KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
HARUS BAGAIMANA?.


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak menduga jika Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka memang memanggilnya dari pedang panggilan jiwa?.


"Tapi bagaimana eyang prabu berada di dalam pedang pembangkit raga sukma dewi suarabumi?. Apakah memang terjadi sesuatu pada yunda andhini andita eyang prabu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat penasaran.


"Ya. Itu karena nimas dewi yang memanggilku ke sini. Nimas dewi sangat khawatir dengan keadaan ananda putri andhini andita." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta melirik ke arah Sukma Dewi Suarabumi.


"Nimas dewi?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat ke arah seorang wanita yang sangat cantik.


"Nanda prabu, ia adalah nimas suarabumi." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta memperkenalkan Sukma Dewi Suarabumi pada cucunya.


"Hamba adalah sukma dewi suarabumi. Seseorang yang telah mengisi pedang pembangkit raga sukma dewi suarabumi yang telah digunakan oleh nimas andhini andita." Sukma Dewi Suarabumi memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Jadi gusti putri lah yang telah membantu yunda andhini andita selama ini?. Terima kasih saya ucapkan pada gusti putri." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga memberi hormat.


"Egkhakh!." Raden Jatiya Dewa meringis sakit, ia menyentuh lengan kanannya kali ini yang terasa sakit?.


Namun ketika itu, Raden Jatiya Dewa kembali meringis sakit, sehingga membuat mereka semua terkejut.


"Raden?. Apa yang terjadi padamu raden?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak mencemaskan keadaan Raden Jatiya Dewa.


"Hamba tidak mengerti sama sekali gusti prabu. Rasanya lengan hamba seperti sedang di sayat sesuatu benda tajam." Raden Jatiya Dewa berusaha untuk menahan rasa sakit itu.


"Sepertinya di dalam alam sukma lain, nimas andhini andita sedang menyerang raden?-." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta tidak mengenali siapa nama pemuda yang ikut bersama cucunya.


"Namanya raden jatiya dewa eyang prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengerti maksud ekspresi wajah Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta saat itu.


"Ya, raden jatiya dewa. Mungkin dalam alam mimpi Niman andhini andita saat ini ia sedang menyerang mu." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta menjelaskan alasan kenapa Raden Jatiya Dewa terlihat sangat kesakitan.


"Bagaimana mungkin eyang prabu mengetahui apa yang terjadi pada raden jatiya dewa?. Apakah eyang prabu telah memeriksa keadaan yunda andhini andita?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingin mengetahuinya.


"Tadi sekilas aku melihatnya. Saat aku berusaha untuk memanggilmu melalui pedang panggilan jiwa yang ada di dalam tubuh nimas andhini andita." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta kali ini melihat ke arah Putri Andhini Andita yang sedang terbaring dengan kondisi yang tidak baik.


"Yunda!. / Gusti putri!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Jatiya Dewa langsung mendekati Putri Andhini Andita yang kini sedang terbaring di tempat biasa Sukma Dewi Suarabumi beristirahat.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Hawa hitam itu semakin kuat." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat khawatir melihat keadaan kakaknya.


"Gusti prabu sangat benar. Kenapa hawa hitam itu terus menyelimuti tubuh gusti putri andhini andita?." Raden Jatiya Dewa yang masih kesakitan, saat ini terlihat sangat cemas dengan keadaan Putri Andhini Andita.


"Apa yang harus kita lakukan eyang prabu?. Bagaimana caranya menyelamatkan yunda andhini andita?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sedih, karena ia tidak bisa membantu kakaknya yang entah bagaimana keadaanya saat ini.


Sementara itu.


Di alam sukma yang diciptakan oleh seorang wanita yang menginginkan hal buruk terjadi pada Putri Andhini Andita. Ia masih mengamati bagaimana Putri Andhini Andita yang terus menerus menyerang Raden Jatiya Dewa.


Sepertinya Raden Jatiya Dewa saat ini sedang terdesak, sehingga ia tidak bisa melawan Putri Andhini Andita. Ia menyerah dengan serangan Putri Andhini Andita yang sangat menyeramkan.


"Kegh!." Raden Jatiya Dewa menyandarkan tubuhnya di pohon yang tak jauh dari ia tadinya menghindari semua serangan dari Putri Andhini Andita. Kedua lengannya hampir putus karena serangan pedang panggilan jiwa. "Sepertinya andhini andita tidak bisa dihentikan saat ini." Dalam hati Raden Jatiya Dewa mulai cemas.

