
...***...
Putri Andhini Andita masih melihat perjalanan kisah dari Putri Dianti Cakrawati. Ia penasaran bagaikan itu bisa terjadi?. Kenapa bibinya bisa mencintai ayahandanya?. Tentunya ia ingin mengetahui itu semua, karena itulah ia harus menyimak itu dengan baik. Ia ingin melihat bagaimana kisah cinta bibinya pada ayahandanya di masa lalu.
Setelah agak lama, akhirnya ia melihat bibinya mengatakan perasaannya yang membuncah yang ia tahan selama ini. Saat ini mereka sedang berada di taman istana. Hanya mereka berdua saja, sedangkan saudara-saudara mereka yang lainnya sedang berada di luar istana. Hanya berdua dengan ayahandanya saja, dan saat itu mereka hampir seusia dengan mereka.
"Rayi dihyan darya." Putri Dianti Cakrawati mendekati adiknya. Senyumannya terlihat sangat manis, sedangkan suasana hatinya sangat berdebar-debar. Ia tidak tahan lagi dengan perasaan yang membuncah itu.
"Oh, yunda. Pagi ini yunda terlihat sedang senang sekali. Bahkan yunda terlihat berhias diri." Raden Dihyan Darya memperhatikan penampilan kakaknya yang terlihat berbeda. "Apakah yunda ingin keluar?. Atau yunda ada sesuatu yang ingin yunda lakukan?. Atau mungkin yunda akan ikut ibunda atau ayahanda pergi keluar istana?." Raden Dihyan Darya sangat penasaran alasan kenapa kakaknya tiba-tiba saja berpenampilan seperti itu. Begitu banyak pertanyaan yang keluar, saking penasarannya kenapa tiba-tiba saja kakaknya berdandan seperti itu?.
Putri Dianti Cakrawati terlihat semakin gugup dengan apa yang ingin ia sampaikan pada adiknya. "A-a-ada yang ingin aku sampaikan padamu rayi." Ia menundukkan wajahnya, ia menyembunyikan rona merah yang mungkin sedang menghiasi pipinya. "Ini tidak ada hubungannya dengan penampilan ku mau kemana." Putri Dianti Cakrawati berusaha menahan perasaannya. "Aku hanya ingin berbicara denganmu saja. Aku ingin terlihat cantik di hadapanmu saat ini." Putri Dianti Cakrawati berbicara dengan pelan. Hanya untuk berbicara untuk dirinya saja, tapi di sisi lain ia ingin adiknya mengetahui perasaannya yang sebenarnya.
Raden Dihyan Darya tersenyum kecil melihat tingkah kakaknya yang terlihat sangat aneh. "Apa yang ingin yunda sampaikan?. Katakan saja. Aku akan mendengarkan semua apa yang ingin yunda katakan." Meskipun Raden Dihyan Darya tidak mengerti apa yang dilakukan kakaknya, tapi ia tidak ingin melihat kakaknya kecewa.
"Tapi kau harus berjanji padaku, jika kau tidak akan marah, jika aku mengatakannya padamu rayi." Putri Dianti Cakrawati merasa kesulitan menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan pada adiknya. "Aku hanya mengatakannya sekali padamu. Maka dengarkan baik-baik apa yang ingin aku katakan." Pipinya sampai memerah merona karena menahan perasaannya.
"Bibi dianti cakrawati sungguh wanita yang sangat berani. Sangat berani, sehingga bibi berani ingin mengatakan pada ayahanda prabu. Aku ingin melihat bagaimana reaksi dari ayahanda prabu ketika bibi dianti cakrawati mengatakan perasaannya." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa gugup. Ia tidak sabar ingin melihat bagaimana tanggapan ayahandanya pada saat itu.
"Aku telah melihat itu. Aku telah melihat bagaimana wajahnya pada saat itu, serta perasaannya pada saat itu. Bahkan ketika hembusan nafas terakhirnya, ia masih saja mengatakan jika ia mencintai adiknya. Ia tidak akan mencintai laki-laki lain selain adiknya. Sungguh sangat menyakitkan melihat, mendengarkan, menjadi saksi apa yang ia lakukan pada saat itu." Dalam hati Sukma Dewi Suarabumi berusaha untuk menekan perasaan sesak yang mulai meresapi hatinya.
Kembali pada Putri Dianti Cakrawati dan Raden Dihyan Darya.
