KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
KETEGUHAN HATI


__ADS_3

...***...


Sukma Dewi Suarabumi terlihat sangat sedih, karena ia menjadi saksi bagaimana rasa sedih dan kebimbangan yang dirasakan oleh Putri Dianti Cakrawati saat itu. "Ia menderita dengan perasaan yang ia rasakan. Begitu juga dengan aku andhini andita." Air mata Sukma Dewi Suarabumi menetes membasahi pipinya. Perasaan sakit yang dirasakan oleh Putri Dianti Cakrawati saat itu, seakan mengulang kembali ingatannya pada kejadian yang ia alami. "Perasaan yang membuatnya menderita, hingga ia tidak bisa merasakan dirinya sendiri. Kesakitan yang ia rasakan pada saat itu telah membuat hatiku sakit. Seakan-akan aku mengulang kembali kejadian itu melalui gusti putri dianti cakrawati." Sukma Dewi Suarabumi tidak dapat menahan tangisnya. "Perasaan cinta yang tidak seharusnya muncul di hatinya, tapi dia malah mencintai orang yang tidak seharusnya ia cintai. Begitu juga denganku." Ia menekan perasaan sakit itu di dalam hatinya. "Aku yakin kau juga merasakan perasaan itu, kan?. Aku yakin kau merasakan itu andhini andita." Sukma Dewi Suarabumi mengatakan apa yang ia rasakan saat itu.


"Gusti putri." Putri Andhini Andita juga dapat merasakan itu. "Sungguh kisah cinta yang sangat menyakitkan." Ia juga hampir menangis ketika melihat itu. Perasaannya yang tidak bisa ia kendalikan. "Tentunya hamba merasakannya gusti putri. Perasaan yang tidak bisa hilang begitu saja." Putri Andhini Andita dapat merasakannya. Perasaan sesak ketika mengetahui orang yang kau cintai itu adalah adik kandungmu sendiri. Sangat menyakitkan lagi, jika perasaan itu sangat sulit untuk dihilangkan begitu saja.


"Maafkan aku, jika aku telah membawa kutukan yang sangat menyakitkan bagi keluarga bahuwirya. Maafkan aku andhini andita." Sukma Dewi Suarabumi menjatuhkan tubuhnya, kekuatannya seakan-akan lenyap, sehingga ia tidak dapat menopang tubuhnya lagi.


"Gusti putri!." Putri Andhini Andita spontan mendekati Sukma Dewi Suarabumi. Ia sangat terkejut tiba-tiba saja melihat Sukma Dewi Suarabumi dalam keadaan seperti itu.


"Sungguh maafkan aku andhini andita." Sukma Dewi Suarabumi menangis sedih. "Bagaimana mungkin aku memberikan kutukan seperti itu pada keturunan gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta yang telah berbaik hati menyelamatkan sukma ku agar tidak gentayangan. Tapi apa yang telah aku lakukan?!." Hatinya sangat sedih menyaksikan mereka yang menggunakan pedang panggilan jiwa pedang pembangkit raga sukma dewi suarabumi.


"Apa yang gusti putri katakan?!. Gusti putri tidak boleh berkata seperti itu!." Putri Andhini Andita tidak menyangka akan melihat sisi lemah dari Sukma Dewi Suarabumi. Ternyata ia memang memperhatikan semua yang menggunakan Pedang Pembangkit Raga Sukma Dewi Suarabumi. Jika tidak, mana mungkin ia merasakan perasaan sakit itu.


"Andhini andita." Sukma Dewi Suarabumi memeluk Putri Andhini Andita dengan eratnya, tentunya Putri Andhini Andita sangat terkejut.


"Gusti putri?. Jangan menangis. Tenanglah gusti putri." Putri Andhini Andita juga dapat merasakan kesedihan itu. "Kita semua telah merasakannya. Kita memiliki nasib percintaan yang sama." Putri Andhini Andita berusaha untuk tersenyum kecil, meskipun hatinya saat ini sedang sesak.


"Maafkan aku, jika aku membawakan kutukan padamu andhini andita." Sungguh, hatinya sangat sedih. Perasaan sakit, perasaan menderita dikala itu. Kenapa harus dirasakan juga oleh pengguna pedang pembangkit raga sukma dewi suarabumi. "Karena itulah kau harus kuat dengan perasaan hatimu!. Jangan kau turuti perasaan sesat itu. Kau jangan sampai jatuh hati pada adikmu sendiri!." Perasaan sesak yang membuatnya menderita, sehingga ia hampir saja tidak bisa bernafas dengan baik.


"Tenanglah gusti putri. Hamba yakin eyang prabu tidak mungkin berniat mencelakai keturunannya. Eyang prabu pasti memiliki penjelasan, serta kita yang harus mengendalikan perasaan itu. Karena itulah gusti putri jangan menyalahkan diri sendiri." Putri Andhini Andita mencoba untuk menenangkan Sukma Dewi Suarabumi yang sedang menangis sedih mengingat masa lalunya, serta menyaksikan apa saja yang telah dilalui oleh beberapa wanita yang telah menggunakan pedang Panggilan Jiwa Pedang Pembangkit Raga Sukma Dewi Suarabumi.

