
...***...
Dua hari telah berlalu.
Kondisi wanita itu masih melemah, belum ada tanda-tanda akan baikan. Ia hanya pasrah saja ketika nafasnya terasa sangat berat.
"Sungguh maafkan aku. Aku tidak bisa membantumu lebih dari ini." Dengan berat hati laki-laki itu berkata seperti itu padanya.
Wanita itu hanya tersenyum sambil menahan sakit yang mendera tubuhnya. "Setidaknya aku mati dalam keadaan baik." Suaranya hampir tidak terdengar, namun sangat lirih untuk didengarkan oleh seseorang yang memiliki rasa simpati yang tinggi. "Terima kasih karena telah merawatku dengan baik." Ucapnya lagi.
"Nini telah melawati hari-hari dengan baik. Nini telah berjuang dengan baik. Nini adalah wanita kuat, sangat bijak." Laki-laki itu memuji wanita itu. "Sekarang lepaskan lah semua beban yang ada pada diri nini. Pergi lah dengan tenang. Memang apa yang nini rasakan sangat berat, sangat sakit setelah dikhianati orang yang kita cintai." Ia genggam tangan pucat itud dengan lembut. "Tapi percayalah, suatu saat nanti nini akan merasakan kebahagiaan yang membuat nini melupakan rasa sakit yang pernah nini rasakan hari ini." Begitu lembut senyuman itu. Seakan-akan memberikannya kehidupan yang lebih baik.
"Mungkin saja benar yang tuan katakan. Terima kasih karena tuan telah menguatkan aku. Rasanya aku benar-benar sedikit tenang." Ia memejamkan matanya. "Ternyata tuan bisa melihat kejadian masa lalu, juga masa depan." Kali ini menatap mata laki-laki itu, dan mencoba untuk tersenyum. "Aku yakin, tuan akan menjadi raja yang hebat suatu hari nanti. Karena tuan memiliki panggilan jiwa yang hebat, kuat dan sangat peduli pada siapa saja." Ia juga melihatnya, seorang laki-laki dengan hawa yang hebat. "Namaku dewi suarabumi, lalu siapa namamu?." Nafasnya semakin terasa berat.
"Namaku bahuwirya jayantaka byakta." Jawabnya.
Dewi Suarabumi tersenyum lembut. "Namamu saja berbeda dengan nama-nama yang pernah aku dengar. Dan nama itu memang melambarkan jiwamu, sungguh nama yang sangat bagus." Putri Dewi Suarabumi juga memuji Raden Bahuwirya Jayantaka Byakta. Bukan hanya dari ketampanannya saja, dari tutur katanya, bahkan dari sikapnya juga. Ia benar-benar kagum pada laki-laki itu.
"Itu adalah pemberian dari orang tua ku." Balasnya dengan senyuman ramah.
__ADS_1
"Rasanya aku tidak kuat lagi." Ia kembali merintih.
"Apakah aku boleh mengatakan sesuatu padamu nini?." Raden Bahuwirya Jayantaka Byakta menggenggam tangan Putri Dewi Suarabumi.
"Katakan saja. Apa yang kau inginkan dari orang yang tidak berdaya seperti aku ini." Suara itu semakin terdengar lemah tak berdaya.
"Saat ini aku sedang mengembara. Dalam semediku, aku mendapatkan sebuah petuah. Di dalam diriku ada beberapa pedang yang sengaja di tanam oleh ayahku. Namun pedang itu masih kosong, namanya pedang panggilan jiwa." Meskipun ini terdengar aneh, ia akan mengatakannya. "Salah satunya suarabumi." Ia menatap mata Putri Dewi Suarabumi yang terlihat sayup-sayup menatap ke arahnya.
"Namaku memang suarabumi." Putri Dewi Suarabumi hampir saja terkekeh kecil. "Lalu apa yang tuan inginkan dari ku?."
