
...***...
Pagi telah menyapa, Putri Rara Saraswati telah terbangun dari tidurnya. Entah kenapa wajahnya terasa sangat panas, dan ia segera berlari untuk melihat cermin. Alangkah terkejutnya ia ketika matanya menatap bayangan dirinya di cermin besar itu.
"Kyha!." Ia berteriak keras karena takut melihat wajahnya sendiri. Teriakan yang dihiasi oleh kepedihan yang luar biasa. Bagaimana mungkin wajahnya jadi menyeramkan seperti ini?. Kenapa wajahnya terlihat terbakar?. Sehingga ia menjadi buruk rupa. "Tidak mungkin, tidak mungkin!." Ia tidak terima sama sekali dengan apa yang ia lihat. "Kenapa wajahku menjadi buruk rupa seperti ini?." Dalam tangisnya ia bertanya-tanya kenapa wajahnya bisa berubah menjadi menyeramkan seperti ini?. "Padahal malam tadi masih baik-baik saja." Ia masih ingat, wajahnya masih cantik seperti bidadari. Tapi apa yang ia lihat pagi ini?. Wajahnya bahkan lebih buruk dari seseorang yang baru saja bangkit dari kuburan. "Aku yakin wanita busuk itu telah melakukan sesuatu padaku!. Ya, aku yakin ini adalah ulahnya!." Bentaknya dengan penuh kemarahan yang bergemuruh di dalam dirinya saat ini. "Akan bunuh wanita rendahan itu." Ia berjalan cepat meninggalkan biliknya. Hatinya tidak bisa tenang lagi, ia akan melakukan sesuatu pada Putri Andhini Andita. "Wanita itu memang sangat licik!. Dia haus bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada wajahku." Putri Rara Saraswati merasa geram atas apa yang ia alami. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
Sementara itu Putri Andhini Andita, Raden Jatiya Dewa dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana telah sepakat akan mengantar Putri Rara Saraswati kembali ke Istana Kerajaan Buana Dewa.
"Itu sudah sangat jelas sekali gusti prabu. Hamba akan menjelaskan semuanya pada paman patih, supaya tidak terjadi kesalahpahaman nantinya." Raden Jatiya Dewa memberikan usulan.
"Jangan sampai, hanya karena kesalahpahaman itu bisa menimbulkan perang rayi. Itu sangat berbahaya bagi keselamatan rakyat suka damai." Putri Andhini Andita terlihat sangat cemas. "Senopati mandaka, raka hadyan hastanta, rayi agniasari ariani dan juga yang lainnya saat ini sedang berada di luar Istana." Putri Andhini Andita hanya tidak ingin membahayakan keselamatan yang lainnya.
"Paman prabu lingga dewa bukanlah raja yang mudah terpengaruh dengan ucapan yang tidak masuk akal seperti itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga tidak mau itu terjadi. "Paman prabu adalah sahabat dekat ayahanda prabu. Bahkan paman prabu telah menganggapku seperti keponakannya sendiri. Aku yakin paman prabu tidak akan melakukan itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya tidak ingin Putri Andhini Andita dan Raden Jatiya Dewa terlalu terbebani dengan pikiran mereka.
Namun saat itu Prajurit datang dengan keadaan tergesa-gesa, juga terlihat ketakutan. "Mohon ampun gusti prabu."
"Ada apa prajurit?. Katakan padaku!."
"Mohon ampun gusti prabu. Di taman istana, ada seseorang berwajah seram menyerang kami semua. Ia terus berteriak marah sambil menyebut nama gusti putri andhini andita."
"Menyebut namaku?."
"Benar gusti putri."
Putri Andhini Andita, Raden Jatiya Dewa dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berpikir sejenak.
__ADS_1
"Mari kita lihat dahulu yunda. Bisa gawat jika ia menyerang prajurit istana."
"Baiklah rayi prabu."
"Prajurit!. Cepat ke kaputren. Pastikan ibunda ratu baik-baik saja!."
"Sandika gusti prabu."
