
...***...
Istana Kerajaan Buana Dewa benar-benar kedatangan tamu istimewa. Untuk saat ini mereka mencoba untuk melupakan sejenak apa yang telah terjadi. Karena hari bahagia ini tidak akan datang untuk kedua kalinya.
"Hormat ananda ayahanda prabu." Putri Hapsari Iswara memberi hormat pada ayahandanya. "Hormat hamba gusti prabu, gusti ratu, raden." Ia juga memberi hormat pada Prabu Lingga Dewa beserta keluarganya.
"Hormat hamba gusti prabu." Putri Dewi Anindyaswari dan Putri Andhini Andita memberi hormat pada Prabu Maheswara Jumanta.
"Silahkan duduk tuan putri terhormat sekalian." Prabu Lingga Dewa mempersilahkan mereka untuk duduk. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa melihat ketiga putri terhormat datang bersaman.
Wajah cantik anggun, sungguh enak dipandang mata.
"Mari kita mulai saja acaranya." Prabu Lingga Dewa tidak sabar lagi ingin memulai pertemuan itu. Mereka semua juga terlihat bahagia, menyambut dengan suasana hati yang sangat luar biasa.
"Acara pernikahan nanti akan diadakan di kerajaan teluk mutiara." Prabu Lingga Dewa mewakili keluarga besar kerajaan Buana Dewa. "Meskipun sebenarnya kita memiliki kepercayaan yang berbeda, namun bukan berarti putra saya antajaya dewa. Saya harap kanda prabu bisa menerima kehadiran putra saya dengan baik." Sebagai seroang ayah, tentunya ia menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Walaupun anaknya adalah seorang laki-laki yang bisa menjaga dirinya. Tapi tetap saja Raden Antajaya Dewa adalah anaknya.
"Terima kasih atas pertimbangan yang rayi prabu putuskan. Saya sangat bersyukur sekali." Prabu Maheswara Jumanta sangat senang dengan atas izin dari Prabu Lingga Dewa yang berlapang hati mengizinkan anaknya untuk pindah keyakinan. "Raden antajaya dewa sangat cocok untuk memimpin kerajaan teluk mutiara. Menggantikan saya yang sudah tua ini." Lanjutnya lagi. "Jika putri saya yang memimpin istana kerajaan teluk mutiara. Saya takut, akan terjadi kesenjangan serta perang perebutan kekuasaan. Untuk menghindari itu terjadi, saya meminta rayi prabu untuk menyerahkan raden antajaya dewa untuk menggantikan kedudukan saya yang sudah tua ini." Ia hanya tersenyum dengan ucapannya sendiri. Memang seperti itulah kenyataan yang ia dapatkan saat ini.
Prabu Lingga Dewa hanya tertawa tertahan. "Kanda prabu jangan berkata seperti itu. Usia boleh tua kanda prabu. Tapi semangat kanda prabu masih muda. Saya percaya dengan kekuatan yang kanda prabu miliki." Prabu Lingga Dewa melihat keseriusan yang dikatakan oleh Prabu Maheswara Jumanta.
"Ahaha!. Kau ini pandai sekali menghibur rayi prabu." Prabu Maheswara Jumanta hanya tertawa saja mendengarkan ucapan itu. Memang boleh menyangkal masalah usia ataupun semangat. Lambat laun pasti akan memudar jua seiring berjalannya waktu. Karena itulah Prabu Maheswara Jumanta segera mencari penggantinya. Siapa sangka ia menemukan Raden Antajaya yang bersedia masuk agama Islam untuk mendampingi anaknya untuk memimpin kerajaan Teluk Mutiara. Meskipun sudah ada beberapa calon dari putra mahkota terdekat dengan kerajaan. Tapi tetap saja mereka tidak bersedia, bahkan menolak syarat tersebut. Namun saat itu Raden Antajaya Dewa tidak menolak sama sekali. Ia bersedia menerima syarat itu tanpa banyak bertanya.
Hari itu, mereka telah merencanakan semuanya. Apa saja yang akan mereka lakukan pada saat hari pernikahan, serta penobatan Raden Antajaya Dewa sebagai raja baru di Kerajaan Teluk Mutiara. Namun pada malam harinya Raden Jatiya Dewa dan Putri Andhini Andita meminta izin untuk kembali ke istana Kerajaan Suka Damai.
"Mohon ampun ayahanda prabu. Karena kami meminta izin pada gusti prabu asmalaraya arya ardhana hanya untuk mengejar nimas rara saraswati. Kami harus segera kembali ke istana kerajaan suka damai." Raden Jatiya Dewa memberi hormat pada ayahandanya.
"Tapi kenapa terburu-buru seperti itu?. Apakah kalian tidak ikut ke istana kerajaan teluk mutiara?." Prabu Lingga Dewa sedikit heran.
"Mohon maaf ayahanda prabu. Nanda tidak mau membuat gusti prabu asmalaraya arya ardhana mencemaskan kami, karena kami kembali terlalu lama." Ia kembali memberi hormat.
