
...***...
Putri Andhini Andita hanya diam saja, diperhatikan seperti itu oleh Pangeran Abinaya Bena dan kedua anak buahnya seperti itu?. Apa yang sebenarnya yang mereka inginkan?. Kenapa mereka benar-benar curiga dengan kedatangannya saat ini?. Bukankah ia telah melakukan penyamaran dengan sempurna?. Lalu apalagi yang membuatnya merasa takut?.
"Apakah kau belum makan sama sekali?." Pangeran Abinaya Bena terlihat mencemaskan keadaan Putri Andhini Andita. Apakah benar pangeran Abinaya Bena mencemaskan dirinya?. Atau itu hanyalah sebuah tipu daya semata?.
"Hei!. Gusti pangeran bertanya dengan baik. Maka jawablah pertanyaan gusti pangeran dengan benar!." Barja sepertinya terlihat sangat marah, ia tidak suka ada yang bersikap tidak sopan pada Pangeran Abinaya Bena. Putri Andhini Andita terperanjat terkejut mendengarkan suara bentakan itu.
"Bukankah kau tadi bisa berbicara?!. Atau jangan-jangan kau malah terpesona dengan penampilan gusti pangeran?!." Hengkara berpendapat seperti itu. Karena tatapan Putri Andhini Andita seperti sedang mengagumi Pangeran Abinaya Bena. "Kau jangan coba-coba berpikiran akan melakukan sesuatu yang membuat kami ingin membunuhmu!." Sepertinya mereka sangat tidak ramah. Namun Putri Andhini Andita mencoba untuk bersikap lebih sabar lagi. Jika ia tidak ingin penyamarannya gagal hanya karena ia tidak dapat menahan amarahnya.
"Ayo andhini andita. Kuatkan lah hatimu, jangan sampai kau terpancing amarah yang tidak berguna itu." Dalam hatinya mencoba untuk meyakinkan dirinya. Bahwa saat ini ia sedang melakukan sesuatu demi menemukan kebenaran yang sedang mereka sembunyikan.
"Ma-maafkan hamba gusti pangeran. Hamba belum makan sama sekali. Karena itulah hamba mencari buah yang bisa dimakan di sekitar sini. Ampuni hamba, hamba tidak menyangka jika ada orang lain di sini." Putri Andhini Andita terlihat sangat sedih sekali. Benar-benar membuat Pangeran Abinaya Bena merasa simpati padanya. Rasanya tidak ada alasan lain yang bisa ia katakan. Apalagi penampilannya sangat mendukung sekali pada saat itu.
"Baiklah kalau begitu, kau boleh mengambil makanan yang ada di dalam gubuk kami." Karena simpatinya dan rasa kasihan yang ia rasakan, ia mengizinkan Putri Andhini Andita masuk ke gubuk kecil itu. Tidak ada kecurigaan sedikitpun yang ia rasakan dari Putri Andhini Andita.
"Tapi gusti pangeran-." Sepertinya Barja dan Hengkara tidak setuju dengan apa dilakukan oleh Pangeran Abinaya Bena yang membimbing Putri Andhini Andita masuk ke dalam gubuk itu.
"Tidak apa-apa. Kasihan sekali wanita ini. Jangan sampai kalian membiarkannya mati kelaparan di sekitar sini. Apa yang akan dikatakan prabu asmalaraya arya ardhana nantinya jika melihat ini." Ia hanya tidak ingin mengambil resiko saja. Karena itulah ia melakukan itu?. Apakah hanya itu alasannya?. Bisa jadi itu hanyalah sebuah alasan untuk menarik hati wanita malang itu?.
"Baiklah kalau begitu gusti pangeran." Tidak ada bantahan lagi dari mereka. Tentunya mereka faham, jika berada di wilayah seseorang bukan?.
"Ambil saja sesuka hati mu. Kami akan mencari yang lain nantinya." Senyuman itu sangat lembut dan ramah.
"Terima kasih atas kebaikan yang gusti pangeran berikan pada hamba." Putri Andhini Andita tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan yang baik dari Pangeran Abinaya Bena.
"Sama-sama." Balas Pangeran Abinaya Bena dengan senyuman ramah luar biasa.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu, Raden Jatiya Dewa saat ini sedang menuju ruang pribadi raja. Untuk sementara waktu, ia meminta izin pada ayahandanya untuk mengabdi pada kerajaan Suka Damai. Ini semua demi mendapatkan hati dan cintanya Putri Andhini Andita. Keluarga besar istana telah mengetahui niat baik itu, bahkan Ratu Gendhis Cendrawati juga memberikan izin pada Raden Jatiya Dewa untuk melamar anaknya. Hanya saja semuanya tergantung pada Putri Andhini Andita, apakah ia bersedia atau tidak. Tapi untuk saat ini, sepertinya ia mendapatkan tugas yang lebih serius dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, gusti prabu. Apakah hamba boleh masuk?." Ia meminta izin, apakah ia boleh masuk atau tidak?.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, raden jatiya dewa. Silahkan masuk raden." Ternyata ia mendapatkan izin untuk masuk.
