KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
KEDATANGAN YANG TIDAK DIDUGA


__ADS_3

...***...


Di istana Kerajaan Suka Damai.


Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati saat ini sedang berada di kaputren. Mereka mengungkapkan bagaimana kerinduan mereka ketika bersama dengan anak-anak mereka. Namun saat ini mereka sedang berada di luar istana dalam keperluan masing-masing?. Termasuk Putri Agniasari Ariani yang sebentar lagi akan meninggalkan istana ini setelah menikah dengan Raden Rajaswa Pranawa.


"Rasanya istana ini benar-benar sangat sepi. Sebentar lagi putri kita nanda agniasari ariani akan menjadi menantu kerajaan derajat jati." Ada perasaan sedih dan perasaan bahagia yang menyelimuti dirinya saat ini. Anaknya saat ini sedang berada di kerajaan Derajat Jati untuk mempelajari beberapa hal adat istiadat sebelum melangsungkan pernikahan.


"Begitu juga dengan Putri kita andhini andhita yang akan meninggalkan istana ini, jika ia menerima lamaran dari raden jatiya dewa." Begitu juga dengan Ratu Gendhis Cendrawati yang merasakan kegelisahan yang sangat luar biasa.


"Rasanya sangat cepat sekali mereka tumbuh yunda. Yang tersisa hanya dua putra kita saja." Ratu Dewi Anindyaswari tidak menyangka akan merasakan perpisahan yang sangat jauh dengan kedua putrinya. "Apa yang akan kita lakukan nantinya jika mereka pergi meninggalkan kita yunda?." Perasaan hatinya benar-benar sangat sedih. "Rasanya aku ingin bersama mereka lebih lama lagi. Aku tidak sanggup berpisah dari mereka yunda." Ia benar-benar mengungkapkan perasaan sedihnya.


"Tenanglah rayi. Sebagai seorang ibu, kita harus selalu siap, kapan saja kedua putri kita akan meninggalkan istana ini." Ia juga merasa berat, jika memang anaknya itu pada akhirnya akan meninggalkan istana ini. "Tentunya dengan doa kita mengiringi langkah mereka, dimana pun mereka berada rayi dewi." Ratu Gendhis Cendrawati mencoba menguatkan hatinya.


"Kita hanya berharap kebahagiaan yang akan selalu menyertai mereka yunda. Sebagai seorang ibu, kita hanya mendoakan kebahagiaan untuk putri kita." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk tersenyum, meskipun perasaannya sedang berkecamuk. "Jika bukan kita, tidak mungkin orang lain yang akan memberikan doa kebahagiaan untuk mereka." Ia juga mencoba untuk menguatkan dirinya untuk tidak bersedih, jika memang itu yang terjadi nantinya.


"Sebentar lagi, nanda ratu agung juga akan berkunjung ke istana ini bersama nanda prabu muhammad yunus. Sepertinya kebahagiaan mereka menyertai mereka rayi." Di sisi lain, ia masih ingat ada satu putri lagi yang saat ini sedang jauh dari jangkauan serta pandangan mereka. "Kita akan menyambut kedatangannya dengan penuh suka cita. Karena hanya kita lah yang telah dianggapnya sebagai ibundanya setelah kepergian yunda ardiningrum bintari."


"Yunda benar. Sebagai ibundanya, kita lah yang akan menyayanginya." Ratu Dewi Anindyaswari tentunya menyadari itu. "Kepergian yunda ardiningrum bintari memang sangat melukai hatinya. Semoga saja nanda ratu agung kuat dengan kenyataan itu." Ia juga tidak dapat berbuat apa-apa. Kejadian itu di luar dugaan mereka semua. Ratu Ardiningrum Bintari telah merugikan dirinya sendiri. "Tapi aku sangat merindukannya yunda. Pasti saat ini nanda ratu agung sedang merasakan kebahagiaan setelah menikah dengan pangeran yang ia cintai." Ratu Dewi Anindyaswari hanya tersenyum kecil. Ia tidak menyangka, jika kebahagiaan lain juga menyertai langkahnya. "Walaupun bagaimana pun juga, nanda ratu agung berhak untuk mendapatkan kebahagiaan. Tidak mungkin ia akan terus larut dalam kesedihan yang ia rasakan." Ya, Ratu Dewi Anindyaswari dapat merasakan itu.