"Benar yang dikatakan raden jatiya dewa, gusti prabu." Putri Andhini Andita juga memberi hormat. "Sebaiknya untuk sementara waktu kami kembali ke istana kerajaan suka damai. Supaya rayi prabu tidak mencemaskan keadaan kami. Itulah alasan kami ingin kembali ke istana kerajaan suka damai." Putri Andhini Andita membantu Raden Jatiya Dewa menjelaskan alasannya. "Tapi kami berjanji, kami akan datang pada hari pernikahan. Kami akan datang bersama rayi prabu. Jika memang rayi prabu asmalaraya arya ardhana termasuk salah satu undangan terhormat dari kerajaan teluk mutiara nantinya." Tambahnya lagi.
Prabu Lingga Dewa sedikit menghela nafasnya. "Sepertinya penjelasan dari nimas putri andhini andita masuk akal." Ia hanya bisa tersenyum kecil saja. "Tapi apakah keadaan nimas telah pulih?. Apakah luka itu masih terasa sakit?." Prabu Lingga Dewa terlihat mencemaskan keadaan Putri Andhini Andita. "Bagaimana untuk saat ini beristirahat lah terlebih dahulu. Aku yakin nanda prabu percaya kalian baik-baik saja." Prabu Lingga Dewa memang memperhatikan keadaan Putri Andhini Andita.
__ADS_1
Tentunya bentuk perhatian itu membuat beberapa keluarga istana menyadarinya. "Ayahanda prabu sangat curang sekali." Putri Dewi Anjarwati berpura-pura merajuk, membuat mereka memperhatikannya. "Jika memang ayahanda prabu menginginkan nimas andhini andita menjadi menantu kerajaan ini, tunggulah sampai rayi jatiya dewa berhasil menaklukkan hatinya ayahanda prabu. Untuk saat ini ayahanda prabu jangan terlalu terburu-buru memberikan perhatian pada calon menantu ayahanda prabu." Entah itu sengaja, atau hanya menggoda saja. Namun Putri Dewi Anjarwati terlihat sangat bahagia sekali.
Sedangkan Putri Andhini Andita dan Raden Jatiya Dewa malah tertunduk malu setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Dewi Anjarwati. Sementara itu mereka yang memperhatikan itu malah tertawa geli melihat tingkah lucu keduanya yang mendadak kikuk.
"Ahaha!. Putraku jatiya dewa terlihat sangat lucu sekali kanda prabu." Ratu Mayang Sari tidak menduganya, bahkan ia ikut tertawa melihat bagaimana anak bungsunya saat ini.
"Yunda ratu benar. Ternyata putra kita nanda jatiya dewa bisa malu-malu seperti ini." Ratu Anjani Dahayu juga tertawa. Jarang-jarang keluarga istana tertawa bersama seperti ini.
"Jangan berkata seperti itu ibunda." Suara Raden Jatiya Dewa terdengar sangat pelan. Sedangkan Putri Andhini Andita tidak sanggup untuk bersuara. Rasanya sangat malu sekali digoda seperti itu oleh mereka semua.
"Cepat lamar rayi. Sebelum ada pangeran lain yang bergerak lebih cepat darimu." Raden Antajaya malah ikutan.
"Diam kau antajaya!." Raden Jatiya Dewa benar-benar kesal digoda seperti itu. Rasanya ia ingin menghilang dari pandangan mereka semua yang menggoda dirinya tanpa ampun.
Tapi apakah mereka akan ditakdirkan bersama?. Apakah mereka berjodoh?. Apakah yang akan terjadi saat mereka meninggalkan istana Kerajaan Buana Dewa?. Apakah ada kabar baik yang akan mereka dapatkan setelah ini?. Temukan jawabannya.
...***...
Translate
...***...
"Respect Ananda Father Prabu." Princess Hapsari Iswara saluted her father. "Sincerely Gusti Prabu, Gusti Ratu, Raden." He also saluted King Lingga Dewa and his family.
"Sincerely, Servant Gusti Prabu." Princess Dewi Anindyaswari and Princess Andhini Andita saluted King Maheswara Jumanta.
"Please sit with a honorable princess." Prabu Lingga Dewa invited them to sit. It was a very extraordinary sight to see the three honorable daughters coming together.
Anggun's beautiful face, really pleasing to the eye.
"Let's just start the event." Prabu Lingga Dewa can't wait to start the meeting. They all also look happy, welcoming with a very extraordinary mood.
"The wedding will be held in the Kingdom of Teluk Mutiara." Prabu Lingga Dewa represented the extended family of the Kingdom of Buana Dewa. "Even though we actually have different trust, but that does not mean my son Antajaya Dewa. I hope Kanda Prabu can accept the presence of my son well." As a father, of course he wants the best for his child. Although his son is a man who can look after him. But still Raden Antajaya Dewa is his son.
