KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
PENGAKUAN


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita dan Raden Jatiya Dewa telah memasuki perbatasan kerajaan Buana Dewa. Mereka melewati desa mata air dewa, dan tentunya Raden Jatiya Dewa masih ingat dengan kejadian hari itu.


"Dulu, saat desa ini dilanda bencana. Gusti prabu lah yang telah membantu kami semua." Dengan agak kaku ia menceritakannya.


"Aku juga ingat, saat kau memaksa untuk meminta keris pusaka keris kembar milik rayi prabu." Putri Andhini Andita malah ingat ke sana. Mungkinkah kejadian itu sangat berkesan baginya?.


"Ya, aku masih ingat dengan itu." Raden Jatiya Dewa melihat ke arah tangannya. "Maafkan aku dikala itu. Maafkan sikap sombong ku di masa itu." Raden Jatiya Dewa dengan segenap hatinya mengatakan itu. Saat ini ia berjalan berdampingan dengan Putri Andhini Andita. Sehingga Putri Andhini Andita terkesima melihat ketulusan yang ditunjukkan oleh Raden Jatiya Dewa.


Putri Andhini Andita menundukkan wajahnya. Ia tidak mengerti kenapa perasaannya jadi aneh?. "Itu hanyalah masa lalu. Jangan diungkit lagi. Aku rasa itu adalah pelajaran yang baik untuk mu." Putri Andhini Andita hanya tidak ingin memberikan kesan yang buruk pada dirinya sendiri dengan tidak memberikan maaf pada Raden Jatiya Dewa.


Raden Jatiya Dewa hanya diam saja, ia menyimak apa yang dikatakan Putri Andhini Andita yang tiba-tiba saja menjadi kaku seperti itu.

__ADS_1


"Lalu apa saja yang kau lakukan bersama rayi prabu?. Kenapa kau memutuskan untuk masuk agama islam?. Aku sangat ingin mendengarnya. Karena aku sangat penasaran sekali. Itupun jika kau tidak keberatan menjelaskannya padaku." Putri Andhini Andita tidak berharap jika Raden Jatiya Dewa akan menjelaskannya, hanya saja rasa penasaran itu terlanjur ia katakan pada Raden Jatiya Dewa.


Raden Jatiya Dewa tersenyum kecil. Rasanya ia sangat senang bisa berbicara panjang lebar dengan Putri Andhini Andita selama diperjalanan. "Aku akan mengatakannya. Aku akan mengatakannya sekali saja." Suasana hatinya sedang baik?.


Putri Andhini Andita ingin mendengarnya, sehingga ia menyimak apa yang akan dikatakan oleh Raden Jatiya Dewa padanya.


"Meskipun pada awalnya tujuanku masuk agama islam karena dirimu. Aku sangat penasaran dan terpikat oleh sikapmu pada saat pertama kali kita bertemu." Raden Jatiya Dewa benar-benar menjelaskannya.


"Apakah hanya itu saja alasannya?. Kau pasti memiliki alasan lain mengapa kau tertarik masuk agama Islam bukan?." Putri Andhini Andita ingin mengetahuinya lebih lanjut lagi. Bukan hanya itu saja, ia pasti memiliki penjelasan yang sangat masuk akal bukan?.


Sementara itu Putri Andhini Andita hanya menyimak, ia tidak menyanggah atau berkomentar tentang tujuannya masuk agama Islam. "Aku selalu mencemaskan dirimu yang berada di luar sana. Sangat takut terjadi sesuatu padamu saat diperjalanan." Lanjutnya lagi. "Sementara itu di padepokan al-ikhlas aku berusaha dengan baik supaya bisa belajar semua tentang agama Islam. Aku mulai menikmatinya meskipun kadang-kadang aku suka mengeluh, karena tidak mahir dalam menghafal Al-Qur'an." Raden Jatiya Dewa tersenyum geli mengingat bagaimana ia ketika itu saat mempelajari cara membaca Al-Qur'an. "Aku benar-benar menikmati semua proses belajar agama Islam. Sungguh Islam adalah agama yang sangat indah. Aku tidak bisa menghentikan diriku untuk membaca Al-Qur'an." Raden Jatiya Dewa telah mengatakannya. "Tapi perasaan cintaku padamu, aku masih merasakannya. Aku tidak bisa menerjemahkannya dengan bahasa yang mudah, meskipun aku telah meyakinkan diriku berkali-kali bahwa seharusnya tujuanku masuk agama islam bukan karena mencintai seseorang. Namun itu adalah panggilan murni dari hatiku setelah melihat gusti prabu melaksanakan sholat." Ya, dua alasan itulah kenapa ia ingin masuk agama Islam. Apakah asalan itu tidak cukup?.


"Semoga Allah SWT memberikan kebaikan padamu jatiya dewa." Putri Andhini Andita merasa kagum dengan apa yang dikatakan oleh Raden Jatiya Dewa. "Aku memang belum bisa menerima siapapun. Tapi aku yakin kau bisa membuktikannya dengan baik." Putri Andhini Andita hanya tersenyum kecil saja.

__ADS_1


"Semoga saja." Raden Jatiya Dewa berharap akan ada peluang baginya. Meskipun ia tidak mengetahui, jika ada laki-laki diluar sana tanpa sadar mencintai Putri Andhini Andita. Seperti Senopati Malakala misalnya?. Entahlah, ia juga tidak mengerti. "Sepertinya kita akan memasuki kota raja. Ini lebih cepat dari apa yang aku bayangkan." Raden Jatiya Dewa sangat terkejut. Perjalanannya kali ini sangat tidak terasa sekali.


"Itu semua karena izin Allah SWT. Sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT." Putri Andhini Andita merasa begitu, karena ia tidak merasakan kelelahan sedikitpun selama diperjalanan.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin ya Allah." Raden Jatiya Dewa sangat bersyukur akan hal itu. Sungguh perjalanan yang luar biasa baginya kali ini.


Mereka telah memasuki kota raja kerajaan Buana Dewa, dan itu artinya mereka hampir sampai di kerajaan Buana Dewa. Apakah yang akan mereka lakukan di Kerajaan Buana Dewa?. Apakah yang akan mereka laporkan pada Prabu Lingga Dewa?. Simak terus ceritanya.


...***...


Kemabli pada Putri Rara Saraswati. Saat ini ia sedang melakukan suatu tapa setelah mandi air kembang tujuh rupa. Wajahnya sepertinya telah Kembali ke semula. Wajahnya terlihat cantik kembali, tapi ia harus tetap melakukan tapa sampai benar-benar pulih sempurna. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada wajahnya nantinya.


"Ya, seperti itu tuan putri. Tetap lakukan sampai kau merasa lebih baik lagi. Teruskan tapanya." Wanita tua itu memberikan arahan pada Putri Rara Saraswati. Ia sangat senang melihat keadaan Putri Rara Saraswati telah membaik. Apakah yang akan mereka lakukan jika wajah Putri Rara Saraswati telah sembuh?. Apakah balas dendam adalah tujuan mereka?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2