KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
PERASAAN HATI DAN TAKDIR


__ADS_3

...***...


Setelah sholat isya berlalu, Putih atau nama aslinya Putri Andhini Andita saat ini sedang berjalan sebentar keluar istana. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Raden Jatiya Dewa.


"Besok kita akan kembali ke istana suka damai. Tugasku di sini telah selesai." Entah kenapa, setelah mendengar kata lamaran dari Raden Candana Arga.


"Baiklah, jika itu memang keputusanmu." Raden Jatiya Dewa hanya nurut saja, karena tugasnya memang mengawal Putri Andhini Andita.


Setelah itu mereka hanya diam saja. Mereka berhenti di sebuah tempat yang tak jauh dari gerbang istana. "Tadi aku mendengar cerita dari senopati malakala, bagaimana saat pertama kali kau datang ke istana ini. Sungguh liar biasa sekali ceritanya. Aku sangat tidak menyangka sama sekali." Raden Jatiya Dewa tidak tahu harus bagaimana caranya menghilangkan rasa canggung yang ada di dalam dirinya ketika berduaan dengan Putri Andhini Andita. Itulah sebabnya ia mencari alasan agar tetap bisa berbicara dengan wanita yang ia cintai. "Aku juga tidak menyangka jika kau bisa berjalan sejauh ini. Aku selalu mendoakan keselamatan dirimu andhini andita." Dalam hatinya ia berkata seperti itu.


"Ya." Balas Putih dengan pelan. "Bahkan dia menyatakan perasaannya padaku, setelah apa yang aku lakukan padanya." Putih mengingat kejadian waktu itu.


"Jangan katakan padaku, jika kau menolaknya putih." Raden Jatiya Dewa malah tertawa kecil, ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Senopati Malakala saat itu.


"Ya, aku menolaknya." Jawabnya dengan singkat. "Aku menolaknya karena aku tidak mau terikat oleh siapapun. Meskipun pada saat itu aku telah berjanji pada raden raksa wardhana untuk bertemu dengannya di istana suka damai." Ia terlihat sedih mengingat itu semua.


"Aku juga bahkan menolak kebaikan putri cahya candrakanti karena dirimu andhini andita." Sungguh, perasaan yang sangat dalam yang ia rasakan saat ini.


"Seseorang pernah berkata padaku. Hidup ini penuh misteri dan takdir. Jika jodoh pasti aku bersatu. Tidak peduli seberapa besar rintangan menghadang, namun mereka akan tetap bersama. Aku harap kau tidak putus asa dengan sikapku jatiya dewa." Putri Andhini Andita atau Putih hanya tidak ingin mengecewakan Raden Jatiya Dewa.


Raden Jatiya Dewa malah tertawa, meskipun ucapan Putri Andhini Andita tidak terdengar lucu, tapi entah kenapa ia malah tertawa. "Hamba akan melakukannya tuan putri." Senyuman itu sangat tulus dari hatinya. "Hanya perlu sabar saja. Seperti yang ia katakan. Jika telah jodoh, kami akan bersatu dalam keadaan yang lebih baik. Untuk saat ini, biarkanlah kami melakukan apapun yang membuat kami bersama." Raden Jatiya Dewa juga tidak mau memaksakan kehendak, baginya perasaannya saat ini telah tersampaikan dengan baik. Hanya saja, butuh waktu baginya juga putri Andhini Andita untuk bersama. Apakah itu adalah takdir untuk mereka?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.

__ADS_1


***


Keesokan harinya.


Putri Andhini Andita, Raden Jatiya Dewa, Senopati Malakala menghadap Prabu Candana Kumara dan keluarganya. Tentunya mereka ingin menunggu jawaban dari Putri Andhini Andita. Karena itulah mereka saat ini berada di ruang keluarga kerajaan Melarang.


"Bagaimana jawaban dari nimas?. Apakah nimas bersedia menjadi istri saya?." Raden Candana Arga sepertinya tidak sabaran lagi, hingga tanpa basa-basi lagi ia langsung mengatakan tujuannya.