__ADS_1
"Thank you for the consideration that Rayi Prabu decided. I am very grateful." Prabu Maheswara Jumanta was very happy with the permission of Prabu Lingga Dewa who was in his heart allowed his child to move beliefs. "Raden Antajaya Dewa is very suitable to lead the Kingdom of Teluk Mutiara. Replacing me this old." He continued. "If my daughter leads the royal palace of the Mutiara Bay. I am afraid, there will be a gap and war of power struggle. To avoid that, I ask Rayi Prabu to hand over Raden Antajaya Dewa to replace my old position." He just smiled with his own words. Indeed that is the reality he got right now.
Prabu Lingga Dewa just laughed restrained. "Kanda Prabu don't say that. Kanda Prabu's old age is Kanda Prabu. But the spirit of Kanda Prabu is still young. I believe in the power that Kanda Prabu has." Prabu Lingga Dewa saw the seriousness said by King Maheswara Jumanta.
"Ahaha! You are very good at entertaining Rayi King." Prabu Maheswara Jumanta just laughed listening to the words. It may deny the problem of age or enthusiasm. Gradually it will definitely fade over time. That's why Prabu Maheswara Jumanta immediately looked for a replacement. Who would have thought he found Raden Antajaya who was willing to convert to Islam to accompany his child to lead the Kingdom of Teluk Mutiara. Although there are already several candidates from the Crown Prince closest to the kingdom. But still they are not willing, even reject these conditions. But at that time Raden Antajaya Dewa did not refuse at all. He was willing to accept these conditions without asking much.
That day, they had planned everything. Whatever they will do on the wedding day, as well as the coronation of Raden Antajaya Dewa as the new king in the Kingdom of Teluk Mutiara. But in the evening Raden Jatiya Dewa and Princess Andhini Andita asked permission to return to the Palace of the Kingdom Suka Damai.
"Please forgive Prabu's father. Because we asked permission from Gusti Prabu Asmalaraya Arya Ardhana only to pursue Nimas Rara Saraswati. We must immediately return to the Palace of the Kingdom Suka Damai. "Raden Jatiya Dewa saluted his father.
"But why is it in such a hurry? Are you not going to the royal palace of the Mutiara Bay?" Prabu Lingga Dewa was a little surprised.
"Sorry, Prabu's father. Nanda did not want to make Gusti Prabu Asmalaraya Arya Ardhana worry about us, because we returned for too long." He saluted again.
"It's true what Raden Jatiya Dewa said, Gusti Prabu." Princess Andhini Andita also saluted. "We recommend that for a while we return to the Palace of the Kingdom of Suka Peace. So that Rayi Prabu does not worry about our situation. That is the reason we want to return to the Palace of the Kingdom Suka Peace." Princess Andhini Andita helped Raden Jatiya Dewa explained the reason. "But we promise, we will come on the wedding day. We will come with Rayi Prabu. If indeed Rayi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana is one of the honorable invitations from the Kingdom of Teluk Mutiara later." He added.
Prabu Lingga Dewa sighed slightly. "Looks like an explanation from Nimas Princess Andhini Andita makes sense." He could only smile a little. "But has Nimas's condition recovered? Is the wound still painful?" Prabu Lingga Dewa was seen worried about the situation of Princess Andhini Andita. "How to rest now first. I'm sure Nanda Prabu believes you are fine." Prabu Lingga Dewa did pay attention to the situation of Princess Andhini Andita.
Surely the form of attention made several palace families realize it. "Prabu's father is very cheating." Princess Dewi Anjarwati pretended to sulk, making them pay attention to her. "If indeed Prabu's father wants Nimas Andhini Andita to be the son-in-law of this kingdom, wait until Rayi Jatiya Dewa succeeded in conquering his heart Prabu's father. For now King's father should not be too rushed to pay attention to the prospective son-in-law of Prabu's father." Whether it's intentional, or just teasing. But Princess Dewi Anjarwati looks very happy.
While Princess Andhini Andita and Raden Jatiya Dewa even bowed embarrassed after listening to what the daughter of Dewi Anjarwati said. Meanwhile, those who watched it even laughed amusedly at the funny behavior of both of them who were suddenly clumsy.
"Ahaha! Queen Mayang Sari did not expect him, even he laughed at his youngest child at this time.
"Yunda Ratu is right. It turns out that our son Nanda Jatiya Dewa can be shy like this." Queen Anjani Dahayu also laughed. The palace family rarely laughed together like this.
"Don't say that mother." Raden Jatiya Dewa's voice sounded very slowly. While Princess Andhini Andita was unable to speak. It feels very embarrassed like that by all of them.
"Hurry up and apply Rayi. Before there was another prince who moved faster than you." Raden Antajaya even followed.
"Shut up you're Antajaya!" Raden Jatiya Dewa was really upset teased like that. It feels like he wants to disappear from all of their sight that teasing himself without mercy.
But will they be destined together? Are they paired? What will happen when they leave the royal palace of Buana Dewa? Are there good news that they will get after this? Find the answer.
__ADS_1
Maaf atas ketidaknyamanan jika ada translate yang ada di bab. Semoga masih bisa membaca dengan nyaman. Terimakasih atas dukungannya.
...***...