KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
JAWABAN PUTRI ANDHINI ANDITA


__ADS_3

...***...


Prabu Candana Kumara dan Ratu Ayundari Sungguh tidak menyangka sama sekali, jika Putih menolak lamaran dari Raden Candana Arga.


"Katakan pada kami, kenapa kau menolak lamaran putra kami?. Tentunya kau memiliki alasan yang sangat kuat bukan?." Prabu Candana Kumara masih belum puas, meskipun anaknya mengatakan tidak apa-apa.


"Banyak orang di luar sana sedang menunggu lamaran dari putraku. Tapi kenapa kau malah menolak putraku?. Katakan padaku alasannya." Ratu Ayundari juga tidak senang dengan penolakan dari Putih.


"Benar itu nimas putih. Apakah nimas tidak memikirkannya terlebih dahulu?. Tidak semudah itu putra mahkota raja melamar seorang wanita." Senopati Malakala juga terkejut dengan apa yang ia denger tadi.


Putih atau Putri Andhini Andita tersenyum kecil. "Maafkan hamba gusti prabu, gusti ratu, raden, juga gusti senopati." Ia memberi hormat pada mereka semua. "Memang semua wanita senang ketika dilamar oleh seorang putra mahkota terhormat. Namun hamba mungkin bukan salah satu dari mereka. Hamba akan memikirkannya." Ia menatap mereka satu persatu. "Pertama, hamba hanyalah rakyat biasa. Sedangkan raden candana arga adalah pria agung. Tentunya banyak putri terhormat yang menginginkannya." Senyumannya senyuman yang sangat ramah, membuat mereka tidak bisa marah mendengarkan penjelasannya. "Hamba tidak bisa menerima begitu saja lamaran dari seorang laki-laki bahkan ketika seorang pria agung datang pada hamba. Jadi hamba harus memikirkannya, dan bukan berarti hati hamba mati rasa hanya karena alasan yang ada padanya. Tapi sebagai wanita, sebaiknya menikah satu kali dalam kebahagiaan yang benar-benar ia pikirkan bukan hanya kesenangan dirinya saja, tapi juga untuk anaknya nantinya. Cinta bukan hanya untuk satu orang saja, melainkan cinta pada ibundanya, cinta pada ayahandanya, cinta pada anaknya, bahkan cinta pada saudaranya. Apakah ia mampu membagikan cinta itu pada kesemua orang yang terlibat pada kedua belah pihak, atau ia hanya mencintai satu orang saja dan mengabaikan yang lainnya?." Putri Andhini Andita menjelaskan semuanya. "Apakah ia mampu menjaga sikapnya ketika suaminya suatu hari nanti berkata, aku telah melihat wanita lain, dan aku ingin melamarnya. Apakah ia sanggup bertahan dengan cintanya?. Apakah ia seorang wanita mampu mengendalikan dirinya saat itu?. Meskipun terpaksa, namun harus menerima kenyataannya. Itulah kenapa hamba tidak mau terburu-buru menerima lamaran yang datang pada hamba. Karena cinta itu menurut hamba sangat rumit, namun bukan berarti tidak memiliki rasa pada saat itu. Hamba rasa itulah alasannya." Lanjutnya sambil tersenyum lembut.


"Jadi kau ingin mengatakan, saat ini kau hanya membutuhkan waktu untuk menerima itu semua?." Ratu Ayundari Paramita mencoba menyimpulkan apa yang ia dengar dari penjelasan Putri Andhini Andita atau Putih.


"Benar gusti ratu. Hamba hanya tidak ingin menjadi wanita yang berdosa, atau durhaka paa suami jika suatu hari nanti itu terjadi." Jawabnya dengan sangat yakin.


Mereka menghela nafas pelan, tidak menduga penjelasan itu masuk akal. Jika dipikir-pikir memang begitulah kalangan orang terhormat. Tidak cukup satu wanita saja, dan akan ada yang namanya istri kedua, ketiga, atau bahkan selir. Memang tidak semua wanita bisa menerima itu semua, meskipun masih ada. Memang dikalangan pendekar berbeda dengan kalangan istana. Satu untuk selamanya, atau banyak bisa akur?. Namun masih ada rasa cemburu?.


