KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
KATAKAN SAJA YANG TERJADI.


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita masih menunggu jawaban dari Senopati Malakala. Apakah laki-laki dihadapannya saat ini akan menjawab pertanyaannya itu?. "Karena ini menyangkut masalah hidup dan mati seseorang, maka gusti patih harus memikirkannya dengan baik-baik." Putri Andhini Andita bangkit dari duduknya. "Hamba akan menunggu jawabannya. Tapi secepat mungkin kita harus segera bertindak. Jangan sampai salah mengambil keputusan." Ucapnya sambil berjalan meninggalkan Senopati Malakala. "Maaf gusti patih. Karena telah larut malam, hamba harus beristirahat. Jika tidak mendapatkan jawaban sampai besok, hamba akan pergi meninggalkan kerajaan ini. Hamba tidak akan terlibat dalam hal yang mengerikan yang akan terjadi." Ia berusaha menahan perasaannya. "Terima kasih atas tumpangannya. Selamat malam gusti patih." Setelah berkata seperti itu ia benar-benar pergi meninggalkan Senopati Malakala yang tidak bisa berkata apa-apa.


"Haruskah aku percaya dengan apa yang ia katakan?." Senopati Malakala menghela nafasnya dengan lelahnya. "Tapi aku telah berjanji, bahwa aku akan menyembunyikan rahasia itu dari siapapun." Dalam hatinya tidak ingin ingkar janji. "Tapi nimas putih mengatakan, jika itu menyangkut hidup dan mati seseorang. Lalu apa yang harus aku lakukan?." Perasaanya benar-benar telah bergejolak, bercampur aduk, tidak karuan sama sekali.


"Jangan sampai salah mengambil keputusan." Itulah yang dikatakan Putri Andhini Andita tadi padanya.


Kembali ingatannya pada masa itu.


Raden Candana Arga, pangeran atau Raden terhormat di Kerajaan Melarang. Ketampanannya telah meluluhkan hati siapa saja yang memandangnya. Bahkan banyak kerajaan bawahan, atau Raja terhormat yang melamar atau secara terang-terangan mengatakan ingin menjadikan Raden Candana Arga menjadi menantu mereka. Tapi umur sang pangeran masih belum cukup untuk memasuki yang lebih dewasa lagi.


Ditambah lagi, Prabu Candana Kumara dan Ratu Ayundari Paramita yang sangat ketat dalam memilih menantu. Tidak semua lamaran yang datang padanya diterima begitu saja oleh mereka. Begitu banyak syarat jika ingin menjadi istri Raden Candana Arga. Syarat itu sangat tidak masuk akal, dan sangat dibuat-buat. Meskipun pada hakikatnya yang melamar itu adalah laki-laki, bukan wanita. Akan tetapi, karena Raden Candana Arga adalah satu-satunya anak yang mereka miliki, maka Prabu Candana Kumara tidak melarang siapapun saja yang menginginkan anaknya. Tapi tentunya dengan syarat yang telah mereka buat, bukan?.

__ADS_1


"Putraku adalah pangeran terhormat. Karena itulah aku tidak bisa menerima begitu saja jika seorang wanita yang ingin menjadi istrinya." Prabu Candana Kumara berkata seperti itu dihadapan mereka semua. Saat ini begitu banyak orang-orang terhormat yang berkumpul di alun-alun Istana hanya untuk mencalonkan diri sebagai istri dari Raden Candana Arga.


"Syarat pertama dia haruslah wanita yang sangat cantik." Prabu Candana Kumara menjelaskan pada mereka semua yang hadir. "Namun bukan hanya cantik wajahnya saja. Namun cantik perangainya." Lanjutnya lagi. "Aku tidak mau memiliki menantu buruk rupa, juga perangai buruk nantinya." Ia menatap mereka semua dengan tatapan serius. "Perhatian pada putraku, juga pada kami orang tuanya. Jika dia hanya menginginkan anakku saja, maka maaf saja. Aku akan membuat hidupnya lebih terhina dari kehidupannya yang sebelumnya." Sungguh, ia mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya?. Mereka semua sedikit tercengang dengan apa yang mereka dengar.