Setelah itu mereka menuju taman istana. Mereka ingin memastikan siapa yang mengamuk di taman istana?. Mereka tidak menduganya sama sekali, jika Putri Rara Saraswati lah yang mengamuk. Ia memaki Putri Andhini Andita dengan kata-kata yang sangat tidak sopan.
"Akhirnya kau keluar juga perempuan busuk!." Hatinya semakin memanas ketiak melihat Putri Andhini Andita. Sedangkan Putri Andhini Andita, Raden Jatiya Dewa dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa miris melihat prajurit yang mengerang kesakitan karena terluka?.
"Kau sudah sangat keterlaluan!. Kau harus segera pergi dari istana ini!."
"Tunggu dulu nimas rara saraswati!. Kau jangan asal bicara!."
"Diam kau jatiya dewa!. Kau tidak usah membela orang yang sama sekali tidak mencintai mu!."
Raden Jatiya Dewa dan Putri Andhini Andita terdiam, keduanya saling bertatapan satu sama lain.
"Heh!. Kau benar-benar perempuan laknat!. Tidak tahu diri!. Perempuan rendahan!. Kau telah bermain curang!. Beraninya kau melakukan hal hina pada wajahku!." Hatinya sangat panas, tidak menerima kenyataan yang terjadi pada wajahnya.
Srakh!.
Mereka semua terkejut, saat mata mereka menatap ada sebuah belati kecil yang melewati wajah Putri Rara Saraswati. Mereka semua melihat ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang memegang belati kecil di tangannya.
__ADS_1
"Kau tidak usah menghina yundaku." Mata Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat menyala karena menahan amarah. "Wajahmu rusak itu karena perbuatan mu sendiri yang bersekutu dengan jin!. Jangan kau salahkan orang lain atas karma yang telah kau terima!." Suara prabu Asmalaraya Arya Ardhana semakin meninggi. "Sebaiknya kau segera kembali ke istana buana dewa!. Aku masih memiliki kesabaran yang cukup besar untuk tidak membunuhmu!. Karena kau telah berani berbuat kekacauan di istana kerajaan suka damai!. Kau juga telah merusak taman yang telah susah payah di rawat oleh ibundaku!. Haruskah aku potong tangan mu itu untuk membayar kerusakan yang telah kau perbuat?!. Hah?!."
"Rayi prabu."
"Gusti prabu."
Mereka semua terkejut melihat kemarahan sang Prabu. Setelah sekian lama Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak marah, dan hari ini ia memperlihatkan kemarahannya. Sungguh membuat suasana taman istana merinding melihat hawa yang ditunjukkan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini.
"Raden jatiya dewa!. Segera antar wanita itu!. Jangan sampai aku menggunakan kekerasan padanya!."
"Sa-sa-sandika gusti prabu." Saking takutnya Raden Jatiya Dewa melihat kemarahan Prabu Asmalaraya Arya, ia hampir saja tidak bisa bersuara.
Tapi ketika Raden Jatiya Dewa hendak mendekati Putri Rara Saraswati, ia malah menjauh dan meninggalkan mereka semua. "Hei!. Jangan pergi begitu saja nimas!." Raden Jatiya Dewa sangat terkejut melihat itu. "Mohon ampun gusti prabu. Hamba akan segera mengejarnya, langsung membawanya ke istana kerajaan buana dewa." Ia memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Hamba pamit gusti prabu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan dirinya.
"Aku juga akan menyusulnya rayi prabu. Bagaimanapun juga ini adalah masalah yang melibatkan diriku." Putri Andhini Andita masih tidak terima dengan oenghinaan tadi.
"Baiklah yunda. Berhati-hatilah. Jika terjadi sesuatu segera kabari aku. Jangan mengatasi masalah sendiri."
"Sandika rayi prabu." Putri Andhini Andita memberi hormat pada adiknya. "Aku pamit rayi. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, yunda."
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah masalahnya akan semakin melebar?. Temukan jawabannya.
__ADS_1