KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
PERTARUNGAN


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita dan Putri Dewi Anjarwati baru saja sampai di perbatasan Kota Raja. Keduanya sangat terkejut melihat keadaan Raden Jatiya Dewa dan Patih Rangga Prahaja yang dihajar oleh Putri Rara Saraswati. Keduanya langsung berlari dengan menggunakan jurus meringankan tubuh, sehingga keduanya seperti melayang di udara. Keduanya menahan serangan Putri Rara Saraswati dengan kaki mereka, sehingga tubuh Putri Rara Saraswati tertahan. Mereka melihat Putri Rara Saraswati hendak menghantam Raden Jatiya Dewa dengan pukulan yang mematikan, akan tetapi Putri Andhini Andita dan Putri Dewi Anjarwati menyadarinya.


"Kurang ajar!. Berani sekali kalian ikut campur!." Putri Rara Saraswati sangat marah melihat kedatangan mereka berdua. Ia kibas kuat kaki Putri Andhini Andita yang menahan bahu kirinya, begitu juga dengan kaki Putri Dewi Anjarwati yang menahan bahu kanannya. Tentunya keduanya menyadari kibasan itu, hingga keduanya segara melompat, dan tak lupa memberikan sebuah tendangan ke arah tubuh Putri Rara Saraswati, hingga membuatnya menjauh.


Duakh!!!.


"Kegh!."


Putri Rara Saraswati terjajar beberapa langkah ke belakang, ia meringis sakit karena tendagan ganda itu.


"Raden." Putri Andhini Andita terlihat mencemaskan keadaan Raden Jatiya Dewa.


"Gusti patih." Putri Dewi Anjarwati membantu Patih Rangga Prahaja bangun. Sepertinya keadaan mereka tidak baik-baik saja.


"Heh!. Kebetulan sekali. Kau datang untuk mengantar nyawamu andhini andita!." Putri Rara Saraswati menunjuk ke arah Putri Andhini Andita dengan amarah yang memuncak.


"Hidup dan matiku, hanya Allah SWT. Kau tidak berhak untuk menentukan kematianku!." Putri Andhini Andita juga marah.


"Berhati-hatilah gusti putri. Dia memiliki jurus yang sulit untuk diatasi." Raden Jatiya Dewa tampak kesakitan. Tubuhnya penuh luka, bahkan ada bekas darah segar di sudut bibirnya. Entah kenapa amarah Putri Andhini Andita memuncak saat melihat itu.


"Majulah kau wanita busuk!. Mari kita bertarung hingga salah satu dari kita tewas!." Putri Rara Saraswati menantang Putri Andhini Andita.


"Cukup!. Kau sangat keterlaluan sekali rara saraswati!. Sebaiknya kau menyerahkan diri!." Patih Rangga Prahaja mencoba memperingati kembali anaknya. Meskipun tubuhnya kesakitan setelah dihajar tanpa ampun oleh anaknya sendiri. "Kau bukanlah anak yang seperti ini sebelumnya. Kembalilah ke jalan yang lebih baik lagi. Ayahanda akan melakukan apapun untukmu. Karena itulah mari ikuti ayahanda ke istana untuk meminta maaf atas apa yang telah kau lakukan pada gusti putri andhini andita juga gusti prabu asmalaraya arya ardhana." Dengan perasan iba Patih Rangga Prahaja membujuk anaknya.


Tapi?.


"Diam kau rangga prahaja!. Kau pikir aku melakukan ini semua karena siapa, hah?. Kau lah yang telah membuat aku seperti ini!. Kau jangan lupa atas apa yang telah kau lakukan pada ibundaku!." Rasa sakit hati atas apa yang ia saksikan di masa kecilnya membuat ia menjadi seperti ini sekarang?. "Kau pikir apa yang telah aku lakukan semua ini karena salah siapa?. Kau yang telah membuat aku melakukan ini semua!. Kau tidak usah menjadi seorang ayah yang baik di hadapanku sekarang!." Hatinya terasa iba atas apa yang terjadi di masa lalu.


"Aku mohon dengarkan aku. Aku adalah ayahandamu nak. Maafkan aku, sungguh maafkan aku." Ia juga menyesal, menyesal karena telah melakukan perbuatan bodoh itu.


