
...***...
Putri Andhini Andita sangat ingin mengetahuinya, ia ingin mengetahui bagaimana bibinya itu bisa jatuh cinta pada ayahandanya?. Ia juga tidak pernah berpikir, bahwa keturunan Bahuwirya sebelumnya pernah mengalami hal yang sama dengannya. Apakah itu karena mereka pemegang dari pedang panggilan jiwa pedang Pembangkit Raga Sukma Dewi Suarabumi?. Apakah itu adalah sebuah kutukan atau apa?. Putri Andhini Andita sangat ingin mengetahuinya. Kisah cinta antar saudara. Apakah itu sah dalam hal apapun?. Kenapa itu terasa sangat menyakitkan sekali?. Kenapa perasaan itu justru muncul pada saudara sendiri?. Itu yang ingin diketahui oleh Putri Andhini Andita dalam kisah ini.
"Tolong jawab pertanyaan dariku bibi. Apakah benar, bibi jatuh cinta ayahanda prabu?. Tapi kenapa bibi bisa jatuh cinta pada ayahanda prabu?." Rasanya ia ingin menangis karena perasaannya yang membuncah saat ini.
Namun ketika Sukma Putri Dianti Cakrawati ingin menjawabnya, Ratu Gendhis Cendrawati melihat anaknya yang terpaku di tempat. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Ada apa nak?. Apakah ada sesuatu?. Kenapa kau ada di sini?. Sebentar lagi mau masuk ashar." Ratu Gendhis Cendrawati terlihat mencemaskan anaknya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh ibunda." Jawabnya dengan perasaan bingung. Selain itu, matanya tidak lagi menangkap sosok Sukma Dianti Cakrawati. "Kemana bibi dianti pergi?. Kenapa bibi pergi begitu saja?." Dalam hatinya bertanya-tanya.
"Ada apa nak?. Apakah ada sesuatu?." Ratu Gendhis Cendrawati mengikuti kemana arah anaknya melihat.
"Oh, tidak ibunda. Tidak apa-apa." Putri Andhini Andita tidak mengatakan pada ibundanya, bahwa ia bisa melihat hal yang gaib. Ia hanya tidak ingin ibundanya terkejut dengan kemampuan yang ia miliki setelah dibuka oleh nenek Putih.
"Baiklah, kalau begitu mari kita sama-sama melaksanakan sholat ashar berjamaah." Ratu Gendhis Cendrawati mengajak putrinya untuk ke mushola.
"Mari ibunda." Putri Andhini Andita hanya pasrah saja. Mungkin ia akan mencarinya nanti. Ia masih penasaran dengan jawaban dari Putri Dianti Cakrawati. Atau ia bertanya pada ibundanya nantinya?. Apakah yang akan ia lakukan?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1
Raden Jatiya Dewa melangkah menuju mushola, karena ia juga ingin melaksanakan sholat ashar. Saat itu Putri Rara Saraswati malah mengikutinya.
"Maaf nimas. Sebaiknya kau jangan coba-coba mendekati aku yang telah mengambil air wudhu. Aku tidak mau wudhu ku batal hanya karena kau menyentuhku." Raden Jatiya Dewa memperingati Putri Rara Saraswati.
"Apa itu maksudnya?. Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu?. Selain itu, apa itu wudhu?. Aku tidak mengetahuinya sama sekali." Putri Rara Saraswati terlihat sangat marah.
"Sampai di sini saja. Kau tidak boleh masuk ke mushola dengan pakaian seperti itu." Raden Jatiya Dewa kembali mengingatkan Putri Rara Saraswati.
"Sebenernya apa yang kau inginkan?. Ini hanyalah rumah biasa!. Kenapa kau aku tidak boleh masuk?. Kenapa semua orang berkumpul di sini?. Sebenarnya ini tempat apa?!. Apa yang kalian lakukan dengan berkumpul di sini?!." Sungguh, Putri Rara Saraswati tidak mengerti sama sekali dengan apa yang dilakukan oleh mereka semua.