"Kau benar rayi dewi. Bagaimana pun juga ananda ratu agung berhak mendapatkan kebahagiaan. Karena selama ini ia juga menderita atas kematian keluarganya dengan cara yang tidak baik." Perasaan simpati yang ia rasakan saat itu sangat dalam. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kehilangan orang kau cintai dalam waktu yang bersamaan dengan cara yang sangat menyakitkan hati.


Mereka yang sangat mencemaskan bagaimana anak-anak perempuan mereka saat menikah nantinya?. Tentunya mereka akan cemas, memikirkan apakah anaknya akan bahagia bersama orang yang mereka cintai?. Atau mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan?. Tapi nalurinya sebagai ibu mengatakan, jika anaknya akan mendapatkan kebahagiaan yang melimpah. Termasuk keadaan Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara yang saat ini sedang berada jauh dari jangkauan mereka semua. Tapi mereka berharap akan ada kebahagiaan yang akan dirasakan oleh Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara dalam hidupnya yang sekarang.

__ADS_1


...***...


Masih di lingkungan kerajaan Istana Kerajaan Suka Damai.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia tidak menyangka akan melihat sosok yang sudah lama tidak ia lihat?. Tapi siapa yang ia lihat?. Sehingga ia tidak menduganya sebelumnya?. Tapi kenapa sosok itu bisa datang padanya setelah sekian lama?.


"Jangan memasang raut wajah terkejut seperti itu nanda prabu." Meskipun wajah itu terlihat sangat pucat, namun ia masih memiliki perasaan?. "Aku tahu aku sudah lama tiada di dunia ini. Tapi aku tidak menyangka akan menampakkan diri di hadapan orang yang sangat aku benci semasa hidup ku." Ia terlihat menghela nafasnya yang terasa sangat lelah sekali?.


"Maafkan nanda ibunda. Bukan seperti maksud nanda. Hanya saja nanda sangat terkejut sekali dengan kedatangan ibunda. Pasti ada sesuatu yang ingin ibunda sampaikan pada nanda." Ada perasaan sedih, karena ia bertemu dengan seorang ibu yang telah lama terlupakan dalam hidupnya?. Ya, itu adalah sosok dari Ratu Ardiningrum Bintari. Istri pertama dari mendiang gusti prabu Kawiswara Arya Ragnala. Tapi bagaimana mungkin saat ini ia menunjukkan sosok itu dihadapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini?. Apa sebenarnya yang ingin ia sampaikan padanya?. Temukan jawabannya.


...***...


Masih di lingkungan Istana Kerajaan Suka Damai.


"Kau sangat lambat sekali jatiya dewa. Menyedihkan sekali." Putri Andhini Andita mengejek Raden Jatiya Dewa. Padahal ia sendiri yang telah melakukan kecurangan?.


"Kau sangat curang sekali andhini andita!. Jadi kau tidak berhak berkata seperti itu padaku." Raden Jatiya Dewa sangat kesal, dan ia tidak dapat menahan amarahnya. "Kau ini ternyata jahat juga andhini andhita. Jangan seenaknya saja melakukan tindakan yang tidak masuk akal!." Ada perasaan kecewa dan tidak menduga sebelumnya, jika Putri Andhini Andita bisa bersikap seperti itu?. Rasanya ia benar kesal, ingin memarahi Putri Andhini Andita dengan segenap hatinya.