"Diam!. Kata maaf mu tidak akan mengubah apapun terhadap diriku!. Saat ini aku sedang berada di puncak!. Aku tidak akan mengampunimu!." Amarahnya semakin memuncak. "Setelah aku membunuh wanita busuk itu!. Aku akan membunuhmu!. Membunuh kalian semua!." Suaranya terdengar semakin meninggi, menandakan suasana hatinya sedang bergejolak luar biasa.


"Raden. Mundur lah. Serahkan masalah ini padaku." Bisik Putri Andhini Andita, sehingga Raden Jatiya Dewa melihat ke arahnya. Tatapan itu sangat serius, dan sangat menusuk.


"Baiklah. Tapi aku harap kau berhati-hati andhini andita." Raden Jatiya Dewa hampir saja bungkam saat melihat raut wajah Putri Andhini Andita yang sangat serius seperti itu.

__ADS_1


"Nimas dewi. Tolong jaga mereka, biar saya yang melayani kemarahannya. Anggap saja ini adalah pertarungan untuk balas dendam dan sakit hatinya pada saya." Kali ini Putri Andhini Andita menatap serius ke arah Putri Dewi Anjarwati.


"Baiklah nimas andhini andita. Tapi aku harap kau berhati-hati. Sepertinya jurus yang ia miliki cukup berbahaya." Putri Dewi Anjarwati mengerti apa yang ingin dilakukan oleh Putri Andhini Andita.


Setelah itu Putri Andhini Andita maju ke depan. Sorot matanya begitu tajam, dan menatap lurus ke arah Putri Rara Saraswati. "Heh!." Ia mendengus kesal, begitu ia berdiri di hadapan Putri Rara Saraswati. "Tidak begitu seharusnya kau bersikap di hadapan seorang laki-laki. Apakah kau lupa caranya?. Hanya karena kemarahan bodoh yang kau rasakan saat ini?." Dengan santainya Putri Andhini Andita berkata seperti itu. Seakan-akan ia sedang mengajari Putri Rara Saraswati untuk bersikap baik di hadapan laki-laki.


"Diam kau wanita busuk!. Kau tidak usah banyak bicara!." Semakin sakit, itulah yang ia rasakan. Hingga amarahnya semakin meledak-ledak. "Aku pasti akan membunuhmu, setelah apa yang kau lakukan padaku!. Kau telah merusak wajahku dengan mantram aneh, dan kau harus membayarnya dengan nyawamu!." Hatinya semakin panas, ia tidak terima dengan apa yang tejadi.


"Harusnya kau segera bertaubat. Allah SWT telah memberikan kesempatan padamu untuk memperbaiki kesalahan yang telah kau lakukan, tapi kau malah menambah masalah." Putri Andhini telah siaga dengan kuda-kudanya. Ia menyadarinya, ia menyadari ada sosok yang tak kasat mata yang saat ini sedang berlari ke arahnya.


Duakh!!!.


Mereka semua melihat Putri Andhini Andita memukul sesuatu, hingga terdengar suara pukulan yang cukup keras disertai teriakan yang memilukan. Tentunya mereka semua terkejut, tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Putri Andhini Andita.


"Kau!. Kau dapat melihatnya?." Putri Rara Saraswati sedikit gugup. "Bagaimana mungkin dia bisa melihat jin itu?." Dalam hati Putri Rara Saraswati mulai gentar.


"Hanya ada beberapa kemungkinan seseorang bisa melihat makhluk gaib. Jika kau ingin mengetahui kenapa aku bisa melihatnya rara saraswati." Kali ini Putri Andhini menghadiahkan sebuah tendangan kuat, sehingga jin itu menjauh darinya setalah mendapatkan pukulan kuat darinya. Jin itu terjajar menjauh, tubuhnya melayang dan menghilang entah kemana setelah mendapatkan serangan Putri Andhini Andita.


"Siapa dia sebenarnya?. Sepertinya dia bukan tuan putri biasa." Dalam hati Patih Rangga Prahaja memperhatikan itu dengan heran.


