
...****...
Putri Andhini Andita saat ini menggunakan Pedang Panggilan Jiwa. Karena ia berhadapan dengan jin yang telah menyesatkan manusia.
"Dia yang meminta bantuan dariku!. Bahkan setelah kematian anaknya dia telah menjual dirinya padaku." Ia terus menghindari semua serangan dari Putri Andhini Andita. Sabetan pedang yang sangat kuat dan bertenaga.
"Aku tidak akan mengampunimu!. Karena kau yang telah menggodanya!." Putri Andhini Andita sangat marah, menyerang Jin itu dengan sangat cepat.
"Dia saja yang bodoh!. Mau saja digoda oleh ku!. Imannya sangat lemah!." Ia masih saja membela dirinya, tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kalau begitu, akan aku musnahkan kau!." Amarah Putri Andhini Andita telah memuncak mendengarkan apa yang dikatakan jin itu.
Sementara itu di saat yang bersamaan, Senopati Malakala masih bertarung dengan Paraja Tengi. Amarah lelaki itu juga memuncak karena tidak bisa menerima kematian anaknya yang sangat tidak wajar. "Sebelum aku membunuh keluarga istana!. Maka kau dulu yang akan aku bunuh!. Karena kau juga terlibat dalam pembunuhan anakku!." Ia terus menyerang Senopati Malakala dengan menggunakan tenaga dalam ilmu hitam.
"Aku hanya menjalankan perintah gusti prabu!." Senopati Malakala terus menghindarinya, nyawanya bisa terancam jika terkena serangan tenaga dalam itu. Mereka bertarung dengan kebencian, seta apa yang sedang mereka anggap itu adalah hal yang harus mereka pertahankan. Pertarungan yang dibumbui dengan dendam, rasa kemanusiaan, serta orang-orang yang ingin mereka selamatkan.
...***...
Sementara itu di Istana Kerajaan Melarang. Prabu Candana Kumara dan Ratu Ayundari Paramita. Mereka masih belum juga bisa mendapatkan jawaban dari anaknya. Raut wajah Raden Candana Arga yang terlihat ketakutan.
"Raden tenang saja. Aku tidak akan menyakiti raden." Itulah yang dikatakan sosok menyeramkan itu. "Aku selalu mencintai raden." Ia berkata dengan senyuman kaku, sehingga ia terlihat sangat menyeramkan dengan wajah pucat pasi, namun memiliki hawa hitam yang mengerikan.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu padaku dengan wajah menyeramkan seperti itu. Apakah kau tidak sadar, bahwa kau telah menyakiti aku?. Apakah itu yang kau sebut dengan cinta?." Salah hatinya berkata seperti itu. Nafasnya naik turun karena menahan ketakutan yang bersemayam dan mengalahkan semua keberanian yang ia miliki.
"Karena aku mencintai raden, makanya aku menjadi seperti ini. Itu semua karena orang tua raden." Seakan-akan ia mengerti isi hati dari Raden Candana Arga, ia membalas ucapan itu.
"Maafkan aku. Sungguh maafkan aku, jika memang kau adalah wanita waktu itu. Maafkan kesalahanku, juga kesalahan ayahanda prabu." Dengan segenap hati, Raden Candana Arga meminta maaf pada sosok itu.
Tiba-tiba saja sosok itu terlihat sedih setelah mendengarkan kata maaf dari Raden Candana Arga. Hatinya terasa sangat sakit, setelah apa yang dilakukan oleh mereka padanya?. "Tidak semudah itu kau meminta maaf untuk mereka raden." Ia menangis terisak, dan ia tidak lagi dapat menahan dirinya. Sehingga suasana sekitarnya dipengaruhi hawa jahat. "Kata maaf tidak akan bisa menghidupkan hamba kembali raden." Ratapan kesedihan tergambar jelas di matanya, serta wajahnya saat ini.
"Kata maaf memang tidak bisa membuatmu kembali, tapi setidaknya berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya." Raden Candana Arga sangat memohon, matanya menatap ke arah ayahanda, juga ibundanya yang terlihat sedih karena keadaannya saat ini.
