
...***...
Wanita itu tersenyum kecil saat melihat pemuda yang berhasil ia obati. Ia tersenyum manis menatap pemuda itu, meskipun pemuda itu belum membuka matanya, namun wanita itu percaya jika pemuda itu berhasil ia selamatkan.
"Setidaknya besok, kau akan akan bangun. Karena kondisimu yang terluka parah, sehingga melukai ragamu separah ini." Senyumannya menghilang ketika membayangkan jurus apa yang yang membuat pemuda itu terluka begitu parah?. "Pedang jenis apa yang digunakan seorang pendekar sehingga seperti ini lukanya?." Ia bertanya-tanya dalam hati. "Sungguh pedang yang sangat luar biasa, bisa melumpuhkan raganya sampai sedalam itu." Ia berdiri, memikirkan obat apa kira-kira yang akan ia gunakan untuk membangunkan kesadaran pemuda itu?. "Tapi setidaknya untuk saat ini aku bisa melakukan pemulihan, walaupun memakan waktu yang agak lama." Ia menuju ke dapur, untuk memeriksa tanaman yang bisa ia gunakan untuk memulihkan tenaga pemuda itu. Apakah ia berhasil memulihkan raga pemuda itu?. Simak terus jawabannya.
Kembali ke masa ini.
...***...
Putri Andhini Andita saat ini merasa sangat aneh. Kakinya kadang terasa sangat lemas tanpa alasan, bahkan nafasnya kadang terasa sangat sesak.
"Uhuk!. Uhuk!. Uhukh!." Kali ini terbatuk agak sedikit keras. Bahkan suhu tubuhnya terasa sangat panas, ia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang terjadi padanya. Apa yang membuatnya seperti ini?. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa yang terjadi pada hamba sebenarnya." Dalam hatinya bertanya-tanya mengenai keadaannya saat ini. Tapi setidaknya ia berada di biliknya, sehingga keluarganya tidak ada yang mengetahui keadaannya bagaimana saat ini.
Tanpa sadar Putri Andhini Andita masuk ke alam sukma tempat Sukma Dewi Suarabumi berada.
"Sepertinya kondisimu sedang tidak baik-baik saja andhini andita." Sukma Dewi Suarabumi tersenyum mendekati Putri Andhini Andita. Ia yang biasanya santai, kini juga merasakan kegelisahan tanpa alasan. "Apa yang terjadi padamu andhini andita?. Kenapa kondisimu seperti ini?." Matanya menatap keringat yang membasahi wajahnya serta tarikan nafasnya yang tidak normal.
"Hamba juga tidak mengerti dengan keadaan hamba saat ini gusti putri. Rasanya sangat aneh sekali." Putri Andhini Andita mencoba duduk dengan baik. Kepalanya terasa sangat sakit, tidak bisa memikirkan apapun, bahkan ingatannya seperti sedang terganggu. "Rasanya hamba ingin tidur sebentar." Suaranya semakin sayup-sayup, rasanya ia tidak bisa berbicara lagi karena tidak dapat menahan rasa kantuknya.
"Hei!. Andhini Andita!. Apa yang terjadi padamu?!. Andhini Andita!." Sukma Dewi Suarabumi mencoba untuk membangunkan Putri Andhini Andita, tapi rasanya sangat sia-sia. Putri Andhini Andita terjatuh tak sadarkan diri. Ia tidak bangun, ia tidak dapat lagi menahan dirinya untuk tidak tertidur.
Deg!!!!.
Sukma Dewi Suarabumi sangat terkejut ketika menangkap tubuh Putri Andhini Andita yang terkulai lemah. Jantungnya berdetak kencang, perasaannya tidak enak sama sekali. "Andhini andita!. Kau tidak boleh seperti ini!. Bangun!. Bangun andhini andita!." Sukma Dewi Suarabumi berusaha membangunkan Putri Andhini Andita, tapi sayangnya tidak ada tanggapan sama sekali. Ia sangat sedih dengan keadaan Putri Andhini Andita yang seperti ini. Apa yang terjadi pada Putri Andhini Andita sebenarnya?. Simak terus ceritanya.
...***...
Sementara itu Di Taman istana.
Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Dewi Anindyaswari saat ini sedang menunggu kedatangan Putri Andhini Andita, namun sudah lama menunggu, Putri Andhini Andita belum juga datang.
"Apakah emban tidak menyampaikan pesanku dengan baik rayi?." Ratu Gendhis Cendrawati terlihat begitu gelisah.