__ADS_1


"Heh!." Putri Andhini Andita mendengus kuat. Matanya menatap Raden Jatiya Dewa dengan tatapan menghina. Merendahkan kemampuan yang dimiliki oleh Raden Jatiya Dewa. "Kau memang sangat memalukan jatiya dewa!." Suaranya begitu tinggi dan terdengar menggema. "Apakah hanya segini saja kepandaian yang kau miliki?. Sangat lemah sekali." Putri Andhini Andita terlihat sangat menyeramkan.


"Ayo cepat bunuh dia!. Bunuh dia sekarang juga!. Tinggu apa lagi?!. Lakukan dengan cepat!." Ada suara yang memerintahkan Putri Andhini Andita untuk membunuh Raden Jatiya Dewa dengan cepat.


"Kau akan aku bunuh jatiya dewa!. Kau memang tidak berguna sama sekali!." Putri Andhini Andita sangat marah. "Lebih baik aku tidak menikah dengan orang lemah seperti kau!." Suara Putri Andhini Andita terdengar sangat berbeda dari yang sebelumnya. Selain itu, ia juga mengungkapkan pedangnya ke arah Raden Jatiya Dewa. Amarahnya saat ini sedang memuncak, dan ia tidak bisa mengendalikan dirinya.


Kembali ke alam Sukma Dewi Suarabumi.


Mereka berusaha untuk mencari cara untuk menyelamatkan Putri Andhini Andita. Mereka masih berusaha untuk membangunkan Sukma dan raga Putri Andhini Andita yang masih tertahan entah di alam sukma mana.


"Satu-satunya cara untuk menyelamatkan keduanya adalah dengan masuk ke dalam alam pikiran nimas andhini andita." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta melihat ke arah Raden Jatiya Dewa.


"Hamba gusti prabu?." Raden Jatiya Dewa sangat tidak mengerti. Apakah ia saat ini dalam situasi yang sangat tidak baik?.


"Ya, raden juga harus segera diselamatkan. Akan berbahaya jika nimas andhini andita melakukan hal yang nekat. Misalanya membunuh raden di alam sukma itu, maka raden juga akan terbunuh. "Kita harus bisa masuk ke alam sukma itu supaya kita bisa masuk lebih cepat dan menjaga jarak." Sukma Praba Bahuwirya Jayantaka Byakta mencoba memberikan ide pada mereka.


"Jadi kedua alam kini sedang disatukan oleh seseorang yang menginginkan balas dendam terhadap gusti putri andhini andita?." Raden Jatiya Dewa hanya ingin memastikannya.


"Ya, itu memang benar. Karena itulah kita harus segera menolongnya. Jangan sampai terlambat." Sukma Dewi Suarabumi terlihat cemas.


"Kalau begitu mari kita lakukan ritual penarikan jiwa. Supaya kita lebih cepat sampai." Raden Jatiya Dewa sangat ingin membantu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana untuk membawa sukma Putri Andhini Andita.


"Mari kita lakukan sama-sama. Semoga saja kita masih bisa menyelamatkan nimas andhini andita." Sukma Dewi Suarabumi juga ingin membantu Putri Andhini Andita agar segera pulih. Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Apakah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bisa membantu kakaknya keluar dari masalah ini semua?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Terima kasih atas dukungannya ya pembaca tercinta. Salam cinta.


...***...


...***...


"But how is Grand's Grandmother in the sword of the Sukma Dewi Suarabumi body generator? Is something really happening to Yunda Andhini Andita Eyang Prabu?" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana is very curious.


"Yes. That's because Nimas Dewi called me here. Nimas Dewi was very worried about the situation of Ananda Princess Andhini Andita." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta glanced at Sukma Dewi SuaraBumi.


"Nimas Dewi?" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana looked at a very beautiful woman.


"Nanda Prabu, he is Nimas SuaraBumi." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta introduced Sukma Dewi SuaraBumi to his grandchildren.


"Servant is the Sukma Dewi Suarabumi. Someone who has filled the sword of the Sukma Dewi Suarabumi Body Plant that has been used by Nimas Andhini Andita." Sukma Dewi Suarabumi saluted King Asmalaraya Arya Ardhana.


"So Gusti Putri has helped Yunda Andhini Andita all this time? Thank you to Gusti Putri." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana also saluted.


"Egkhakh!" Raden Jatiya Dewa grimaced in pain, he touched his right arm this time which was painful?


But at that time, Raden Jatiya Dewa again grimaced in pain, so that it made them all surprised.


"Raden? What happened to you Raden?" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana did not worry about the state of Raden Jatiya Dewa.


"I don't understand Gusti Prabu at all. It feels like my arm is like being in a sharp thing." Raden Jatiya Dewa tried to withstand the pain.


