
...***...
Raden Jatiya Dewa menghalangi Putri Andhini Andita untuk menyerang Liku Sakti?. Tapi kenapa ia melakukan itu?. Apakah saat ini ia sedang dikendalikan musuh untuk menyerang Putri Andhini Andita?. Liku Sakti segera menjaga jarak dari keduanya. Ia tidak mau mengambil resiko terlalu tinggi hanya untuk mendengarkan perdebatan yang akan terjadi diantara mereka.
"Apa yang kau lakukan jatiya dewa!. Kenapa kau malah menghalangi aku untuk membunuh lelaki biadab itu!." Putri Andhini Andita masih dikuasai oleh amarahnya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Raden Jatiya Dewa menghela nafasnya dengan pelan. "Janganlah engkau mengutamakan kemarahan di atas segalanya andhini andita." Raden Jatiya Dewa mengingatkan Putri Andhini Andita. "Apakah kau lupa apa yang dikatakan gusti prabu?. Apakah kau lupa jika kemarahan akan merugikan mu nantinya?. Apakah kau lupa itu andhini andita?." Raden Jatiya Dewa menatap tajam ke arah Putri Andhini Andita.
Deg!!!.
Putri Andhini Andita terkejut melihat betapa seriusnya Raden Jatiya Dewa saat ini?. Putri Andhini Andita mencoba untuk menenangkan dirinya. Tenyata ia telah terbawa amarah yang berlebihan, sehingga ia lupa bahwa kemarahan hanya akan membawa kerugian bagi seseorang hingga kehilangan akal sehatnya?.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Putri Andhini Andita mengatur tenaga dalamnya, mengurangi amarah yang sedang menguasai dirinya.
"Heh!. Apakah hanya seperti itu saja?. Sangat membosankan sekali." Liku Sakti tadinya berharap akan ada pertarungan yang lebih serius lagi, tapi sepertinya itu tidak berlangsung lama.
"Kau jangan memancing kemarahan ku." Putri Andhini Andita mengacungkan pedangnya ke depan. "Heh!. Aku jadi ingat, ketika seseorang meminta pengampun padaku setelah aku berhasil membunuh seseorang karena kesombongannya." Putri Andhini Andita teringat dengan kejadian ketika mereka bertarung di sungai Betung waktu itu.
"Diam kau wanita gila!. Aku tidak takut sama sekali padamu!." Amarahnya yang justru berkobar mengingat apa saja yang telah terjadi di masa lalu, dan apa saja yang telah ia alami karena Putri Andhini Andita. "Kau akan membayar nyawa adikku!. Kau akan mati dengan hutang nyawa yang harus kau bayar!."
"Kau tidak usah banyak bicara pendekar." Raden Jatiya Dewa geram juga mendengarkan apa yang dikatakan Liku Sakti. "Aku tidak akan mengampunimu, karena kau telah berani menghalangi perjalanan kami." Raden Jatiya Dewa juga mengeluarkan pedang andalannya. "Kau akan aku habisi, karena kau telah berani menghina wanita yang aku cintai." Raden Jatiya Dewa mengambil ancang-ancang untuk bertarung.
"Kau juga akan aku habisi. Karena kau telah membuat ku mengeluarkan banyak tenaga dalam untuk membantu jatiya dewa. Kau telah berani melukai jatiya dewa. Maka kau akan aku habisi dengan paksa." Dalam hati Putri Andhini Andita merasakan amarahnya yang masih membuncah, dan ia tidak akan membiarkan Liku Sakti pergi begitu saja dari sana tanpa membayar apa yang telah ia lakukan pada Raden Jatiya Dewa.
Kembali ke masa itu.
Sepertinya perjalanan pengembaraan Putri Andhini Andita telah sangat jauh. Ia melihat ada sungai, namun di seberang sungai itu ada bambu yang sangat banyak. Berbaris dengan rapi membentuk benteng pelindung dari desa yang bernama sungai Betung.
"Apakah aku akan ke sana?. Tapi entah kenapa ada hal yang menarik di sana." Kakinya terasa begitu ringan untuk berjalan ke sana. Bahkan ia tidak menyadari bagaimana ia bisa sampai secepat itu.
Namun pada saat itu ia melihat ada banyak warga desa yang berkumpul di sana. Wajah mereka terlihat sedih, dan bahkan ada yang menangis karena merasakan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Putri Andhini Andita begitu penasaran dengan apa yang terjadi hingga ia mendekati mereka semua.
"Sampurasun." Ia mengucap salam pada mereka semua?.
