KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
SIAPA?.


__ADS_3

...***...


Malam harinya.


Saat ini Putri Andhini Andita untuk sementara waktu ia tinggal di kediaman Senopati Malakala. Sebagai ucapan terima kasih dari Senopati Malakala yang telah membantunya menangkap beberapa pemuda yang telah merusak harga diri wanita. Putri Andhini Andita ingin keluar sebentar, ia ingin melihat suasana malam di kota raja.


"Mau kemana nimas?." Kebetulan Senopati Malakala juga keluar. Dan entah kenapa ia sangat terpesona dengan penampilan Putri Andhini Andita yang sangat cantik menurutnya.


"Hamba hanya ingin melihat suasana malam kota raja gusti patih." Jawabnya dengan senyuman ramah.


"Baiklah, kalau begitu akan aku temani. Kebetulan aku juga mau ke istana untuk melapor pada gusti prabu." Jantungnya terasa berdebar-debar saat melihat senyuman itu. Namun sebisa mungkin ia harus bisa mengendalikan dirinya.


"Terima kasih atas kebaikan gusti patih." Putri Andhini Andita berjalan beriringan.


"Maaf nimas, jika aku boleh bertanya. Siapa nama nimas?. Dan dari mana nimas berasal?. Jika aku boleh mengetahuinya." Agak hati-hati ia bertanya seperti itu.


"Nama hamba putih. Kalau asal, hamba kurang mengetahui pastinya. Apalagi hamba saat ini sedang mengembara, ingin mengetahui bagaimana luasnya lalang buana serta sampai mana watak manusia." Jawabnya tanpa ragu.


"Putih?. Nama yang sangat singkat namun sangat cantik." Senopati Malakala merasa kagum. "Tapi tidak biasnya seorang wanita melakukan pengembaraan. Biasanya di rumah saja, menunggu dilamar seorang pemuda yang mereka inginkan." Senopati Malakala merasa berbeda.


Putri Andhini Andita malah tertawa geli melihat ekspresi Senopati Malakala yang kebingungan. "Mungkin seorang perempuan pada umumnya memang seperti itu. Tapi hamba tidak seperti itu." Ia mengedipkan matanya ke arah Senopati Malakala, sehingga sang Senopati jadi salah tingkah.


Namun saat itu, mereka melihat ada hawa merah melintas. Tentunya keduanya sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat. "Demi Dewata yang agung. Aku tadi melihat cahaya merah melintasi kita nimas." Perasaannya jadi tidak karuan. Apalagi saat ini mereka berada di gerbang istana.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Itu tadi adalah teluh. Hamba yakin itu adalah teluh gusti patih." Putri Andhini Andita seperti kehilangan kata-kata.


"Teluh?. Itu sangat berbahaya sekali nimas." Perasaannya semakin tidak enak.

__ADS_1


"Kalau begitu mari kita lihat. Karena teluh itu sangat kuat, dan mengarah ke sana." Putri Andhini Andita menunjuk ke arah mana teluh itu pergi.


"Itu menuju wisma putra mahkota. Itu sangat berbahaya sekali. Mari kita segera ke sana nimas." Dengan cepat ia berlari menuju tempat yang ditunjukkan oleh Putri Andhini Andita.


Tanpa banyak membuang waktu lagi, mereka segera masuk ke wisma. Dan kebetulan saat itu Ratu Ayundari Paramita dan Prabu Candana Kumara baru saja keluar dari bilik Raden Candana Arga.


"Ada apa senopati malakala?." Prabu Candana Kumara heran melihat kedatangan Senopati Malakala. "Bukankah sudah aku katakan padamu, jika tempat ini adalah arena terlarang dimasuki siapa saja?!." Perasaannya benar-benar telah tegas pada siapa saja.


"Mohon ampun gusti prabu. Tapi hamba melihat cahaya merah aneh masuk ke arah sini. Mohon ampun jika hamba lancang masuk ke arena ini." Senopati Malakala harus menjelaskan pada sang Prabu agar tidak salah faham.