"Terima kasih gusti prabu." Raden Jatiya Dewa memberi hormat. Setelah itu ia duduk di hadapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Maafkan aku raden, untuk sementara waktu aku tidak bisa membelah raga." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meminta maaf pada Raden Jatiya Dewa?. "Aku takut pangeran abinaya memiliki niat yang tidak baik. Apalagi pedang pelebur sukma saat ini sedang bergetar. Itulah kenapa aku meminta bantuan raden untuk menyelidikinya." Memang aneh rasanya meminta bantuan dari Raden Jatiya Dewa. Itu karena Raden Hadyan Hastanta dan Putri Bestari Dhatu sedang tidak berada di istana. Begitu juga dengan Putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa Pranawa. Tapi sungguh, Pedang Pelebur Sukma sedang memberontak di dalam tubuhnya saat ini.
"Tidak apa-apa gusti prabu. Hamba bersedia membantu gusti prabu. Hamba akan mengabdikan diri hamba sepenuhnya untuk istana ini. Katakan saja apa yang bisa hamba bantu." Raden Jatiya Dewa tersenyum kecil, ia memaklumi apa yang sedang terjadi saat ini.
"Sama-sama gusti prabu." Balas Raden Jatiya Dewa dengan senyaman ramah.
"Lalu bagaimana hasil dari penyelidikan yang raden lakukan?. Apakah ada sesuatu yang mencurigakan?. Tolong jelaskan padaku dengan terperinci." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingin mengetahui bagaimana pengamatan yang dilakukan oleh Raden Jatiya Dewa.
"Hamba mendapatkan informasi, jika saat ini ada kerajaan yang mengambil sebuah kerajaan lainnya dengannya cara berpura-pura mengalami keterpurukan, kerajaannya mengalami pemberontakan. Serta gemelut antar saudara, sehingga harus melarikan diri ke tempat lain." Raden Jatiya Dewa menceritakan apa yang ia dapatkan.
"Jadi seperti itu?. Ternyata penglihatan dari sukma naga kegelapan tidak salah. Karena kegelapan yang mereka miliki sangat kental." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengeluarkan Pedang Pelebur Sukma.
"Sungguh kegelapan yang luar biasa sekali gusti prabu." Raden Jatiya Dewa sangat heran melihat hawa yang ditunjukkan oleh pedang Pelebur Sukma.
"Itulah alasan mengapa aku tidak bisa melakukan belah raga saat ini raden." Rasanya tubuhnya sangat menggamang. "Kegelapan yang mereka miliki hanya akan memicu kedengkian dari pedang pelebur sukma. Akan berbahaya jika itu terjadi." Lanjutnya lagi. "Aku tidak mau terlalu mengambil resiko, jika salah satu ragaku akan terkunci mati rasa jika memaksa untuk bertarung berhadapan dengan mereka." Itulah alasan kenapa ia belum bertindak saat ini.
__ADS_1
"Lalu apa yang bisa hamba lakukan gusti prabu?. Semoga saja hamba bisa membantu." Raden Jatiya Dewa terlihat cemas dengan penjelasan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Saat ini yunda andhini andita sedang menyelidikinya. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Aku minta raden untuk membantunya, tapi raden harus menyamar." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sambil menyerahkan Panah Semara Naga. "Gunakan ini, untuk menahan semua kegelapan yang mungkin akan raden terima nantinya."
"Baiklah gusti prabu. Hamba akan melakukannya dengan baik." Raden Jatiya Dewa juga tidak mau terjadi sesuatu pada Putri Andhini Andita. Ia harus melakukan sesuatu yang dapat membantu wanita yang sangat ia cintai.
Apakah yang akan dilakukan Raden Jatiya Dewa dengan Panah Semara Naga?. Temukan jawabannya.
...***...
Kembali ke Putri Andhini Andita.
Makannya sangat lahap, benar-benar seperti seseorang yang belum mendapatkan makan selama berhari-hari. Namun entah kenapa Pangeran Abinaya Bena sangat suka melihat itu. Akan tetapi berbeda dengan kedua anak buahnya yang sama sekali tidak menyukai Putri Andhini Andita.
Setelah selesai makan, dan terlihat lebih ceria, Pangeran Abinaya Bena bertanya pada Putri Andhini Andita yang terlihat sangat aneh menurutnya.
"Kalau aku boleh tahu, siapa namamu nini?." Dengan suara yang sangat ramah ia bertanya?.
"Nama hamba putih. Hamba hanyalah rakyat biasa. Karena lapar, hamba mencari makanan di hutan ini. Setiap hari hamba lakukan itu demi bertahan hidup." Ia benar-benar menceritakan kisah sedih yang ia alami selama ini?.
"Katanya gusti prabu asmalaraya arya ardhana sangat memperhatikan rakyatnya. Tapi kenapa masih ada orang kelaparan seperti kau?. Bukankah itu sangat aneh?." Pangeran Abinaya Bena sama sekali tidak mengerti.
"Hamba hanyalah anak sebatang kara saat ini. Tidak mungkin gusti prabu memperhatikan rakyat biasa seperti Hamba." Lanjutnya dengan raut wajah yang sangat sedih.
"Kasihan sekali nasibmu. Malang sekali kau terlahir di negeri seperti ini." Pangeran Abinaya sangat simpati sekali. Rasa kasihan, serta kesedihan yang ia rasakan. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Mengapa itu semua bisa terjadi?. Apakah Pangeran Abinaya Bena orang baik atau jahat?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1