"Rampes." Balas mereka semua sambil melihat ke arah Putri Andhini Andita. Pendekar wanita cantik menurut mereka semua yang tidak pernah melihat pendekar berkulit putih datang ke wilayah mereka.
"Maaf, apa yang terjadi padanya?. Apakah dia tidak sadarkan diri?." Putri Andhini Andita bertanya pada seorang wanita yang sedang menangis sedih. Ia memangku gadis muda yang terlihat pucat, namun ada noda-noda aneh di sekujur tubuhnya.
"Anakku mati digarong dua orang pemuda biadab!. Anakku tidak sadarkan diri untuk selama-lamanya!." Ia meraung keras dalam kesedihan yang mendalam. Membuat mereka semua merasa simpati pada wanita itu.
"Maafkan saya. Saya tidak mengetahuinya." Putri Andhini Andita merasa sangat menyesal karena bertanya seperti itu padanya.
"Sebaiknya kau pergi saja dari sini!. Jika kau masih berada di sini!. Kau pasti akan bernasib sama dengan anakku!." Wanita itu memberi peringatan pada Putri Andhini Andita.
Akan tetapi, pada saat itu pendekar Paruh Tajam datang dengan cara yang tidak biasa. Ia berada di puncak bambu sambil memperhatikan Putri Andhini Andita dengan tatapan memburu mangsa. Sedangkan wanita yang memangku jasad anaknya merasa marah.
"Keparat busuk!. Beraninya kau membunuh anakku dengan cara keji seperti itu!." Tatapan mata yang dipenuhi oleh kebencian yang sangat dalam.
__ADS_1
"Heh!." Pendekar Paruh Tajam mendengus kesal, dan ia menatap tidak suka ke arah wanita yang telah berkata kasar padanya?.
"Semoga saja Dewata agung mengutukmu dengan kematian. Aku tidak terima anakku kau bunuh dengan cara keji!. Aku tidak ikhlas anakku dianiaya olehmu juga saudaramu itu!." Ia telah mengeluarkan semua beban yang ada di dalam benaknya.
Syukh!!!.
"Egha!."
Namun siapa sangka, wanita itu sangat malang sekali nasibnya. Ia juga terbunuh karena serangan tenaga dalam yang mengarah tepat ke dada kiri wanita itu. Sehingga ia tidak dapat bergerak, dan akhirnya tumbang ke tanah, serta tidak bergerak lagi. Mereka semua sangat ketakutan melihat itu, kejadian mengerikan terjadi di hadapan mereka semua.
"Siapa lagi yang mau bernasib sama seperti dia?. Majulah!. Keluarkan sumpah serapah yang kalian rasakan, jika kalian ingin mati hari ini juga. Ahaha!." Pendekar itu malah tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah mereka yang ketakutan.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Putri Andhini Andita juga terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Pendekar Paruh Tajam. "Sungguh tidak manusiawi apa yang tuan lakukan!." Putri Andhini Andita bersuara, membuat mereka semua bergidik ngeri.
"Apa yang kau lakukan anak muda!. Kenapa kau malah menantangnya!."
"Anak muda!. Kau harus segera pergi dari sini demi keselamatanmu!."
Namun Pendekar Paruh Tajam malah tertawa keras, ia terlihat senang ada wanita cantik yang menantang dirinya?.
"Hyop!." Pendekar Paruh Tajam melompat turun, sedangkan mereka malah menjauh karena takut akan disakiti oleh Pendekar Paruh Tajam yang terlihat sangat kejam. Apakah yang akan terjadi pada mereka dan apa yang akan dilakukan Putri Andhini Andita setelah ini?. Temukan jawabannya.
...***...
Salam penuh cinta untuk pembaca tercinta. Semoga sehat selalu, dan selalu semangat membara membaca Kisah Cinta Tuan Putri. Terima kasih atas dukungannya, tanpa adanya pembaca tercinta kisah ini tidak akan berjalan dengan baik. Terima kasih yang mendalam author yang tidak berwujud ini sampaikan kepada pembaca tercinta.
...***...
"What are you doing Jatiya Dewa! Why do you even prevent me from killing the savage man!" Princess Andhini Andita is still controlled by her anger.
"Astaghfirullah Hal'azim O Allah." Raden Jatiya Dewa sighed slowly. "Don't you prioritize anger above all Andhini Andita." Raden Jatiya Dewa reminded the daughter of Andhini Andita. "Did you forget what Gusti Prabu said? Do you forget that anger will harm you later? Do you forget that Andhini?" Raden Jatiya Dewa stared intently at Princess Andhini Andita.