"Bukankah tadi emban mengatakan pada kita, bahwa ananda andhini andita akan segera menyusul yunda?." Ratu Dewi Anindyaswari ingat dengan apa yang dikatakan oleh emban yang ia suruh untuk memanggil Putri Andhini Andita. "Mungkin ananda andhini andita sedang bersolek sebentar. Sabarlah sebentar yunda." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum kecil, ia juga tidak mengerti kenapa Putri Andhini Andita begitu lama datangnya.
Dalam kegelisahan yang mereka rasakan saat menunggu Putri Andhini Andita, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Jatiya Dewa datang bersamaan. Sepertinya mereka juga ingin menikmati pagi yang indah di taman istana. Lumayan menyegarkan ketika di pagi hari berada di taman istana. Tapi saat itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat kegelisahan yang dirasakan oleh kedua ibundanya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengucap salam, sambil mencium kedua tangan ibundanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, nanda prabu." Balas Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, gusti ratu." Raden Jatiya Dewa juga mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, nanda jatiya dewa." Balas Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati.
__ADS_1
"Ada apa ibunda?. Kenapa ibunda berdua terlihat sangat cemas sekali?. Apa yang terjadi?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat kegelisahan di wajah kedua ibundanya.
"Ananda andhini andita, dari tadi kami tunggu di taman istana, tapi belum juga datang. Kami sangat khawatir jika terjadi sesuatu padanya." Ya, sebagai seorang ibu tentunya ia sangat khawatir dengan keadaan anaknya.
"Tadi ibunda menyampaikan pesan pada emban agar mengatakan pada ananda andhini andita agar menemui ibunda di taman istana, tapi ananda putri belum juga datang. Itulah kenapa ibunda terlihat sangat gelisah." Ratu Dewi Anindyaswari menceritakan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kenapa keduanya terlihat sangat gelisah.
"Tidak biasanya yunda andhini andita lama sekali berdandan, jika hanya ke taman istana pagi ini ibunda." Mendadak Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa tidak enak. "Nanda akan memerintahkan emban untuk melihat keadaan yunda di biliknya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat cemas?.
"Baiklah nak, ibunda merasa tidak enak jika tidak memastikan keadaan yunda mu itu." Ratu Gendhis Cendrawati setuju dengan apa yang dikatakan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Kebetulan ada beberapa emban yang membawa makanan yang tadinya disuruh oleh Ratu Dewi Anindyaswari untuk mereka santap di taman istana. Jadi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak perlu mencari salah satu dari mereka.
"Emban." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memanggil salah satu dari mereka.
"Hamba gusti prabu." Salah satu emban yang berada di dekat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat.
"Tolong lihat yunda andhini andita di biliknya. Sampaikan pada yunda andhini andita, bahwa kami telah menunggunya di taman istana." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi perintah pada Emban tersebut.
"Sandika gusti prabu. Akan segera hamba sampaikan pesan gusti prabu kepada gusti putri andhini andita." Setelah mempersiapkan makanan kecil untuk keluarga istana di taman istana, emban segera pergi dari sana dan menyampaikan pesan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Apakah yang terjadi sebenarnya?. Apa yang terjadi pada Putri Andhini Andita?. Apakah itu sakit yang parah akibat pengguna Pedang Pembangkit Raga Sukma?. Apakah itu benar?. Hanya waktu yang akan menjawabnya.
...***...
Salam penuh cinta untuk pembaca tercinta. Semoga suka dengan kisah cinta tuan putri. Terima kasih tas dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...
"At least tomorrow, you will wake up. Because your condition is seriously injured, so it hurts your body this bad." His smile disappeared when he imagined what moves that made the young man hurt so badly? "What type of sword is used by a warrior so this is the wound?" He wondered himself. "Really a very extraordinary sword, can paralyze the body until that deep." He stood up, thinking about what medicine he would use to wake up the young man's awareness? "But at least for now I can recover, even though it takes a long time." He headed to the kitchen, to check the plants he could use to restore the young man. Did he succeed in restoring the young man? Listen to the answer.
Back to this time.
...***...
Princess Andhini Andita currently feels very strange. His legs sometimes feel very weak for no reason, even his breathing sometimes feels very tight.
"Cough! Cough! Uhukh!" This time coughed a little hard. Even his body temperature felt very hot, he did not understand at all with what happened to him. What makes it like this? "Astaghfirullah Hal'azim O Allah. What happened to the real servant." In his heart wondered about his current situation. But at least he was in his booth, so that his family did not know what he was at this time.
Unconsciously Princess Andhini Andita entered the realm of the soul where the Sukma Dewi Suarabumi was located.