Putri Andhini Andita malah semakin tertawa keras mendengarkan keluhan Raden Jatiya Dewa. "Hahaha!. Kau harus mengetahui selain sikap baikku-." Namun saat itu matanya menangkap dua sosok yang sudah sangat lama hampir terlupakan dalam dirinya. Ia melihat dua sosok yang sangat lama tidak ia lihat. "Raka?-." Mulutnya benar-benar terasa terkunci saat melihat kedua sosok itu. Sosok yang hampir saja ia terlupakan?.


"Raka?. Siapa?." Raden Jatiya Dewa merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita. Sorot matanya itu melihat sangat lekat ke arah depannya. "Apa yang kau lihat andhini andita?." Raden Jatiya Dewa sangat penasaran sekali. Karena tidak ada siapa-siapa di taman istana.


"Raka-." Putri Andhini Andita mendekati kedua sosok itu. Sungguh, ia ingin mengetahui mengapa ada dua sosok itu saat ini?.

__ADS_1


"Andhini Andita?." Raden Jatiya Dewa mengikuti langkah Putri Andhini Andita. Ia juga ingin mengetahui mengapa Putri Andhini Andita mendadak seperti itu. Apakah ada hal yang gaib yang tidak bisa ia lihat?. Sama seperti Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang memiliki kemampuan melihat hal yang gaib tanpa harus memasuki alam sukma.


"Raka ganendra garjitha?. Raka gentala giandra?." Putri Andhini Andita tidak menyangka akan melihat dua sosok kakak tirinya itu?.


"Sepertinya kau memang bisa melihat kami rayi andhini andita." Raden Gentala Giandra tersenyum kaku.


"Baguslah kalau kau memang bisa melihat kami." Raden Ganendra Garjitha merasa sangat lega.


"Apa yang Raka berdua inginkan?. Sehingga raja berdua datang menemuiku?." Rasa penasaran yang tidak biasa, karena kedua kakaknya ini sudah lama meninggal bukan?. Apakah ada hal penting yang ingin mereka sampaikan?.


"Apakah karena kami telah meninggal, kami tidak boleh bertemu denganmu rayi?." Raut wajahnya terlihat sangat kecewa, juga ada kesedihan dari hatinya?.


"Cukup lama bagi kami bisa datang ke sini andhini andita. Jika kau tidak ingin melihat kami, maka kami akan pergi dari sini." Begitu juga Raden Gentala Giandra.


"Bukan seperti itu raka. Maafkan aku, sungguh. Aku tidak bermaksud membuat kalian berdua sedih." Putri Andhini Andita menyesal, karena telah membuat kedua kakaknya itu sedih serta kecewa.


Sedangkan Raden Jatiya Dewa merasa bingung dengan apa yang ia lihat saat ini. Putri Andhini Andita sedang berbicara dengan siapa?. "Raka?. Apakah andhini andhita memiliki kakak laki-laki lain selain raden hadyan hastata?." Dalam hatinya bertanya-tanya. Tapi ia tidak bisa melihat seperti apa sosok itu. Ia tidak memiliki kemampuan melihat hal yang gaib. "Mungkin aku akan bertanya padanya nantinya." Dalam hati Raden Jatiya Dewa merasa sangat penasaran. Ia tidak mau mengganggu Putri Andhini Andita, itulah kenapa iya hanya diam sambil menyimak apa yang Putri Andhini Andita katakan.


Di sisi lain.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini berada di ruangan pribadi Raja. Sungguh, ia tidak menduga jika mendiang Ratu Ardiningrum Bintari akan menemui dirinya?.


"Sepertinya nanda prabu semakin berwibawa. Dewata agung sepertinya telah mentakdirkan nanda menjadi raja untuk memimpin kerajaan ini. Sehingga kerajaan ini berjalan dengan sangat baik." Ini adalah ucapan yang tidak akan pernah ia katakan jika ia masih hidup?. Sebenarnya apa yang terjadi?. Kenapa mereka menampakkan diri?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya, jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2