KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
AKHIR YANG MEMBAHAGIAKAN


__ADS_3

...***...


Akhirnya Bening Permata tersenyum dengan sangat ramah. Wajahnya terlihat sangat ayu sekali. Hatinya tidak dipenuhi oleh dendam, ia telah merelakan semuanya dengan damai.


"Raden. Sebelum hamba pergi, apakah hamba boleh meminta satu permintaan?." Tatapannya sangat memohon.


"Jika itu bisa memaafkan apa yang telah terjadi, aku akan mengabulkannya nini. Katakan saja, semoga saja aku bisa mengabulkannya." Raden Candana Arga juga telah lancar dalam berbicara. Selain itu ia juga bisa berdiri dengan baik. Membuat mereka semua terkejut melihat itu. Setelah sekian lama, akhirnya Raden Candana Arga berjalan dengan baik?.


"Apakah hamba boleh memeluk raden untuk terakhir kalinya?. Maaf jika permintaan hamba sangat tidak wajar." Ia tidak berharap keinginannya itu akan terkabulkan. Apalagi ketika matanya menangkap bagaimana reaksi Prabu Candana Kumara dan Ratu Ayundari Paramita yang sangat tidak setuju?.


Tanpa banyak bicara atau banyak berpikir lagi, Raden Candana Arga memeluk Bening Permata. "Terima kasih karena kau telah mencintaiku dengan sangat tulus nini. Maafkan aku, jika aku tidak bisa membalas perasaanku. Maafkan semua atas kesalahan yang telah aku lakukan padamu. Semoga sang hyang Widhi memberikan kebahagiaan padamu nini." Raden Candana Arga dapat merasakannya. Akan tetapi ia tidak bisa membalas perasaan itu.


"Sama-sama raden. Maafkan hamba juga jika hamba memaksakan kehendak hamba. Tapi hamba bersyukur bisa mencintai orang istimewa seperti raden." Rasanya semuanya telah ia katakan dengan benar. "Jika di kehidupan lain, hamba ingin mengatakannya sekali lagi. Hamba sangga mencintai raden dengan segenap hati hamba. Terima kasih raden. Hamba sangat bahagia bisa mencintai Raden." Perlahan-lahan putih menghilang, tubuhnya memudar. Saat itu juga Raden Candana Arga menangis sedih.

__ADS_1


"Itulah cinta yang ingin ia berikan pada raden." Putri Andhini Andita juga ikut menangis melihat itu. "Cinta suci yang ingin ia berikan hanya untuk raden." Ia hampir saja tidak dapat menahan sesegukan tangisnya. "Tapi karena pandangan serta harga diri, semuanya berakhir dengan sangat menyakitkan." Matanya menatap tajam ke arah Prabu Candana Kumara yang telah memberikan hukuman mati pada wanita malang itu. "Tidak seharusnya ia mengalami hal keji seperti itu." Lanjutnya lagi.


"Nini bening permata sepertinya wanita yang sangat baik. Entah kenapa aku dapat merasakan dari kata-kata yang ia ucapkan tadi." Ada perasaan penyesalan setelah semuanya terjadi.


Kembali ke masa ini.


Putri Andhini Andita dan Raden Jatiya Dewa telah sampai di gerbang istana Kerajaan Suka Damai. Mereka kembali dengan aman tanpa ada kekurangan apapun.


"Hum." Raden Jatiya Dewa mengangguk mengerti. "Tapi yang menjadi pertanyaan ku andhini andita. Dimana letak dan kapan terjadinya kisah asmara mu dengan Senopati malakala?. Selain itu, apa yang membuat raden candana arga jatuh hati padamu?." Raden Jatiya Dewa merasa bingung. "Sebab, dari cerita yang aku simak, aku tidak mendengarkan kau bercerita bagaimana kesan dan bagaimana kisah asmara itu bisa terjalin. Apakah aku melewatkan bagian tertentu saat kau bercerita, atau kau memang tidak menyebutkan tadi andhini andita?." Sungguh, ia menyimak dengan baik cerita dari Putri Andhini Andita tentang bagaimana ia bisa akrab dengan Senopati Malakala dan Raden Candana Arga.