"Pertama. Dia yang bisa melihat jin adalah dia yang memiliki pegangan di dalam tubuhnya. Namun tidak semuanya dapat melakukan itu." Matanya menatap ke arah Raden Jatiya Dewa. "Meskipun raden jatiya dewa memiliki pegangan jin, namun ia tidak bisa melihat jin itu sendiri." Putri Andhini Andita dapat melihat sosok itu. Setelah itu ia melihat ke arah Putri Rara Saraswati. "Sementara aku. Aku melihat jin itu karena aku memiliki keturunan yang memang bisa melihatnya. Eyang prabu bahuwirya jayantaka byakta adalah raja yang bisa menguasai dua alam. Itulah kenapa eyang prabu bahuwirya jayantaka ditakuti raja-raja di kerajaan lain. Kemampuan yang tidak biasa, dan tidak semua raja memiliki kemampuan itu. Dan kemampuan itu ternyata diwariskan pada beberapa keturunannya yang mendapatkan pedang panggilan jiwa. Meskipun tidak semuanya. Namun yang lebih berkuasa lagi adalah rayi ku cakara casugraha. Itu lah alasan kenapa ia menjadi raja. Tapi aku tidak menyadarinya." Ucapnya lagi.


"Sedangkan kau!." Ia menunjuk ke arah Putri Rara Saraswati. "Alasan kau dapat melihat jin, karena kau bersekutu dengan jin. Kau telah melakukan kesalahan yang sangat merugikan dirimu sendiri dengan menumbalkan dirimu pada jin!." Amarahnya benar-benar telah memuncak.


"Diam kau wanita busuk!. Lebih baik kau maju saja! Hadapi aku!." Ia sudah tidak tahan lagi mendengarkan ucapan Putri Andhini Andita. "Hyah!." Akhirnya ia memutuskan untuk maju, menyerang Putri Andhini Andita duluan.


Terjadilah pertarungan antara Putri Andhini Andita dan Putri Rara Saraswati. Mereka benar-benar bertarung dengan sangat serius. Mempertahankan apa yang mereka anggap itu adalah kebenaran di dalam hati mereka. Sementara itu Raden Jatiya Dewa, Putri Dewi Anjarwati dan Patih Rangga Prahaja hanya melihat pertarungan itu dengan seksama.


"Apakah ini tidak apa-apa raden?. Membiarkan mereka bertarung?." Patih Rangga Prahaja merasa khawatir melihat keadaan itu. "Apa yang akan hamba jelaskan pada gusti prabu jika terjadi sesuatu pada gusti putri andhini andita, jika beliau terluka?." Ada kecemasan lain yang ia rasakan. Mengingat anaknya itu memiliki jurus-jurus berbahaya.


"Paman patih tenang saja. Gusti putri andhini andita bukan lah wanita yang lemah. Beliau adalah wanita yang sangat kuat, lebih kuat dari siapapun juga." Raden Jatiya Dewa tersenyum lembut, saat matanya melihat bagaimana pertemuan Putri Andhini Andita yang sedang berlangsung di depan matanya saat ini.


"Rayi." Dalam hati Putri Dewi Anjarwati dapat merasakan pujian yang sangat tulus dari hati adiknya. "Ternyata perasaan cintanya pada nimas andhini andita telah membuatnya menyadari, bahwa ada wanita yang tidak bisa ia tebak dan ia miliki semudah itu." Putri Dewi Anjarwati mengingat apa yang dikatakan oleh adiknya saat itu.


Kembali keingatan Putri Dewi Anjarwati mengenai adiknya, Raden Jatiya Dewa pada hari itu.


Raden Jatiya Dewa sangat kesal sekali. Karena ia selalu saja dijodohkan oleh ayahandanya dengan putri raja dari kerajaan terkenal.

__ADS_1


"Kenapa malah aku yang ingin dinikahkan ayahanda prabu dengan para putri raja yang hanya memandang fisik saja!. Bukankah raka antajaya yang seharusnya yang dinikahkan?. Bukan aku!." Raden Jatiya Dewa sangat marah karena apa yang terjadi, itu sangat merepotkan dirinya.


"Jangan berkata seperti itu rayi jatiya dewa. Ayahanda prabu melakukan itu semu demi kebaikan dirimu." Putri Dewi Anjarwati mencoba menenangkan adiknya. "Coba pikirkan dengan baik, mungkin ayahanda prabu hanya ingin kau hidup lebih baik."


