yang kau maksudkan sebenarnya?. Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun!. Dan kau!. Sebaiknya kau pergi sebelum aku murka!." Prabu Candana Kumara benar-benar sangat marah, sehingga ia mengusir Putri Andhini Andita.
"Ingatlah gusti prabu. Apa yang gusti prabu lakukan ini adalah suatu kesalahan. Seharusnya gusti prabu meminta maaf kepada orang yang telah gusti prabu hina. Perempuan kecil itu melakukan bunuh diri, kini nyawa putra gusti prabu dalam bahaya. Karena orang yang menyayangi perempuan kecil itu telah menuntut keadilan pada seorang raja katanya melarang siapa saja berbuat jahat, akan tetapi justru raja tersebut lah yang telah memancing rakyatnya berbuat hal yang keji." Ucapan Putri Andhini Andita begitu menohok hati.
__ADS_1
"Jaga ucapan mu orang asing!. Sebaiknya kau segera pergi!." Prabu Candana Kumara hampir saja menyerang Putri Andhini Andita, jika Putri Andhini Andita tidak memberikan kode untuk tidak melakukan kekerasan padanya.
"Hei!. Kau orang asing!. Jangan-jangan kau lah-." Ucapan Ratu Ayundari Paramita terpotong.
"Sebaiknya gusti prabu memikirkannya dengan bijak. Jika gusti prabu masih sayang dengan putra gusti prabu. Maka lakukan apa yang hamba katakan tadi. Karena akan fatal akibatnya. Raden candana arga bukan hanya mengalami kelumpuhan seumur hidup, namun juga bisa kehilangan nyawanya." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan bilik Raden Candana Arga.
Sedangkan mereka hanya terdiam, tidak menanggapinya, namun hati mereka?. Tentunya Prabu Candana Kumara tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita.
"Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun." Ia masih dengan keteguhan hatinya yang mengatakan, jika ia tidak bersalah sama sekali?. Memangnya apa yang terjadi sebenarnya?.
"Kita tidak salah sama sekali kanda prabu." Ratu Ayundari Paramita tentunya membela suaminya bukan?. "Kita hanya melindungi putra kita. Tidak mungkin putra kita menikahi wanita buruk rupa itu. Tidak mungkin kita memiliki menantu yang sangat buruk rupa." Ratu Ayundari Paramita tidak akan menerima itu.
"Rampes." Balas keduanya.
"Aku harus mendengarkan penjelasan dari nimas putih." Dalam hatinya dipenuhi perasaan penasaran. "Bagaimana mungkin ada orang luar mengetahui penolakan itu?. Aku harus mendapatkan jawabannya dari nimas putih." Ya, karena rahasia itu bahkan tidak boleh disebar kemana-mana. Rahasia itu telah lama terkubur, Prabu Candana Kumara melarang siapa saja untuk mengungkitnya. "Lalu bagaimana bisa nimas putih mengetahuinya?. Aku sangat penasaran sekali." Senopati Malakala bergegas menyusul Putri Andhini Andita yang mungkin kembali ke rumahnya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Di sisi lain.
__ADS_1
Seorang laki-laki sedang menangis sedih. Ia masih belum bisa melupakan bagaimana kejadian saat itu. Hatinya sangat iba, sangat sedih, sangat perih.
"Aku telah mengatakannya padamu nak. Aku telah mengatakannya padamu agar kau tidak mencintai raden candana arga. Tapi kau tidak pernah mau mendengarkan apa yang telah aku katakan." Hatinya terluka sangat dalam, mengingat bagaimana anaknya.
Anaknya yang terlahir dengan fisik yang berbeda dengan wanita pada umunya, justru jatuh hati pada seorang Pangeran yang selalu dipuja oleh rakyat Kerajaan Melarang. Sedangkan dirinya adalah gadis biasa dalam wujud buruk rupa karena perkawinannya dengan keturunan silmuman?. Hatinya sangat iba, tidak bisa ia tahan lagi dengan apa yang telah dilakukan anaknya.
"Kenapa kau mengakhiri hidupmu?. Kenapa kau melakukan hal yang sangat bodoh nak?. Apakah kau tidak kasihan padaku yang hampir tua rentan ini." Ia menangis sangat pilu, hatinya benar-benar disayat sembilu tajam. Apalagi ingatannya pada kejadian yang mengenaskan itu. Setelah mengalami penolakan dari Raden Candana Arga dengan sangat tidak terhormat. Penghinaan dari Raja?. Serta cemooh orang-orang yang semakin merendahkan martabatnya sebagai manusia.
"Nyawa harus diganti dengan nyawa." Ia berusaha untuk menguatkan hatinya, jiwanya, serta perasaannya untuk tidak melakukan kejahatan. Namun jika ia tidak melakukan itu, rasa sakit hatinya semakin menjadi-jadi. "Aku pasti akan membalas dendam atas kematian mu nak. Aku telah bersumpah akan mencabut nyawa raden candana arga. Setelah itu baru aku bunuh raja biadab itu!." Hatinya benar-benar telah diselimuti oleh dendam yang membara. Hatinya yang tidak bisa memilah mana yang baik dan mana yang benar. Hatinya yang sedang panas karena terperangkap pada kejadian masa lalu membuatnya menjadi orang yang tanpa perasaan. Hanya ingin balas dendam, membubuh, serta ingin melarikan diri dari apa yang ia rasakan.
...***...
Senopati Malakala berhasil menyusul Putri Andhini Andita. Ternyata benar, jika Putri Andhini Andita kembali ke rumahnya.
"Maaf nimas. Gusti prabu juga gusti ratu tidak bermaksud untuk membuatmu tersingung-." Senopati Malakala merasa bersalah atas apa yang terjadi.
Putri Andhini Andita menghela nafasnya dengan pelan. "Tidak semua orang itu baik, dan juga jahat. Tanpa sadar mereka telah melakukan salah satunya, atau malah keduanya dalam waktu yang bersamaan." Putri Andhini Andita hanya tersenyum kecil. Ia mencoba memaklumi apa yang terjadi, meskipun hatinya berat menerima apa yang telah mereka lakukan padanya. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya, jangan lupa dukungannya ya.
...***...
__ADS_1