"Looks like your condition is not okay Andhini Andita." Sukma Dewi Suarabumi smiled toward Andhini Andita's daughter. He who is usually relaxed, now also feels anxiety without reason. "What happened to you Andhini Andita? Why is your condition like this?" His eyes looked at the sweat that wet his face and his abnormal breathing.
"I also don't understand the current situation of Gusti Putri. It feels very strange." Princess Andhini Andita tried to sit well. His head felt very painful, could not think of anything, even his memory was like being disturbed. "It feels like I want to sleep for a while." His voice was getting faintly, it felt like he could not talk anymore because he could not resist his drowsiness.
"Hey! Andhini Andita! What happened to you?! Andhini Andita!" Sukma Dewi Suarabumi tried to wake Andhini Andita's daughter, but it felt very in vain. Princess Andhini Andita fell unconscious. He did not wake up, he could no longer hold himself from sleeping.
__ADS_1
Deg!!!!.
Sukma Dewi Suarabumi was very surprised when he captured the body of Princess Andhini Andita who drooped weakly. His heart beat fast, his feelings were not good at all. "Andhini Andita! You can't be like this! Wake up! Wake up Andhini Andita!" Sukma Dewi Suarabumi tried to wake Andhini Andita's daughter, but unfortunately there was no response at all. He was very sad about the state of Princess Andhini Andita like this. What happened to Andhini's daughter Andita actually?. Listen to the story.
...***...
Meanwhile in the Palace Park.
Ratu Gendhis Cendrawati and Queen Dewi Anindyaswari are currently waiting for the arrival of Princess Andhini Andita, but have been waiting for a long time, Princess Andhini Andita has not yet come.
"Does the Emban not convey my message well Rayi?" Queen Gendhis Cendrawati looks so nervous.
"Didn't you tell us to tell us that Ananda Andhini Andita would soon follow Yunda?" Ratu Dewi Anindyaswari remembered what the emban said that she told to call Princess Andhini Andita. "Maybe Ananda Andhini Andita was preening for a while. Be patient for a moment." Queen Dewi Anindyaswari smiled a little, she also did not understand why Andhini's daughter Andita came for so long.
In the anxiety they felt while waiting for the daughter of Andhini Andita, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana and Raden Jatiya Dewa came together. Looks like they also want to enjoy the beautiful morning in the palace garden. Pretty refreshing when in the morning in the Palace Park. But at that time Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saw the anxiety felt by his two mothers.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh mother." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana said hello, kissing his mother's hands.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarokatuh, Nanda Prabu." Reply Ratu Dewi Anindyaswari and Ratu Gendhis Cendrawati.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, gusti queen." Raden Jatiya Dewa also greetings.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarokatuh, Nanda Jatiya Dewa." Reply Ratu Dewi Anindyaswari and Ratu Gendhis Cendrawati.
"What's the mother? Why do you look so worried? What happened?" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saw anxiety on the faces of her two mothers.
"Ananda Andhini Andita, we've been waiting for it in the Palace Park, but it hasn't come yet. We are very worried if something happens to him." Yes, as a mother, of course she is very worried about her child's condition.
"Earlier the mother delivered a message to the emban to tell Ananda Andhini Andita to meet her mother in the Palace Park, but Ananda Putri had not yet come. That is why the mother looks very nervous." Ratu Dewi Anindyaswari told Prabu Asmalaraya Arya Ardhana why both of them looked very nervous.
"It's not usually Yunda Andhini Andita for a long time to dress up, if only to the Palace Park this morning Mother." Suddenly Prabu Asmalaraya Arya Ardhana felt bad. "Nanda will order the emban to see Yunda's situation in her booth." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana looks worried?.
"Alright son, mother feels bad if you don't confirm your Yunda situation." Ratu Gendhis Cendrawati agreed with what Prabu Asmalaraya Arya Ardhana said.
Incidentally there are some embans that carry food that was once told by Queen Dewi Anindyaswari to eat in the Palace Park. So Prabu Asmalaraya Arya Ardhana doesn't need to look for one of them.
"Develop." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana calls one of them.
"Servant Gusti Prabu." One of the embans near Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saluted.
"Please see Yunda Andhini Andita in her booth. Tell Yunda Andhini Andita, that we have been waiting for her in the Palace Park." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana gave an order to the emban.
"Sandika Gusti Prabu. I will soon convey Gusti Prabu's message to Gusti Putri Andhini Andita." After preparing snacks for the palace family in the Palace Park, Emban immediately left there and delivered a message from Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
What happened really?. What happened to Andhini Andita's daughter?. Is it a severe pain due to the user of the Sukma Sword Sword? Is that true?. Only time will answer.
__ADS_1
...***...