KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
MEMBUJUK


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita semakin mendekati Raden Candana Arga. Tentunya itu membuat Prabu Candana Kumara sangat murka atas apa yang telah dilakukan oleh Putri Andhini Andita.


"Hei!. Apakah kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan, hah?!." Ia benar-benar geram atas apa yang dilakukan Putri Andhini Andita. Hampir saja menyerang Putri Andhini, jika tidak ditahan oleh Senopati Malakala.


"Apa yang kau lakukan senopati malakala?!. apakah kau ingin menentang raja, hah?." bentaknya dengan suara keras.


"Kanda prabu, orang asing itu mendekati putra kita. dinda yakin ia memiliki niat yang tidak baik pada putra kita kanda." Ratu Ayundari Paramita malah menuduh yang tidak-tidak terhadap Putri Andhini Andita.


"Lihatlah raden, bahkan mereka masih saja berburuk sangka pada orang lain. Apakah dengan sikapnya yang seperti itu, hamba masih bisa memaafkannya raden?." Sosok itu sangat tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Prabu Candana Kumara.


"Tenanglah nini. Jangan nini turuti kemarahan nini." Putri Andhini Andita mencoba menenangkan sosok itu.


"Siapa kau?. Jadi kau bisa melihat ku?." Ia sangat terkejut, karena ada seseorang yang bisa melihatnya. Begitu juga dengan Prabu Candana Kumara dan Ratu Ayundari Paramita.


"Nimas putih bisa melihat makhluk gaib gusti prabu. Bahkan bisa melihat apa yang telah gusti prabu lakukan pada nimas bening permata di hari itu." Senopati Malakala sedikit menjelaskannya.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan senopati malakala?. Kau tidak usah mengarang cerita!. Atau kau yang mengatakan rahasia itu padanya!." Prabu Candana Kumara semakin marah, dan ia tidak percaya sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh Senopati Malakala.


Namun saat itu, tiba-tiba saja ruangan itu semakin gelap. Ruangan itu tertutup kabut hitam yang sangat pekat. Bukan hanya itu saja, Prabu Candana Kumara dan Ratu Ayundari Paramita terpental, menabrak dinding yang ada di belakang mereka.


"Gusti prabu!. Gusti ratu!." Senopati Malakala terkejut melihat itu.


"Mereka memang bukan manusia!. Mereka lebih parah dari jin!. Hari mereka telah membatu!." Suara itu terdengar sangat menyeramkan, sama halnya ketika ia menampakkan diri dihadapan mereka semua.


"Hiya!. Kanda prabu!." Ratu Ayundari Paramita sangat ketakutan melihat sosok itu. Ia memeluk lengan Prabu Candana Kumara untuk menghilangkan rasa takut yang ia rasakan saat ini.


"Demi dewata yang agung. Apakah makhluk itu yang membuat anakku tidak bisa berjalan?." Prabu Candana Kumara terlihat ketakutan dengan sosok yang menyeramkan itu.


"Ya, raja kejam itulah yang telah membuat aku seperti ini." Akhirnya sosok itu menangis mengingat apa yang terjadi padanya di masa lalu. "Aku seperti ini karena dia. Aku terikat oleh cinta yang aku rasakan pada raden candana arga. Orang yang aku agungkan sepanjang hariku, serta orang yang aku agungkan di setiap langkahku. Tapi aku malah berakhir seperti ini." Begitu dalam perasaan cinta yang ia rasakan, sehingga air matanya mengalir begitu saja.


"Karena itulah, aku mohon padamu nini. Ikhlaskan lah atas apa yang terjadi, supaya nini bisa kembali dengan tenang. Hanya Allah SWT lah tempat nini kembali." Putri Andhini Andita mencoba untuk membujuk Bening Permata. "Memang terasa sangat menyakitkan, tapi aku yakin nini akan mendapatkan kebahagiaan yang telah ditentukan. Nini harus percaya padaku. Jangan siksa diri nini lebih jauh lagi." Putri Andhini bahkan sampai menangis.