"Aku hanya menerima yang sesuai dengan syarat itu saja. Jika kalian merasa tidak mampu memenuhi syarat tersebut, sebaiknya urungkan saja niat busuk kalian. Maka hukuman mati akan terhindar dari kalian." Tanpa perasaan takut ia berkata seperti itu pada mereka semua yang hadir. Tentunya mereka akan memikirkannya kembali, karena rasanya tidak masuk akal, meskipun itu adalah sikap perhatian pada anaknya. Tetapi itu sangat berlebihan sekali, seperti memiliki anak perempuan dari pada anak laki-laki.


Namun saat itu, tidak ada yang menduga sama sekali. Jika ada seorang gadis buruk rupa masuk ke alun-alun Istana dengan sangat percaya diri berkata. "Hamba sangat bersedia menjadi istri dari raden candana arga." Suaranya terdengar sangat keras, sehingga ia menarik perhatian mereka semua. Sekaligus sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat atas penampilan gadis itu?.


"Hamba sangat bersedia sekali raden." Gadis dengan wajah aneh itu memberi hormat pada Raden Candana Arga, membuat mereka semua tidak percaya. "Terima lah hamba sebagai istri raden. Istri yang akan mencintai raden sampai akhir tanpa mundur selangkah pun." Lanjutnya lagi tanpa memperdulikan bagaimana tanggapan mereka semua, ataupun tanggapan Prabu Candana Kumara, juga Raden Candana Arga yang tidak percaya sama sekali.


"Lancang!." Prabu Candana Kumara berdecak keras. Amarahnya benar-benar telah memuncak, ia tidak tahan lagi. "Hei!. Wanita buruk rupa!. Sebaiknya kau pergi dari sini!. Kau tidak layak menjadi istri dari anakku!." Prabu Candana Kumara benar-benar telah meluapkan amarahnya. Sehingga mereka semua bisa melihat bagaimana kemarahan yang dirasakan oleh sang Prabu. "Lancang sekali mulut busukmu itu berkata seperti itu!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. "Kau pikir kau pantas berdampingan dengan putraku?. Apakah tidak pandai berkaca dengan penampilan mu sekarang wanita buruk rupa!." Suaranya semakin menggelegar.


"Tentunya hamba sangat yakin sekali gusti prabu. Hamba sangat yakin, jika hamba bisa membuat raden candana arga jatuh cinta pada hamba. Karena itulah terima hamba sebagai menantu, serta istri dari raden Candana arga." Tanpa menghiraukan bisikan, serta cemooh dari orang lain, ia meyakinkan dirinya bahwa apa yang telah ia katakan ini sangat benar.

__ADS_1


"Kurang ajar!." Ratu Ayundari Paramita menatap gadis buruk rupa itu dengan tatapan yang sangat tajam. "Senopati malakala!." Panggil Ratu Ayundari Paramita memanggil Senopatinya dengan suara yang sangat keras.


"Hamba gusti ratu." Senopati Malakala memberi hormat.


"Bawa wanita buruk rupa ini keluar dari istana ini!." Itulah perintah dari Ratu Ayundri Paramita saat itu. "Beri dia hukuman karena dia telah lancang melanggar aturan yang telah kami buat." Perintahnya pada Senopati Malakala.


"Sandika gusti ratu." Sebagai bawahannya, tentunya ia melakukan apa yang dikatakan oleh Ratu Ayundari Paramita.


"Lepaskan aku!. Lepaskan!." Ia berusaha untuk berontak, namun tidak ada satupun yang menanggapinya. Justru malah diseret paksa oleh Senopati Malakala yang tidak sabaran lagi. Mereka hanya memastikannya saja. Apakah itu sebuah kebenaran atau kebohongan?.


Apakah yang akan terjadi?. Apakah begitu banyak, dan serta ketatnya kehidupan ini. Temukan jawabannya, jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2