
...***...
Sungguh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau nama aslinya Raden Bahuwirya Cakara Casugraha tidak mengerti sama sekali, kenapa Ratu Ardiningrum Bintari menemui dirinya?. Apakah ada sesuatu yang ingin disampaikannya sehingga ia datang menemuinya?. Begitu juga dengan Putri Andhini Andita, sehingga ia menemui adiknya hanya ingin memastikan sesuatu.
"Raka gentala giandra, juga raka ganendra garjitha datang padaku rayi prabu. Aku sangat terkejut sekali pada saat itu. Ketika mereka datang menemui aku dalam bentuk sukma." Putri Andhini Andita mengatakan pada adiknya apa yang telah ia alami saat kembali ke istana ini.
"Jadi yunda didatangi oleh raka gentala giandra juga raka ganendra garjitha?." Ia tidak menduga kakaknya mengatakan itu padanya?. "Yunda bisa melihat kedatangan mereka?. Apa saja yang mereka katakan pada yunda?." Tiba-tiba saja Prabu Asmalaraya Arya Ardhana begitu penasaran dengan apa yang dikatakan oleh kedua mendiang Rakanya pada yundanya?.
"Benar sekali rayi. Aku sangat terkejut sekali. Karena mereka berdua menemui aku rayi prabu." Raut wajahnya tampak sangat gelisah. "Ada beberapa hal yang mereka katakan padaku saat itu." Putri Andhini Andita mengingatnya. "Lalu bagaimana denganmu rayi prabu?." Putri Andhini Andita belum menjawab pertanyaan dari adiknya. Ia malah balik bertanya pada adiknya?.
"Mendiang ibunda ratu ardiningrum bintari juga menemuiku yunda." Ucapnya dengan pelan. "Sama seperti yunda. Aku juga sangat terkejut, saat ibunda ratu ardiningrum bintari mendatangiku." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bingung kenapa Ratu Ardiningrum Bintari yang telah lama tiada bisa mendatanginya?. Mereka meninggal di Kerajaan Mekar Jaya, lalu bagaimana mungkin bisa sampai ke kerajaan Suka Damai?. Apakah karena ingatan mereka masih kuat ke kerajaan Suka Damai?. Bisa jadi itu alasannya. Tapi tetap saja mereka masih bingung, kenapa setelah sekian lama mereka menampakkan diri dalam bentuk sukma?.
"Apa?. Ibunda ratu ardiningrum bintari menemuimu rayi?." Tentunya Putri Andhini Andita sangat terkejut mendengarkan ucapan adiknya. "Jadi ibunda ratu ardiningrum bintari mendatangimu rayi prabu?." Siapa yang tidak terkejut dengan berita itu?. Sebenarnya mereka ingin menyampaikan apa?. Sehingga datang dalam bentuk sukma?. Apakah mereka menyampaikan penyesalan yang telah mereka lakukan selama ini?.
"Benar yunda." Ia menganggukkan kepalanya tanda itu benar. "Ibunda tiba-tiba saja datang padaku." Ia mengingat apa saja yang dikatakan oleh Mendiang Ratu Ardiningrum Bintari.
"Coba ceritakan padaku apa yang dikatakan ibunda ratu ardiningrum bintari pada saat itu padamu rayi prabu." Putri Andhini Andita ingin mendengarkan apa yang dikatakan Ratu Ardiningrum Bintari pada saat itu.
"Baiklah yunda. Aku akan mengatakannya pada yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak keberatan untuk mengatakannya pada kakaknya. Toh mereka mengalami hal yang sama, jadi tidak ada yang perlu ia sembunyikan dari kakaknya untuk saat ini.
Kembali pada saat itu.
Saat ia berbicara dengan Ratu Ardiningrum Bintari. Ratu Ardiningrum Bintari yang mengungkapkan penyesalannya ketika ia hidup?. Apakah benar itu yang ia katakan pada putra tirinya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.