"Kenapa kau begitu peduli padaku?. Kau bukan siapa-siapa bagiku. Biarkan aku bersama raden candana arga. Apakah kau juga ingin menghalangiku?." Kali ini raut wajahnya terlihat sangat gahar.

__ADS_1


"Tolong bantu aku. Aku tidak kuat lagi. Hawanya sangat menekan tubuhku, sehingga aku tidak bisa bergerak." Raden Candana Arga melirik ke arah Putri Andhini Andita.


"Apakah nini tidak kasihan pada orang yang nini cintai?. Apakah nini tidak merasa kasihan?." Putri Andhini Andita mencoba memancing sisi lembut dari wanita itu. "Perasaan cinta memang sangat menyakitkan nini. Apalagi karena perbedaan, tapi percayalah. Cinta di dunia ini tidak hanya satu, namun banyak macam cinta yang kita rasakan. Bahkan cinta pada diri sendiri." Putri Andhini Andita kembali mencoba untuk menyentuh perasaan Bening Permata.


Sementara itu Prabu Candana Kumara, Ratu Ayundari Paramita, dan Senopati Malakala hanya menyimak saja apa yang terjadi di depan mereka saat ini.


"Apa yang kau katakan?. Bagaimana caranya mencintai diri sendiri?. Kau jangan membuat aku marah!." Ia terlihat sangat tidak bersahabat sama sekali.


"Cintai diri sendiri, baru mencintai orang lain, itu ada pada diri kita sendiri." Putri Andhini Andita tersenyum kecil. "Namun saat ini nini tidak mencintai diri nini sendiri. Karena perasaan cinta yang Nini rasakan pada saat ini meninggal, membuat hawa jahat menyambut perasaan dengki itu. Perasaan benci yang membuat jiwa nini tertahan, dan mudah dirasuki oleh jin. Itulah kenapa nini tidak bisa mencintai diri sendiri, dan justru malah menyiksa diri sendiri. Itulah kenapa nini tidak bisa kembali dengan baik." Putri Andhini Andita benar-benar menangis saat melihat semua melalui tatapan mata kosong itu. "Nini telah melalui hal yang sangat menyedihkan." Putri Andhini Andita sampai menangis terisak saat melihat itu semua. "Tapi nini masih memiliki bentuk kebahagiaan, ketika nini merasakan perasaan cinta. Jika nini ingin kembali dengan keadaan baik, maka nini rasakan kembali perasaan cinta itu. Pada siapa nini jatuh cinta, maka nini bisa mengatakannya." Putri Andhini Andita mengatakannya dengan hati-hati. Sehingga menyentuh perasaan Bening Permata. Jika dilihat dari raut wajahnya, wanita malang itu benar-benar mengerti apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita.


Raut wajahnya terlihat ketika ia hidup, wajah yang sangat cantik?. "Lihatlah nini. Nini sangat cantik sekali. Karena nini dapat merasakan perasaan cinta." Putri Andhini Andita sangat senang, ia tidak menyangka dapat menyentuh perasaan Bening Permata.


"Pada dasarnya aku adalah wanita yang cantik. Hanya saja orang-orang berhati busuk melihat ku dengan wajah yang sangat buruk rupa." Ia menyentuh wajahnya dengan pelan.


"Ya, nini benar. Tapi nini adalah wanita yang sangat cantik. Cantik sekali, bahkan bidadari khayangan sangat iri dengan kecantikan nini." Putri Andhini Andita menghapus air matanya.


"Terima kasih nini. Kau sangat baik sekali, sangat baik sekali." Bening permata tersenyum kecil, rasanya ia tidak percaya jika ia akan menjadi secantik itu saat merasakan perasaan cinta. Tapi apakah hanya sampai di situ saja masalahnya?. Apakah tidak ada pertarungan?. Semudah itukah?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2