KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
KEMARAHAN?.


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini sedang berhadapan dengan Pangeran Abinaya Bena. Keduanya bertarung seperti orang yang kesurupan. Terus menyerang Pangeran Abinaya Bena tanpa ampun. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menggunakan pedang pelebur sukma, sedangkan Putri Andhini Andita menggunakan pedang Pembangkit Raga Sukma Dewi Suarabumi. Sementara itu Raden Jatiya Dewa memperhatikan itu tanpa berkedip sedikitpun.


"Sungguh luar biasa. Tapi sangat mengerikan sekali pertarungan yang mereka lakukan." Dalam hati Raden Jatiya Dewa merinding melihat itu. "Jika saja waktu itu aku memaksa, bisa jadi aku berhadapan dengan mereka, dan dipastikan aku tidak akan selamat dari mereka." Raden Jatiya Dewa masih mengingat bagaimana saat pertama kali ini datang ke kerajaan ini. Sikapnya yang masih sombong?. Merasa bangga karena terlahir dari keturunan orang yang diagungkan?. Entahlah, namun yang pasti ia sangat bersyukur karena bisa memperbaiki sikap buruk itu. "Alhamdulilah setidaknya aku tidak dikuliti mereka berdua hidup-hidup." Dalam hatinya bersumpah tidak akan membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau bahkan Putri Andhini Andita.


"Kurang ajar!. Mereka ternyata kuat juga. Sepertinya aku salah, karena telah meremehkan kemampuan mereka." Sepertinya Pangeran Abinaya Bena kewalahan berhadapan dengan kedua kakak beradik Bahuwirya.


"Menyerah saja kau pangeran busuk!. Kau tidak akan aku biarkan begitu saja untuk menguasai kerajaan ini dengan akal busukmu itu!." Putri Andhini Andita terus menyerang Pangeran Abinaya Bena. Pedang yang ia genggam sekarang benar-benar terayun dengan sangat kuat dan bertenaga. Sehingga Pangeran Abinaya Bena harus waspada, ia menahan semua serangan yang datang padanya. Selain itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga mengayun pedang ke arah yang berlawanan dengan Putri Andhini Andita. Sehingga ia dikepung dari dua arah, karena itulah ia harus berhati-hati dalam mengatasi serangan yang terus-menerus datang padanya.


Di sisi lain.


Syekh Asmawan Mulia, Lingga, Purna, Barka, dan Mulni sepertinya telah berhasil melumpuhkan Barja, Hengkara dan anak buahnya yang lainnya. Mereka benar-benar telah berhasil diatasi dengan baik.


"Alhamdulilah hirabbli'alamin. Kita berhasil mengalahkan mereka semua syekh guru." Lingga mengikat tangan Barja. Tentunya Barja harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan.


"Alhamdulilah hirabbli'alamin." Syekh Asmawan Mulia bersyukur atas usaha yang telah mereka lakukan.


"Kalau begitu kita bawa saja mereka berdua ke istana. Biar lah urusan hukuman kita serahkan pada gusti prabu." Mulni memberi saran pada mereka semua.

__ADS_1


"Ya, aku setuju. Mari kita bawa ke penjara istana. Biarlah gusti prabu yang memutuskan untuk melakukan apa pada mereka." Barka setuju, karena yang berhak memutuskan adalah Raja. Jadi yang harus mereka lakukan adalah membawa Barja, dan juga Hengkara ke istana.


Kembali ke pertarungan.


SRAKH!.


Pedang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Putri Andhini Andita telah berhasil melukai Pangeran Abinaya Bena. Bahu kiri dan kanannya terlihat bekas pedang itu melukainya.


"Kegh!. Ternyata orang-orang suka damai diisi oleh dukun santet!." Dalam keadaan terluka seperti itu ia malah berkata hal yang aneh?.