"Kau semakin berwibawa, dan terlihat sangat bercahaya nanda prabu." Senyuman itu perlahan-lahan terlihat sangat nyata dan bersahabat. "Sungguh, kanda prabu akan bangga melihat putra bungsunya menjadi raja yang hebat. Bahkan aku pun bangga melihat penampilan mu saat ini nanda prabu." Senyuman itu sangat tulus dari hatinya. Meskipun wajahnya terlihat pucat, tapi ucapan itu tulus dari hatinya. Ia bahkan sedang merapikan pakaian Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang menurutnya agak sedikit miring. Seakan-akan ia memang bisa menyentuhnya, sehingga ia dapat memberikan sedikit perhatiaan pada sang Prabu.
"Terima kasih ibunda ratu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya tersenyum kecil. Ia belum mengetahui apa tujuan Sukma Ratu Ardiningrum Bintari datang menemuinya. "Tapi sepertinya ibunda terlihat tidak baik-baik saja. Apa yang terjadi sebenarnya ibunda?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sangat khawatir. "Katakan apa yang ibunda ratu rasakan. Semoga nanda bisa membantu ibunda."
Akhirnya Ratu Ardiningrum Bintari memperlihatkan kesedihan yang ia rasakan selama ini. Kesedihan hatinya setelah kematian yang ia alami. "Aku sangat menderita sekali nanda prabu." Air matanya mengalir begitu saja. "Tolong lah aku, aku mohon padamu." Kesedihan yang ia rasakan setelah kematiannya?.
"Apa yang bisa nanda lakukan untuk ibunda ratu?. Katakan saja ibunda. Katakan pada nanda, apa yang ibunda inginkan." Perasaan simpati seorang anak pada ibundanya, tentunya ia tidak akan mengabaikan perasaan itu begitu saja bukan?.
"Sampaikan pada anakku ambarsari agar selalu mendoakan aku. Aku sangat menderita sekali." Tangisnya semakin terdengar lirih. Tergambar jelas di wajahnya yang pucat saat ini bahwa ia memang menderita. "Maafkan semua kesalahan yang aku lakukan selama aku hidup, sampaikan juga pada ibundamu, juga rayi gendhis cendrawati, juga semua keluarga istana. Bahwa aku sangat menyesal. Aku sangat menderita, maafkan aku." Dengan penuh kesedihan yang mendalam ia menyampaikan salam maafnya. "Sungguh maafkan nanda prabu." Ratu Ardiningrum Bintari memeluk Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia menangis penuh dengan kesedihan yang mendalam. Perasaan penyesalan yang telah ia perbuat selama ini.
__ADS_1
"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana benar-benar merasa bersimpati pada Ratu Ardiningrum Bintari. Ia tidak tahu harus berkata seperti apa. Saat itu ia melihat Ratu Ardiningrum Bintari berjalan pelan, memeluknya dengan penuh kasih sayang. "Sungguh maafkan aku nak. Aku yang serakah ini memperlakukanmu dengan sangat buruk. Karena itulah maafkan aku, hanya itu yang ingin aku sampaikan padamu. Semoga kau mau memaafkan semua kesalahan yang telah aku lakukan padamu." Kembali ia mengucapkan kata maaf. Kata yang tidak akan pernah ia ucapkan selama hidupnya.
"Tentu saja ibunda. Tentu saja nanda akan memaafkan ibunda. Nanda akan berdosa, jika nanda tidak memaafkan ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga merasakan kesedihan.
Ratu Ardiningrum Bintari melepaskan pelukannya. Senyumannya kali ini terlihat lebih berseri dari yang sebelumnya. "Terima kasih putraku nanda prabu asmalaraya arya ardhana, raden cakara casugraha." Ia bahkan menyebutkan gelar dan nama lengkap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Nama yang tidak pernah ia sebutkan ketika ia hidup?. "Semoga kau menjadi raja yang baik seperti kanda prabu. Aku sangat menyayangimu nak." Setelah berkata seperti itu Ratu Ardiningrum Bintari menghilang. Benar-benar menghilang tanpa jejak, setelah ia berhasil mengatakan apa yang ingin ia sampaikan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menangis sedih mendengarkan kalimat terakhir yang dikatakan oleh Ratu Ardiningrum Bintari. "Nanda juga menyayangi ibunda. Tentu saja nanda akan memaafkan ibunda. Semoga saia Allah SWT mengampuni semua dosa-dosa yang telah ibunda lakukan." Dalam hatinya merasa sangat sedih, ia tidak bisa menahan kesedihan yang ia rasakan. Ia tidak menduga, jika dari lubuk hati Ratu Ardiningrum Bintari tersembunyi perasaan sayang dan cinta kasih padanya.