Putri Andhini Andita tersenyum lembut. "Itu adalah bagian rahasia yang tidak bisa diceritakan. Karena kisah asmaraku itu adalah hal yang tabu." Balasnya. "Jika kau ingin mengetahui bagaimana kisah cintaku. Maka kau sendiri yang harus menjadi tokoh utama dalam kisah ku. Jika kau tidak sanggup, maka katakan sekarang. Supaya aku tidak menunggu terlalu lama, hanya karena kau ragu karena sikapku ini." Setelah berkata seperti itu Putri Andhini Andita pergi meninggalkan Raden Jatiya Dewa sangat. Akan tetapi, sebelum ia benar-benar pergi ia sempat membalikkan tubuhnya dan mengucapkan kalimat yang membuat Raden Jatiya Dewa mengucapkan sumpah.


"Ya. Aku juga akan membuat kisah yang tidak akan pernah aku lupakan dalam hidupku. Terima kasih untuk hari ini dan hari sebelumnya tuan putriku yang tidak bisa aku taklukkan dengan mudah." Ucap Raden Jatiya Dewa. Meskipun kata-kata itu tidak bisa ia katakan dengan baik pada Putri Andhini Andita, namun ia percaya jika suatu saat nanti ia akan mengatakannya pada Putri Andhini Andita.

__ADS_1


"Cinta itu memang aneh. Bukan datang secara mendadak. Tapi aku yakin, dari lubuk hatimu yang paling dalam, kau memiliki perasaan padanya bukan?." Sukma Dewi Suarabumi tersenyum lembut. Ia ikut senang mendengarkannya, sekaligus tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari seorang wanita yang hanya bisa melakukan apa yang ada dipikirannya saja.


"Hamba tentunya memiliki pertimbangan. Perasaan cinta memang tidak datang begitu saja. Begitu juga dengan perasaan melupakan seseorang yang kamu cintai. Itu juga tidak mudah untuk melupakan apa yang telah singgah di dalam hatimu." Putri Andhini Andita hanya tidak mau mengecewakan Raden Jatiya Dewa. Sepertinya ia telah belajar dari Bening Permata, bahwa ada cinta yang memang tidak bisa dipaksakan, namun masih bisa disampaikan dengan baik jika itu dengan cara yang baik pula.


"Apakah termasuk melupakan perasaan mu terhadap adikmu gusti prabu asmalaraya arya ardhana?." Sukma Dewi Suarabumi seakan memancing kembali bagaimana perasaan Putri Andhini Andita terhadap adiknya sendiri.


"Ya, termasuk itu. Tapi untuk itu hamba masih bisa mengendalikan diri hamba dengan baik. Hamba telah menyadari kebodohan yang telah hamba lakukan." Ia hanya mampu tersenyum saja. "Hamba tidak mau terjebak dalam cinta yang seperti itu. Tapi hamba masih memiliki pilihan hidup yang bisa membuat hamba bertahan hingga sekarang." Balasnya dengan perasaan tenang.


"Sykurlah kalau begitu. Kau telah banyak mengalami perubahan." Sukma Dewi Suarabumi lega mendengarnya. "Sebagai gantinya, aku akan menceritakan padamu, bagaimana aku bisa berada di dalam pedang panggilan jiwa, dan bagaimana saat itu aku bertemu dengan mendiang gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta." Sukma Dewi Suarabumi memberikan sebuah hadiah yang mengejutkan.


"Terima kasih gusti putri. Hamba akan menunggunya dengan sabar. Setelah hamba beristirahat dengan baik, hamba ingin mendengar bagaimana kisah hebat itu." Ya, tentunya ia ingin mendengarnya. Bagaimana Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta bisa memasukkan Sukma ke dalam sebuah pedang. Selain itu ia juga ingin mengetahui kisah berdirinya ah tidak, kisah cinta dari Sukma Dewi Suarabumi yang dulunya ketika hidup. Apakah ia memiliki kisah cinta yang luar biasa?. Atau sama dengannya yang mencintai adiknya sendiri?. Bagaimana kisah selanjutnya?. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta. Simak terus ceritanya. Maaf jika update nya tidak bisa sering. Semoga suka dengan kisah yang author tulis. Salam penuh cinta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2