__ADS_1
"Sebenarnya. Sebenarnya ketika aku melihatmu, aku merasakan perasaan yang berbeda rayi." Ia semakin menundukkan wajahnya karena tidak kuat menahan perasaan yang semakin membuncah di dalam hatinya. "Ada perasaan aneh yang aku rasakan ketika kita bersama. Perasaan yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata." Tanpa ragu Putri Dianti Cakrawati mengatakan apa yang ia rasakan pada saat itu. Akan tetapi sepertinya Raden Dihyan Darya tidak bisa menanggapi perasaan itu.
"Apa yang yunda maksudkan?. Kenapa yunda berkata seperti itu?." Raden Dihyan Darya sedikit bingung dengan apa yang ingin disampaikan kakaknya. "Coba jelaskan dengan lebih singkat, rasanya aku sama sekali tidak mengerti yunda." Raden Dihyan Darya memang tidak mengerti apa yang dikatakan oleh kakaknya saat ini. "Tapi yunda tidak benci padaku kan?. Itu bukan perasaan benci karena aku selalu membuat yunda merasa terbebani, kan?." Raden Dihyan Darya takut jika kakaknya membenci dirinya. Tapi rasanya aneh jika kakaknya membenci dirinya.
"Bukan, tentu saja bukan perasaan benci rayi. Dengarkan dulu apa yang ingin aku sampaikan padamu." Putri Dianti Cakrawati sangat panik dengan ucapan adiknya. Ia juga kesulitan mengatakan apa pada adiknya.
"Jika bukan perasaan benci, lalu perasaan apa yang yunda rasakan?." Raden Dihyan Darya seperti seorang laki-laki yang sangat polos tanpa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
"Pokoknya dengarkan apa yang aku katakan, baru kau boleh menanggapinya rayi." Terlalu panik, hingga ia hampir saja mendorong adiknya agar menjaga jarak darinya. "Dengarkan apa yang aku katakan." Dengan sekita tenaga ia berusaha untuk mengatakan pada adiknya tentang perasaan yang ia miliki.
"Memangnya yunda mau mengatakan apa yunda." Raden Dihyan Darya sama sekali tidak mengerti, tapi ia akan mendengarkan apa yang dikatakan kakaknya. "Kalau begitu jelaskan padaku, supaya aku tidak salah faham yunda." Agak bingung, tapi apa boleh buat.
"Bibi dianti cakrawati." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa sesak, ia yang merasa tidak enak dengan apa yang akan disampaikan oleh Putri Dianti Cakrawati. "Rasanya aku tidak sanggup melihatku." Putri Andhini Andita berusaha menguatkan hatinya untuk terus mendengar, melihat, serta menyaksikan Putri Dianti Cakrawati mengatakan perasaannya pada Raden Dihyan Darya.
Deg!!!.
Raden Dihyan Darya sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. "Yunda mengatakan jika yunda jatuh cinta padaku?." Pertanyaan itu menandakan bahwa ia ingin memastikan, apakah yang ia dengar itu tidak salah, sehingga ia mengulang perkataan kakaknya dengan sebuah tanda tanya?.
"Ya, itu lah yang aku rasakan pada saat ini rayi." Dengan mata berkaca-kaca Putri Andhini Andita menatap adiknya. Tatapan pemberani dari seorang wanita yang memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya pada seorang laki-laki.
"Sebagai sesama saudara yang baik, tentunya kita memiliki perasaan cinta yunda." Raden Dihyan Darya mencoba untuk berpikir ke arah positif. "Bukankah ayahanda prabu mengajarkan kita untuk saling mencintai sesama saudara?. Saling melindungi satu sama lain. Meskipun raka rajendra lawana, juga raka hanenda padantya tidak terlalu akrab dengan kita. Tapi tetap saja, kira harus memiliki perasaan cinta supaya kita terus bisa hidup dengan damai yunda." Raden Dihyan Darya tidak merasakan perasaan cinta yang lebih dari itu pada kakaknya?.
__ADS_1
"Aku sungguh-sungguh merasakan perasaan itu rayi!. Perasaan yang tidak bisa aku tahan, dan entah kapan aku merasakan perasaan itu." Kali ini ada perasaan gelisah yang ia rasakan karena pertanyaan dari adiknya. "Apakah itu artinya rayi dihyan darya tidak percaya dengan apa yang aku katakan?." Dalam hatinya bertanya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba saja ia kehilangan kata-kata karena reaksi dari adiknya yang seperti itu. "Jika perasaan biasa antar saudara, mana mungkin aku mengatakannya padamu rayi." Hatinya benar-benar telah dipenuhi oleh kegelisahan yang tidak biasa.