"Cahaya merah?. Aku bahkan tidak melihat apapun di sini!. Sekarang segera pergi dari sini!." Sungguh ia tidak melihat apa yang dikatakan senopatinya itu.


"Mohon ampun gusti prabu. Hamba melihatnya juga. Ada cahaya merah yang masuk ke arah sini. Cahaya merah tersebut adalah teluh gusti prabu." Putri Andhini Andita angkat bicara.


"Teluh?. Apa yang kau bicarakan?. Selain itu kau siapa?. Tidak mungkin rakyat kerajaan melarang ada dukun teluh." Prabu Candana Kumara terlihat marah. Ia menatap tajam ke arah Putri Andhini Andita.


"Putraku!." Spontan Ratu Ayundri Paramita menyebut nama anaknya?.


"Izinkan hamba untuk memeriksa keadaan seseorang yang berada di dalam sana. Hamba takut terjadi sesuatu padanya. Karena cahaya merah itu membawa kedengkian yang sangat luar biasa jahatnya gusti prabu." Putri Andhini Andita terlihat sangat cemas.


"Kanda prabu." Ratu Ayundari Paramita terlihat sangat khawatir.


"Jika kau berani mempermainkan aku, maka akan aku hukum kau!." Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada anaknya.


"Nimas putih orang baik gusti prabu. Hamba bisa menjaminnya." Senopati Malakala menjamin dirinya.


"Baiklah. Kalau begitu mari kita periksa bersama-sama. Aku tidak mau orang asing ini sampai menyakiti anakku." Hanya waspada saja. Tanda sayang seorang ayah pada anaknya untuk melindungi anaknya.

__ADS_1


"Sandika gusti prabu."


Setelah itu mereka langsung masuk ke dalam bilik Raden Candana Arga, dan apa yang mereka lihat?. Hanya bilik biasa, di sana Raden Candana Arga sedang terbaring.


"Lihat?!. Tidak ada cahaya apapun di bilik putraku!." Bentaknya dengan suara sangat keras.


"Benar nimas. Biliknya biasa saja, tidak terlihat apapun di sini." Senopati Malakala telah memastikannya dengan baik.


"Putraku masih terbaring, dan belum bisa bangun karena kakinya yang tidak bisa digerakkan." Rasanya sangat sakit, dan pedih melihat kondisi anaknya.


"Dan kau bisa lihat sendiri orang asing. Bilik anakku tidak ada apa-apa. Sekarang kau pergi saja, dan jangan sampai mengganggu tidur putraku." Prabu Candana Kumara berusaha untuk menekan amarahnya. "Sekarang pergilah!. Aku masih memiliki hati nurani untuk mengampuni kelancanganmu hari ini." Lanjutnya lagi dengan marahnya.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Putri Andhini Andita mengucapkan kalimat tersebut sambil menghela nafasnya dengan berat.


"Ada apa nimas?." Senopati Malakala melihat raut wajah Putri Andhini Andita yang agak berbeda.


"Apakah gusti prabu, gusti ratu, gusti senopati tidak melihat?. Ada seseorang yang mendekap kaki raden candana arga?. Seseorang yang mengikat kakinya dengan sangat erat menggunakan teluh." Putri Andhini Andita melihat sosok hitam yang sangat menyeramkan duduk di atas kaki Raden Candana Arga.


"Kau ini jangan berbicara yang tidak-tidak!. Lebih baik kau pergi saja!." Ia tidak suka dengan ucapan Putri Andhini Andita.


"Apakah itu benar nimas?. Tapi kami tidak bisa melihatnya sama sekali." Senopati Malakala telah memastikan bahwa ia tidak melihat apapun di bilik itu.


"Dia adalah golongan jin hitam yang sangat jahat. Tidak semua orang bisa melihat seperti itu." Putri Andhini Andita bersikap siaga. Sepertinya jin itu menyadari jika Putri Andhini Andita bisa melihatnya.


"Senopati malakala!. Bawa wanita ini pergi!." Sungguh Prabu Candana Kumara sangat tidak suka dengan apa yang dikatakan Putri Andhini Andita.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana keadaannya yang sebenarnya?. Temukan jawabannya, jangan lupa dukungannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2