Kembali ke masa ini.
Putri Andhini Andhita menyimak apa yang diceritakan oleh adiknya. Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ratu Ardiningrum Bintari. "Aku tidak menduganya rayi prabu. Bahwa ibunda ratu ardiningrum bintari yang semasa hidupnya sangat membencimu. Namun masih bisa berkata sayang padamu rayi prabu?." Putri Andhini Andita bahkan tidak akan mendengarkan kata itu dari Ratu Ardiningrum Bintari, jika hari ini masih hidup?.
"Setiap manusia memiliki masa perubahan yunda. Bukankah yunda juga merasakan perubahan itu?. Tentunya yunda dapat menilai sendiri bagaimana perasaan itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak bisa mengecap seseorang mengalami perubahan setelah ia mendapatkan karma.
"Ya, kau benar rayi prabu. Maafkan aku yang berpikiran buruk pada ibunda ratu ardiningrum bintari." Putri Andhini Andita merasa menyesal karena telah berpikiran buruk.
"Lalu bagaimana dengan yunda?. Apa yang dikatakan raka ganendra garjitha, juga raka gentala giandra?. Coba ceritakan padaku yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana penasaran dengan apa yang dikatakan kedua rakanya itu.
"Raka gentala giandra, juga raka ganendra garjitha juga mengatakan hal yang sama rayi." Putri Andhini Andita mengingat apa saja percakapan mereka pada saat itu.
Putri Andhini Andita masih belum mengerti mengapa kedua kakaknya ini datang menemuinya. Tapi sepertinya memang ada yang ingin mereka sampaikan padanya. Tentunya itu adalah hal yang sangat penting. Jika tidak, mana mungkin mereka datang begitu saja tanpa alasan bukan?.
"Sudah lama tidak bertemu andhini andita." Sepertinya tidak ada permusuhan yang ia rasakan saat ini. Sangat berbeda sekali ketika mereka masih bisa bersama.
"Sudah sangat lama sekali. Aku sampai pangling melihat adikku sendiri yang semakin bertambah cantik." Raden Gentala Giandra bahkan memuji adiknya. Pujian yang tidak akan pernah ia ucapkan semasa hidupnya selain kata hinaan dan caci maki?.
"Tapi raka berdua terlihat sangat tersiksa sekali. Kenapa raka berdua bisa seperti ini?." Putri Andhini Andita bertanya dengan hati-hati. "Apa yang raka berdua alami setelah kematian?. Apakah raka tidak bahagia di alam sana?." Rasanya sangat sedih melihat penampilan kedua rakanya yang terlihat sangat pucat.
"Sepertinya kau telah berubah andhini andita. Syukurlah." Raden Gentala Giandra tersenyum ramah. "Sepertinya kau telah hidup lebih baik dari kami." Lanjutnya lagi.
"Banyak sekali perubahan yang terjadi padamu. Bahkan kau terlihat semakin sangat cantik. Rasanya aku beruntung memiliki adik seperti kau andhini andita." Begitu juga dengan Raden Ganendra Garjitha.
"Raka." Putri Andhini Andita tak dapat menahan air matanya. Kata-kata itu rasanya tidak akan mungkin pernah ia dengar ketika kedua kakaknya ini masih hidup bukan?. "Raka berdua belum menjawab pertanyaan dariku. Katakan saja apa yang raka rasakan. Semoga saja aku bisa membantu raka berdua." Putri Andhini Andita mencoba menahan gejolak hatinya.
__ADS_1
"Maafkan semua kesalahan yang telah kami lakukan selama ini padaku rayi. Kami sangat tersiksa dengan apa yang telah kami lakukan padamu, pada ibunda ratu dewi, pada rayi prabu, pada rayi agniasari. Kami sangat berdosa padamu, juga pada mereka semua. Apakah kau mau memaafkan kamu rayi?."