"Jika hanya dinilai dari segi penampilan, wanita ataupun laki-laki itu sama saja. Pasti menginginkan yang sempurna di dalam hidupnya yunda. Tapi cinta itu banyak penilaiannya. Tapi mereka sangat mudah untuk ditebak, serta mudah sekali menerima cinta hanya karena memandang fisik. Mereka sangat mudah untuk dimiliki siapa saja, bahkan jika dilihat dari kekayaan, mereka akan rela menjadi selir raja sekalian. Aku tidak akan menerima wanita seperti itu yunda." Dengan sangat percaya diri ia berkata seperti itu?.


Putri Dewi Anjarwati sangat kesal mendengarkan apa yang dikatakan oleh adiknya. Hingga tanpa sadar ia malah mencekik adiknya sendiri. "Jangan seenaknya saja kau menilai wanita hanya karena perasaan hatimu yang membatu jatiya dewa!. Suatu saat nanti kau akan dikutuk oleh dewata agung, dimana kau akan merasa kesulitan mendapatkan wanita yang benar-benar kau cintai!." Dengan perasaan marah ia hampir saja membunuh adiknya pada saat itu.


Kembali ke masa ini.


Padahal itu hanyalah ucapan tidak sengaja, itu ia ucapkan karena kesal pada adiknya. Tapi entah kenapa ucapan itu seperti kutukan untuk adiknya?. "Maafkan aku rayi, saat itu aku hanya kesal saja padamu." Dalam hatinya meminta maaf pada adiknya.


Kembali ke pertarungan Putri Andhini Andita dan Putri Rara Saraswati. Sepertinya pertarungan mereka sangat sengit. Mereka bukan hanya menggunakan kekuatan fisik saja, akan tetapi juga tenaga dalam yang mereka miliki. Sesekali mereka menggunakan ilmu kanuragan yang mereka miliki. Benar-benar pertarungan yang tidak biasa, meskipun mereka adalah wanita. Namun jangan remehkan kekuatan fisik yang mereka miliki.


Duakh!!!.


Keduanya beradu tendangan di udara, saling menyalurkan tenaga dalam mereka ke kaki mereka agar lebih bertenaga. Tapi bukan hanya itu saja, ketika kaki mereka menyentuh tanah, mereka saling mengadu tinju mereka dengan sangat kuat. Sehingga sesekali pukulan itu mengenai tubuh mereka?. Namun itu belum membuat mereka jatuh atau mundur barang setapak. Justru mereka semakin bersemangat untuk terus bertarung.


Duakh!.


Putri Rara Saraswati berhasil memukul pipi kiri Putri Andhini Andita.


Duakh!.


Putri Andhini Andita berhasil memukul pipi kanan Putri Rara Saraswati.


Mereka saling memukul satu sama lain, namun Putri Andhini Andita berhasil melayangkan sebuah sepakan dari arah kanan, sehingga Putri Rara Saraswati terjajar ke samping karena ia tidak sempat menahan sepakan itu.


"Kegh!." Putri Rara Saraswati meringis sakit, bahu kirinya terasa kesemutan setelah mendapatkan sepakan keras itu.


"Heh!. Katanya kau ingin membunuhku?. Apakah itu hanya sekedar ucapan saja?. Dimana nyali besar mu itu?. Apakah hanya sampai di situ saja kemapuan yang kau miliki?. Sangat disayangkan sekali." Putri Andhini Andita memancing kemarahan Putri Rara Saraswati.


"Diam kau wanita busuk!." Nafasnya naik turun karena amarah yang ia rasakan. "Pasti!. Aku pasti akan membunuhmu!." Dengan penuh amarah ia mengeluarkan pedang yang sangat aneh. Pedang yang selama ini ia sembunyikan di dalam tubuhnya?. Mereka semua terkejut melihat pedang aneh yang dipegang oleh Putri Rara Saraswati saat ini.


"Demi Dewata yang agung. Itu adalah pedang yang sangat berbahaya." Patih Rangga Prahaja semakin khawatir dengan keselamatan Putri Andhini Andita.


"Tenanglah paman patih." Raden Jatiya Dewa sebenarnya juga khawatir akan keselamatan Putri Andhini Andita.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah masalah itu akan semakin melebar hingga mempertaruhkan nyawanya mereka?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2