__ADS_1


"Sepertinya kau telah menjadi wanita yang sangat kuat andhini andita. Syukurlah." Sukma Dewi Suarabumi memeluk Putri Andhini Andita. Ia berusaha untuk menahan tangisnya. "Itulah yang aku harapkan andhini andita. Jadilah kuat, jangan sampai kau jatuh dalam persamaan cinta yang membuatmu pada lingkaran penderitaan." Sukma Dewi Suarabumi hanya tidak ingin Putri Andhini Andita merasakan perasaan itu.


"Hamba akan berusaha untuk menjadi wanita yang sangat kuat. Hamba akan berusaha gusti putri." Putri Andhini Andita tersenyum lembut. Ia mengerti apa yang dikatakan Sukma Dewi Suarabumi. Sebagai seorang wanita, bukan hanya kuat fisik saja untuk bertahan dari serangan orang yang berniat jahat. Tetapi kuat hati juga, jika hati lemah maka akan jatuh dalam perasaan yang tidak karuan. Dan parahnya lagi akan membunuh diri sendiri dalam kehancuran.


"Memang sangat sakit, menahan perasaan cinta pada seseorang, apalagi orang yang kau cintai adalah adikmu. Orang yang tidak seharusnya kau cintai. Tapi kenapa perasaan itu ada?. Sehingga melahirkan kesedihan yang mendalam. Astaghfirullah hal'azim ya Allah, berikan kami kekuatan hati agar tidak menuruti kesesatan dunia dalam perasaan hati mencintai seseorang secara berlebihan." Dalam hati Putri Andhini Andita berusaha untuk kuat, meskipun sebenarnya ia tidak kuasa melihat Sukma Dewi Suarabumi seperti ini. Wanita yang biasanya menampilkan raut wajah dingin, cuek, serta tidak peduli dengan perasaan orang lain, namun siapa sangka hari ini menangis dan meminta maaf karena menganggap dirinya sebagai pembawa kutukan malang itu.


Setidaknya Putri Andhini Andita mengetahui, jika bukan hanya dirinya saja yang merasakan perasaan jatuh cinta pada adiknya sendiri, ia tidak menyangka bibinya Putri Dianti Cakrawati juga mengalaminya?. Bahkan mengantarkan pada kematian yang sangat menyakitkan. "Mungkin aku akan berkahir seperti itu, jika aku terus memaksakan diri untuk mencintai rayi prabu." Dalam hatinya mencoba untuk tetap kuat. "Aku harus bisa menerima raden jatiya dewa di dalam hatiku. Karena ia adalah laki-laki yang sangat baik. Bahkan rela melakukan apa saja demi diriku, aku harus biasa berubah. Karena pada dasarnya manusia ini tidak ada yang setia. Hatinya bisa bercabang kapan saja. Aku yakin aku bisa melupakan perasaanku pada rayi prabu." Putri Andhini Andita telah menguatkan tekadnya. Tapi apakah ia bisa melakukan itu?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


...***...


Keesokan harinya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengucap salam pada kakaknya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang menyapa kakaknya terlebih dahulu.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, rayi prabu." Jawab Putri Andhini Andita dengan senyuman ramah. "Sepertinya rayi prabu hendak menuju ruang pribadi raja." Putri Andhini Andita sedikit basa-basi.


"Seperti biasanya yunda. Tentunya aku akan ke ruang pribadi raja untuk memeriksa beberapa hal yang telah aku siapkan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil.


"Apakah aku menganggu mu rayi prabu?. Apakah ada waktu sebentar?." Ya, memang ada hal yang ingin disampaikan oleh Putri Andhini Andita pada adiknya.


"Untuk yunda tentu saja ada." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit bercanda. Sepertinya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyadari ada yang ingin disampaikan kakaknya. Karena itulah ia ingin mendengarkan apa yang ingin dikatakan kakaknya. "Apakah yunda telah menemukan jawaban dari apa yang yunda tanyakan pada ayahanda prabu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih penasaran dengan apa yang ditanyakan kakaknya.

__ADS_1


"Aku telah menemukan jawaban itu melalui gusti putri sukma dewi suarabumi. Aku telah mendapatkan jawabannya rayi prabu." Dengan senyuman ramah ia menjawab pertanyaan adiknya. "Karena itulah aku telah memutuskan untuk mengatakannya padamu rayi prabu." Putri Andhini Andita telah menguatkan hatinya untuk mengatakan pada adiknya. Ia telah memutuskannya setelah ia berpikir cukup lama.