"Kami sangat tersiksa selama ini rayi. Maafkanlah semua kesalahan kami."
Pada akhirnya mereka mengatakan kenapa mereka menemui Putri Andhini Andita. Mereka memang sangat menderita dengan apa yang telah mereka lakukan selama hidup. Putri Andhini Andita memeluk kedua rakanya dengan erat. Ia tidak dapat menahan kesedihan yang ia rasakan saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh kedua rakanya itu. "Tentu saja raka, tentu saja aku memaafkan raka berdua." Putri Andhini Andita tak dapat lagi menahan kesedihannya.
"Terima kasih rayi. Kau memang sangat baik, sangat cantik, juga pemberani." Raden Gentala Giandra mengelus punggung adiknya dengan sayang.
"Terima kasih rayi. Semoga kau selalu mendapatkan kebahagiaan yang kau inginkan. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan mu. Aku sangat menyayangimu rayi andhini andita." Raden Ganendra Garjitha merasa sangat lega mendengarkan ucapan Putri Andhini Andita.
"Aku juga sangat menyayangimu, rayi andhini andita. Semoga kau mendapatkan kebahagiaan yang kau inginkan rayi. Aku yakin, kesedihan yang kau rasakan akan tergantikan dengan kebahagiaan yang luar biasa suatu hari nanti." Raden Gentala Giandra juga mendo'akan kebahagiaan Putri Andhini Andita.
"Raka." Putri Andhini Andita memeluk kedua kakaknya dengan eratnya. Rasa sedih yang tidak bisa ia tahan lagi. Kenapa baru sekarang kata itu terucap dari kedua kakaknya?. Kenapa setelah kematian mereka baru mengatakan kalimat itu?. Apakah karena kekuasaan telah menghilangkan hati nurani seseorang?.
"Jangan menangis rayi. Nanti cantik mu luntur." Raden Gentala Giandra mengelus rambut adiknya dengan sayang.
"Kami sangat menyayangimu rayi. Semoga sesuatu hari nanti kau mendapatkan apa yang kau inginkan."
"Kami sangat menyayangimu rayi andhini andita. Maafkan kami atas apa yang terjadi selama ini."
"Tentu saja raka. Tentu saja. semoga raka berdua juga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT." Rasanya Putri Andhini Andita tidak mau kehilangan kedua kakaknya itu. Tapi sepertinya takdir memang tidak memungkinkan mereka itu untuk bersama lagi. Mereka menghilang untuk selama-lamanya. Sepertinya mereka hanya ingin menyampaikan ucapan itu saja?.
"Andhini andita." Raden Jatiya Dewa melihat itu semua. Bagaimana Putri Andhini Andita seperti sedang memeluk seseorang?. Menangis sedih?.
Kembali ke masa ini.
Putri Andhini Andita bahkan sekarang menangis sedih mengingat itu. "Rasanya sangat sedih sekali. Tapi apa yang telah mereka lakukan ketika hidup sangat keterlaluan sekali rayi prabu. Apakah kita telah salah dalam menghukum mereka sehingga mereka menderita seperti itu rayi?." Putri Andhini Andita menangis pilu, hatinya terasa sangat sakit.
"Entahlah yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga tidak bisa menyalahkan ataupun membenarkannya. "Semua orang, termasuk kita pada saat itu sangat membenci apa yang telah mereka lakukan. Semoga saja Allah SWT mengampuni dosa-dosa ibunda juga raka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena baginya ia tidak memiliki kekuasaan apapun untuk mengulang kembali atau menghapus apa yang telah terjadi.
"Nanti akan aku sampaikan pada ibunda. Semoga saja ibunda, raka, juga rayi agniasari ariani tidak terkejut mendengarkannya." Ia berusaha untuk menguatkan hatinya.
"Yunda benar. Semoga saja ibunda, raka, yunda agniasari ariani mau memaafkan mereka semua." Itulah harapan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana reaksi mereka mendengarkan cerita dari Putri Andhini Andita dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Temukan jawabannya, jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta. Simak terus ceritanya, masih awal untuk masuk ke inti cerita.
...***...