"Looks like in other soul realm, Nimas Andhini Andita is attacking Raden?-" Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta did not recognize the name of the young man who joined his grandson.

__ADS_1


"His name is Raden Jatiya Dewa Eyang Prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana understood the purpose of the facial expression of Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta at that time.


"Yes, Raden Jatiya Dewa. Maybe in the dreamland of Niman Andhini Andita currently he is attacking you." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta explained the reason why Raden Jatiya Dewa looked very painful.


"How could Eyang Prabu know what happened to Raden Jatiya Dewa? Has Eyang Prabu examined Yunda Andhini Andita?" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana wants to find out.


"At first glance I saw him. When I tried to call you through the sword calling the soul in Nimas Andhini Andita's body." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta this time looked at Princess Andhini Andita who was lying in bad conditions.


"Yunda! / Gusti Putri!" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana and Raden Jatiya Dewa immediately approached the daughter of Andhini Andita who is now lying in the usual place of Sukma Dewi Suarabumi resting.


"Astaghfirullah Hal'azim O Allah. Black air is getting stronger." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana was very worried to see the condition of his brother.


"Gusti Prabu is so right. Why does the black air keep covered with Gusti Princess Andhini Andita's body?" Raden Jatiya Dewa who is still in pain, currently looks very anxious about the state of Princess Andhini Andita.


"What should we do, Grandma Prabu? How do you save Yunda Andhini Andita?" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana looks sad, because he can't help his brother who somehow his current situation.


Meanwhile.


In the realm of soul created by a woman who wants bad things to happen to Princess Andhini Andita. He still observed how Andhini Andita's daughter who continued to attack Raden Jatiya Dewa.


It seems like Raden Jatiya Dewa is currently pressed, so he can't fight Andhini Andita's daughter. He surrendered with the attack of Princess Andhini Andita who was very scary.


"Kerah!" Raden Jatiya Dewa leaned his body on a tree not far from he had avoided all attacks from Princess Andhini Andita. His arms almost broke up because of the sword attack of the soul's call. "Looks like Andhini Andita can't be stopped at this time." In the heart Raden Jatiya Dewa began to worry.


"Heh!" Princess Andhini Andita snorted strongly. His eyes looked at Raden Jatiya Dewa with a look of insulting gaze. Lowering the capabilities possessed by Raden Jatiya Dewa. "You are very embarrassing Jatiya Dewa!" His voice was so high and sounded echoing. "Is it only this intelligence you have? Very weak." Princess Andhini Andita looks very scary.


"Come quickly kill him! Kill him now! There was a voice that ordered Princess Andhini Andita to kill Raden Jatiya Dewa quickly.


"You will kill Jatiya Dewa! You are indeed useless at all!" Princess Andhini Andita is very angry. "I better not marry a weak person like you!" Princess Andhini Andita's voice sounded very different from the previous one. In addition, he also revealed his sword towards Raden Jatiya Dewa. His anger is currently peaked, and he cannot control himself.


Return to the realm of Suara Dewi Suarabumi.


They tried to find a way to save Princess Andhini Andita. They are still trying to wake up the souls and souls of Princess Andhini Andita who are still restrained somehow in the realm of soul.


"The only way to save both is to enter the mind of Nimas Andhini Andita's mind." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta looked at Raden Jatiya Dewa.


"Servant Gusti Prabu?" Raden Jatiya Dewa really does not understand. Is he currently in a very bad situation?


"Yes, Raden must also be rescued immediately. It would be dangerous if Nimas Andhini Andita did a desperate thing. For example, killing Raden in the realm of the soul, then Raden will also be killed." We must be able to enter the soul so that we can enter faster and faster and faster and faster Keeping distance. "Sukma Praba Bahuwirya Jayantaka Byakta tried to give ideas to them.


"So the two realms are now being united by someone who wants revenge against Gusti Princess Andhini Andita?" Raden Jatiya Dewa just wants to be sure.


"Yes, that is true. That's why we have to help him immediately. Don't be late." Sukma Dewi SuaraBumi looks anxious.


"Then let's do the soul withdrawal ritual. So that we arrive faster." Raden Jatiya Dewa really wants to help Prabu Asmalaraya Arya Ardhana to bring the soul of Putri Andhini Andita.


"Let's do it together. Hopefully we can still save Nimas Andhini Andita." Sukma Dewi Suarabumi also wanted to help Princess Andhini Andita to recover soon. What are they going to do after this? Is Prabu Asmalaraya Arya Ardhana helping his brother out of this problem all? Only time will answer everything. Thank you for your support, my beloved reader. Greetings of love.


...***...

__ADS_1


__ADS_2