"Yunda." Raden Dihyan Darya benar-benar kehilangan kata-kata. "Apakah yunda sadar apa yang yunda katakan?." Raden Dihyan Darya bertanya lagi pada kakaknya. "Apakah yunda sadar atas apa yang yunda rasakan, serta yang yunda katakan padaku?." Raden Dihyan Darya sangat takut dengan apa yang dirasakan oleh kakaknya saat ini.
"Tentunya saja aku sadar apa yang aku katakan rayi!. Apakah kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan tadi?!." Kali ini perasaannya mendadak marah, karena adiknya memang meragukan apa yang ia katakan. "Apakah kau tidak mencintaiku rayi?!. Apakah kau tidak bisa menerima perasaanku setelah aku mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu rayi dihyan darya?!." Perasaanya kali ini sangat kacau melihat raut wajah adiknya yang terlihat sama sekali tidak menyukai apa yang ia sampaikan pada adiknya. "Apakah kau tidak menyadari bagaimana perasaanku selama ini padaku rayi?. Apakah kau tidak bisa melihat dengan baik bagaimana sikapku padamu selama ini?." Hatinya terasa sangat sakit karena adiknya yang meragukan perasaan yang ia miliki?.
"Yunda jangan marah dulu yunda." Raden Dihyan Darya tidak ingin membuat kakaknya marah. "Apakah yunda tidak menyadari, jika kita ini adalah saudara?. Tidak mungkin kita saling mencintai satu sama lain lebih dari perasaan cinta saudara!. Yunda tidak boleh memiliki perasaan cinta seorang wanita padaku!." Entah kenapa Raden Dihyan Darya sama sekali tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh kakaknya.
"Tapi itulah yang aku rasakan rayi!." Ia hampir saja menangis dengan apa yang ia rasakan saat ini. Perasaannya yang tadinya bergejolak aneh, namun saat ini ia hatinya merasa hancur seketika saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh adiknya?. "Apakah kau tidak bisa merasakannya rayi?. Apakah kau menyia-nyiakan perasaan yang aku miliki?." Hatinya panas, merasa sangat gelisah setelah apa yang dikatakan oleh adiknya?.
"Yunda. Tenangkan dirimu yunda. Jangan sampai kemarahan yang merugikan dapat merugikan yunda." Raden Dihyan Darya tidak mau itu sampai terjadi. Ia tidak mau menerima perasaan kakaknya begitu saja. "Tenangkan dir yunda. Aku akan menenangkan diri juga." Setelah berkata seperti itu Raden Dihyan Darya meninggalkan kakaknya. Ia tidak mau meneruskan apa yang ia dengar dari kakaknya.
"Tunggu rayi!. Kau jangan pergi dulu!. Aku belum selesai berbicara!." Putri Dianti Cakrawati sangat marah ketika melihat kakaknya yang pergi begitu saja.
"Sebaiknya jangan diteruskan yunda." Raden Dihyan Darya menatap tajam ke arah kakaknya. Sehingga Putri Dianti Cakrawati yang ingin mengerjarnya menghentikan langkahnya. "Ayahanda prabu akan murka, jika ayahanda prabu mengetahui ini. Aku yakin yunda akan diasingkan oleh ayahanda prabu, karena yunda mencintai orang yang seharusnya tidak yunda cintai. Yunda telah melakukan dosa yang sangat tidak bisa diampuni dewata yang agung." Raden Dihyan Darya benar-benar pergi meninggalkan Putri Dianti Cakrawati yang sedang menahan tangisnya.
"Bibi dianti cakrawati." Dalam hati Putri Andhini Andita merasakan simpati yang sangat luar biasa. Ia tidak menyangka akan melihat hal yang seperti ini dari bibinya?. "Perasaan yang membuncah yang dimiliki bibi dianti cakrawati memang tidak bisa disampaikan pada ayahanda prabu. Tapi ayahanda prabu tegas sekali saat menolak perasaan bibi." Perasaannya saat ini benar-benar bercampur aduk, sehingga membuatnya tidak nyaman sama sekali.
"Aku juga merasakan perasaan itu andhini andita." Sukma Dewi Suarabumi merasakan perasaan sakit, meskipun ia telah melihatnya saat itu. Ia menjadi saksi ketika pedang itu telah berada di dalam tubuh Putri Dianti Cakrawati.
"Gusti putri." Putri Andhini Andita sangat terkejut mendengarnya.
__ADS_1
Apakah masih ada penglihatan lain?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
...***...