Tentunya Raden Jatiya Dewa dan Senopati Malakala sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Raden Candana Arga. Mereka tidak menyangka sama sekali, jika Raden Candana Arya ternyata melamar Putri Andhini Andita?.


"Apakah ini yang kau maksudkan andhini andita?." Jantung Raden Jatiya Dewa berdebar sangat kencang. Rasanya ia tidak mau mendengarkan apa yang telah diucapkan.


"Apakah kau akan menerimanya andhini andita?." Sementara itu Raden Jatiya Dewa sangat tidak ikhlas, jika itu yang akan terjadi.


"Bagaimana jawabanmu nimas?. Apakah kau bersedia menerima lamaran dari putraku raden candana arga?." Ratu Ayundari Paramita bertanya pada Putih.


Putih atau nama aslinya Putri Andhini Andita saat ini menghela nafasnya dengan pelan. Ia juga agak berat mengatakannya, namun segera mungkin ia harus menjawabnya agar tidak memberikan harapan pada seseorang.


"Maaf raden. Maafkan hamba, karena hamba tidak bisa menerima lamaran dari raden." Hanya mampu tersenyum, serta menahan gejolak yang ada di dalam dirinya.


Namun, mereka semua sangat terkejut mendengarkan apa yang dikatakan Putri Andhini Andita atau Putih. Itu artinya ia menolak lamaran dari seorang putra mahkota?.

__ADS_1


"Kenapa nimas malah menolak lamaran dari raden candana arga?." Senopati Malakala yang bertanya, ia tidak menduganya sama sekali.


"Benar itu nimas. Katakan pada kami kenapa kau menolaknya?. Tentunya kau memiliki alasan bukan?." Prabu Candana Kumara ingin mengetahui alasannya.


"Maafkan hamba raden." Putri Andhini Andita memberi hormat pada Raden Candana Arga. "Perasaan cinta, menurut hamba bisa terjadi kapan saja, dan pada siapa saja. Namun bagi hamba, saat ini hamba sedang meluruskan hati hamba pada seseorang. Maafkan hamba, jika perasaan cinta itu tidak bisa hamba berikan pada raden." Jawabnya dengan sangat yakin. Sehingga terpancar di sorot matanya.


"Jadi kau menolaknya andhini andita?." Dalam hati Raden Jatiya Dewa sangat was-was. Ia sangat takut, jika tadinya Putih alias Putri Andhini Andita akan menerima lamaran itu?.


"Berani sekali dia menolak lamaran dari seorang putra mahkota yang terhormat?. Lancang sekali dia." Dalam hati Senopati Malakala sangat khawatir, jika Raden Candana Arga akan marah. Karena baru pertama kali ada orang biasa yang menolak lamaran dari seorang putra mahkota?. Apakah dia sudah bosan hidup?.


Raden Candana Arga menghela nafasnya dengan pelan. "Baiklah nimas putih. Aku mengerti dengan apa yang kau ucapkan." Raden Candana Arga tidak mau memaksakan kehendaknya. Meskipun sebagai seorang putra mahkota yang diagungkan, bukan berarti ia bisa memaksa seseorang untuk menuruti semua keinginannya.


"Apakah kau yakin putraku?." Prabu Candana Kumara terkejut melihat reaksi anaknya.


"Apakah kau tidak marah?. Lamaran mu ditolak olehnya. Orang biasa berani menolak lamaran mu putraku." Ratu Ayundari Paramita merasa tersinggung.


"Tidak apa-apa ibunda, ayahanda. Nanda tidak mungkin memaksakan kehendak." Raden Candana Kumara tersenyum lembut. "Semua karena takdir. Kami tidak ditakdirkan untuk bersama ibunda, ayahanda." Lanjutnya lagi.


Bagaimana tanggapan dari Prabu Candana Kumara dan Ratu Ayundari Paramita?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya, jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2