"Andhini andita. Kau sangat luar biasa sekali. Itulah alasan kenapa aku jatuh cinta padamu. Kau sangat tegas dengan apa yang telah kau putuskan." Dalam hati Raden Jatiya Dewa merasa bangga dengan keputusan itu.

__ADS_1


"Aku harap suatu hari nanti, kau menemukan laki-laki yang mencintaimu. Mencintai apa yang kau cintai nimas putih." Raden Candana Arga tidak lagi bertanya. Ia yakin Putih hanya tidak ingin mengecewakan orang lain, itu saja.


"Kalau begitu kami pamit menuju istana kerajaan suka damai. Karena tugas kami belum selesai, kami pamit dahulu gusti prabu, gusti ratu, raden, gusti senopati." Putri Andhini Andita kembali memberi hormat.


"Hamba juga pamit gusti prabu, gusti ratu, raden, gusti senopati." Raden Jatiya Dewa juga memberi hormat.


"Berhati-hatilah nimas putih selama diperjalanan. Jika ada apa-apa kabari saja kami, tentunya kami akan segera membantu. Sebagai ucapan terima kasih ku pada yang telah menolongku dua kali." Raden Candana Arga hanya bisa berkata demikian. Meskipun tadinya ia sangat berharap jika Putih mau menerima lamarannya. Tapi sepertinya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


"Sandika raden." Putih memberi hormat.


"Senopati malakala. Antar mereka sampai ke perbatasan. Pastikan mereka menyebrang dengan aman." Prabu Candana Kumara memberi perintah pada senopatinya agar mengawal mereka.


"Sandika gusti prabu." Senopati Malakala memberi hormat.


...***...


Kembali ke masa itu.


Putri Andhini Andita baru saja turun dari sebuah kapal yang ia tumpangi. Ia penasaran dengan negeri seberang, dan ia ingin melihat banyak negeri setelah ia pergi dari Kerajaan Telaga Sarangan.

__ADS_1


Namun beberapa langkah dari bibir pantai, ia melihat ada seorang pemuda yang sedang diserang oleh beberapa orang pemuda lainnya. Sepertinya mereka terlibat dalam sebuah masalah yang sangat belum ia ketahui, tapi sepertinya pertarungan itu sangat tidak seimbang. Putri Andhini Andita melompat, ia menahan serangan yang datang ke arah pemuda itu.


Trang!.


Golok kecil yang ada di punggungnya itu ia gunakan untuk menangkis semua serangan golok yang datang ke arah pemuda yang dikeroyok itu. Tentunya membuat mereka terkejut, dan melompat ke belakang menghindari tebasan golok di tangan kiri Putri Andhini Andita.


"Kurang ajar!." Mereka semua mengumpat keras, hampir saja perut mereka terkena sayatan dari golok itu. Setidaknya ada lima orang yang menyerang pemuda itu.


"Hei!. Siapa kau?. Berani sekali kau ikut campur?!. Apakah kau sudah bosan hidup, hah?!." Bentak salah satu dari mereka.


"Hanya lelaki pengecut yang main keroyokan. Meskipun aku tidak mengetahui apa permasalahan kalian. Tetap saja kalian adalah lelaki pengecut yang hanya bisa main keroyokan." Putri Andhini Andita sangat tidak suka dengan sikap mereka.


"Bedebah!. Kau tidak usah banyak bicara!."


"Di dunia persilatan tidak ada yang namanya pertarungan yang adil!. Yang ada hanya kalah atau menang!."


"Kau hanyalah wanita!. Sebaiknya kau tidak usah ikut campur urusan laki-laki!."


"Bagaimana kalau kau melayani kami saja?! Lumayan juga wajahmu cukup ayu untuk mendesak di bawah kami."

__ADS_1


Setelah itu mereka malah tertawa mengejek, dan sangat merendahkan Putri Andhini Andita. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2