Deg!!!.
Princess Andhini Andita was surprised to see how serious Raden Jatiya Dewa is now?. Princess Andhini Andita tried to calm herself. It turned out that he had been carried away by excessive anger, so he forgot that anger will only bring losses to someone to lose his mind?
"Astaghfirullah Hal'azim O Allah." Princess Andhini Andita regulates his inner energy, reducing the anger who is controlling him.
"Heh! Is it just like that? Very boring." Liku Sakti had hoped that there would be a more serious battle, but it didn't seem to last long.
"You don't lure my anger." Princess Andhini Andita raised her sword forward. "Heh! Princess Andhini Andita remembered the incident when they fought in the Betung River at that time.
"Shut up you're a crazy woman! I'm not afraid at all for you!" His anger was blazing considering what had happened in the past, and what he had experienced because of Princess Andhini Andita. "You will pay my sister's life! You will die with the debt of life you have to pay!"
"You don't need to talk much warrior." Raden Jatiya Dewa furious also listened to what Liku Sakti said. "I will not forgive you, because you have dared to obstruct our journey." Raden Jatiya Dewa also issued his flagship sword. "You will be killed, because you have dared to insult the woman I love." Raden Jatiya Dewa took a squares to fight.
"You will also be killed. Because you have made me spend a lot of energy in helping Jatiya Dewa. You have dared to hurt Jatiya Dewa. Then you will be killed by force." In the heart of Princess Andhini Andita felt her anger still swelled, and she would not let Liku Sakti go away from there without paying what she had done to Raden Jatiya Dewa Very.
__ADS_1
Back to that time.
It seems like the journey of Princess Andhini Andita's wandering journey has been very far away. He saw a river, but across the river there was a lot of bamboo. Lined neatly to form a protective fort from a village called Sungai Betung.
"Am I going there? But somehow there is something interesting there." His feet felt so light to walk there. In fact he did not realize how he could get that fast.
But at that time he saw that there were many villagers gathered there. Their faces look sad, and some even cry because they feel feelings that cannot be expressed in words. Princess Andhini Andita was so curious about what happened that she approached them all.
"Sampurasun." He said hello to all of them?
"Rampes." Reply they all while looking at Princess Andhini Andita. Beautiful female warriors according to them all who have never seen a white warrior coming to their territory.
"Sorry, what happened to him? Is he unconscious?" Princess Andhini Andita asked a woman who was crying sadly. He held a young girl who looked pale, but there were strange stains all over his body.
"My son died in a two-savage youth! My son was unconscious for ever!" He roared loudly in deep sadness. Make them all feel sympathy for the woman.
"I'm sorry. I don't know." Princess Andhini Andita felt very sorry for asking him like that.
"You better just go from here! If you are still here! You will definitely have the same fate as my child!" The woman gave a warning to Princess Andhini Andita.
However, at that time a sharp beak warrior came in an unusual way. He was at the top of the bamboo while watching Princess Andhini Andita with a look of prey. While the woman who holds the body of her child feels angry.
"Foot basting! Eye gaze filled with very deep hatred.
"Heh!" The sharp beak warrior snorted in annoyance, and he stared disliked at the woman who had said harshly to him?
"Hopefully the great gods cursed you with death. I don't accept my child you kill in a heinous way! He has issued all the burdens in his mind.
Syukh!!!.
"Egha!."
But who would have thought, the woman was very poor. He was also killed because of an internal attack that led to the woman's left chest. So that he could not move, and finally fell to the ground, and did not move anymore. They were all very scared to see that, a terrible incident occurred in front of them all.
"Who else wants to have the same fate as him? The warrior even burst out laughing at the look on their frightened faces.
"Astaghfirullah Hal'azim O Allah." Princess Andhini Andita was also surprised to see what was done by a sharp half warrior. "Really inhuman what you did!" Princess Andhini Andita made a voice, making them all shudder in horror.
"What are you doing young people! Why are you challenging it!"
"Young man! You must leave here immediately for your safety!"
But the sharp beak warrior instead laughed loudly, he looked happy there was a beautiful woman who challenged him?
"Hyop!" The sharp beak warriors jumped down, while they were away because they were afraid of being hurt by a sharp beak warrior that looked very cruel. What will happen to them and what will Princess Andhini do after this? Find the answer.
Maafkan author yang tidak berwujud ini jika pembaca tercinta merasa tidak nyaman karena adanya terjemahan pada tiap bab. Semangat membaca.
__ADS_1
...***...