Kembali ke pertarungan.
"Musnah lah kau!." Dengan sekuat tenaga Putri Andhini Andita menebas Jin itu dengan menggunakan Pedang Panggilan Jiwa. Saat itu juga, Paraja Tengi yang merupakan tuannya berteriak kesakitan, sepertinya ia memang telah membuat perjanjian dengan jin itu.
"Apa yang terjadi padanya?." Senopati Malakala sangat terkejut dengan apa yang ia lihat. "Padahal aku tidak melakukan apapun. Tapi kenapa dia tiba-tiba saja berteriak kesakitan seperti itu?." Itulah yang dipikirkan oleh Senopati Malakala.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Sungguh rasanya tidak sanggup melihat keadaan Paraja Tengi seperti itu.
"Demi dewata yang agung. Sungguh sangat menyeramkan sekali." Senopati Malakala terlihat bergidik ngeri atas apa yang ia lihat saat ini. "Apakah ia telah meninggal nimas?." Senopati Malakala hanya ingin memastikannya. Ia tidak melihat pergerakan lagi dari Paraja Tengi setelah berteriak kesakitan.
"Sepertinya begitu gusti patih. Sangat disayangkan sekali." Putri Andhini Andita merasa simpati dengan apa yang terjadi. "Ia meninggal karena terikat kontrak dengan jin itu. Sebagai gantinya ia juga harus mati." Putri Andhini Andita melihat bagaimana awalnya itu terjadi. "Sungguh malang sekali nasibnya. Demi melampiaskan rasa sakit hati setelah kehilangan orang yang ia cintai, ia rela menumbalkan dirinya sendiri pada jin." Ingin rasanya Putri Andhini Andita menangis setelah apa yang ia lihat. "Rasa sakit yang sangat dalam, apalagi keadilan yang ia inginkan hanyalah bualan semata, sehingga 8a mencarinya sendiri dengan cara yang tidak wajar. Sungguh tidak adil atas apa yang ia dapatkan." Putri Andhini Andita dapat merasakannya. Bagaimana Paraja Tengi mencari kekuatan untuk mendapatkan kebenaran dari kematian anaknya.
__ADS_1
"Maafkan aku. Karena aku tidak bisa membantumu waktu itu." Senopati Malakala merasa berdosa, ia tidak menyangka jika seseorang akan melakukan itu demi orang yang ia cintai?.
"Kita harus bergegas ke bilik raden candana arga. Karena masih ada satu lagi yang harus kita urus gusti senopati." Putri Andhini Andita menguatkan kembali hatinya. Ia mencoba menerima apa yang telah ia lihat, meskipun terasa sangat sakit.
"Baiklah nimas, mari." Senopati Malakala segera menyusul Putri Andhini Andita yang telah berjalan duluan meninggalkan tempat. Apakah Raden Candana Arga tidak bisa terbebas dari cengkraman jin?. Hanya waktu yang akan menjawabnya.
...***...
Kembali ke istana Kerajaan Melarang.
Sosok menyeramkan itu masih saja berusaha meyakinkan Raden Candana Arga, bahwa ia sangat mencintainya. Bahkan dengan sosoknya yang mengerikan saat ini, ia masih saja memiliki perasaan yang sangat dalam pada Raden Candana Arga.
"Aku mohon, jangan seperti itu. Aku mohon dengarkan apa yang aku katakan." Raden Candana Arga terlihat sangat sedih, atau lebih tepatnya ketakutan dengan apa yang ia rasakan?.
Duakh!.
Tiba-tiba saja pintu bilik Raden Candana Arga terbuka dengan paksa, membuat Prabu Candana Kumara dan Ratu Ayundari Paramita terkejut.
"Hei!. Kau!. Apa yang sedang kau lakukan di sini?!. Bukankah aku telah mengusir mu?!." Bentak Prabu Candana Kumara dengan suara keras. Hatinya memanas saat melihat Putri Andhini Andita yang masih saja berada di sini?. Namun Putri Andhini Andita tidak menanggapinya. Ia justru mendekati Raden Candana Arga yang masih ketakutan. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1