"Kami hendak melaksanakan sholat ashar berjamaah." Putri Andhini Andita datang bersama dengan Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Dewi Anindyaswari. Pakaian mereka sangat tertutup, tapi dan terlihat alim sekali. Berbeda sekali dengan Putri Rara Saraswati yang sangat terbuka?. "Kau tunggulah di sini. Tidak baik berpakaian seperti itu masuk ke dalam. Akan terlihat aneh dan asing bagimu. Nanti akan aku jelaskan padamu kenapa kami berkumpul di sini." Lanjutnya lagi. "Jatiya dewa. Masuklah terlebih dahulu, bukan kah kau harus mengumandangkan adzan?. Apalagi yang kau tunggu?. Jangan buat rayi prabu menunggumu." Putri Andhini Andita melirik ke arah Raden Jatiya Dewa.
"Baiklah. Kalau begitu aku masuk dulu." Raden Jatiya Dewa langsung meninggalkan tempat. Akan tetapi saat itu ia masih mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita.
"Tentu saja gusti putri. Hamba masih menjaga wudhu hamba dengan baik." Ia membalikkan badannya, dan memberi hormat pada Putri Andhini Andita.
"Baguslah. Kalau begitu kumandangkan adzan dengan lantang." Putri Andhini Andita tersenyum tipis, hampir tidak terlihat.
Raden Jatiya Dewa bergegas masuk, ia tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Karena waktu ashar telah masuk, dan kali ini ia menjadi Muazin nya.
__ADS_1
"Silahkan menunggu di luar dahulu. Nanti akan aku jelaskan padamu secara terperinci. Mohon pengertiannya untuk saat ini." Putri Andhini Andita berkata dengan baik.
"Baiklah. Kali ini aku akan mendengarkan apa yang kau katakan." Putri Rara Saraswati kali ini memilih mengalah.
"Mari Ibunda." Putri Andhini Andita mempersilahkan kedua ibundanya untuk masuk.
"Memangnya dia siapa nak?. Kenapa ibunda tidak mengetahui ada tamu di istana ini?." Ratu Gendhis Cendrawati bertanya karena penasaran.
"Benar nak. Katakan pada ibunda setelah sholat nanti." Begitu juga dengan Ratu Dewi Anindyaswari.
"Baiklah ibunda. Nanti ananda ceritakan pada ibunda." Putri Andhini Andita tentunya ingin mengatakannya pada ibunda.
Tak lama kemudian, terdengar suara adzan yang dikumandangkan oleh Raden Jatiya Dewa. Suaranya terdengar sangat lantang sekali, dan merdu.
"Apa yang dilantunkan raden jatiya dewa?. Suaranya sangat keras sekali. Apakah dia tidak merasa kesakitan mengeluarkan suara sekeras itu?." Putri Rara Saraswati penasaran dengan apa yang dilantunkan oleh Raden Jatiya Dewa. Akan tetapi, lambat laun Putri Rara Saraswati merasakan keanehan . Entah kenapa ia merasa kesakitan saat mendengarkan suara adzan itu.
"Kegh!." Ia tubuhnya terasa panas, seperti terbakar api yang tak kasat mata. "Sakit!. Kenapa tubuhku sangat sakit sekali!." Ia mengerang kesakitan. "Telingaku terasa sangat panas. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?!." Ia merasa heran, kenapa tubuhnya terasa panas?. Telinganya terasa sangat sakit?.
"Gusti putri. Sebaiknya untuk sementara waktu tinggalkan tempat ini!. Jangan dengarkan suara adzan itu!. Segera tinggalkan tempat terkutuk ini!." Sepertinya ada sosok gaib yang mendiami tubuh Putri Rara Saraswati. Sosok yang tidak bisa menerima suara adzan itu. Kenapa itu bisa terjadi?. Apakah makhluk itu adalah sebangsa jin jahat yang tidak bisa menerima kebaikan?. "Segera tinggalkan tempat ini!." Ia tidak tahan lagi dengan suara adzan itu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pergi dari sini!." Putri Rara Saraswati juga sudah tidak tahan lagi dengan apa yang ia dengar. Meskipun ia tidak mengerti sama sekali, namun ia menuruti yang dikatakan sosok yang berada di dalam tubuhnya. "Kurang ajar!. Ternyata andhini andita memang mengajarkan hal-hal yang tidak baik pada raden jatiya dewa. Yang dilantunkan raden jatiya itu pasti sihir." Dalam hatinya merasa aneh. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Kenapa ia merasa kesakitan saat mendengarkan suara kumandang adzan?. Temukan jawabannya. Salam penuh cinta.
...***...