"Entah ini kebetulan atau takdir aku tidak mengerti. Tapi, menurut petunjuk. Sukma mu yang telah tiada akan masuk ke dalam pedang panggilan jiwa. Pedang itu sedang menunggumu. Karena ia ingin kau aman berada di dalam dirinya. Ia ingin meringankan beban yang kau rasakan selama di dunia. Itulah alasan kenapa aku bisa bertemu denganmu. Aku ingin kau bersemayam dengan tenang di sana tanpa adanya penyesalan apapun." Raden Bahuwirya Jayantaka Byakta menjelaskan padanya.
"Meskipun ini terdengar sangat aneh, tapi aku harap suatu hari nanti kau bisa membantuku menjadi seorang raja disebuah kerajaan. Aku berniat mendirikan sebuah kerajaan yang nantinya akan aku beri nama kerajaan suka damai. Su itu suarabumi yang merupakan namamu." Jawabnya. Ia menjelaskan alasan kenapa ia memasukkan sukma Dewi Suarabumi ke dalam salah satu pedang panggilan jiwa. "Selain itu, aku juga berharap, suatu hari nanti kau bisa bekerjasama dengan baik dengan keturnanku nantinya. Tentunya untuk melindungi kerajaan ini."
Putri Dewi Suarabumi tersenyum kecil, sekarang ia mengerti apa tujuan dari Raden Bahuwirya Jayantaka Byakta. "Baiklah. Jika memang itu demi kebaikan, aku akan bersemayam di dalam salah satu pedang panggilan jiwa yang kau katakan." Putri Dewi Suarabumi merelakan semuanya. Ia melepaskan apa yang menjadi beban hidupnya selama ini. Hatinya benar-benar lapang karena ia rela jika ia mati hari ini ia akan menjadi berguna bagi seseorang.
"Terima kasih nini. Semoga saja nini bisa merasakan kebahagiaan di kehidupan berikutnya." Senyuman itu sangat tulus, ia tidak menyangka akan mendapatkan apa yang ia cari?.
"Aku justru berterima kasih padamu raden bahuwirya jayantaka byakta." Kali ini air matanya mengalir membasahi pipinya. "Jika aku tidak bertemu denganmu, mungkin saja aku akan mati gentayangan. Setidaknya dengan bertemu denganmu, jasadku terurus dengan baik. Terima kasih atas kebaikan yang telah kau berikan padaku." Suara itu semakin menghilang, pelan-pelan menghilang dan semakin menghilang. Putri Dewi Suarabumi telah pergi untuk selama-lamanya. Ia benar-benar telah meninggalkan dunia ini tanpa suara kesedihan.
__ADS_1
Kembali ke masa ini.
Putri Andhini Andita menghapus air matanya, ia tidak menyangka akan mendengarkan cerita sedih itu. "Jadi eyang prabu yang memasukkan gusti putri ke dalam pedang panggilan jiwa?."
"Ya, seperti itu lah." Dengan santainya Sukma Dewi Suarabumi berkata seperti itu.
"Apakah hamba boleh bertanya satu pertanyaan lagi gusti putri?. Rasanya hamba tidak dapat lagi menahan perasaan penasaran ini." Putri Andhini Andita sangat ingin mengetahuinya.
"Apa yang ingin kau tanyakan padaku, tanyakan saja. Asalkan pertanyaan yang kau ajukan tidak aneh-aneh." Sukma Dewi Suarabumi hanya tersenyum kecil.
"Sebelum hamba, apakah ada yang bisa memanggil pedang panggilan jiwa?. Bukankah eyang prabu pernah mengatakan, hanya keturunan langsung dari eyang prabu bahuwirya jayantaka byakta saja yang bisa memanggil pedang panggilan jiwa tanpa dipenuhi rasa dengki, ataupun iri hati ataupun sikap buruk di dalam hatinya. Apakah sebelum hamba ada seseorang dari keturunan eyang prabu yang bisa memanggil pedang pembangkit raga sukma suarabumi?." Itulah yang ia tanyakan, karena ia benar-benar sangat penasaran.
"Apakah kau ingin mengetahuinya andhini andita?." Ia bertanya lagi padanya
"Ya, hamba ingin mengetahuinya gusti putri." Balasnya.
Bagaimana tanggapan Sukma Dewi Suarabumi?. Bagaimana jawabannya?. Apakah ada yang bisa memanggil pedang panggilan jiwa selain dirinya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1