"Maaf saja pangeran abinaya bena. Kami tidak menggunakan santet. Kami hanya berlindung kepada Allah SWT. Sedangkan kau menggunakan jin untuk bertarung dengan kami. Apakah kau tidak mengetahui?. Allah SWT telah melaknat manusia yang bersekutu dengan iblis. Karena telah dijelaskan di dalam Al-Qur'an bahwa jin, setan dan sebangsanya itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. Tapi kau malah bersekutu dengan iblis, dan itu artinya kau telah memilih jalan yang salah." Putri Andhini Andita sangat kesal dengan itu semua. "Kau juga telah salah, mengincar kerajaan ini. Dan kau telah salah telah memilih kerajaan ini sebagai tanah taklukkan kerajaan busuk mu itu." Kemarahannya benar-benar telah memuncak.


"Jadi pangeran busuk itu telah mengendalikan andhini andita?." Raden Jatiya Dewa terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Ya. Dia mengajarkan jurus yang aneh pada yunda. Ternyata itu adalah jurus yang ia tanamkan untuk mengendalikan seseorang." Jawab Prabu Asmalaraya Arya sambil mendekati Raden Jatiya Dewa. "Jurus itu bisa menimbulkan gairah liar yang sangat berbahaya. Jika saja aku tidak menghentikannya, kau tidak akan mendapatkan yunda andhini andita lagi. Karena jurus itu juga jurus pemikat raga menaklukkan hati wanita. Pada saat itu, yunda andhini andita tidak akan mengenalimu lagi raden." Bisik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Deg!.


Raden Jatiya Dewa sangat terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Pada saat itu, amarahnya tiba-tiba saja membuncah.

__ADS_1


"Kau akan aku hukum pangeran busuk!." Raden Jatiya Dewa telah siap-siap dengan kuda-kudanya. Tak lupa pedang yang ia gunakan untuk menjatuhkan lawan.


"Maju saka kalau kau berani. Tidak usah menahan diri lagi. Mari kita lanjutkan pertarungan yang sempat tertunda diantara kita tadi." Sepertinya Pangeran Abinaya Bena merasa tertantang dengan sikap yang ditunjukkan oleh Raden Jatiya Dewa.


"Dengan senang hati aku akan melakukannya. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan apapun yang kau mau di kerajaan ini. Termasuk keinginan jahat mu yang lainnya." Setelah berkata seperti itu Raden Jatiya Dewa menyerang Pangeran Abinaya Bena.


Tap!.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menahan kakaknya. "Biarkan saja yunda. Serahkan semuanya pada raden jatiya dewa." Ia hanya tersenyum kecil saja.


"Baiklah rayi." Putri Andhini Andita tidak membantah dengan apa yang dikatakan oleh adiknya. Ia hanya melihat apa yang akan dilakukan Raden Jatiya Dewa.


"Kau jangan ikut campur!. Sebagainya kau tidak usah melibatkan diri!." Pangeran Abinaya Bena menghadang semua serangan yang datang padanya.


"Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!." Amarahnya telah keluar. "Kau hampir saja membuat orang yang aku cintai takluk seperti binatang padamu!. Tentunya aku tidak akan tinggal diam atas apa yang telah kau lakukan, laknat!." Dengan sekuat tenaga ia menyerang Pangeran Abinaya Bena. Sepertinya ia benar-benar terbakar atas apa yang telah dilakukan oleh Pangeran Abinaya Bena.


"Lakukan saja, jika kau memang mampu membunuhku." Pangeran Abinaya Bena semakin memanasi emosi yang dimiliki Raden Jatiya Dewa.


"Tentu saja aku akan melakukannya. Karena kejahatan yang kau lakukan sangat tidak cocok di kerajaan ini." Raden Jatiya Dewa benar-benar telah menunjukkan kemarahannya. Ia tidak terima, jika jurus yang diajarkan Pangeran Abinaya Bena adalah jurus untuk memikat wanita dalam artian yang berbeda. Apakah yang akan dilakukan Raden Jatiya Dewa selanjutnya?. Apakah ia melakukan itu demi putri Andhini Andita?. Temukan jawabannya, jangan lupa dukungannya ya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2