"Lalu apa yang akan yunda lakukan setelah mendapatkan jawabannya?. Semoga yunda tidak gegabah dalam mengambil keputusan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat mencemaskan keadaan kakaknya. Perasaan cinta yang tidak mudah untuk dikendalikan, bahkan lebih menakutkan dari sekedar berhadapan dengan ratusan prajurit ketika perang. "Tapi aku yakin yunda telah membulatkan tekad yunda, bahwa yunda akan melakukannya dengan sepenuh hati." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat melihatnya dari raut wajah kakaknya.


"Aku telah menguatkan hatiku rayi." Putri Andhini Andita tersenyum kecil. "Aku sangat berterima kasih atas apa yang telah kau lakukan padaku." Lanjutnya lagi. "Jika aku pikir-pikir lagi. Ketika kau menjadi jaya satria ketika itu, aku hanya tersentuh dengan apa yang kau lakukan." Ya, Putri Andhini Andita dapat merasakan itu. "Mungkin, dibagikan diriku yang lain tanpa sadar telah mengagumi apa yang kau lakukan, sehingga tanpa sadar pula, aku telah jatuh hati padamu. Ingin mengatakan perasaanku tanpa pikir panjang. Aku rasa itu hanyalah perasaan yang tidak harus ada. Perasaan godaan yang mungkin tumbuh tanpa aku inginkan, namun membuncah, menguji kesadaran serta kekuatan hatiku untuk menyadari, bahwa orang yang aku cintai itu adalah adikku." Putri Andhini Andita telah mengatakan pada adiknya. Meskipun perasaan sesak yang mendalam, namun harus ia tahan. "Maafkan aku, karena terlalu larut dalam perasaan cinta itu. Tapi setidaknya dari situ aku menyadari, aku bukanlah wanita berhati batu hanya sekedar untuk merasakan perasaan cinta." Putri Andhini Andita malah tertawa kecil, tertawa lepas, hingga terlihat dari wajahnya yang sangat ayu itu.


"Apa yang yunda katakan?. Yunda ternyata telah berubah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga tertawa kecil mendengarkan penjelasan dari kakaknya.


"Ya, bisa jadi aku telah berubah setelah apa yang aku lihat, dan yang aku rasakan." Balas Putri Andhini Andita. "Semuanya hanyalah perasaan semu saja, tidak membuatku merasa lebih baik jika aku terlalu memaksakan diri hanya untuk memiliki dirimu rayi prabu." Senyuman itu menunjukkan bahwa dirinya telah merelakan semuanya. Termasuk perasaan cinta yang sempat membuncah di dalam dirinya.


"Jadi yunda tidak mencintaiku lagi?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memang ingin menguji kesabaran dari Putri Andhini Andita. "Sedih sekali jika yunda tidak memiliki perasaan cinta padaku." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana malah dramatis, hanya untuk menguji jika kakaknya memang tidak lagi memiliki perasaan apapun padanya selain perasaan cinta sesama saudara.


"Ya, tentu saja aku memiliki perasaan cinta padamu. Tapi cinta seorang yunda pada rayi nya. Apakah seperti itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa aku adalah wanita berhati batu?." Tawa mereka begitu lepas, tidak ada beban lagi. "Aku tidak mencintaimu lagi cakara casugraha!. Ahaha!. Sayang sekali cakara casugraha!. Sepertinya aku telah berpaling darimu!." Putri Andhini Andita melepaskan semua perasaannya yang ia tahan selama ini. Perasaan yang tidak biasa terhadap saudaranya sendiri.


"Yunda andhini andita penuh dengan cinta. Jika tidak memiliki cinta, mana mungkin ada seorang pangeran gagah berani yang mencoba menarik perhatiannya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tertawa geli dengan ucapan kakaknya. "Jika yunda tidak memiliki perasaan cinta, mana mungkin ada seorang pangeran rela menunggu yunda yang baik hati ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang menuju kakaknya.


"Ahaha!. Kau ini bisa saja rayi prabu." Putri Andhini Andita malah tertawa cekikikan mendengarkan apa yang dikatakan adiknya.


Tanpa mereka sadari, saat itu Raden Jatiya Dewa mendengarkan ucapan mereka. Ia tidak sengaja melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Putri Andhini Andita yang sedang berbincang-bincang tadinya. "Jadi orang yang dicintai oleh andhini andita sesungguhnya adalah gusti prabu asmalaraya arya ardhana?." Entah kenapa hatinya sangat sakit mendengarkan percakapan mereka?. "Pantas saja tidak ada yang bisa menggantikan gusti prabu dihatinya. Rasanya aku sangat cemburu sekali." Ia malah dramatis?. "Andhini andita!. Aku pasti akan membuktikan, jika orang yang seharusnya kau cintai adalah aku!. Bukan gusti prabu!." Raden Jatiya Dewa telah berjanji akan membulatkan tekadnya, bahwa ia tidak akan menyerah begitu saja hingga ia mendapatkan Putri Andhini Andita. Apakah ia mampu melakukan itu?. "Aku akan membuktikan bahwa aku lah satu-satunya laki-laki yang akan menjagamu dengan baik." Ia sangat yakin dengan ucapannya itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2